
"Argh! Kenapa juga gue kepo?" celetuknya pada diri sendiri.
Galang berusaha mengalihkan perhatian dari Thea hingga ia kembali fokus pada film yang ia tonton. Sampai tak berapa lama ia mendengar ada seseorang yang membuka pintu. Iapun melihat siapa yang datang, agak sedikit berharap bahwa ibunya yang ia lihat.
Tapi ternyata bukan, itu adalah Thea. Seorang yang baru ia nikahi kurang dari satu hari itu terlihat murung dan seolah malas bahkan hanya untuk berjalan.
Galang masih diam ditempatnya saat Thea lewat di belakangnya tanpa sepatah katapun.
"Ekhm! Di sini ada orang, ya. Bukan setan!" celetuk Galang agak keras namun tak melihat ke arah thea sama sekali. Itu hanyalah sebuah sautan untuk Thea agar ia tahu apa yang terjadi.
"Asalamualaikum," ucap Thea sangat pelan seraya hendak melangkahkan kakinya menuju kamar.
Galang merengut, iapun menoleh ke arah Thea dengan sedikit menggerutu tak jelas.
"Heh, maen nyelonong aja lo kaya ayam! Sini," ucap Galang kemudian.
"Ish, apaan si? Aku cape, mau mandi. Entar aja, ya," ucap Thea dengan tanpa berpindah sedikitpun dari tempatnya berdiri.
"Wah, bener-bener ni cewe. Suami lo nih yang manggil. Lo mau jadi istri durhaka? Gue kutuk jadi nenek gayung baru tau rasa lo," ucap Galang lagi.
Ia tersenyum karena merasa lucu sendiri, ia lihat disana Thea tengah menggerutu, entah apa yang Thea ucapkan tapi ia jadi melangkah juga ke arahnya.
Thea ketus seraya sedikit membanting tubuhnya ke sofa di sebelah Galang.
Galang tak berkata lagi dan malah merentangkan telapak tangannya ke hadapan Thea dengan cengiran lebar.
"Apaan lagi nih?" tanya Thea lagi, sedikit kernyitan di keningnya, heran.
"Cium tangan gue."
"Hahh?"
Galang semakin melebarkan cengiran karena melihat Thea yang sudah semakin kesal terhadapnya.
"Kenapa? Lo kan istri gue, wajar dong seorang istri nyium tangan suaminya? Apalagi, gue kan tadi udah ngebantuin lo ketemuan sama Wingky, lo gak pengen ngucapin makasih sama gue?" ucap Galang lagi.
"Hhhh, iya iya iya. Makasih," ucap Thea semakin ketus seraya meraih telapak tangan itu dan menciumnya sebentar.
"Hehe, gitu dong! Itu baru namanya istri yang baik, trus gimana?" tanya Galang kemudian setelah ia cukup puas membuat Thea semakin terlihat merengut.
"Gimana apanya?"
"Ya temen lo, gimana dia? Dia udah gak papa?" tanya Galang lagi.
"Umh, dia udah gak papa. Tadi dia agak demam, makanya aku sama pangeran nemenin dia di apartemennya. Jadi aku pulang telat karena nunggu sampe orang tuanya dateng kesana," ucap Thea.
Kali ini suaranya terdengar pelan dan matanya pun terlihat kosong. Tubuhnya memang berada di rumah ini, tapi sepertinya pikiranya tetap tinggal di tempat Wingky tadi. Itulah yang Galang pikirkan saat ini.
"Oh," ucap Galang singkat.
"Eh, tapi. Ko aku jadi cerita sama kamu sih? Trus kenapa juga kamu kepo sama urusan aku?!" tanya Thea dengan sangat cepat dan agak keras.
Galang mengernyitkan keningnya. Benar, kenapa juga ia harus tau? Dan apa untungnya juga kalau ia sudah tau?
"I- itu, ya jelaslah gue harus tau! Lo kan istri gue. Meskipun lo pergi dengan seijin gue, tapi lo ketemuan sama bukan mukhrim lo, harusnya gue yang marah. Tapi kenapa malah lo yang sewot! Hhhh, nyesel gue udah bantuin lo! Mending tadi gue biarin aja lo lari-lari di jalanan," ucap Galang bernada marah.
Ia beranjak dari duduknya dengan kesal dan langsung meninggalkan Thea yang terlihat keheranan dengan sikapnya itu.
"Dasar aneh! Makhluk astral ngeselin!" ucap Thea setengah menggerutu.
Ding Dong!
Tiba-tiba saja terdengar suara bel rumah berbunyi hingga membuat Galang menghentikan langkahnya dan Thea kini berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
KLEK
Suara pintu terbuka lebar oleh Thea,
"Maaf, siapa, ya?" tanya Thea ramah pada seseorang yang tengah berdiri dihadapannya.
Ia lihat, seorang gadis berpipi chubby dengan rambut lurus panjang berwarna hitam, dress merah selutut dengan high heels yang ia kenakan semakin mempercantik penampilannya
"Hai," ucapnya ramah menyapa Thea.
"The, siapa?" tanya Galang yang menyusul kedepan pintu.
"Galang?"
Galang menoleh karena mendengar seseorang memanggil namanya dan saat ia melihat, matanya langsung terbulat sempurna disertai senyuman manis menghiasi wajah.
"Nayla?" ucapnya kemudian sedikit berteriak karena saking kagetnya ia melihat kedatangan seorang gadis bernama Nayla ini dirumahnya.
"Hai, lama yah kita gak ketemu. Lang," ucap Nayla yang juga tersenyum manis ke arah Galang.
Thea mengernyitkan kening sebentar, sepertinya mereka berdua sudah saling mengenal. Karena raut wajah Galang terlihat berbeda saat melihat gadis itu.
Apalagi sikap Galang juga tiba-tiba manis saat bicara. Gadis itu pasti cukup istimewa untuknya.
"Nay, ayo masuk dulu. Gak enak bicara sambil berdiri," ucap Galang pada Nayla.
Nayla hanya mengangguk pelan dan tersenyum mengiyakan ajakan Galang.
Mereka berdua kini berjalan masuk ke ruang tamu, meninggalkan Thea yang masih berdiri sambil memegangi gagang pintu dan menatapi kepergian mereka berdua yang tiba-tiba melupakannya.
"Eumh, kamu tunggu dulu disini sebentar, aku mau panggil Bi Esti buat bikinin minum. Kamu mau minum apa?" tanya Galang yang kini sudah berada di ruang tamu bersama Nayla.
"Loh, kenapa gak dia aja? Dia pembantu kamu juga kan?" tanya Nayla pada Galang.
"Hahh?"
Galang dan Thea sama-sama mengernyitkan kening mereka. Karena berada di dekat Galang, Thea menatapi dirinya sendiri dari pakaian atas sampai bawah.
Pakaian kaos oblong dan celana jeans serta rambut yang diikat asal mungkin telah membuatnya terlihat seperti 'pembantu' di rumah ini.
Thea menghela napas, ah! Ini agak menyakitkan, tapi gadis itu juga tak salah.
Ia memang pantasnya sebagai 'pembantu' bukan seorang cinderella dirumah ini.
"A-dia bukan pembantu, tapi dia istri aku." jawab Galang.
"Oh, maaf aku gak tau. Aku pikir dia pembantu kamu, soalnya aku baru lihat sekarang. Maaf yah. kenalin aku Nayla," ucap Nayla seraya mengulurkan satu tangannya kearah Thea.
"Thea," balas Thea dengan senyuman tipis.
"Umh, Lang. Kayanya aku gak akan lama, aku datang kesini cuma mau minta antar kamu buat nyari makanan sekitar sini. Boleh, kan?" tanya Nayla.
__ADS_1
"Oh, ya boleh dong. Kalo gitu tunggu bentar ya, aku mau ganti baju dulu," sambar Galang begitu cepat seraya langsung melangkahkan kakinya menuju kamar.
Bibir Thea mengerucut, orang itu! Bagaimana bisa dia begitu manis pada gadis lain? Sedangkan terhadapnya sungguh berbanding terbalik.
"Hei, Thea. Itu nama kamu, kan?" ucap Nayla tiba-tiba.
Thea yang sedari tadi menatapi kepergian Galang ke lantai atas pun baru menyadari bahwa ia masih berada di ruang tamu.
"Nghh, Ya? Kenapa?" jawab Thea.
Ia yang masih berdiri di tempatnya itu melihat kini Nayla sudah duduk di sofa dan tampak datar melihat ke arahnya.
"Apa kamu tau? pernikahan yang terjadi karena kecelakaan itu ga akan bertahan lama. Karena aku percaya bahwa Galang gak mungkin melakukan hal itu," ucap Nayla.
Thea mengernyitkan keningnya saat mendengar perkataan Nayla. Gadis itu tampak kalem dan tenang, tapi mengapa perkataanya seperti itu?
"Maksud kamu, apa ya?" tanya Thea kemudian.
"Seberapa pun lamanya kamu bersama dengan Galang. Jangan mencoba menyukainya, kurasa itu akan lebih baik buatmu." ucap Nayla.
"Apa?"
Thea terdiam, mencoba mencari arti di balik perkataan gadis yang baru ia lihat ini, hingga tak berapa lama Thea kini mulai mengerti, perkataan Nayla memanglah tak kasar namun ia justru merasakan ada sedikit ancaman di balik perkataanya itu.
Lagipula setelah dipikir lagi, ini zaman modern semua serba online sosmed dan app canggih. Jika Nayla mau ia bisa memesan apapun menggunakan ponselnya.
Tapi ia jelas jelas datang ke rumah Galang hanya untuk hal sekecil itu. Sepertinya, mereka berdua memang memiliki hubungan khusus.
"Maaf, nunggu lama ya? Ayo. Aku udah siap," ucap Galang yang sudah selesai bersiap.
Thea dan Nayla menoleh bersamaan.
"Oh, enggak papa, Lang," jawab Nayla.
Galang tersenyum manis setelah itu ia melihat Thea yang masih berdiri dan berada di sampingnya.
"Lo tungguin rumah, gue mau pergi dulu. Jangan lupa mandi, badan lo bau!" ucap Galang kemudian.
"Hmhh," jawab Thea singkat dan bernada malas.
Galang hanya tersenyum dan sesudah itu ia mengajak Nayla pergi meninggalkan Thea yang masih berdiri di tempatnya.
"Ish, dasar ganjen!" umpat Thea setelah mereka berdua pergi menghilang dari pandanganya.
***
Setelah berputar-putar mengelilingi sekitar daerah tempatnya tinggal di malam hari, Galang dan Nayla kini akhirnya menepi juga di sebuah warung makan di pinggir jalan.
Tempat seperti itu sengaja dipilih karena uang saku Galang yang cukup terbatas untuk mentraktir Nayla.
Agak memalukan sebenarnya, tapi Nayla juga sudah terbiasa dengan hal ini.
Yah, Nayla.
Seorang gadis yang dulu pernah menjadi teman waktu SMA sebelum pindah ke tempat Thea sekolah, seorang gadis yang selalu ia kejar untuk mendapatkan cintanya, seorang gadis yang selalu menolaknya berkali-kali dan seorang gadis yang menjadi satu-satunya teman dalam hidupnya.
Kini dia datang lagi setelah berbulan-bulan lamanya mereka tak bertemu, kesibukan Galang saat menghadapi ujian dan kesibukan Nayla yang juga seorang mahasiswi membuat mereka jarang sekali bertemu.
"Jadi dari tadi kita muter-muter keliling jakarta sampe tangan aku kesemutan gara-gara nyetir, itu cuma buat ngerjain aku gitu? Parah," ucap Galang yang tengah asyik menyantap satu porsi mie gorengnya dengan lahap.
Nayla hanya memesan satu botol air mineral saja, itupun hanya diminum setengahnya. Wanita memang sangat ribet.
"Ya abis, akhir-akhir ini kamu susah banget di hubungin. Sekalinya kamu ngehubungin aku, kamu malah ngasih kabar pernikahan. Sekarang siapa yang lebih jahat?" tanya Nayla balik.
Galangpun menghentikan aktivitas dan melihat ke arah Nayla.
"Loh, aku jahat kenapa coba? Kamu kan satu-satunya temen aku, jadi manamungkin aku bisa gak ngasih tau kamu. Tar kalo kamu tau dari orang lain, aku lagi yang disalahin."
"Iya tapi tetep aja kamu jahat."
Saat melihat Nayla tersenyum.
Entah kenapa jantungnya berdebar begitu cepat, pipinya yang chubby nampak sangat menggemaskan baginya. Dan hal itulah yang membuatnya tertarik saat pertama kali melihat Nayla dulu sewaktu di sekolah.
Apalagi sekarang gadis itu sudah menjadi seorang mahasiswi, penampilannya semakin anggun dan lebih cantik pastinya.
Galang jadi larut dalam keterpakuannya menatapi Nayla, angannya jauh melayang kemana-mana, senyuman gadis itu seolah menghipnotis dirinya hingga tak bisa keluar dari lingkaran khayalannya yang begitu tinggi.
"Lang?" ucap Nayla.
Galang tak merespon dan malah terus menatapi wajah Nayla.
"Lang?" ucap Nayla lagi seraya mengibaskan telapak tangannya ke hadapan Galang.
"Hahh, iya kenapa?" tanya Galang balik yang mulai tersadar dari lamunannya.
"Kamu ngelamun, ya? Ih, jadi dari tadi aku bicara gak kamu dengerin. Kebiasaan banget sih!" ucap Nayla sedikit menggerutu pada Galang.
Galang nyengir garing seraya menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Ternyata ia sama sekali tak bisa merubah kebiasaannya setiap kali memandangi senyuman Nayla.
"Astagfirullahal adzim, sadar! Inget kata Bibi, mata nakal, mata nakal!" ucap Galang pada dirinya sendiri dalam hati yang berusaha sadar dari lamunannya sendiri.
"Lang, apa kamu suka Thea?" tanya Nayla tiba tiba.
"Hahh? Ya enggaklah, gila aja aku suka cewek kaya dia, ikh. Dia itu buka tipe aku banget kali," jawab Galang, polos. Menyantap kembali makanannya yang hampir selesai.
"Oooh, trus tipe cewe kamu kaya apa?"
"Kamu," jawab Galang singkat dan polosnya.
.
"Oooh, trus kenapa kamu gak nembak aku aja?"
"Ah, bosen nembak kamu. Abis aku ditolak mulu!" jawab Galang lagi, meneguk segelas es teh manis untuk melegakan tenggorokannya.
"Oooh, kenapa gak dicoba lagi aja? Siapa tau diterima."
"Uhukkk!"
Karena mendengar hal yang di luar dugaan, Galang tersedak minumannya sendiri. Ini, pertanyaan itu? Apa maksudnya?
Setelah berkali-kali ia menyatakan perasaanya pada Nayla dan selalu ditolak, kenapa gadis itu malah memberi 'kode' padanya?
Ah, bagaimana ini bisa terjadi disaat saat seperti ini?
__ADS_1
"Eh, kamu kenapa? Ya ampun pelan-pelan dong minumnya," ucap Nayla seraya menepuk pelan punggung Galang.
Galang mencoba untuk mengatur napasnya sebentar, setelah itu ia minum lagi karena sekarang bahkan jantungnya tak berhenti berdebar dengan cepat sebab ia gugup lagi. Perkataan Nayla tadi sungguh membuatnya kaget bukan main.
"Eumh, Nay. Ini udah malem, kayanya mending aku anterin kamu pulang deh, yu." Galang memberi alasan.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam dan pastinya ia tak bisa membawa anak gadis pulang lebih malam daripada ini.
Apalagi perkataan yang di lontarkan Nayla tadi sangatlah sensitif baginya yang sekarang sudah menyandang status sebagai seorang suami.
"Yah, padahal aku masih pengen lama-lama sama kamu," ucap Nayla dengan raut wajah sedih.
"Hehe, entar 'kan bisa ketemu lagi. Gak enak, entar aku dikira nyulik anak orang gimana coba?" ucap Galang lagi. Setelah ia membayar apa yang mereka pesan tadi, iapun berjalan menuju mobil Nayla.
***
Galang melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, sekali lagi ia melihat jam di tangan.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam, rasa kantuk yang teramat berat mulai menjalar di kedua matanya.
Lelah memang, tapi malam ini ia sudah sangat bahagia, ini adalah kali pertama ia bisa tersenyum lepas dan melupakan hal apapun yang membebani pikiranya.
Setelah sampai di depan kamar, iapun membuka pintu. Melepas jaket yang ia pakai beserta aksesorisnya dan meletakan itu rapih di tempatnya semula.
Saat ia memasuki kamar ini, ia baru sadar kalau mulai dari hari ini ia tak tidur sendirian.
Ia sudah memiliki istri yang kini tampak sudah lelap dan memasuki mimpinya dengan nyaman di atas kasur.
Setelah berganti pakaian, iapun berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya disana.
Ia langsung memejamkan kedua mata yang sudah terasa sangat berat itu dan berdoa supaya Nayla bisa masuk kedalam mimpinya jika bisa.
Ah, itu benar-benar pikiran yang sangat kotor dan aneh! Ia tersenyum karena merasa aneh dengan pikirannya sendiri saat ini.
BHUAK!
"Huaaaaaa!" Galang berteriak.
BRUK!
Saat tengah enak-enaknya tidur dengan lelap, tiba-tiba saja Galang terguling ke lantai hingga ia meringis kesakitan sendiri.
"Adededeh, kenapa nih gue? Ada gempa, ah elahhh! Padahal Nayla udah masuk ke mimpi gue tadi, jadi ilang kan!" gerutunya kemudian.
"Gempa gempa! Enak ya kamu, tidur sambil meluk-meluk aku. Dasar otak mesum!" ucap Thea sedikit berteriak seraya melempar bantal guling kearah Galang.
"Emh?"
Galang agak heran dengan perkataan Thea barusan, ia yang masih setengah sadar itu berkali-kali mencoba memgusap kedua mata dengan tangan untuk menyadarkan dirinya sendiri.
Dan setelah kesadarannya cukup ia baru menyadari kalau Thealah yang membuatnya jatuh terguling ke lantai, karena ia lihat kini Thea sedang menatapnya kesal.
Ia memimpikan Nayla dalam tidurnya tapi ia malah memeluk Thea di dunia nyata. Ah, bagaimana bisa begitu?
"Wah! Ternyata elo yang bikin gue jatoh?! Eh, siapa juga yang meluk-meluk elo? Ih gak sudi gue. Gangguin tidur gue aja lo," ucap Galang agak kesal seraya beranjak dari lantai dan hendak tidur lagi di atas kasur.
BHUAK!
Tiba-tiba saja Thea melemparkan lagi sebuah bantal kearahnya dengan kesal.
"Jangan coba-coba, ya! Tidur di bawah sanah! Aku gak mau tidur bareng kamu! Otak mesum!" ucap Thea kemudian.
"Lah? Kenapa mesti gue yang tidur di bawah? Inikan kasur gue? Ya jelas elo lah yang tidur di bawah! Awas, gue mau tidur!" ucap Galang tak ingin kalah. Langsung merebahkan tubuhnya lagi dengan tanpa mempedulikan celotehan Thea yang tiada henti.
BHUAK!
Lagi-lagi Thea menggulingkan tubuh ringkih itu hingga terjatuh ke lantai untuk yang kedua kalinya.
"Adededeh, eh buset ni cewe kejem amat si! Sakit tau, lo maen guling-gulingin badan gue. Emang gue kambing guling, hahh!"
"Kamu yang harus tidur di bawah, titik!" ucap Thea sedikit berteriak.
"Ogah, gue gak mau!" ucap Galang tak ingin kalah seraya beranjak lagi ke atas kasur.
Namun sepertinya Thea benar-benar tak ingin membiarkannya begitu saja hingga terjadi keributan kecil untuk mempertahankan posisi masing-masing.
"Pergi!"
"Ogah!"
"Ikhhh!"
Saling dorong pun terjadi, dan pertengkaran sengit itu pun terhenti karena salah satu dari mereka tak bisa menyeimbangkan diri.
Thea yang spontan, tak sengaja menarik tubuh Galang sampai menubruk tubuhnya sendiri.
Cup!
Satu ciuman mendarat, tepat di bibir. Mata Thea sontak membulat disertai kedua pipinya yang terasa memanas, malu. Ia seketika mematung merasakan bobot tubuh ringkih berada tepat di atasnya, sangat dekat.
"AAA!" Mereka berdua berteriak bersamaan.
Galang maupun Thea cepat mengelap bekas ciuman pertama mereka yang tak terduga.
"Buset dah, pait! Abis nelen autan ya, lo?" celetuk Galang.
Mata Thea terbelalak. Apa harus begitu reaksi Galang setelah mencuri ciuman pertamanya?! Brengsek!
Hingga pada akhirnya Thea mendorong tubuh ringkih Galang menuju keluar kamar dan dengan cepat menutup pintunya setelah ia berhasil mengeluarkan pemuda itu dari dalam kamar.
"Heh! Buka pintunya, wah parah lo yakin! Perasaan kalo gue liat di sinetron-sinetron biasanya cewe yang ngalah kalo gini, ngapa gue kagak, ya? Woi, ini kamar gue! Adeehhhh mana dingin lagi," ucap Galang seraya tak henti-hentinya mengetuk pintu kamar.
KLEK!
Suara pintu kamar terbuka.
Galang melebarkan cengiran lebar karena melihat Thea kini juga tersenyum manis ke arahnya.
"Gue bolehkan tidur di dalem?" tanyanya kemudian.
BRUK!
Bukanya mempersilahkan Galang masuk tapi Thea malah melemparkan sepasang bantal dan selimut kearah Galang.
"Jangan mimpi," ucap Thea ketus, menutup pintunya lagi dengan cepat tanpa Galang bisa mencegahnya.
__ADS_1
"Lah? Eh dasar rese lo, hhhh! Lagian aneh amat si, masa suami meluk istrinya malah dibilang mesum!" gerutunya kemudian seraya melangkahkan kaki menuju kamar lain dengan sangat terpaksa