
"Asalamualaikum." Terdengar ada seseorang yang mengucapkan salam hingga Galang menjawab dan menoleh.
"Waalaikum salam." Ia tersenyum saat melihat Thea datang dengan Aida dan Pangeran bersamanya.
"Wah! Rame banget! Thea, jadi ini toko yang kamu bilang itu?" tanya Aida bersemangat seraya melihat sekelilingnya dan mengikuti langkah Thea menghampiri Galang.
"Eh! Ada kodok! Gila, udah lama kita gak ketemu, lo beda banget ya sekarang," ucap Galang dengan kata katanya yang tak henti meledek jika sudah bertemu dengan Pangeran.
"Ish ... berenti manggil dia kodok!" ucap Thea ketus seraya mencubit lengan Galang.
"Dih, sama aja kan? Justru gue itu manggil dia kodok karena nama dia Pangeran, Pangeran kodok! Iya gak?" celetuk Galang.
"Terserah lah, siapapun tak pernah bisa menghentikan ocehanmu itu," ucap Pangeran seraya menjabat tangan Galang dengan senyuman.
Galang dan Thea terkekeh kecil, sedangkan Aida kini malah sibuk memilih-milih aksesoris.
"Akh! Thea ini bagus banget!" ucap Aida yang kini memegang satu buah aksesoris di tangannya. Thea dan Galang menoleh. "Traktiran sahabat boleh dong?" ucapnya lagi.
"Iya boleh, calon artis," ucap Thea yang menggelengkan kepalanya karena lucu sendiri melihat tingkah sahabatnya itu.
"Asikkk," ucap Aida senang.
"Oh ya, kamu udah makan siang belum? Udah lama buka toko?" tanya Thea pada Galang.
"Ya belom lah, gimana mau makan. Orang rame gini, eh tapi lo ko bisa kesini si? Lo gak kerja di caffe?" jawab Galang sekaligus bertanya.
"Oh itu, hari ini caffe tutup. Aku juga gak tau apa alasanya. Jadi aku inisiatif kesini aja buat nemenin kamu jaga toko," jawab Thea.
"Cie, perhatian banget sih. The, kita beli makan di luar yu, tar kita bawa kesini sekalian makan bareng, gimana?" ucap Aida.
"Emh."
"Ih, kebanyakan mikir, nanti suami kamu mati kelaparan tau! Ayo," ucap Aida yang langsung menarik tangan Thea darisana tanpa Thea bisa menolaknya.
***
Dan setelah Thea dan Aida sampai di sebuah rumah makan, merkea berdua langsung memesan makanan.
Thea terlihat agak sedikit memilih makanan untuknya, karena Galang agak sedikit rewel dan memiliki alergi pada makanan tertentu.
"Kayanya sekarang kamu udah deket banget sama Galang," ucap Aida.
"Maksud kamu? Deket gimana?"
"Lihat, apa yang kamu beli semuanya makanan kesukaan Galang. Aku gak liat kamu beli makanan kesukaan kamu, kenapa?" tanya Aida.
Mereka berdua kini tengah berjalan kembali menuju toko karena jarak dari toko ke rumah makan yang cukup dekat.
"Ai, tadi aku kan udah makan, jadi aku sengaja beli ini buat dia doang. Soalnya aku masih kenyang," jawab Thea.
Aida tersenyum tipis. "Oh ya? Emh, kamu gak bisa bohong sama aku The."
"Bohong apa sih Ai? Sebenarnya kamu mau nanya apa sama aku?" tanya Thea balik.
Aida pun menghentikan langkahnya hingga membuat Thea berhenti melangkah juga karenanya.
"Kayanya kamu mulai suka sama Galang, iya kan?" tanya Aida tiba-tiba dengan memusatkan kedua matanya kearah mata Thea.
"Apa?"
Thea agak kaget saat mendengar Aida berkata seperti itu.
Dan saat Aida mengatakannyapun entah kenapa hatinya agak terasa aneh, apa alasanya ia pun tak tahu.
"Hmhh, padahal kupikir sebelumnya kalau kamu cuma sementara aja nikah sama Galang, trus abis itu kamu akan kembali sama Wingky. Tapi kayanya perkiraanku meleset,"
Thea masih terdiam saat Aida melanjutkan kata katanya.
Tapi Aida malah terkekeh kecil karena melihatnya terlalu diam.
"Hei, kamu kenapa? Aku cuma bercanda ko," ucap Aida kemudian seraya menyikut lengan Thea pelan.
Thea hanya tersenyum tipis dan merekapun melanjutkan kembali langkah mereka yang sempat terhenti.
__ADS_1
***
Di toko, Galang dan Pangeran malah terlihat asik mengobrol sambil menunggu Thea dan Aida membawa makanan untuk mereka. Dan dari pembicaraan mereka, kini Galang baru tau kalau Pangeran dan Aida sudah menjadi sepasang kekasih.
Sepertinya semenjak lulus sekolah, Pangeran tak henti hentinya mengejar cinta Aida.
Meskipun ada satu syarat yang harus dilakukan Pangeran demi mendapatkan cinta Aida.
Yaitu.. 'Merubah penampilannya'
Yah, sejak dulu Pangeran terkenal dengan pakaiannya yang rapih dan apik, rambut pun ia selalu sisir dengan rapih.
Laptop, buku, kacamata adalah hal yang tak terlewatkan setiap harinya.
Sedangkan Aida menyukai tipe pemuda yang memiliki kebalikan sifat daripada itu.
Dan DEMI CINTA, akhirnya Pangeran rela merubah dirinya menjadi apa yang Aida mau.
Hmhh?
Agak memaksa, tapi apa boleh buat.
Yang namanya cinta, meskipun itu bersyarat tapi sah sah saja jika tak melenceng dari apa yang seharusnya.
"Lang, aku mau ketoilet dulu sebentar," ucap Pangeran seraya beranjak dari duduknya.
"Jangan pake lama, tar mereka dateng tapi lo belom, jangan salahin gue kalo makanan lo abis." celetuk Galang.
Pangeran terkekeh kecil. "Terserah, asal perutmu kuat menahan pedas. Jika kau mampu menghabiskan makananku, berarti kau hebat," ucap Pangeran sebelum ia membuka pintu exit toko.
Galang mengernyitkan kening.
"Emang sepedes apaan si?" tanyanya pada diri sendiri karena Pangeran kini sudah menghilang dari pandanganya keluar.
***
Lama sekali Galang menunggu ditoko, cacing di perutnya pun sudah berdemo minta makan.
"Argh! Mereka bertiga pada kemana si? Lama amat, gak tau gue udah kelaperan apah!" gerutunya seraya memegang perutnya yang sudah keroncongan.
.
"Elo?" tanya Galang heran.
Karena ternyata yang datang itu bukanlah Thea dan Aida atau Pangeran melainkan.
Wingky.
Galang membenarkan posisi duduknya dan menutup buku bacaan yang ia pegang demi melihat Wingky yang kini berjalan kearah nya.
"Ada yang bisa gue bantu? Atau ada yang mau lo beli?" tanya Galang basa basi,
"Kalo gue bilang apa yang gue mau, apa lo bakal ngasih? Karena apa yang gue mau adalah yang jadi milik lo sekarang." tanya Wingky balik.
"Maksud lo?" Galang agak sedikit mengernyitkan kening saat mendengar perkataan Wingky barusan.
"Gue gak suka basa-basi, penolakan ataupun kegagalan. Gue bakal to the point sama kata kata gue."
Galang mulai terdiam.
Melihat raut wajah Wingky yang begitu serius, ia mulai tahu apa yang dimaksudkan pemuda itu sekarang.
"Gue, bakal mengambil kembali apa yang seharusnya jadi milik gue. Cepat atau lambat, lo harus terima kenyataan kalo apa yang lo punya sekarang adalah milik gue dan bakal kembali ke gue," tambah Wingky lagi.
"Gue gak bakal ngasih apa yang lo mau," ucap Galang bernada datar, entah kenapa ia malah melontarkan kata-kata itu pada Wingky.
"Baiklah, kalo gitu gue bakal mulai permainan ini. Bersiaplah, jangan sampai lengah karena gue gak bakal ngasih kesempatan lo sedikitpun," ucap Wingky bernada sinis seraya meletakan cukup banyak barang ke hadapan Galang.
"Asalamualaikum!"
Saat tengah bicara, terdengar suara Thea memberi salam pada mereka berdua hingga Galang dan Wingky menoleh bersamaan.
"Wingky, kamu jadi dateng? Aku fikir kamu gak bakal dateng loh," ucap Thea lagi setelah ia sampai di dalam dengan barang belanjaannya bersama Aida.
__ADS_1
"Aku pasti dateng The, nih. Liat, aku mau borong aksesoris kamu, soalnya hari ini keponakan aku ulang taun, jadi aku mau ngasih souvenir buat temen temenya yang dateng," ucap Wingky dengan senyuman manis pada Thea.
"Wah, alhamdulillah. Lang, tolong di bungkusin yah," ucap Thea.
"Ck! Kenapa mesti gue si? Males ah," gerutu Galang.
Ia jadi kesal sendiri melihat perlakuan Thea pada mantan kekasihnya itu, begitu manis dan berbeda.
Apalagi setelah mendengar perkataan Wingky barusan, ia kini semakin yakin bahwa Wingky akan mengambil hati Thea lagi dengan berpura pura baik padanya.
Kesal, itulah yang ia rasakan sekarang saat melihat tatapan Wingky pada Thea.
Dan yang membuatnya lebih kesal lagi adalah, bagaimana bisa Thea bersikap begitu manis pada laki laki lain?
Lihatlah senyuman istrinya itu pada Wingky, sangat lebar dan lepas. Sedangkan ia malah disuruh membungkus barang belanjaan.
***
Jam sudah menunjukan pukul duapuluh dua malam, Thea kini tengah sibuk menghitung pendapatan hasil dagangannya hari ini.
Ia tersenyum selebar lebarnya saat menghitung, karena hari ini ia mendapat untung banyak.
Sedangkan Galang malah terlihat merengut disebelahnya, karena setelah pertemuannya dengan Wingky dan karena Thea menyuekinya ia jadi kesal tanpa sebab.
"Wah, alhamdulillah. Hari ini dagangan kita laris Lang, nih. Bagian kamu plus bonus," ucap Thea seraya menyodorkan beberapa lebar kertas uang kehadapan Galang.
"Ck, gak usah!" jawab Galang ketus.
"Loh? Kenapa? Kamu gak mau? Atau kurang banyak? Hmhh, nanti kalo kebanyakan trus modal aku abis dong," ucap Thea.
Galang menghela nafas panjang dan menatap ke arah Thea dengan agak serius.
"Lo masih suka sama Wingky?" tanyanya kemudian tanpa basa basi lagi.
"Hahhh?"
"Hahh? Mana sini hp lo!" ucap Galang lagi.
"Mau ngapain?" tanya Thea dengan sedikit kerutan di keningnya.
Namun Galang buru buru membuka isi tas Thea dan mengeluarkan sebuah ponsel tanpa memperdulikan Thea yang sangat kesal dengan ulahnya itu.
"Lang! Kamu apa-apaan sih? Balikin gak," ucap Thea.
"Nih, gue balikin! Mulai sekarang, di hp lo gak boleh ada nomer lain selain nomer gue sama telpon rumah, gue gak suka," ucap Galang ketus seraya mengembalikan ponsel milik Thea.
"Apa? Hhhh! Kenapa gitu? Kamu boleh nyimpen nomer orang lain, kenapa aku enggak?" tanya Thea yang mulai terlihat semakin kesal.
"Ya hp gue terserah gue lah, hp hp gue! Hp lo kan gue yang beliin, itu hak gue juga!" ucap Galang lagi seraya langsung melangkah pergi meninggalkan Thea dengan wajah kesalnya.
Thea pun lekas menutup dan mengunci pintu toko dan mengejar langkah Galang yang begitu cepat meninggalkan nya. Ia benar benar heran mengapa Galang bersikap seperti ini padanya, padahal ia tak merasa melakukan kesalahan apapun.
"Tunggu, Lang. Kamu kenapa sih? Kenapa kamu tiba-tiba marah kaya gini?" tanya Thea yang kini berhasil menyusul Galang dan berjalan disampingnya.
Galang pun menghentikan langkahnya demi melihat ke arah Thea.
"The, gue cuma mau ngingetin elo. Wingky tuh cuma pura pura baik sama lo, dia baik karena dia ada maunya. Jadi mendingan lo jaga jarak sama dia,"
"Apa?" Thea agak kaget, mengapa sampai Galang tiba-tiba seprotektif ini padanya. Apa masalahnya? Sedangkan harusnya ia tau kalau Wingky tak lain adalah sahabat terdekatnya.
"Kamu tau apa soal Wingky? Enggak ada Lang! Aku gak nyangka yah, kamu bisa suudzon sama orang kaya gini, apalagi yang kamu bicarain itu Wingky, dia sahabat aku Lang. Aku lebih tau dia daripada kamu," ucap Thea bertubi tubi.
"Sahabat? Dia mantan pacar lo The, lo nyadar gak sih kalo dia masih ngarepin lo balikan lagi sama dia? Gue minta sama lo, berenti kerja di caffe, lo beneran harus jaga jarak sama dia The," ucap Galang tak ingin kalah dan agak mengeraskan suaranya pada Thea.
Ia masih menatap kesal pada Thea padahal ia lihat istrinya itu mulai berkaca kaca seperti menahan tangis.
"Kenapa? Kenapa aku harus nurutin kamu? Sedangkan kamu juga selalu aja pergi sama Nayla, kamu tuh egois tau gak!" ucap Thea.
Suaranya pelan saat bicara, namun tatapan matanya tak mengurangi kekecewaanya terhadap sikap Galang ini.
ia pun agak mendorong tubuh Galang kebelakang sebelum melangkahkan kakinya pergi meninggalkan pemuda itu.
Galang hanya bisa menatapi kepergian Thea begitu saja tanpa ia mencegah atau menahan amarah wanita itu.
__ADS_1
Kesal, rasa itu semakin menjadi saat ia melihat respon yang diberikan Thea ini. Thea pasti masih mencintai Wingky sampai sekarang. Fikir Galang.