
Galang termenung di balkon villa menatapi jalanan sepi di depannyan, Ia pun melihat jam di tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
Thea? Dimana istrinya itu sekarang? Kenapa ia belum kembali juga hingga saat ini setelah kejadian tadi pagi.
Galang mulai tak tenang, apakah Thea terlalu marah padanya? Atau Aida dan Pangeran memang mengajaknya ke tempat yang cukup jauh, hingga membuat mereka pulang terlambat?
Ia pun sekali lagi merogoh ke dalam saku celananya untuk mengambil sebuah ponsel untuk menghubungi Thea.
Tak ada jawaban.
"Ck, tau gini mendingan gue ikutin dia aja tadi!" ucapnya sedikit menggerutu pada ponselnya. Ia pun kembali memasukan ponselnya ke dalam saku dan melangkah pergi dari sana.
Ia mulai melangkah keluar villa, entah ke mana arah tujuannya Ia pun tak tahu. Yang ia harap, siapa tau ia akan bertemu mereka di jalan.
"Hmhh, dia masih marah sama gue enggak, ya?" tanyanya pada diri sendiri seraya terus berjalan.
Lama ia berjalan tanpa arah, memikirkan kira-kira apa yang mungkin akan membuat Thea tak marah lagi padanya.
Dan saat ia tengah berjalan itu, tiba-tiba ia melihat ada penjual bunga disampingnya. Satu-satunya toko bunga yang masih buka desekitar sini. Kakinya pun berbelok masuk ke dalam tanpa ia sadari. Sampai pemilik toko itu bertanya padanya bunga apa yang ingin ia beli.
Yang akhirnya Ia pun keluar dengan satu ikat bunga mawar putih ditangannya.
Ia tersenyum manis. "Thea, mudah-mudahan aja dia suka sama bunganya." gumamnya kemudian seraya mencium aroma wangi bunga ditangannya.
***
Ia pun membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam, villa ini masih tampak sepi. Lagi-lagi Thea dan yang lainnya belum pulang.
Galang berkali-kali mencium aroma wangi bunga mawar di tangannya seraya berjalan menuju kamarnya, tersenyum dan berharap Thea akan melihatnya juga dengan senyuman.
Namun, tiba-tiba.
Semua lampu di rumah ini mati mendadak tanpa sebab.
Langkahnya terhenti seketika, Ia pun mulai merasakan kedua kakinya bergetar, dadanya begitu sesak dan kepalanya teramat sangat sakit.
Tempat ini jadi begitu gelap gulita.
"Astagfirullahal adzim, jangan lagi," ucapnya pelan menahan segala rasa sakitnya agar tak kehilangan kontrol tubuhnya sendiri.
Ia pun mengeratkan peganganya pada bunga yang akan diberikan pada Thea, mencoba melawan kelemahannya ini dengan sangat kuat.
Ia pun berjalan dengan mulai sempoyongan tanpa arah, karena ia tak bisa melihat sama sekali. Apalagi sakit yang mendera kepalanya ini semakin menjadi. Hingga beberapa saat kemudian, ia merasakan ada yang menarik pelan tangannya dan langsung memeluknya begitu erat.
"Lo siapa?"tanyanya dengan suara sangat pelan.
"Jangan takut, kau bisa berpegangan padaku untuk mengurangi ketakutanmu ini, aku ada. Aku ada di sini untuk membantumu mengurangi ketakutan mu, Galang ...."
Begitu sayup terdengar di telinganya saat orang yang memeluk tubuhnya ini bicara. Karena di ronggga telinganya kini sudah dipenuhi dengan dengungan-dengungan tak jelas.
"Thea, apa ini elo?" tanyanya lagi.
"Ya, ini adalah aku. Istrimu."
Suara wanita itu terdengar lagi di pelukannya, sentuhan lembut tangan yang mengusap punggungnya sedikit mengurangi ketakutan yang ia rasakan, napasnya yang tak beraturan pun mulai sedikit tenang. Sepertinya ia memang Thea, sebab hanya Thea yang selalu menenangkannya seperti ini jika kegelapan datang.
Ia pun membalas pelukanya. Menenangkan dirinya sendiri dengan bantuan wanita yang beara dipelukannya ini.
"Benar begitu, peluklah aku. Dan kau akan merasa lebih baik."
Lampu di rumah ini pun menyala.
Segalanya bisa terlihat lagi dengan jelas, Galang yang sejak tadi menutup pandanganya pun mulai membuka kedua matanya. Setelah ia berusaha keras menahan dan melawan ketakutan nya ini.
"Lihat, kau berhasil melakukanya, Lang," ucap wanita itu.
Galang mengangguk pelan seraya tersenyum lega, meskipun seluruh tubuhnya masih terasa lemas dan kepalanya masih terasa sakit sekarang, tapi ini lebih baik daripada ia selalu tak sadarkan diri.
"Iya, gue bisa ngelakuinnya. The--"
Kata-katanya tiba-tiba terpotong saat ia melepaskan pelukanya dan melihat dengan jelas siapa yang berada dihadapannya ini.
Bukan Thea?
"Dasar penghianat!" ucap seseorang dari arah lain dengan sangat keras hingga Galang menoleh.
Lagi-lagi ia terperanjat kaget, karena ia melihat Thea tak jauh berdiri bersama dengan Aida Pangeran dan Wingky sedang melihatnya dengan tatapan tak percaya.
Dan suara itu pun diucapkan oleh Aida yang kini memegangi tubuh Thea yang terlihat syok.
"The, kamu liat dia! Apa laki-laki kaya gitu yang kamu sebut seorang suami? Dia sudah jelas berkhianat dengan Nayla, sedangkan kamu sendiri sedang sakit kaya gini," ucap Wingky.
Galang melepaskan pegangan tangannya pada Nayla.
Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa Nayla yang berada didekatnya? Kenapa? Kenapa semua hal ini terjadi?
"Thea, ini gak seperti yang lo liat. Lo salah paham, gue samasekali gak berhianat--" Ucapan Galang yang ingin menghampiri Thea secepatnya tertahan.
"Kenapa kamu gak jujur sama Thea, Lang. Bahwa kita memang memiliki hubungan khusus?"
Galang pun menoleh, dan kini semua orang pun melihat ke arah Nayla.
"Apa kamu belum menceritakan niatmu padanya? Bukankah, kau akan menjadikanku istri keduamu? Makanya, aku rela memberikan keperawananku padamu hari itu di hotel," ucap Nayla lagi dengan menatap mata Thea.
__ADS_1
TEG!
Mata Galang terbulat sempurna saat mendengar pernyataan Nayla tadi, Ia pun melihat ke arah Thea.
Istrinya itu sekarang bahkan menatapnya dengan penuh amarah, apalagi ia juga belum menjelaskan pada Thea perihal yang dilakukannya dihotel tempo hari.
Yang pada kenyataanya, ia sama sekali tak ingat apapun kenapa ia sampai di hotel itu dan bersama Nayla. Saat ia terbangun, ia sudah berada di tempat tidur dan semuanya terlihat biasa-biasa saja. Ia tak melakukan apapun, pakaiannya pun masih lengkap. Tapi kenapa Nayla malah bicara begini sekarang?
"Enggak! Itu semua bohong!" tampik Galang dengan keras. Ia pun menghampiri Thea lagi untuk meyakinkanya.
"Thea, lo jangan percaya. Gue samasekali gak ngelakuin hal itu! Percaya sama gue, The."
Bug!
Sebuah hantaman yang sangat keras mendarat di rahang Galang oleh Wingky secara mendadak.
"Basi! Ngomong aja kalo lo udah selingkuh!" bentak Wingky.
Tak cukup sampai disitu, Wingky pun menarik kerah baju Galang dengan erat dan menatapnya dengan amarah.
"Apalagi yang mau lo jelasin sekarang, hahh? Lo udah ngehianatin Thea! Dan lo udah berani main belakang sama Nayla! Padahal gue udah ngasih tau lo, kalo dia itu cewe gue!"
Bug!
Lagi-lagi Wingky menghantamkan pukulannya setelah membentak.
Galang tersungkur ke lantai, pelipis dan rahangnya begitu ngilu terasa. Tapi yang lebih menyakitkannya adalah tatapan Thea padanya saat ini. Tatapan penuh kekecewaan, adalah hal yang paling tak ia inginkan.
Krek!
Di hadapan matanya, Wingky bahkan menginjak bunga yang ia bawa untuk Thea hingga hancur berantakan.
"Thea," ucapnya pelan seraya memandangi kelopak bunga yang tercecer berantakan di lantai.
Tidak!
Kenapa mereka semua melakukan ini padanya? Kenapa Nayla berkata begitu? Dan kenapa Wingky memojokannya seperti ini?
Ini fitnah! Ia telah difitnah! Galang membatin.
Galang pun berdiri lagi, ia lihat kini Thea sudah menangis terisak dipelukan Aida tanpa menahan amarah Wingky. Sepertinya Thea sudah mulai tak mempercayai nya. Dan ia sudah masuk ke dalam perangkap ini.
Sekali lagi ia menghampiri Thea untuk meyakinkanya, tapi lagi-lagi Wingky menghalangi tubuhnya mendekati Thea.
"Minggir lo! Minggir! Gue mau bicara sama Thea! Kalo gue udah difitnah dan ini semua adalah permainan lo!" bentak Galang dengan keras seraya berusaha menyingkirkan tangan Wingky yang menghalanginya.
Pangeran yang berada di sana pun berusaha memisahkan mereka berdua karena melihat keadaan sudah mulai kacau balau.
Dan tiba-tiba.
Sebuah pisau kecil menyayat lapisan baju yang dikenakan Wingky hingga sobek dan menembus kulitnya.
Galang semakin kaget, karena tiba-tiba saja dari tangan Wingky ia menempelkan pisau itu ditangannya sebelum ia menyingkirkan tubuh Wingky.
Bug!
Wingky terjatuh kelantai dengan darah yang mulai mengalir di telapak tangan yang ia gunakan untuk menutupi lukanya.
"Wingky!" teriak semua orang yang langsung memburu tubuhnya.
Galang terpaku.
Menatapi sebuah pisau kecil ditangannya.
Kejadian ini begitu cepat, hingga mungkin tak ada yang melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu bener-bener jahat, Lang! Kamu jahat!" ucap Thea yang kini semakin menangis terisak disamping Wingky yang tengah menahan lukanya.
Galang masih terdiam.
Ia lihat kini semua orang mengerumuni Wingky dan terlihat semakin menyalahkannya.
Hancur.
Semuanya hancur berantakan, ia tertangkap basah memeluk Nayla yang ia kira Thea dan sekarang, ia memegang pisau yang diberikan Wingky padanya setelah ia melukai dirinya sendiri.
Hingga beberapa saat kemudian, ada dua orang satpam yang masuk ke dalam rumah dan memegangi kedua tangannya.
"Ayo kita bawa dia ke kantor polisi," ucap salah satu satpam itu.
Napas Galang mulai tak beraturan lagi, perasaanya membludak karena fitnah yang mendatanginya ini.
"Enggak, gue gak salah! Gue gak salah! The, gue gak salah!" teriaknya kemudian seraya berusaha berontak dari dua pasang tangan yang memeganginya erat dan menyeret paksa keluar.
Perih.
Itulah yang ia rasakan saat menatap mata sayu Thea yang kini sudah tak mempercayainya lagi.
***
"Aaa!" Bu Rini tiba-tiba terbangun dari tidur.
Pak Yahya yang masih duduk di atas hamparan sajadah setelah selesai salat isya pun menoleh karena mendengar istrinya berteriak ditempat tidur.
__ADS_1
"Ada apa, Rin?" tanya Pak Yahya yang langsung menghampiri Bu Rini. Ia lihat, napas istrinya itu tak beraturan dengan sedikit keringat yang mengalir di pelipisnya.
"Aku tiba-tiba saja mimpi tentang anakku, Mas," jawab Bu Rini dengan masih tersengal karena mimpinya tadi.
"Anakmu? Galang?" tanya Pak Yahya lagi.
Bu Rini pun mencoba untuk mengatur napasnya lebih dulu. "Mas, dia bukan anakku. Yang aku mimpikan itu adalah anak kandungku, sebelum dia diculik oleh orang gila itu, Mas."
"Dia mengambilnya dariku, dia membawanya pergi saat aku lengah meninggalkannya di kereta bayi, kenapa mimpi itu selalu mendatangiku Mas? Aku begitu ingat tangisan anakku saat ia pergi."
"Astagfirullahal adzim, itu sudah lama berlalu, Rin. Lagipula anakmu juga sudah kembali padamu lagi, kan? mungkin saja mimpimu itu datang karena kau belum salat isya. Lihatlah sudah jam berapa sekarang? Ini sudah waktunya sholat," ucap Pak Yahya seraya mengusap pelan pundak Bu Rini.
"Tapi, Mas. Kenapa perasaanku tak enak? Sepertinya, sudah terjadi sesuatu hal yang buruk. Tapi aku tak tau itu apa, yang jelas sekarang hatiku benar-benar tak nyaman," ucap Bu Rini lagi seraya memegang dadanya.
Pak Yahya tersenyum tipis dan mengusap pundak Bu Rini lagi dengan lembut. "Kamu hanya terbawa perasaan saja, Rin. Salatlah dulu, aku akan turun ke bawah dulu untuk meminta Esti membuatkan teh hangat. Apa kau mau?" tanya Pak Yahya.
"Iya, Mas," jawab Bu Rini seraya mengangguk pelan.
Pak Yahya pun tersenyum dan sesudah itu ia melangkah keluar kamar.
Sedangkan Bu Rini juga beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
***
Wingky kini sudah dibawa ke rumah sakit terdekat, lukanya yang cukup dalam mengharuskannya mendapatkan belasan jahitan dan perawatan lebih lanjut. Thea Aida dan Pangeran pun masih menemaninya hingga saat ini.
Thea, ia bahkan masih menangis saat melihat keadaan Wingky yang seperti itu. Bukan hanya itu, ia samasekali tak pernah mengira kalau Galang akan melakukan hal seburuk ini kepada orang lain.
Sekarang semuanya sudah jelas, Galang masih mencintai Nayla. Suaminya itu telah mengkhianatinya, bahkan setelah semuanya ia kira akan lebih baik. Tapi ternyata Galang merusak segala kepercayaannya. Dengan melihatnya berpelukan dengan Nayla didepan matanya langsung dan saat mendengar pernyataan Nayla tentang Galang yang sudah mengambil kesuciannya. Itu sangat keterlaluan dan diluar batas.
"Thea, udah. Jangan nangis terus, aku gak papa ko," ucap Wingky pelan yang kini terbaring di bed stretcher salah satu rumah sakit setelah lukanya diobati.
"Aku merasa bersalah sama kamu, Ky. Aku beneran gak nyangka Galang akan ngelakuin hal ini sama kamu," jawab Thea seraya mengusap air matanya yang terus mengalir.
"The, udah aku bilang kan sebelumnya sama kamu. Kalo Galang itu gak baik buat kamu, dia itu cuma pura-pura baik. Di belakang kamu dia selingkuh, parahnya lagi! Dia udah 'tidur bareng' sama Nayla," timpal Aida.
Thea menoleh.
Sekarang bukan tanya kenapa lagi saat mendengar perkataan Aida barusan. Tapi hatinya benar-benar perih tak terkira. Sangat jelas terbayangkan bagaimana rasanya saat melihat dan mendengar jika suami sendiri tidur bersama wanita lain.
"Dan aku baru tau kalo Nayla itu pacar kamu, Ky."
"Ai, aku baru-baru ini mengenalnya. Tapi sekarang aku sadar, kalau Nayla bukan wanita yang baik. Dengan kejadian ini aku udah bisa menilai sifatnya. Dan aku udah ngambil keputusan buat gak berhubungan lagi sama dia," jawab Wingky.
"Itu keputusan yang tepat, Ky. Aku setuju sama kamu. Laki-laki yang baik, pasti berjodoh dengan wanita yang baik. Galang dan Nayla, mereka berdua sangat cocok sebagai pasangan busuk," ucap Aida lagi.
Thea menunduk.
Hal yang diucapkan Aida tadi, mungkin karena ia memang sangat kesal pada Galang sebab telah melukai sahabatnya.
Tapi ....
Itu tetap terdengar menyakitkan di telinganya.
"Emh, Ai. Sepertinya aku akan pergi keluar dulu sebentar," ucap Pangeran menyela pembicaraan mereka.
"Kamu mau ke mana?" tanya Aida.
"Membeli makanan, aku lapar."
"Aku ikut!" sambar Aida dengan cepat.
Pangeran tak menjawab, ia malah langsung melangkah pergi keluar ruangan diikuti Aida dibelakangnya.
"Sekarang, apa yang akan kamu lakukan, The?" tanya Wingky setelah Pangeran dan Aida pergi.
Thea diam tak menjawab.
Ia hanya menundukan pandanganya ke bawah saat Wingky menanyakan hal itu padanya.
"Jangan ragu, bukankah segala bukti sudah bisa kau lihat sendiri. Sejak dulu, dia memang bukan laki-laki yang baik buatmu, The," ucap Wingky lagi seraya mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Thea.
Namun, Thea spontan bergerak dan menghindari sentuhan tangan itu darinya.
"Maaf, ky. A-aku akan tunggu Aida di luar aja yah. Supaya kamu juga bisa istirahat." Thea beranjak dari duduknya.
Wingky hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis.
Dan setelah itu Thea pun pergi meninggalkan Wingky sendirian diruangannya.
Setelah sampai diluar, ia menutup kembali pintu ruangan dengan sedikit menghela napas. Melihat bagaimana responnya tadi saat Wingky ingin menyentuhnya, sepertinya ia sudah tak terbiasa disentuh laki-laki lain selain Galang.
Thea terdiam di depan pintu, ia tak duduk di kursi ataupun berjalan ke tempat lain. Melainkan pikirannya sekarang yang sedang menjelajahi waktu.
Mengingat masa dimana ia dan Galang bersama selama beberapa bulan ini. Sikapnya yang begitu manis dan selalu membimbingnya dalam hal keagamaan itu nyatanya sudah melekat dalam hatinya.
Galang, bagaimana nasibnya saat ini?
Ah! Kenapa ia malah menanyakan hal itu? Yang ia tahu, saat ini pasti Galang tengah mempertanggungjawabkan perbuatannya dikantor polisi. Thea membatin.
Thea mengeratkan tanganya di dada.
Ada perasaan aneh menjalar dihatinya saat ini.
__ADS_1
Apakah benci? Marah? Kecewa atau yang lain, ia sendiri tak tahu. Yang jelas, ini sangat perih dihatinya.