
Pagi ini. Semua orang di rumah Bu Rini tampak menikmati kesibukkan mereka setiap hari. Hanya saja, mungkin bisa dikatakan berbeda. Sebab kali ini, keluarga mereka terasa lengkap.
Tapi, hal itu tak berlangsung lama. Karena dengan sangat terpaksa, Galang dan Thea harus bergegas mengurus kepergian mereka ke Makassar.
"Apa kalian harus pergi hari ini? Mama masih ingin kalian tinggal di sini lebih lama." Bu Rini berkata dengan nada berat, ia masih berjalan menemani anak menantunya sampai keluar rumah sebelum mereka pergi.
"Maaf, Ma. Ada suatu masalah yang harus kami selesaikan dulu," jawab Thea.
"Masalah? Apa itu masalah serius? Siapa tahu mama bisa bantu kalian."
"Insha Allah kami bisa mengatasinya, Ma. Mama jangan terlalu khawatir. Ini cuma masalah biasa aja, kok."
Thea menghentikan langkah setelah mereka bertiga sampai di samping sebuah mobil yang mereka pesan lewat aplikasi. Sekilas ia lihat Bu Rini masih keberatan dengan keputusan ini. Apalagi, ia juga tidak bisa memastikan akan bisa bertemu kembali.
"Kalau ada apa-apa, segera hubungi mama. Jaga kesehatan kalian berdua, ya," kata Bu Rini lagi seraya memeluk tubuh Thea sejenak. Pandangannya berpindah kepada Galang, lelaki itu tampak diam tak berkata.
"Apa kalian mau datang ke sini lagi? Buat mama ...."
Bu Rini bertanya pelan, sebenarnya ia merasa sudah terlalu banyak menuntut pada Galang. Mengingat kejadian semalam saja, sudah bisa terjawab bagaimana anaknya akan mengambil sikap.
"Ya ... mungkin," kata Galang agak ragu. Ia balas melihat Bu Rini, wanita itu sedikit mengulas senyum seolah ingin mendapat jawaban lebih. Dan Galang sendiri tidak bisa terus menolak keadaan.
Galang melangkah pelan untuk meraih tubuh wanita paruh baya itu, ia ingin memastikan sesuatu. Bu Rini terpaku saat tubuh jangkung anaknya mendadak memberi kehangatan, kehangatan yang membawanya ke dalam ingatan saat ia masih bersama almarhum suaminya dulu. Galang sungguh menyerupai almarhum Puguh dari sifat dan fisiknya.
"Semalaman penuh aku selalu memikirkan ini," kata Galang pelan. "Aku memang tak bisa mengembalikan ingatan itu sepenuhnya, tapi sekarang sudah cukup membuktikan bahwa tak 'kan ada lagi yang bisa menghalangi kenyataan bahwa kau adalah ibuku. Terima kasih banyak untuk semuanya, sampai detik ini, aku merasa bahagia. Sangat bahagia ... Ma."
Galang tersenyum. Tak pernah sebelumnya ia merasa sebahagia ini dalam hidup. Tujuannya menginap di rumah ini telah terpenuhi, mencari tahu dan memancing sejauh mana reaksi ingatannya. Dan ia sudah mendapat jawaban itu. Setiap sudut rumah ini penuh dengan kenangan, walaupun kenangan itu seringkali mengantarkannya kepada kepedihan. Tapi, ia tidak menyesali itu.
Entah sedari kapan ia mendamba pelukan ini dalam hidup. Ia juga sadar wanita ini masih belajar memahaminya, dan kedua hal itu sekarang mempertemukan mereka secara nyata.
Galang mempererat pelukannya. Bu Rini perlahan menaikkan lengannya membalas pelukan Galang, ia tidak sanggup lagi membendung kebahagiaan.
"Ka-kamu tadi manggil mama--?" Suara Bu Rini bergetar, tercekat. Setiap kata yang ingin terucap tersendat oleh kebahagiaan. "Benarkah? Mama tidak salah dengar itu?"
"Tidak." Galang melepaskan pelukan mereka. Wajah Bu Rini telah penuh dengan air mata kebahagiaan, ia tersenyum. "Maaf karena aku telah berlaku kasar kemarin. Aku hanya butuh waktu untuk memahami semuanya sampai aku menerima kenyataan. Hubungan kita dulu mungkin memang tak pernah baik, tapi aku tidak akan pernah mengenang itu. Karena aku akan tetap menyayangimu dengan tanpa ingatanku kembali. Mama," kata Galang lagi.
Bu Rini melepas senyum lega. Sekali lagi dipeluknya tubuh Galang sejenak. "Alhamdulillaah. Mama akhirnya bisa mendengarmu memanggil mama. Mama akan mengingat hari ini sampai kapan pun."
Thea yang berada di dekat mereka pun terbawa arus. Ia juga ikut merasakan kebahagiaan itu, akhirnya. Ia bisa melihat mereka berdua berpelukan dan melepas beban yang mereka pikul selama belasan tahun.
Sampai Thea dan Galang pergi dari rumah itu, mereka telah berjanji akan kembali dan mengulang hari ini dengan hati bahagia.
***
Sampai di rumah Galang. Thea mulai mengemasi barangnya, walau memang tak begitu banyak. Bu Dewi tidak ada di rumah ini, sebab ia sekarang telah tinggal bersama suaminya. Rumah ini dikhususkan untuk Galang tinggal karena bisa memangkas waktu saat pergi ke restoran.
Thea sedikit menghela napas dalam, dilihatnya wajah Galang sekali lagi. Lelaki itu langsung merebahkan diri di tempat tidur setelah memerintahnya mengemas pakaian yang perlu dibawa. Ia berhasil tertidur lagi dengan nyenyak dalam sesaat.
Thea duduk di sudut tempat tidur, dipegangnya bahu lelaki itu pelan. Galang mulai terusik kecil.
"Galang, apa kamu yakin mau ikut? Liat, muka kamu aja masih pucet gitu. Gimana kalau kamu makin sakit?" tanya Thea.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana bisa kubiarkan kamu pergi sendirian, di sana kamu pasti ketemuan sama lelaki yang bernama Yasa itu. Aku mau memastikan, dia selingkuhanmu atau bukan."
"Ih, apaan sih! Kamu bicaranya jangan ngaco, deh. Aku nggak pernah selingkuh tau." Thea menyikut pelan pinggang lelaki itu, ia kesal.
Tapi, Galang malah memberi sedikit respon. "Oh, ya?" Galang menaikkan sebelah alisnya, memastikan. "Aku masih meragukan itu."
"Aku udah jujur, Lang. Aku gak selingkuh!" Thea sedikit berteriak ketika Galang beranjak dan tidak mendengar perkataannya sama sekali.
Sedangkan Galang masih harus mencari tahu alasan sebenarnya kenapa sewaktu dulu mereka berpisah. Sebab, ia masih ragu. Saat pertama kali bertemu Thea, wanita itu menyebutkan nama Wingky dengan semua penjelasan yang masih samar. Dan ia akan mencari tahu kebenarannya saat ini juga. Orang yang bernama Wingky harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya dulu.
Galang mengambil gawai di atas meja usai berganti pakaian. Ia akan meminta izin Bu Dewi karena mungkin saja, perjalanannya kali ini akan memakan waktu cukup lama.
"Apa? Ke Makassar? Mau apa?"
"Ada urusan, Bu. Thea tinggal di sana, dan sekarang, usahanya sedang ada masalah. Jadi aku ingin membantunya," kata Galang.
Thea yang berada di belakang suaminya, berdiri dengan bibir mengerucut. "Ngebantu ngerusuh ... iya."
Galang menoleh ke belakang, Thea mengalihkan pandangannya ke arah lain, menyibukkan diri dengan polesan make up tipisnya lagi sebagai alasan.
"Ibu jangan terlalu khawatir. Insha Allah aku akan pulang secepatnya. Iya ... assalamualaikum." Galang memutuskan panggilan. Dia pun berbalik ke arah Thea lagi. "Apa yang kau lihat? Cepat, aku tidak suka orang lelet."
Galang berjalan dan menyeret sebuah koper ke luar kamar, meninggalkan Thea begitu saja sampai wanita itu tak henti menggerutu sepanjang jalan.
__ADS_1
***
Perjalanan Jakarta-Makassar menggunakan burung besi memang tak memakan waktu begitu panjang. Sekitar dua setengah jam lebih mereka sudah tiba.
Dan selama perjalanan itu pula, Galang diam. Thea hampir saja kehabisan akal dengan sikap lelaki itu. Hanya karena ia berbohong tentang mobil sewaannya di Jakarta kemarin, Galang mencap semua perkataan Thea bohong.
Setelah cukup lama perjalanan dari bandara ke daerah tujuan tempat tinggal Thea. Mereka akhirnya sampai di depan sebuah bangunan. Cukup besar dan berlantai dua. Tapi setelah mereka memencet bel dan masuk, ternyata ada beberapa orang di dalam.
"Assalamu'alaikum!" Thea sedikit berteriak ketika memasuki rumahnya.
Di lantai bawah. Barang-barang hasil kerajinan tangan para pegawai Thea agak menggunung di Poly Bag. Ada juga yang sudah berbentuk paketan siap kirim. Ini seperti bukan rumah pribadi bagi Galang. Lebih tepatnya, rumah serba guna.
Galang menelusupkan kedua tangan di saku jaketnya, wajahnya yang sedikit tertutup masker membuat orang-orang di dalam rumah Thea menatap penuh keingintahuan.
"Waalaikumsalam. Aihhh, Bu Bos udah pulang. Kemana aja sih, Bu? Dan ... ini siapa? Aaa, Bu Bos bawa yang bening-bening ke sini. Boleh kan dikenalin dikit sama jomblo cantik ini?" Seorang gadis muda sedikit bertanya. Dia tampak mengedipkan sebelah matanya ke arah Galang. Dan memancing kecemburuan Thea.
"Apaan sih. Jangan jadi ganjen gitu, deh. Dia udah ada yang punya," jawab Thea sedikit kesal. "Yasa mana? Katanya toko kemalingan, terus gimana? Orangnya mana sekarang?"
Gadis itu terkekeh kecil. "Pelit banget sih Bu Bos. Kan cuma tanya," jawabnya. "Pak Bos ada di ruang kerja. Iya sih, toko emang kemalingan. Tapi anehnya, gak ada yang ilang di toko. Duit juga masih utuh. Pak Bos udah laporin kasus itu ke polisi, kok."
Thea mengernyit. Ia heran dengan keterangan yang diberikan Wina. Jadi, apa ada orang yang berniat padanya? Kenapa para pencuri itu tidak mengambil barang berharga?
"Syukur, deh. Kalau gitu aku mau nyimpen barang dulu sebelum ketemu Yasa."
Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di benak Thea. Ia pun meletakkan kopernya di kamar lantai dua sebelum akhirnya menyadari sesuatu. Galang sudah tak lagi membuntutinya. Lelaki itu duduk di sofa dengan para pegawai wanita yang mengerumuninya bagai semut bertemu gula.
"Hah! SU-SUAMI!" Mereka berteriak, kaget.
Thea langsung berjalan cepat ke arah mereka. Galang tampaknya masih ingin berkata.
"Ya ... aku suaminya. Apa bos kalian tidak pernah jujur kalau dia sudah bersuami?" tanya Galang.
"Selama ini aku kira Bu Bos pacaran sama Pak Bos, ternyata udah punya suami. Ya, ampun. Gak nyangka banget deh, Bu Bos bisa nyelingkuhin suami seganteng ini." Salah seorang dari mereka berkata, disambut anggukan setuju dari yang lainnya.
Mereka semua akhirnya menatap sinis ke arah Thea seolah majikannya telah melakukan dosa besar.
"Oh ... jadi, dua bos kalian sudah jadi sepasang kekasih? Hebat sekali. Padahal dia masih belum bercerai denganku."
Thea menelan saliva dalam-dalam. Walaupun ia tidak pernah selingkuh dengan siapa pun, tapi tatapan Galang padanya seperti akan menelan orang hidup-hidup.
"Ih, Bu Bos jangan gitu--"
"Aku akan bayar 3 kali lipat gaji kalian bulan ini." Galang menyela, sontak saja hal itu memancing pandangan semua orang ke arahnya dengan wajah berbinar. "Katakan di mana rumah makan paling enak di kota ini. Aku juga akan bayar apapun yang kalian pesan."
"Kok, gue berasa seneng tapi galau, ya?"
"Galang. Udah berapa kali si aku jelasin ke kamu. Aku gak pernah selingkuh sama siapapun!" kata Thea sedikit menekankan ketika melihat para bawahannya mulai terprovokasi. Tampaknya Galang benar-benar akan memanfaatkan situasi ini menjadi keuntungannya.
"Tapi kau meninggalkanku karena lelaki bernama Wingky, 'kan? Dulu kamu meninggalkanku karena Wingky, Wingky berlalu, sekarang kau berhubungan dengan Yasa?"
"I-itu ... itu sebenernya kan kamu sendiri udah--"
Galang beranjak dari duduknya. Ia tersenyum miring melihat Thea tidak mampu berkata banyak.
"Astagfirullah ... jadi bener, Bu Bos ninggalin suami gara-gara cowo lain?"
"Ahhh, laparnyaaa. Ada yang mau ikut makan? Janjiku masih berlaku buat kalian," kata Galang. Kali ini ia dapat tersenyum meledek ke arah Thea. Walau istrinya tampak marah, ia tak peduli. Membuat semua orang berpihak padanya itu sudah lebih dari cukup, agar ia bisa mengorek informasi yang dibutuhkannya tentang Thea selama ini.
"Ikut! Lumayanlah, udah tanggal tua. Isi dompet mulai dilanda paceklik. Makanan gratis nggak boleh ditolak!" Semua orang ikut berdiri dan menyusul ke mana arah Galang pergi.
"Kita pergi ke rumah makan yang ada di pertigaan aja. Gimana? Di sana juga enak kok, makanannya," usul yang lain.
"Oke ... ayo pergi." Galang menyetujui.
Di belakang, diam-diam Thea membuntuti. Ia mengumpat dan memaki lelaki biang rusuh itu dalam hati. Sudah ia duga sebelumnya, kehadiran Galang di tempat ini pasti membuat onar.
"Ngapain ngikut-ngikut? Katanya mau ngurus toko. Sana ... aku mau makan," ujar Galang ketika melihat Thea salah tingkah di belakangnya.
"Emang kenapa kalau aku ikut? Gak pengen banget dibuntutin istri sendiri. Lagian kamu pergi mau pake apa? Di sini nggak ada angkot. Pake mobil aku aja, mobil yang ini asli ya, bukan sewaan," ketus Thea.
"Terserah."
Thea tersenyum. "Bentar. Aku ambil dulu kuncinya." Thea sedikit berlari ke dalam rumah lagi.
***
__ADS_1
Galang bergerak tak nyaman. Kedua lengannya masih berlipat di dada saat ia harus menahan kecemburuan melihat pemandangan di hadapannya.
Seorang lelaki berperawakan jangkung, berkulit putih pucat seperti vampir itu duduk di seberang meja Galang. Ia juga tampak tak nyaman dengan lelaki asing yang baru dilihatnya.
Sampai kedua lelaki itu memilih bungkam walau yang lain sibuk melahap hidangan dengan nikmat di meja lain.
"Jadi, kau yang selama ini bersama Thea?" tanya Galang memulai percakapan mereka.
"Hmmh."
"Apa kau tidak tahu kalau Thea sudah bersuami?"
"Gue rasa, siapapun orang yang ketemu dia dulu. Pasti gak bakal nyangka kalo dia udah punya suami," kata Yasa. "Gue ketemu dia di pinggir jalan tanpa tujuan. Makanya gue nolongin dia dan ngasih kerjaan. Jadi, jangan mikir terlalu jauh dulu deh. Ada juga elo yang harusnya disalahin. Ke mana aja lo selama 6 taun? Suami gak bertanggung jawab, ninggalin istri selama itu sendirian." Sambungnya lagi bernada sinis dan menyindir.
Yasa adalah orang yang cukup berjasa dalam hidup Thea selama di Makassar. Lelaki itu memungutnya dari pinggir jalan dan membawanya pulang ke rumah. Memberi pekerjaan yang layak sampai mereka akhirnya bisa membuka usaha bersama.
Sistim tanam modal dan pembagian hasil dari penjualan aksesoris membuat kehidupan Thea cukup layak sampai bisa sejauh ini.
"Kau pikir aku begitu? Kalau dulu aku bisa memilih, aku pasti lebih memilih mati daripada menelantarkan istri. Karena jelas aku sudah gagal membahagiakannya. Sekarang, aku bahkan tidak mengingat masa laluku dengan Thea dan siapa yang menyebabkan kami berpisah."
"Tidak ingat? Kenapa?"
"Ingatanku hilang semenjak operasi yang kulakukan 6 tahun lalu. Untuk itu, aku berterima kasih karena kau sudah membantu istriku selama ini," kata Galang.
Penjelasan Galang membuat Yasa mengangguk paham. Kini ia tahu alasan kenapa Galang tidak pernah datang mencari Thea. Walau pun sekarang, pada kenyataannya ia harus mengubur dalam-dalam perasaannya untuk Thea. Sebab ternyata wanita yang dicintainya telah bersuami.
"Apa Thea pernah menceritakan seseorang yang bernama Wingky padamu?" tanya Galang lagi.
"Emh ... ya. Dia sempat bercerita tentangnya, gue rasa semua masalah kalian sekarang jadi nyambung di pikiran gue. Dan semua itu pasti ada kaitannya sama Wingky. Apa lo penasaran soal itu?"
Galang tersenyum. "Tentu saja. Jika terbukti dia yang menyebabkan hubunganku dengan Thea retak. Aku harus pastikan dia dapat balasan yang setimpal."
Yasa balas tersenyum. Ia pun akhirnya menceritakan beberapa informasi penting yang diterimanya dari Thea. Sedangkan Thea sendiri yang berada di meja seberang mereka tak begitu mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
Galang dan Yasa tampak serius membicarakan sesuatu. Thea mulai tidak bisa duduk nyaman di tempatnya. Ingin sekali ia menghampiri mereka dan mendengar hal penting apa yang menjadi topik mereka saat ini. Tapi, Galang sudah memperingati agar tak ikut campur dalam urusannya.
"Perasaan aku kok ngeri-ngeri gimana, ya. Apa mereka gak bakal gelud, Bu Bos? Perlu sediain golok gak? Siapa tau butuh ...," celetuk Wina asal.
"Heh! Kamu ngomong asal jeplak aja nggak disaring dulu! Like aja sih, jangan ikut komen." Thea menepuk bahu Wina sedikit geram.
***
Malam harinya. Tinggal Thea dan Galang dalam rumah, dan Thea tengah membersihkan diri di kamar mandi. Seharian ini sungguh melelahkan, pekerjaan menumpuk dan banyak sekali yang perlu diurus Thea untuk kedepannya.
Saat pergi ke tempat Galang, lelaki itu sudah lebih dulu merebahkan diri di tempat tidur. Thea merasa, walau hilang ingatan, kebiasaan Galang masihlah sama.
"Kamu tadi sore bicarain apa aja sama Yasa?" tanya Thea seraya membuka lemari pakaian mengambil selimut.
"Bukan urusanmu."
"Bukan urusanmu, katanya!" Thea membatin dengan bibir mengerucut. Ia geram, sekarang kalimat Galang terlampau misterius dan tertutup baginya. Ia pun mengambil selimut dan bantal, memberikan itu kepada Galang.
"Oh, ya udah. Kamu gak mau cerita, tidur di luar gih sana," kata Thea ketus.
"Kau mengusirku?"
"Iya. Ini kamarku, dan aku gak suka kamu tidur di sini. Atau kalau kamu mau cerita, itu bisa aja berubah."
Galang tersenyum miring. Ia menarik lengan Thea sebelum wanita itu mengusirnya dari kamar. Tubuh Thea terjatuh bebas di atas dada bidang yang sudah siap menahan. Aroma bunga rose tercium bersamaan dengan tetesan air tipis dari helaian rambut Thea yang basah.
"Apa kau tahu sedang berhadapan dengan siapa sekarang, huh?" tanya Galang.
Thea meneguk saliva. Jantungnya berdegup lebih cepat melihat sorot mata tegas Galang.
"Kau mungkin sudah tahu seluk-beluk suamimu yang bernama Galang Harun. Tapi kau belum tahu siapa Juno Aswanda."
Thea terdiam. Yang diucapkan Galang memang benar adanya. Sebab, ia tidak pernah tahu rencana apa yang akan dilakukan lelaki itu sekarang. Jika dulu Galang suka mengalah walau bibirnya terus menggerutu saat diusir dari kamar. Tapi sekarang?
Thea meremas setelan tidur Galang ketika lelaki itu mencuri ciuman di bibirnya. Ia tak menolak sebenarnya, hanya saja terlalu kaget mendapati sosok yang agresif dan protektif seperti ini.
"Berhentilah memikirkan hal-hal yang kurang penting. Karena mulai malam ini, aku akan mengisi perutmu dengan calon anakku. Agar kau tidak pernah bisa selingkuh lagi."
"Hah? A-anak?"
Galang menyeringai lebar. Thea belum bisa mencerna penuh setiap perkataannya.
__ADS_1