
Thea melajukan mobilnya cukup kencang ingin menyusul kendaraan di depannya. Jalanan ini untungnya cukup sepi karena hujan deras mengguyur dan membuat langit semakin gelap. Perasaannya tak karuan, sungguh Thea tak kuasa lagi menahan semuanya seorang diri, apalagi melihat keadaan Galang yang mendadak menolak kehadiran semua orang.
Suara decitan rem terdengar seketika membuat putaran roda kedua mobil terhenti mendadak. Hampir saja mobil Galang dan Thea saling membentur jika tidak tanggap dalam menyetir.
"Apa-apaan orang itu?!" Galang mengumpat. Setelah mematikan mesin mobil, ia mengambil sebuah payung dan pergi keluar untuk menemui orang yang berani menghentikan mobilnya di tengah hujan.
"Keluar! Siapa kau? Dan apa maumu?!" Galang mengetuk kaca gelap pintu mobil itu. "Hei ...!" Berulang kali ia mengetuk, tapi si pemilik mobil tak kunjung keluar juga.
Lama-lama ia mulai jengah. Galang memutar tubuh hendak kembali ke mobilnya lagi dan menghidari orang yang menurutnya kurang kerjaan itu. Tapi, belum sempat ia membuka pintu, tangannya lebih dulu ditarik oleh seseorang. Hingga ia memutar tubuh dan melihat penampakkan seorang wanita yang sempat dilihatnya di rumah Pangeran.
"Kau?" Galang mengernyit.
Dalam sekejap tubuh wanita itu basah kuyup, embusan angin di tengah hujan membuat tubuhnya gemetar melawan kedinginan. Wanita itu sebisa mungkin memberi senyum tipis membuat kernyitan di dahi Galang bertambah.
"Ha-hai."
"Kenapa kau lakukan ini? Apa kau tahu, perbuatanmu ini bisa saja mencelakai kita berdua, huh?!"
Thea menekan ujung jemarinya, ia gugup. Pertama kali ia mendengar Galang bersikap dingin melebihi dinginnya cuaca yang menembus kulit tipisnya saat ini.
"Ma-maaf. Aku tdak tahu lagi bagaimana cara menghentikanmu. Aku hanya ingin bicara," ucap Thea.
"Bicara? Kau berkata seolah kita telah mengenal dengan baik. Harusnya kau berpikir dua kali sebelum mengajakku celaka!" ucap Galang begitu sinis dan mulai membuka pintu mobil tanpa mempedulikan Thea. "Pulanglah. Kurasa kita tidak ada urusan sama sekali."
"Ada!" Thea dengan cepat menahan Galang dan menutup rapat pintu mobilnya. Membuat lelaki itu tampak marah atas sikapnya ini. "Urusan kita belum selesai. Aku hanya ingin kejelasan, kenapa kamu bersikap kaya gini, Lang? Aku tidak tau perasaan apa ini. Tapi aku benci saat kamu pura-pura lupa sama aku! Kamu boleh aja marah dan memaki kesalahanku dulu. Tapi jangan pernah menganggap kalau kita cuma kenal satu hari!"
"Apa semua itu penting bagimu? Bukankah seharusnya salah satu pertanyaan itu untukmu? Kenapa kau menganggap salah sikapku ini?"
Pertanyaan itu dikembalikan oleh Galang. Membuat Thea merasa kalah telak oleh sikapnya sendiri. Kenapa ia merasa jauh lebih berhak menghakimi lelaki itu? Jika dulu keinginannya adalah supaya Galang menjauhinya dan melupakan hubungan mereka. Tapi kenapa sekarang ia begitu egois?
"Baiklah. Kurasa kau memang salah orang," ucap Galang lagi.
Thea menggeleng. "Enggak. Aku enggak salah orang! Kau tetaplah Galang ... hiks. Kau ... tetap Galang. Suamiku ...."
Lontaran kalimat itu membuat kedua mata Galang membulat sempurna sesaat. Wanita itu menangis, telapak tangan dinginnya meresap saat Thea masih menggenggam lengannya.
Tangisan Thea utuh tanpa ingin berhenti. Lelaki dingin yang masih berstatus sah sebagai suaminya secara hukum itu tak tergerak sedikitpun. Entah harus bagaimana ia mengungkapkan perasaan ini. Sampai pada akhirnya pertahanan yang ia bangun roboh dan melebur bersama derasnya hujan.
***
Di rumah, Bu Rini masih menangis pilu semenjak terakhir kali ia lihat Galang pergi tanpa memberinya kesempatan. Ia merasa kesalahannya dulu terhadap Galang sangat fatal hingga membuat Galang tak mengakuinya sebagai ibu.
Ia tak bisa lupa dan tak pernah mungkin bisa lupa, sikapnya dulu begitu keji melukai perasaan seorang anak hingga usianya menginjak 19 tahun. Entah seberapa banyak ia melukai perasaan Galang, sekarang yang tersisa hanyalah penyesalan dan hukuman yang harus diterimanya secara mentah.
"Galang akan memaafkanmu, Rin. Percayalah. Aku mengenalnya dengan baik." Pak Yahya mengusap pundak istrinya yang terus termenung di kamar Galang.
__ADS_1
"Mungkin saja Galang tidak akan pernah memaafkanku, Mas. Ini adalah hukuman yang setimpal bagiku," ucap Bu Rini. Telah kering air matanya karena terlalu banyak menangis. Sejak ia tahu kenyataan itu, ia selalu menghabiskan setiap waktunya berada di kamar Galang. Menekan perasaan rindu yang teramat dalam saat Galang masih menempatinya.
"Galang hanya butuh waktu, Rin."
Seketika Bu Rini terbangun dan duduk di samping suaminya. "Apa menurut Mas, Galang sudah operasi? Mas pernah mengatakan, kalau efek operasi itu adalah kehilangan memorinya."
Pak Yahya terdiam sejenak. Sejujurnya Ia pun merasakan demikian melihat perubahan Galang yang jauh berbeda mulai dari gaya bicaranya. Jika memang benar itu yang terjadi, berarti Esti telah memenuhi janjinya selama ini. Yaitu menghapus ingatan Galang tentang Rini.
"Aku tidak bisa memastikan itu, Rin. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku sudah menyuruh orang untuk mencari informasi lebih jauh tentang Galang. Kita tidak akan lagi kehilangan jejaknya seperti dulu." Pak Yahya sebisa mungkin menenangkan istrinya dari kegelisahan.
"Syukurlah. Aku lega mendengar itu, Mas. Aku tak ingin lagi dia jauh dariku," jawab Bu Rini begitu pelan.
"Apa kau ingin tidur di sini?"
Bu Rini hanya mengangguk. Sesudah itu ia merebahkan diri lagi di kasur besarnya dan menyesap kenangan yang mungkin saja masih tersisa di bantal yang dulu dipakai anaknya.
***
Thea menghirup oksigen lebih banyak saat pertama kali membuka kedua mata. Kepalanya seolah ditindih bebatuan kali dan terasa berat. Erangan kecil keluar dari mulutnya tanpa terasa dan mengamati sekitar.
"Ahhh ... di mana aku?" gumamnya seraya memijat pelipis yang masih sedikit sakit. Tapi meskipun begitu, ia cukup merasa nyaman ketika terhirup wangi dari kamar ini.
Thea menunduk, dan ia sontak kaget melihat pakaiannya telah berganti dengan kaos cukup besar bagi tubuh mungilnya.
"Hah? Siapa yang gantiin bajuku?!" Thea hanya mampu berteriak dalam hati. Menutup dadanya dan melihat ke sekeliling. Namun, ia sama sekali tak tahu berada di kamar milik siapa. Sebab terakhir ia hanya ingat kalau sedang bersama ... Galang?
Perkataan seseorang langsung memancing Thea dan menoleh ke arah sumber suara. Seorang lelaki dengan santainya duduk di kursi sambil menyeruput minuman dalam gelas di tangannya.
"Kau?!"
"Kenapa?"
Thea kehilangan kesabaran. Ia pun membuka selimut dan turun dari kasur king size itu dengan kesal. Tampaknya ia telah pingsan saat bicara dengan Galang. Dan ia tak tahu apa yang sudah diperbuat Galang pada tubuhnya saat kesadarannya hilang tadi.
"Kenapa? Setidaknya kamu bisa kan nunggu aku sadar dulu?! Jangan sembarangan mengganti bajuku! Tadi itu pasti kau--"
Galang mengernyit. "Kenapa? Apa aku salah sudah melihat setiap inci tubuhmu?"
Mata Thea membulat sempurna. Sekarang ia bingung harus mengelak dengan cara apa. Sungguh, ia malu untuk mengakuinya. Malu!
Thea salah tingkah sendiri.
"Ikh! Kamu tuh beneran gak pernah berubah, ya? Ngeselin!" Thea bergegas berbalik arah. Mencari bajunya sendiri yang entah berada di mana. Ah tidak, Ia pun akhirnya memilih membawa tas miliknya saja dan hendak pergi keluar meninggalkan si tengil itu.
"Mau ke mana? Taxi sudah tidak ada di jam 1 malam. Dan mobilmu sudah kutinggalkan di tempat tadi!"
__ADS_1
Teriakan Galang berhasil membuat langkah Thea terhenti. "Apa?" Ia menatap lelaki itu dengan perasaan semakin jengkel.
Langkah cepat pun diambil Thea menghampiri Galang dan berdiri angkuh di hadapannya lagi.
"Kamu ninggalin mobil aku di sisi jalan?! Galang! Kamu tau gak sih, aku beli mobil itu susah payah! Gimana kalau ada yang nyuri?!"
"Itu bukan urusanku."
"Galang!" Thea mendengkus geram. "Bukan urusanku katanya? Apa sekarang hatinya sudah ganti jadi batu!" Batinnya mengumpat kasar.
Tak berapa lama ia lihat Galang mulai beranjak dari tempatnya. Tanpa diduga, lelaki itu meraih tubuhnya, membuat perut Thea berada di atas bahu kokoh milik Galang dengan posisi kepala di belakang punggungnya.
"Turunkan aku, Lang! Kamu mau ngapain sih?" Thea kesal, kepalan tangannya memukuli punggung lelaki itu yang berjalan membawa tubuhnya kembali ke arah tempat tidur. Ia panik.
Bug!
"Ahhh ... Galang! Kamu kasar banget, sih! Kepalaku masih pusing tau!"
Kasur itu berderit saat menerima hentakan tubuh Thea di atasnya. Wanita itu terengah, perutnya sesaat terasa mual setelah tertekan bahu milik Galang. Sesaat tatapannya bertemu dengan iris mata yang masih diselimuti segudang misteri itu.
"Tidurlah. Kau akan bebas pergi ke mana pun yang kau mau besok pagi. Aku sudah menyuruh orang untuk mengambil mobilmu."
"Tunggu ...." Thea menahan langkah Galang yang hendak pergi, tangannya meraih lengan lelaki itu hingga benar-benar behenti. "Apa kamu beneran lupa sama aku, Lang?"
Thea melempar tatapan penuh keingintahuan terhadap sikap Galang saat ini.
"Apa itu penting?"
"Jelas itu penting bagiku. Kamu udah maksa aku bohong sama semua orang dan mengira kita sudah berpisah. Padahal sebenarnya kita gak pernah bercerai. Tapi kenapa kamu malah ngilang gitu aja? Kamu mengikat statusku sampai aku gak bisa nikah sama orang lain. Kamu jahat, Lang."
Sudut mata Thea kembali menghasilkan air bening saat mengingat kehidupannya selama enam tahun terakhir. Ketika ia meninggalkan Galang malam itu, dan sampai seterusnya Galang tak pernah mengabulkan permintaan Thea yang ingin berpisah.
Saat Thea kembali ke rumah Pak Yahya, Galang sudah pergi. Bahkan sejak saat itu, Thea harus pintar menyembunyikan diri dari kejaran Wingky karena janjinya tak bisa ia tepati.
Hidup dalam kesendirian dengan status istri yang masih disandangnya. Jelas saja membuat Thea sulit menerima Wingky. Tapi itu lebih baik jika harus menyerahkan hidupnya pada orang sekeji Wingky. Pada akhirnya Thea pun menikmati kesendirian itu, dan berharap satu hari nanti ia akan bertemu lagi dengan suaminya.
"Kalau aku menceraikanmu, apa kau akan menikah dengan pria lain?" tanya Galang.
Thea menggeleng cepat. "Enggak," jawabnya dengan suara lemah. Mendadak ia merasa kedua mata dan helaan napasnya begitu panas dan berat kembali. Sampai Thea melepas pegangan tangannya pada Galang, beralih memeluk tubuhnya sendiri dan meringkuk kecil di atas tempat tidurnya.
"Dasar lelaki bodoh. Kurang ajar. Kenapa kamu begitu pintar bersiasat? Dengan masih mengikatku dalam status pernikahan. Jelas saja rencanamu selangkah lebih jauh dari Wingky. Tapi itu sungguh menyiksaku, bodoh. Kau benar-benar kejam, Galang."
Galang menyunggingkan senyum miring. Ia berjongkok di samping tempat tidur dan mengamati seksama wajah pucat Thea. Bahkan dalam keadaan sakit, bisa-bisanya wanita itu memakinya.
Disibaknya serat rambut basah Thea ke belakang telinga. Tak lupa Galang menaikkan selimut tebal menutupi tubuh Thea dan kembali mengompres keningnya dengan handuk kecil. Tampaknya wanita itu sudah kembali larut dalam mimpi dalam sekejap.
__ADS_1
Sejenak ia merasakan bibir miliknya bertahan cukup lama di puncak kepala Thea dan mengalirkan kehangatan yang selama ini hilang dalam hidup wanita itu.
"Terima kasih karena sudah bertahan sampai sejauh ini ... istriku."