
Keesokan harinya di rumah.
Thea seperti biasa bangun lebih awal dari Galang. Setelah pertengkarannya tadi malam dengan lelaki itu, ia belum bertanya lagi dengannya sampai saat ini.
Ini adalah pertengkaran pertamanya dengan Galang, entah kenapa ia sangat kesal Galang bersikap overprotektif.
Bukan, bukan itu.
Tapi ia kesal karena Galang masih tetap saja akan menemui Nayla, sedangkan lelaki itu dengan begitu egois melarangnya berteman dengan Wingky.
Mereka berdua saling mendiami satu sama lain sampai di meja makan sekalipun.
Tak ada kata, sapa atau sedikit senyuman diantara mereka.
Sedangkan mereka sendiri tak begitu memahami apa dan mengapa mereka bersikap seperti itu.
***
Galang sedikit melamun. Apa ia sudah keterlaluan? Kenapa ia malah jadi merasa bersalah sekarang?
Harusnya mungkin ia memang tak mengatakan hal itu pada Thea. Wingky adalah seseorang yang cukup berarti bagi istrinya itu. Memang agak kasar karena ia tiba-tiba memaksanya menjauhi Wingky.
Tapi kenapa juga ia tak bisa mengabaikan perkataan Wingky? Kenapa rasanya agak aneh saat Wingky mengatakan akan mengambil kembali Thea darinya.
Galang memegangi dadanya, agak perih.
Kenapa?
Ia pun buru buru menepiskan semua pikirannya.
***
Malam hari, tepat pukul sepuluh malam Galang pulang ke rumah. ia pun masuk kekamarnya dan mengucapkan salam seperti biasa, namun tak ada jawaban. Saat ia masuk ke dalam kamar, Thea sudah tidur lelap di tempat tidur.
ia pun menaruh tas dan jaket di tempatnya semula, melangkah menuju kamar mandi dan sesudah itu mengambil selimut dan bantal untuk tidur di kasur lipat yang berada di lantai.
"Mau ke mana kamu?" Tiba-tiba terdengar suara Thea bertanya di tempat tidur.
"Gue mau tidur, kenapa?"
"Tidur di sini," ucap Thea lagi bernada datar namun tak melihat ke arah Galang sama sekali.
"Emang boleh?"
Thea tak menjawabnya, menandakan jawaban dari pertanyaan nya itu adalah 'iya'.
Galang pun mengambil lagi selimut dan bantalnya, membawanya ketempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sana. Saat ini Thea masih membelakanginya, mungkin wanita itu masih marah karena ia melarangnya berhubungan lagi dengan Wingky.
Beberapa waktu kemudian.
Tik
Tok
Tik
Tok
Dentingan jam terus terdengar beraturan.
Pukul tiga lebih saat Galang melihat jam didinding nya.
Ia tak bisa tidur, padahal ia terus menguap sejak tadi.
Matanya terasa berat, namun saat mata itu terpejam. Ia malah gelisah tak menentu.
Pikirannya terganggu saat ia melihat ke arah Thea yang kini tidur menghadap ke arahnya.
Cukup lama ia menatapi Thea yang tengah tertidur lelap di hadapanya, mencoba mencari tau apa yang ada di dalam hatinya saat ini.
Pertanyaan pertanyaan muncul dibenaknya.
Kenapa?
Apa?
Siapa wanita itu?
Dan apa arti Thea baginya?
Saat ia melihat Thea cukup lama,
Ia tak merasakan apa apa.
Tapi kenapa ia merasa berat kalau Wingky benar-benar serius dengan ucapannya?
Galang menghela napas panjang dan membenarkan posisi tidurnya menghadap langit-langit. Berhenti menatapi Thea karena ia jadi kesal sendiri tak mendapatkan jawaban apapun. Dan Nayla, apa yang harus ia lakukan pada gadis itu?
Pada akhirnya ia mengetahui kalau Nayla juga menyukainya.
Dan parahnya! Ia kini tengah menjalin hubungan dengan Nayla! Sedangkan saat ini statusnya sudah menjadi suami dari seorang wanita bernama Thea.
Ah! Ini benar-benar membuatnya bingung.
__ADS_1
***
Pagi harinya, seperti biasa Galang melakukan sholat berjama'ah bersama Bi Esti dan Thea.
Istrinya itu masih diam sampai sekarang, lagi-lagi tak ada pertengkaran kecil di antara mereka di hari kedua.
Dan ini terasa aneh.
Saat pertama bangun pagi tadi. Tubuhnya agak sedikit tak enak, mungkin karena ia lagi-lagi tak tidur semalaman.
Dua hari ini ia tak tidur sedikitpun karena kegelisahan dalam hatinya sendiri.
Tapi hari ini, ia sudah putuskan akan mencari tau jawaban dari pertanyaan dalam hatinya tentang Thea.
Yah, ia akan mengikuti Thea seharian.
ke manapun Thea pergi, ia akan mengikutinya.
Saat ini Thea masih bekerja di tempat Wingky dan ia akan mencari tau apa respon nya saat melihat Thea dengan Wingky.
***
Saat ia sudah sampai di kampus tempat Thea kuliah, ia pun masih berlarian mencari istrinya itu.
Napasnya terengah-engah karena ia tak berhenti berlari, sebab tadi di perjalanan taxi yang ditumpanginya tiba-tiba mogok.
Dan setelah cukup lama mencari, akhirnya ia bisa melihat Thea juga.
Ia tersenyum lega dan mulai sedikit melambatkan langkahnya di belakang Thea yang tengah berjalan menuju perhentian mobil bis di sekitaran kampusnya.
Saat masuk dan duduk di sebuah mobil bis, ia pun ada di belakangnya. Thea sama sekali tak menyadari keberadaan nya karena sibuk membaca buku.
Itulah kebiasaan Thea, ia tak pernah lepas dari buku saat waktu senggang. Mungkin karena itu otaknya encer dan bisa mendapatkan beasiswa.
Galang masih berada di kursi tepat di belakang Thea, menatapi istrinya dari sini membuatnya lucu sendiri.
Karena ia lihat Thea malah tertidur lelap di depannya.
TUK!
Karena terlalu lelap kepala Thea bahkan terlihat terantuk kaca di sebelahnya. Tapi wanita itu tak terbangun dan malah meneruskan tidurnya.
"Dasar tukang tidur," ucap Galang di belakang.
Ia pun mengulurkan tangannya kedepan dan membiarkan telapak tangannya menjadi sandaran kepala Thea agar tak terantuk kaca lagi.
Dan lagi-lagi ia tersenyum manis saat melihat Thea semakin lelap tidur di telapak tangannya.
Tak berapa lama kemudian knek mobil itu berteriak hingga membuat Thea terbangun dan langsung berdiri dari duduknya.
Saat berada di depan pintu caffe, Galang menghela napas panjang dan mempersiapkan dirinya.
Sebuah topi, kacamata hitam beserta sebuah masker ia pakai untuk penyamaran.
Ia pun masuk ke dalam setelah ia mengucapkan 'bismillah' terlebih dahulu.
Memilih tempat duduk paling ujung namun tetap bisa melihat Thea darisana. Setelah ia menunggu, akhirnya Thea keluar juga dengan pakaian seragam nya.
Untung saja saat ia memesan makanan bukan Thea yang melayaninya.
Jika tidak, rencana ini pasti akan sangat kacau.
***
Tak terasa sudah tiga jam lebih ia berada di dalam caffe.
Di depannya sudah lebih dari tiga buah cangkir kopi yang sudah ia minum sampai ia merasakan mual karena terlalu banyak minum kopi.
Ah! Kenapa ini sangat membosankan? Fikirnya.
Galang menguap karena rasa bosan dan disaat yang bersamaan ia lihat Thea juga menguap di ujung sana.
Galang nyengir.
"Kata orang, nguap itu kaya penyakit, bisa nular atau bisa jadi artinya orang itu lagi mikirin orang yang pertama nguap, hahh? Berarti Thea mikirin gue juga dong?" ucapnya pada diri sendiri seraya terkekeh kecil 'sendiri'.
Tapi beberapa saat kemudian ia malah melihat orang orang disekelilingnya menguap juga.
Bahkan orang cebol di meja sebelahpun ikut menguap!
Galang merengut.
"Hahh, masa iya gue ada di pikiran orang cebol itu sih?!" ucap Galang pada diri sendiri.
napasnya mulai tak beraturan.
"Argh! Ternyata itu cuma mitos! Galang! Kenapa lo jadi kaya orang gila gini si ah? Ssshh!" gerutunya kemudian seraya mengacak rambutnya sendiri karena ia mulai depresi.
Bertambah tambah kekesalanya hari ini, apalagi saat ia melihat senyuman manis Thea untuk Wingky.
Dan ia lihat dengan mata kepalanya sendiri Wingky jelas jelas sangat bersikap manis pada istrinya.
Darahnya terasa naik ke atas kepalanya dengan perlahan.
__ADS_1
ia pun segera merogoh ke dalam saku jaket dan buru buru meletakan beberapa lembar uang kertas di atas meja untuk membayar apa yang ia pesan.
Setelah itu ia pergi keluar dengan perasaan kesal, sangat kesal.
"Ish! Jadi gini kelakuan dia di caffe? Senyum senyum! Seneng seneng! Sementara gue ditoko kaya patung pancoran! Ck! Bete gue jadinya! Kenapa juga gue dateng ke sini coba? Gara gara dia gue jadi bad ... Bed? Argh! Bete lah pokonya!" gerutunya setelah sampai diluar caffe.
Ia bicara sendiri, tanpa memperdulikan orang orang yang melihatnya dengan tawa karena di anggap orang gila.
Tapi tetap saja ia tak bisa meninggalkan tempat itu karena ia masih penasaran dengan apa yang ia mulai ini.
Lebih tepatnya, ia penasaran hal apa lagi yang akan dilakukan Thea di dalam. Hingga ia memutuskan untuk menunggunya di luar saja.
***
Waktu terus berjalan, langit sudah gelap gulita cahaya matahari pun telah diganti dengan cahaya lampu berwarna-warni sebagai penerangan.
Galang berdiri dari duduknya dan bersembunyi dibalik dinding saat melihat Thea keluar bersama dengan Wingky.
Pukul sembilan malam adalah waktu tutup caffe itu dan ia masih berada di sana untuk mengintip istrinya.
"Kenapa, Ky?"
Terdengar suara Thea bertanya pada Wingky.
Saat mereka berdua berada disamping sebuah mobil sport berwarna hitam.
"Emh, The. Kayanya aku gak bisa nganterin kamu ke rumah ibu kamu deh, gak tau kenapa keempat ban mobil aku kempes gini," ucap Wingky.
"Oh, iya gak papa ko. Aku juga gak mau ngerepotin kamu, kalo gitu aku duluan yah," ucap Thea.
"Kamu hati hati dijalan ya," ucap Wingky lagi dengan senyuman manis.
Thea juga tersenyum dan sesudah itu ia dan Wingky pun berpisah.
Di belakang, Galang tersenyum puas.
"Hhhh! Emang enak! Entar bukan cuman ban mobil lo yang gue kempesin! Tapi elo sendiri! Biar gak deketin istri orang mulu! Huhhh!" ucap Galang seraya mengendap menjauhi Wingky dan mulai mengikuti langkah Thea lagi.
***
Galang masih berjalan membuntuti Thea dibelakang setelah mereka menaiki angkutan umum. Wanita itu tampak lelah setelah bekerja paruh waktu.
Tinggal satu belokan lagi maka mereka akan sampai di rumah kontrakan ibu mertuanya. Thea memang selalu pulang setiap satu atau dua minggu sekali ke rumah ibunya.
Dan ia faham, karena tak mudah bagi seseorang untuk berpisah dengan orang tua mereka.
Thea pun terlihat sedang menyebrang jalan besar sebelum ia memasuki gang tempat nya tinggal.
Galang pun mengikutinya dari belakang karena ia lihat sebuah gantungan kunci yang tergantung di tas wanita itu terjatuh di tengah jalan.
Ia berniat akan mengembalikan gantungan kunci itu pada Thea sekaligus mengakhiri kegiatan 'menguntit'nya hari ini.
Ia akan menginap di rumah mertuanya dan sesudah itu ia akan berbaikan lagi dengan istrinya itu. Karena ia mulai jenuh didiami Thea dua hari ini.
Galang sedikit berlari ke tengah jalan karena ia tak melihat ada mobil yang melintas di sana.
"Hhhh! Dasar ceroboh, kalo ilang kan sayang," ucapnya seraya hendak mengambil gantungan kunci itu.
Tapi tiba-tiba gerak tangannya terhenti mendadak saat sedikit sudah menggenggam benda itu.
Pandanganya kabur, tak jelas apa yang ia lihat.
"Astagfirullahal adzim, kenapa ni? Kenapa tangan sama kaki gue gak bisa digerakin?" gumamnya pada diri sendiri.
Tangan dan kakinya terasa sangat kaku dan tak bisa ia gerakan, meskipun ia berusaha tapi entah kenapa ia malah semakin tak bisa bergerak.
Ia pun melihat lurus kedepan.
Samar-samar ia lihat Thea semakin menjauh dan menghilang dari pandanganya.
TID!
TID!
Ia masih bisa mendengar suara klakson mobil disampingnya.
Galang menoleh.
Setitik cahaya lampu yang berjalan menuju ke arahnya. Semakin dekat!
"Thea," ucapnya pelan seraya terus menatap cahaya lampu yang semakin mendekat. Tak bisa menghindar ataupun lari, karena kini tubuhnya seperti patung yang tak bisa ia gerakkan.
"Thea ...." Galang ingin sekali berteriak. Namun, nyatanya mulutnya bagai terkunci. Ia melihat lagi ke arah Thea, namun wanita itu sudah menghilang dari pandanganya.
BRAKK!!
Thea tersentak kaget dan tiba-tiba saja ponsel yang ia pegang terjatuh ketanah.
"Astagfirullahal adzim, bikin kaget aja, sih!" ucap Thea kemudian seraya mengambil lagi ponselnya. Ia jadi kaget karena ada suara yang di timbulkan oleh kucing yang menuruni sebuah pagar ke sebuah drum.
"Yah, layarnya retak! Ck! Galang pasti marah sama aku kalo dia tau hp nya rusak," gerutu Thea.
Ia pun mencoba menghidupkan lagi ponselnya, dan ia bisa bernapas lega karena ponsel itu masih hidup meskipun ada sedikit retakan di layarnya.
__ADS_1
"Terpaksa deh, harus aku benerin sebelum Galang tau," ucap Thea lagi seraya melanjutkan langkah ke rumah ibunya yang sudah hampir sampai.