
Thea mencoba untuk fokus, memusatkan kedua matanya ke benda kecil berbentuk bunga yang ia pegang, seutas benang berwarna biru pun berada di tangan satunya untuk membuat sebuah bross bunga.
"Ish! Kenapa susah banget sih? Apa kamu gak mau aku pegang, hah!" gerutunya pada diri sendiri karena benda kecil itu terus terjatuh berkali-kali.
Malam ini, tak biasanya ia tak bisa fokus dengan hobinya ini. Biasanya dalam semalam ia bisa membuat 3 plastik sekaligus, tapi malam ini ia hanya dapat sepuluh buah aksesoris saja.
Namun Thea masih berusaha untuk fokus dan melanjutkan lagi pekerjaan ini.
Hingga beberapa saat kemudian ia mendengar ada seseorang yang membuka pintu kamarnya.
"Asalamualaikum," ucap Galang pelan dengan wajah kusutnya.
.
"Waalaikum salam," jawab Thea bernada datar.
Ia menatap datar pada Galang yang tengah berjalan menuju kasur, pemuda itu tampak lelah. Ia meletakan tas dan jacketnya asal dimana saja setelah itu mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi tanpa ada kata lagi.
"Lihatlah, jam sembilan malam dia baru pulang. Dia begitu bersemangat saat berangkat, tapi di rumah dia seperti itu!" gerutu Thea pada diri sendiri seraya beranjak dari duduknya dan merapikan tas dan jacket Galang.
Setelah Galang mandi dan berganti pakaian, ia langsung mengambil posisi di tempat tidur, merapihkan bantal dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Seharian menemani Nayla membuatnya lelah dan ia sangat mengantuk saat ini karena saking lelahnya.
"Heh! Suruh siapa kamu tidur dikasur?" ucap Thea sedikit berteriak di tempatnya duduk.
"Hmhh? Kenapa? Kemaren gue boleh tidur disini," jawab Galang dengan suara pelan dan serak.
"Iya tapi itu kan kemarin, sekarang kamu tidur di luar sanah!"
"Ck! Gue gak mau."
Tiba-tiba saja Thea kesal dan langsung beranjak dari tempat duduk, tanpa basa-basi lagi ia menarik tangan Galang dan menyeretnya keluar kamar dengan paksa tanpa Galang bisa mencegahnya ataupun protes.
BRAKK!
Suara pintu ditutup terdengar begitu keras.
Dan kini Galang benar-benar berada diluar bersama dengan selimutnya.
Matanya sudah merah dan ia tak berhenti menguap.
"Heh, lo beneran ngusir gue? Salah gue apaan? Thea! Buka dong. Hadehhh, gue ngantuk nih," ucap Galang kemudian.
Suaranya pelan dan ia mengetuk pintu pun dengan pelan. Ia menyandarkan kepalanya di pintu karena rasa kantuk ini begitu kuat.
"The? Lo kesambet apaan si? Buka!" ucapnya lagi dengan masih mengetuk pintu. Namun lagi-lagi tak ada jawaban dari dalam.
Galang menengok kesana-kemari, rumah ini memang luas dan memiliki lebih dari tiga kamar. Tapi ia tak pernah bisa tidur jika tak berada didalam kamarnya.
Sedangkan di dalam kamar, Thea juga sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Menarik selimut dan berusaha menutup kedua matanya. Pekerjaannya pun jadi terbengkalai karena ia merasa kesal tanpa sebab.
Tapi, saat ia menutup matanya ia malah tak bisa tidur karena Galang tak terdengar lagi mengetuk pintunya diluar.
"Ish, orang ini bener bener," ucapnya kemudian seraya membuka selimut dan beranjak dari tempat tidur.
KLEK!
Pintu di buka mendadak oleh Thea
"Huaaaaa!" Galang berteriak karena kaget.
BRUK!
Thea pun jadi agak kaget karena ternyata Galang berada di balik pintu dan kini menubruk kakinya bersamaan dengan selimut yang ia pakai.
"Heh! Di dalem gue di usir! Disini masih digangguin juga! Mau lo tuh apaan si hah?" ucap Galang kemudian.
"Masuklah," ucap Thea bernada datar.
"Hahhh? Gue boleh tidur di dalem?"
"Hmhh," jawab Thea sangat singkat.
"Asikkkkkk."
Galang tersenyum lebar, ia langsung berlari kecil masuk kedalam kamar dan menubruk tempat tidurnya lagi.
Thea pun mengikutinya dari belakang, pemuda itu sudah berada di tempat tidur lagi, bahkan belum sampai semenit suara dengkuran terdengar dari mulut Galang.
Thea mengerucutkan bibirnya sambil menyusun bantal guling di tengah-tengah mereka agar kejadian tadi pagi tak terulang lagi.
Thea pun merebahkan tubuhnya diatas kasur, berusaha kembali menutup matanya dan berharap mimpi indah malam ini.
Ini, adalah malam kesekian ia tidur satu ranjang dengan Galang.
Tik
Tok
Tik
Tok
Dentingan jam terdengar seolah menjadi lagu nina bobo bagi mereka berdua. Thea gelisah, ia membolak balikan posisi tidur, namun tetap saja ia tak bisa tidur dengan nyenyak, ia kini malah teringat kejadian tadi siang di Bandung.
Senyuman Galang, tawa lepas Galang, dan hal yang paling ia ingat adalah ekspresi Galang saat melihat Nayla terluka.
Dalam tidur, lagi-lagi nafas Thea terasa sesak dan ini semakin membuatnya terganggu dan agak depresi.
"AAAARGGHHH!" Thea tiba-tiba menjerit tak jelas.
Namun ia sendiri kaget karena Galang juga ikut berteriak disebelahnya.
Dan mereka berdua kini benar-benar duduk dan terbangun karena kaget.
"ARRGGHH, kenapa si lo gangguin tidur gue mulu, hah? Gue nih ngantuk, The! Ngantuk! Ini tuh udah tengah malem buta, waktunya orang pada tidur! Bukan waktunya tarzan manggil temen! Astagfirullahal adzim!" ucap Galang sedikit membentak.
"Ma- maaf, aku mimpi buruk tadi," ucap Thea pelan, ia malah jadi merasa bersalah pada Galang karena terus mengganggunya.
"Hhhh, makanya kalo mau tidur tuh baca do'a dulu, biar gak bawa-bawa gue! Gara-gara lo nih sekarang kepala gue jadi pusing kan," ucap Galang lagi seraya memijit-mijit pelan keningnya.
"Maaf Lang, aku beneran gak sengaja ganggu kamu. Aku ambilin air minum yah, mau?"
"Gak usah!" ucap Galang ketus seraya membuka selimutnya.
"Kamu mau kemana?"
"Ngambil minum!"
Thea masih terdiam di tempatnya beberapa saat menatapi Galang yang melangkah pergi keluar kamar.
Setelah difikir lagi, kali ini ia yang salah. Ia sudah marah pada pemuda itu tanpa sebab, padahal Galang tak berbuat apa-apa bahkan mengganggunya pun tidak.
Benar sekali, ia harus minta maaf pada Galang. Thea pun turun juga dari tempat tidur untuk mengikuti Galang pergi kedapur.
Namun saat ia menuruni anak tangga, langkahnya terhenti mendadak karena ia melihat Galang tak berbelok ke arah dapur, melainkan keruang tamu.
Satu langkah lagi Thea melangkahkan kakinya kedepan, melihat kemana arah Galang pergi. Dan ternyata, Di ruang tamu sudah ada orang yang datang.
Pertama orang yang ia lihat adalah seorang wanita paruh baya, tinggi, putih, dan berpakaian rapih disertai bawaan kopernya yang lebih dari satu.
Thea mengernyitkan kening, mencoba mengenali siapa wanita itu. Sangat familiar, tapi ia lupa pernah melihat wanita itu dimana.
Sampai pada akhirnya ia baru menyadari saat Galang memanggil wanita itu dengan sebutan.
"Mama."
"Mama? Berarti, wanita itu adalah ibu mertuaku?" gumam Thea.
Ia melihat Galang menghampiri ibunya dengan wajah semringah. Menyalami tangan Ayah, tapi Thea melihat hal aneh saat Galang ingin menyalami tangan ibunya. Ibunya seolah enggan dan menyingkirkan tangannya begitu saja.
Thea pun berjalan lebih dekat lagi dengan mereka bertiga, ini adalah pertemuan pertamanya denga ibu mertua.
__ADS_1
Ada rasa canggung, tapi ini pasti akan terjadi juga.
"Esti ...! Esti ...!" teriak Bu Rini dengan keras memanggil nama Bi Esti.
"Bi Esti mungkin udah tidur, Ma. Mama pasti cape. Aku bantu bawain koper mama kekamar, biar mama bisa langsung istirahat," ucap Galang.
"Jangan berani kamu menyentuh barang-barang saya," ucap Bu Rini yang menahan gerak tangan Galang pada kopernya.
"Kamu!"
"S-saya?" Thea tiba-tiba kaget saat mendengar perkataan Bu Rini.
"Iya kamu, bawain koper saya ke atas. Cepatlah!" ucap Bu Rini lagi.
Thea hanya diam, namun ia menuruti permintaan Bu Rini padanya dan berusaha menyeret salah satu koper itu.
Ah, kenapa ini berat sekali? Ini cukup sulit jika harus ia angkat ke lantai dua rumah ini. Pikir Thea.
"Biar gue aja," ucap Galang, segera meraih dua koper sekaligus di tangannya.
PLAK!
Tiba-tiba saja Bu Rini menyingkirkan tangan Galang agak kasar.
"Sudah saya bilang, jangan berani kamu menyentuh barang saya! Apa kamu tidak punya telinga?" ucap Bu Rini agak membentak Galang.
"Rini, jaga sikapmu itu!"
Thea mematung, ia menjadi semakin heran sendiri kenapa perlakuan ibu mertuanya seperti itu pada Galang.
Dan kenapa ia seolah terjebak dalam permasalahan keluarga yang sama sekali ia tak mengerti. Karena Pak Yahya juga terdengar membela Galang.
"Galang, tak apa. Tolong bantu bawa koper mamamu ke atas," ucap Pak Yahya.
"Baik, Pah," jawab Galang seraya mengangkat koper itu dan membawanya menaiki satu-persatu anak tangga.
Thea masih terdiam di tempatnya.
Saat ia melihat wajah Galang barusan, pemuda itu masih tampak tersenyum saat melihat ayah dan ibunya, tapi senyuman itu memudar perlahan saat melangkahkan kaki membawa barang ibunya ke atas.
Entah kenapa, ia merasa kasihan melihatnya seperti itu.
"Mas, kenapa sih mas selalu saja membela anak itu?" tanya Bu Rini.
"Rin, sudahlah. Ini sudah malam, apa kita harus selalu bertengkar seperti ini? Lagipula, Galang pasti sangat merindukanmu, satu bulan lebih kita tak pulang. Wajar kalau dia bersikap seperti itu."
"Hhhh, kalau mas tak menyusulku. Aku takkan pernah sudi menginjakan kaki di rumah ini lagi," ucap Bu Rini benada sinis.
Thea jadi bingung sendiri, harus bagaimana ia bersikap pada mereka. Sekarang, mereka bahkan tengah bertengkar di hadapannya.
Dan pada akhirnya pertengkaran mereka selesai setelah Bu Rini meninggalkan Pak Yahya dan menaiki anak tangga dengan kesal.
"Pah, itu biar Galang juga yang bawa, ya," ucap Galang yang baru datang.
Pak Yahya tersenyum tipis. "Tak usah, ini biar papah yang bawa. Makasih karena kamu sudah membantu membawa barang bawaan mamamu. Sekarang lebih baik, ajak istrimu istirahat di kamar. Ini sudah larut," ucap Pak Yahya.
Galang dan Thea hanya tersenyum tipis menjawab perkataan Pak Yahya pada mereka. Dan sekarang Pak Yahya sudah menaiki anak tangga rumahnya menuju kamar.
Thea menghela napas sejenak. Karena tadi benar-benar membuatnya cukup tegang sekaligus serba salah.
Ia pun melihat ke arah Galang di sampingnya.
"Lang."
"The, kalo lo udah ngantuk lo bisa duluan ke kamar. Gue mau ngambil minum dulu," ucap Galang bernada datar tanpa melihat kearahnya sama sekali.
Thea hanya diam menatap kepergian Galang. Raut wajah pemuda itu tiba-tiba sayu setelah ia bertemu dengan kedua orang tuanya.
Entah apa yang terjadi dengan keluarga ini ia pun tak tahu.
***
Jam dinding terus memutar jarum jam, waktu terus berjalan dengan semestinya dan Thea mulai terusik saat ia membalikan tubuh di tempat tidur.
Tanpa terasa matanya tiba-tiba terbuka dengan perlahan, ia ngedipkan kedua mata mencoba memperjelas pandanganya ke depan.
Ia mengernyitkan kening karena tak melihat Galang disebelahnya. Kemana dia? Thea pun terbangun dan melihat kelantai tempat biasa galang tidur.
Pemuda itu tak ada.
Thea melihat lagi ke arah jam dinding.
Pukul setengah empat pagi, kenapa Galang tak ada? Apa dia tidur diluar? Tanyanya pada diri sendiri.
Ia pun turun dari tempat tidur dan mengikat rambutnya, mengambil kacamata yang terletak di atas meja setelah itu melangkah keluar kamar.
Karena sudah terbangun, ia berinisiatif membantu Bi Esti membersihkan rumah. Karena hari ini masih libur dan pekerjaannya di caffe pun akan dimulai besok lusa, jadi ia bisa membantu pekerjaan Bi Esti seharian sambil membuat aksesorisnya.
Ia pun berjalan menuju dapur, rumah ini masih tampak sepi. Tapi sudah terdengar suara-suara di dapur, pasti Bi Esti sudah terbangun saat ini. Pikir Thea.
"Bibi," gumam Thea saat melihat Bi Esti membawa satu gelas teh ditangannya.
Bi Esti tak mendengar, Thea pun mengikuti langkah Bi Esti karena ia ingin menanyakan apa yang bisa ia bantu.
Ia mengikuti Bi Esti sampai ke tempat biasa mereka salat berjama'ah. Dan saat ia ingin masuk kedalam, langkah kakinya terhenti karena ia melihat Galang tengah duduk di sajadah yang membentang di lantai.
Pakaiannya yang tadi malam kini sudah berganti dengan baju koko beserta sarung lengkap dengan peci yang berada di kepalanya.
Ia pun masih berdiri di balik dinding saat melihat Bi Esti memberikan teh itu pada Galang.
Thea menatapi Galang di dalam sana, wajahnya tampak semakin murung. Ia seperti kurang tidur atau lebih tepatnya ... Galang pasti tak tidur semalaman.
"Aden harusnya istirahat, tak baik menyiksa diri seperti ini. Nanti aden bisa sakit lagi."
Terdengar ucapan Bi Esti menasihati Galang di hadapannya. Dan Thea masih bertahan di tempat karena ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku cuma lagi gak bisa tidur, Bi," ucap Galang dengan suara pelan.
"Kalau begitu, apa ada lagi yang bisa bibi bantu buat aden?"
Galang menggelengkan kepalanya pelan, ia menunduk saat bicara dan seolah tak berani menatap wajah Bi Esti.
"Aku sering berpikir tentang kehidupanku kedepannya, Bi."
"Maksud aden?"
"Semua manusia di dunia ini, memiliki kesabaran yang terbatas. Aku merasa, suatu saat nanti kesabaranku juga pasti akan habis, dan aku pasti akan merasakan apa yang namanya lelah menghadapi kehidupan. Jika saat itu tiba, apa yang harus aku lakukan?"
Thea terdiam menatapi Galang di dalam.
Perkataan pemuda itu sangat berbeda kali ini, entah kenapa ia merasa bahwa saat ini Galang tengah menumpahkan seluruh kesedihannya pada Bi Esti.
"Aden jangan bicara seperti itu. Bibi yakin, aden pasti bisa kuat. Jangan pernah menyerah Den."
Galang terdiam sejenak.
"Kalau aku gak bisa?"
"Aden pasti bisa, ingatlah. Allah swt tidak pernah memberi ujian melebihi kemampuan manusia, Aden sudah begitu kuat sampai sejauh ini. Jadi jangan putus asa, manusia mungkin hanya bisa berharap. Tapi insya Allah harapan itu akan terwujud kalau manusia itu terus berusaha."
"Kalau harapan itu ternyata gak pernah bisa aku wujudkan, apa boleh aku memiliki harapan terakhir? Bibi bilang, aku harus punya lebih dari satu harapan."
"Apa itu?"
"Jika saat itu tiba, apa boleh aku memanggil bibi dengan sebutan ibu?"
Bi Esti langsung terdiam menatapi Galang.
Sedangkan Thea, baru kali ini ia melihat Galang dari sisi yang berbeda. Wajahnya yang sangat mengesalkan kini berubah menjadi begitu kalem. Namun apa yang ia lihat ini, Galang seperti sudah putus asa dengan apa yang ia hadapi.
Meskipun Thea tak begitu mengerti kemana arah pembicaraan Galang dan Bi Esti.
"Bolehkan?"
__ADS_1
Bi Esti masih diam tak menjawab.
"Bertahun-tahun lalu aku masuk dalam keluarga yang tak kukenal, bahkan aku tak ingat siapa diriku, darimana asalku, dan bagaimana bisa aku berada di rumah ini. Selama ini, Aku berusaha untuk bisa diakui, aku berusaha untuk dilihat oleh mama, tapi jika pada akhirnya aku tak diinginkan olehnya. Izinkan aku memanggil bibi dengan sebutan ibu," ucap Galang dengan suara sendu.
"Den ...."
"Aku enggak tau lagi akan bertahan sampai kapan, Bi. Saat Allah mencabut nyawaku nanti, setidaknya aku tidak menyesal pernah hidup di dunia kalau bibi mau mengabulkan permintaanku."
Thea dan Bi Esti tersentak bersamaan. Bi Esti bahkan lantas memburu tangan Galang dengan mata yang mulai meneteskan air.
"Astagfirulaah! Istigfar, Den. Tak baik bicara begitu. Ingatlah orang-orang yang menyayangi aden, Nyonya juga pasti akan menyayangi aden satu hari nanti. Jangan bicara seperti itu lagi, Den. Bibi--"
"Apa bibi menyayangiku?"
"Tentu saja. Bibi sangat menyayangi aden seperti anak sendiri," jawab Bi Esti cepat.
Galang tersenyum manis. "Syukurlah ... itu udah cukup, Bi. Terima kasih," ucap Galang kemudian.
Mata Thea berkaca-kaca, air matanya tiba-tiba saja ingin merangsak keluar setelah mendengar ucapan Galang.
Perih, itu yang ia rasakan saat melihat dan mendengar Galang bicara seperti itu.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Galang terlihat begitu menderita sekarang?
Dan kenapa tak sekarang saja ia memanggil ibu pada Bi Esti, kenapa harus menunggu sampai akhir dari kemampuan Galang? Padahal mereka berdua sudah begitu dekat seperti seorang ibu dan anak kandung.
Kenapa? Apa alasanya?
Yang pada akhirnya kini ia menyadari, ternyata kehidupan ia dan Galang tak jauh berbeda. Senyuman dan keceriaan mereka hanyalah sebuah topeng untuk menutupi kesedihan didalamnya.
Thea berbalik arah membelakangi mereka.
Meskipun ia tak tahu apa masalah yang dihadapi Galang, tapi ia kini tahu bahwa pemuda itu tak menyebalkan yang ia kira.
"Baiklah, sepertinya memang agak sulit mewujudkan harapan kamu. Tapi mulai saat ini, setidaknya aku akan membantu meringankan beban kamu, Lang."
***
Pagi harinya, Thea membantu pekerjaan Bi Esti di rumah, memasak, mencuci piring, menyetrika dan lain sebagainya ia bagi tugaskan bersama Bi Esti. Meskipun Bi Esti selalu melarangnya, tapi ia sadar diri siapa dirinya dirumah ini.
Ia memang seorang menantu, tapi ia tetap tak bisa satu derajat dengan kedua orang tua Galang.
Dan setelah menyelesaikan masakannya, Thea membawa makanan itu ke meja makan, menyusunnya rapih dan ia pastikan tak ada satupun yang terlewat.
Pagi ini kedua mertuanya ada di rumah, ia dan Bi Esti pun memasak agak banyak dan pastinya spesial untuk menyambut kedatangan mereka.
Saat ia tengah merapikan piring di atas meja, Pak Yahya menghampiri dan duduk di kursi dengan memberi sedikit senyuman padanya.
Tapi Thea malah jadi canggung.
"Dimana Galang?" tanya pak Yahya.
"Galang masih di kamar, Om. Katanya dia akan menyusul sebentar lagi."
Pak Yahya mengangguk pelan setelah mendengar jawaban Thea.
"Tolong jangan panggil Om, kamu kan sudah jadi menantu di rumah ini. Panggilah saya papah, itu lebih baik."
"Apa? O- itu ... baik, Pah." Thea agak terbata mengatakannya.
Ia jadi semakin gugup, sikap Pak Yahya begitu berbeda dengan Bu Rini. Begitu baik dan bicaranya pun enak didengar.
"Kalau sudah selesai. Duduklah, kita sarapan sama-sama," ucap Pak Yahya lagi.
Thea hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan setelah itu ia berjalan menuju kursinya.
Hingga tak berapa lama Galang menyusul dan duduk bersama mereka dengan wajah lesu dan tak ada kata yang ia keluarkan dari mulutnya.
"Wajahmu terlihat pucat, Lang. Apa kau sakit lagi?" tanya Pak Yahya.
"Aku gak papa, Pah," jawab Galang singkat seraya menyendok nasi beserta lauknya keatas piring.
Thea menoleh ke arah Galang disampingnya, wajah Galang memang terlihat sedikit pucat dengan lingkaran hitam di kantung matanya, pemuda itu seperti ini pasti karena ia tak tidur semalaman.
"Mama mana?" tanya Galang tiba-tiba.
"Mamamu masih tidur, dia pasti sangat kelelahan setelah pulang dari Singapore."
"Oh," jawab Galang singkat.
Ia terus memakan makanannya, ia tau jawaban ayahnya itu pasti hanyalah alasan untuk menutupi hal yang sebenarnya. Namun ia berusaha lebih bersabar lagi, setelah mendengar nasihat dari Bi Esti semalam.
Setelah selesai sarapan, Pak Yahya sudah kembali lagi ke kamarnya. Dan tinggalah Galang dan Thea di meja makan berdua.
"Lang, apa kamu beneran baik-baik aja?" tanya Thea.
"Hmhh," jawab Galang singkat seraya beranjak dari duduknya.
Ia tak menatap thea sama sekali dan bersikap dingin, hingga Thea menjadi agak penasaran dengan sikapnya itu.
"Tunggu, kamu mau ke mana?" ucap Thea yang tiba-tiba saja menarik tangan Galang dan menyuruhnya duduk lagi di kursi.
"Udah, kamu diem disini. Aku ambilin obat dulu buat kamu," ucap Thea lagi seraya langsung berlari kecil menuju laci tak jauh dari tempat mereka.
Dan setelah itu ia pun membukakan obat itu dan menuangkan segelas air putih untuk Galang.
"Nih minum," ucap Thea, menyodorkan obat dan segelas air putihnya.
"Eh, gue tuh gak sakit. Lo kali yang sakit, tumben amat lo baek ma gue?" ucap Galang, ia mengernyitkan kening saat Thea menatapnya dengan senyuman manis.
"Oh, trus kenapa kamu diem? Kamu masih ngantuk? Mau tidur di kamar? Aku beresin lagi tempat tidurnya, yah."
"Eh eh, gak usah! Gue kagak ngantuk, gue mau pergi," jawab Galang yang lagi-lagi beranjak dari duduknya.
Dan Thea juga mengikuti langkahnya dengan senyuman manis yang membuat Galang agak ngeri.
"Ke mana?"
"Apa urusan lo mau tau gue pergi kemana?"
"Kamu mau ketemu sama Nayla?"
TAP!
Galang menghentikan langkahnya di tengah tengah anak tangga dan menatap ke arah Thea.
Ia mendekatkan wajahnya ke arah Thea dengan sedikit kerutan di dahi hingga Thea memundurkan wajahnya kebelakang karena terlalu dekat.
"Lo abis minum bensin, ya? Minyak jelantah? Atau autan?" ucap Galang kemudian.
"Hah?"
BUK!
Tiba-tiba saja Thea menendang tulang kaki Galang hingga pemuda itu meringis kesakitan memegangi kakinya.
"Nah, ini nih baru elo! Buset dah, sakit!" ringis Galang.
"Kamu tuh emang gak pernah peka sama perhatian orang yah! Malah ngira aku mabok. Aku kan cuma nanya, emang salah?" ucap Thea yang jadi kesal dengan kelakuan Galang ini.
"Ya abisnya lo bikin gue merinding tau gak! Pake senyum-senyum kaya gitu, ih." Galang bergidik ngilu saat berkata.
"Ooooo, jadi kamu mau aku yang asli? Hmhh?" tanya Thea, ia pun menarik baju lengan panjangnya sampai ke sikut dan memasang wajah garang.
"Eee, iya jangan gitu juga dong,"
"Ya udah makanya jawab! Kamu mau kemana?" tanya Thea lagi.
"Gue mau liat tempat sewaan, udah bisa ditempatin apa belom. Kenapa?"
"Ikut," ucap Thea sangat cepat dan spontan memegang lengan Galang.
"Gak usah, cuma liat doang ko. Mendingan lo nyetok yang banyak aksesoris lo gih."
__ADS_1
"GAK - MAU. Pokonya aku ikut, asikkk toko baru," ucap Thea bersemangat seraya langsung berlari kecil menuju kamar.
"Lah, gue kan belom jawab iya." Galang mengernyit. Ia heran mengapa Thea jadi bersikap seperti itu padanya.