
"Rin." Suara seseorang memanggil.
"Emh, iya. Mas, ada apa?" tanya Bu Rini yang kaget dengan kedatangan Pak Yahya di belakangnya.
"Harusnya saya yang bertanya, ada apa? Kenapa kamu malah berdiri di depan pintu kamar Galang?"
Bu Rini terdiam sejenak. Ia heran mengapa berada di tempat ini dan malah melamun tak jelas.
"Apa kau merindukannya?" Pertanyaan Pak Yahya agak membuat Bu Rini kaget.
"Itu ... manamungkin aku merindukannya, Mas. Hal terbodoh yang tak mungkin pernah kubuat," jawabnya cepat. Namun, agak terbata. Ia lihat suaminya itu malah melihat juga ke dalam kamar tebuka yang berada dihadapan mereka ini.
Bertahun-tahun sudah Galang meninggalkan rumah dan tak kembali lagi. Mungkin saja, suaminya itulah yang merindukan Galang. Karena mereka berdua terlihat dekat sejak dulu.
"Kenapa Mas masih mempertahankan semua barang-barang anak itu di sini? Aku akan membersihkan kamar ini dan membuang seluruh barangnya agar Mas melupakan anak itu," ucapnya seraya hendak masuk ke dalam.
"Jangan, Rin."
"Kenapa?"
"Saya masih berharap dia kembali dan tinggal di rumah ini lagi, sampai kapanpun saya akan menunggu hari itu datang," ucap Pak Yahya yang memegang satu lengan Bu Rini.
"Ck, dan sampai kapan pun. Aku tidak akan pernah mau menerimanya, sekarang hidupku sudah tenang dan bahagia tanpa ada si pembuat masalah itu," ucapnya seraya melepaskan pegangan tangan suaminya.
"Benarkah kau bahagia? Tapi yang saya lihat sekarang adalah seorang ibu yang tengah merasakan kehilangan anaknya."
Bu Rini agak tersentak dengan pernyataan Pak Yahya. "Tebakan Mas salah besar," ucap Bu Rini datar seraya meninggalkan Pak Yahya yang masih berdiri di depan pintu kamar Galang.
***
Sekitar pukul sebelas malam, Bu Rini berjalan cepat menuju kamarnya sendiri. Dengan sebuah amplop yang berada ditangan. Hatinya kini gusar tak menentu, amplop ini ia dapat setelah tiba-tiba ingin memasuki lagi kamar Galang.
Entah kenapa, semenjak kepergian Galang beberapa tahun lalu, ia jadi sering melamun di depan pintu kamar anak itu. Dan isi amplop inilah yang menjadi pertanyaan terbesar dalam hatinya. Dan pertanyaan itu akan ia tanyakan langsung pada suaminya sekarang juga.
Dan setelah ia sampai di dalam kamar.
"Mas, bangun," ucapnya seraya menggerakkan tubuh Pak Yahya yang sudah tertidur lelap. Sampai beberapa saat kemudian suaminya itu mulai terusik dan membuka kedua matanya.
"Emh, Rin. Ada apa?" tanya Pak Yahya heran.
"Tolong jelaskan apa maksudnya ini padaku, Mas," ucap Bu Rini seraya meletakkan amplop yang ia pegang kesamping suaminya yang masih berbaring.
Pak Yahya menoleh dan melihat apa yang diberikan Bu Rini padanya. Ia agak mengernyitkan kening saat melihat amplop itu. Sedang Bu Rini pun kini menatatpnya dengan penuh keingintahuan.
"Dari mana kau dapatkan ini?" tanya Pak Yahya.
"Tak penting kudapat itu dari mana. Yang pasti, Mas harus menjelaskan apa yang berada di dalam amplop itu. Siapa Juno? Kenapa Mas Puguh harus melakukan tes DNA-ku bersama dengan anak itu?" tanyanya dengan agak keras.
Ia lihat suaminya sudah duduk dan terbangun, wajahnya terlihat murung saat ia melihat amplop yang berada di tangannya.
"Apa kau mendapatkannya dari kamar Galang?"
"Mas! Aku ingin kejelasan! Tolong jangan menanyakan lagi hal yang tak penting," ucapnya lagi dengan lebih keras.
"Apa kau sudah melihat hasil tesnya? Lalu kenapa kau malah bertanya pada saya, Rin?"
"Itulah yang membawaku ke sini, Mas. Hasil tes DNA itu menunjukan anak yang bernama Juno Aswanda itu cocok, dan menyatakan bahwa dia adalah darah dagingku dengan Mas Puguh. Sedangkan yang aku tau, anak yang dibawa Mas Puguh waktu itu bernama Ricky. Siapa Juno? Dan kenapa anak itu memiliki surat ini?" tanyanya lagi dengan panjang lebar.
Ia lihat raut wajah suaminya semakin murung menatapi amplop itu. Seolah apa yang ia tanyakan ini sangat sulit untuk dijelaskan.
"Itu karena, anak yang bernama Juno itu benar anak kandungmu. Dan anak yang bernama Ricky hanyalah seorang anak yang diadopsi Puguh dari panti asuhan untuk menggantikan anakmu yang hilang."
__ADS_1
"Apa?" Bu Rini tersentak kaget dengan perkataan suaminya. Bagaimana bisa suaminya mengatakan hal itu padanya.
"Kau pasti bohong, Mas. Bagaimana bisa Mas Puguh melakukan hal itu padaku?!"
"Tapi kenyataannya hal itulah yang Puguh lakukan, ia terpaksa karena semenjak anakamu diculik kau mengalami depresi berat dan hampir ...."
Bu Rini terdiam.
Kata-kata Pak Yahya yang terpotong itu, saat itu ia memang begitu depresi dan hampir gila karena kehilangan anaknya.
Sampai pada akhirnya, suaminya Puguh membawa seorang bayi laki-laki. Dan ia mulai bisa sembuh dari depresi yang dialaminya.
"Dan semenjak saat itu, saya diminta Puguh untuk mencari anak kandungmu yang sebenarnya. Ia masih begitu yakin anak kandungnya masih hidup, padahal saya sudah hampir menyerah karena sangat sulit mencari jejak keberadaan orang yang menculik anakmu."
Bu Rini semakin terdiam. Antara percaya dan tidak. Hatinya semakin gelisah, gelisah karena apakah ia akan menyesal dengan pertanyaan ini. Jika pada kenyataanya memang benar. Berarti selama ini ia sudah mengasuh anak orang lain dan memusuhi anak kandungnya sendiri.
"Lalu, apa hubungannya hasil tes DNA ini dengan anak itu?"
Pak Yahya lagi-lagi terdiam beberapa saat. Kemudian menarik tangan Bu Rini dan mengajaknya duduk disebelahnya.
"Itu karena anak yang tidak pernah kamu sebutkan namanya itu adalah anak kandungmu. Juno Aswanda, seorang anak angkat dari janda bernama Estiana Dewi yang kehilangan bayi dan suaminya dalam sebuah kecelakaan," ucap Pak Yahya seraya mengusap pundak Bu Rini dan menatapnya dengan serius.
Bu Rini terpaku. Matanya mulai berkaca-kaca saat mendengar penjelasan dai Pak Yahya. Ia mencoba untuk tak mempercayai. Tapi bukti yang ia dapat ini bukanlah hal yang main-main.
Galang Harun, sebuah nama yang dipakai seorang pemuda itu pemberian dari suaminya yang bernama Puguh. Nama itu juga ia berikan pada seorang bayi laki-lakinya yang kembali setelah ia menghilang diculik orang asing. Ia bahkan sangat terpukul karena hal itu. Sebab, ia sudah divonis takkan memiliki anak lagi setelah rahimnya diangkat akibat penyakit yang dideritanya waktu itu.
"Sangat sulit untuk saya mencari keberadaan Esti, karena ia pindah keluar kota saat menemukan Galang. Sampai pada akhirnya saya berhasil menemukannya lagi beberapa tahun kemudian di kota Makassar. Saya langsung menghubungi Puguh, mengabarkan bahwa anak kandungnya sudah berhasil saya temukan. Dia begitu bahagia mendapat kabar itu. Dan ia memutuskan untuk menyusul Galang ke Makassar saat itu juga dan akan membawanya pulang. Tapi, kemalangan terjadi pada mereka saat Puguh hendak mengajak Galang bersamanya. Ia, Galang dan Esti malah terjebak di sebuah supermarket yang saat itu sedang dirampok oleh perampok yang terkenal sadis."
Raut wajah Pak Yahya berubah murung ketika menjabarkan kronologi kejadian pastinya pada Bu Rini, sampai akhir. Hingga wanita itu hanya bisa terdiam merutuki kebodohannya dalam hati.
"Saya lantas membawa Puguh dan Galang ke rumah sakit. Kondisi mereka berdua sangat memprihatinkan. Galang mengalami koma akibat peluru yang bersarang di kepalanya, dan puguh kritis akibat banyaknya luka yang ia dapat saat melawan perampok itu," ucap Pak Yahya saat ia melanjutkan ceritanya kepada Bu Rini.
Air mata Bu Rini pecah saat mendengar penuturan suaminya. Memang saat itu, suami pertamanya--Puguh--meminta izin padanya untuk pergi keluar kota karena suatu urusan. Tapi ia sama sekali tak tahu menahu kalau niat suaminya itu adalah menjemput anak mereka.
Dan karena permintaan terakhir suaminya. Ia juga harus menikah dengan lelaki yang menjadi suaminya saat ini.
Tapi akibatnya, ia malah semakin membenci kehadiran Juno karena Pak Yahya memutuskan untuk merawat Juno bersama mereka tanpa seizinnya.
"Dan saat saya ingin menjelaskannya padamu, kau malah membenci Juno. Kau tak pernah ingin mendengarkan satu penjelasanpun dariku. Padahal aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya, kalau Juno adalah anak kandungmu. Dan Puguh meninggal karena ia menyelamatkan anak kandungnya. Itu adalah pengorbanan seorang Ayah yang begitu besar untuk anaknya."
"Jadi, selama ini. Anak yang kubenci adalah anakku sendiri? Dia benar-benar anakku?" tanya Bu Rini disela-sela isakan tangisnya.
"Iya, dia adalah anakmu, Rin. Anak kandungmu. Dan yang harus kau ketahui lagi tentangnya. Adalah ...."
Bu Rini mengernyitkan kening saat ia melihat raut wajah suaminya yang tampak agak keberatan dengan kata-katanya sendiri.
"Apa itu, Mas?" tanyanya.
"Meskipun Galang bisa sadar dari koma. Tapi Sampai saat dia meninggalkan rumah dulu, peluru itu masih bersarang di kepalanya."
TEG!
Mata Bu Rini terbulat sempurna. napasnya kian tak beraturan karena mendengar penuturan suaminya.
"Apa? Lalu kenapa dia tak dioperasi? Kenapa Mas malah membiarkannya begitu saja?!" ucapnya dengan nada kesal.
"Saat itu, kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan operasi, karena itu akan beresiko fatal untuk Galang. Dan operasi itu sengaja saya tunda sampai kondisi Galang benar-benar pulih. Tapi lama kelamaan, semakin Galang bertambah usia, dia malah menolak untuk dioperasi."
"Kenapa, Mas?"
"Alasannya adalah kamu, Rin. Dia tak ingin melupakan semua tentangmu lagi. kehilangan ingatannya adalah salah satu resiko yang dokter katakan saat ia melakun cek rutin. Dan resiko terburuk, ia bisa saja kehilangan nyawanya dalam operasi itu."
__ADS_1
Bu Rini semakin menelan pahit perasaanya saat ini. Ini Begitu pahit, saat mengingat bagaimana dulu ia begitu kasar terhadap Galang. Penolakan keras, caci maki yang ia lontarkan dan semua hal yang ia lakukan pasti sangat menyakiti Galang. Bagaimana tidak. Galang sudah tahu kalau ia adalah ibu kandungnya sejak awal. Dan sejak awal juga, ia malah terus menolaknya dan tak menginginkan kehadirannya.
Tapi selama ini, Galang begitu gigih ingin mendapatkan pengakuan darinya. Dan ia sama sekali tak peka terhadap tali ikatan batin yang ia miliki dengan Galang. Bahwa setiap kali ia memarahi dan mencaci anak itu, hatinya sendiri malah terasa sakit dan perih.
"Lalu, ada di mana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya, Mas," ucap Bu Rini.
"Aku kehilangan jejak Galang dan Esti, Rin. Semenjak mereka pergi, aku bahkan tidak tahu Galang sudah melakukan operasi atau belum."
"Apa?" Bu Rini semakin menyesali semua perbuatannya dulu. Perih di hatinya menjadi dan pemikiran buruk hinggap. Bagaimana kalau kemungkinan buruk itu benar-benar terjadi? Padahal belum sempat ia memeluk dan menyebut nama Galang selama ini.
"Tolong temukan dia, Mas! Kumohon ... aku ingin memeluknya dan meminta maaf atas semua perbuatanku dulu." Bu Rini terisak memeluk tubuh suaminya, sedangkan Pak Yahya sendiri bingung, apa yang harus dilakukan saat ia mulai kehilangan jejak anaknya.
***
Drrt.
Terdengar getaran gawai di atas meja.
Seorang wanita menoleh dan langsung mengambil gawai itu. Ia agak penasaran siapa orang yang menghubunginya di tengah malam buta seperti ini.
Ternyata sebuah pesan dari seorang pemuda yang dulu hingga kini menjadi sahabat karibnya.
Wanita itu tersenyum saat membaca isi pesannya. Ia pun memencet tombol panggil.
Diangkat.
"Asalamu'alaikum, ada apa, si?" tanyanya.
"Besok, luangkanlah waktu sebentar ke rumah. Istriku sudah melahirkan, dan aku akan mengadakan syukuran," ucap Pangeran.
"Ck. Jauh-jauh aku dateng ke Jakarta cuma buat itu? Hhhh, mending aku di rumah. Besok kan libur," jawab wanita itu sedikit bercanda.
Pangeran terdengar terkekeh kecil.
"Iya iya baiklah, tak ada yang lebih penting lagi bagimu kecuali toko. Dan kau tau apa yang aku maksudkan dengan mengundangmu ke rumahku. Aku sudah mengundangnya juga. Yah, bisa dibilang. Kita juga akan mengadakan reunian. Apa kau tetap tak akan datang?" tanya Pangeran.
"Hah? Ngundang siapa?"
"Mantan suamimu."
Thea terperanjat, matanya terbulat sempurna mendengar ucapan itu.
"A-apa?"
"Kau pasti terkejut. Sejujurnya aku juga begitu. Tapi kemarin saat aku mengantar Aida ke rumah sakit, tak sengaja kulihat Galang di sana."
Thea terdiam beberapa saat mencerna baik-baik apa yang diucapkan Pangeran.
Itu artinya. Galang juga akan datang besok. Dan pasti ia akan bertemu lagi dengan mantan suaminya itu.
Setelah hampir enam tahun mereka tak bertemu, apa Galang masih membencinya? Mengingat betapa dulu ia begitu keji melukai perasaan Galang. Meninggalkannya tanpa sebab dan perpisahan menyakitkan itu terjadi begitu saja.
Kabar terakhir yang didapat Thea, Galang tak lagi tinggal di rumah Pak Yahya. Dan sejak saat itu, tak ada secuil pun kabar dari Galang.
Tapi Thea lega. Jika Pangeran masih bisa menemukannya, itu berarti Galang dalam keadaan baik-baik saja.
"Kalau begitu aku tidak berjanji--"
"Untuk kali ini datanglah. Kumohon, setidaknya demi Aida dan anakku," ucap Pangeran. Sesudah itu mematikan panggilannya sendiri.
Membuat air mata Thea mendadak jatuh tak terkendali. Undangan ini seolah menjadi pertanda luka itu akan terbuka lebar setelah ia tutup rapat.
__ADS_1
***