Jodoh Yang Tidak Diinginkan

Jodoh Yang Tidak Diinginkan
JYTD 16


__ADS_3

Beberapa bulan setelah itu, Nayla tak pernah lagi menghubungi Galang, dan Galang pun juga tak pernah menghubunginya lagi. Ia paham, mungkin masih terasa berat untuk Nayla dengan semua ini. Setelah apa yang mereka lewati beberapa tahun terakhir, nyatanya hubungan mereka renggang karena satu masalah.


Dan Thea? Apa yang terjadi dengannya setelah hari itu?


Yah, dia sudah terlanjur merasa nyaman, nyaman dengan seorang yang dulu pernah ia tolak. Seorang yang sama sekali ia tak inginkan dalam hidupnya. Ternyata, ada lebih dari satu hal yang membuatnya merasa tak ingin perpisahan itu terjadi.


Alasan pertama, adalah karena Galang ternyata mampu menjadi imam yang baik.


Dan yang kedua, dia mencintai pemuda itu karena Allah.


***


"Asalamualaikum, Den? Non? Bibi udah siapin sarapan, tuan juga sudah menunggu."


Terdengar suara Bi Esti seraya mengetuk pintu sebuah kamar.


Galang dan Thea sebenarnya sudah terbangun, . Namun, karena ini hari libur, mereka berdua seolah nyaman ingin berada di dalam kamar 'berdua'.


Thea yang biasanya setelah salat subuh langsung membantu Bi Esti di dapur, tapi hari ini tidak ia lakukan karena Galang terus memelas ingin ditemani.


"Iya, Bi!" seru Galang sedikit berteriak menjawab perkataan Bi Esti.


Ia dan Thea masih berada di tempat tidur, menghadap ke arah samping dengan satu tangan kirinya ia gunakan sebagai alas kepala dan satu tangan kanannya yang ia gunakan untuk memeluk tubuh istrinya.


Ia tersenyum manis saat melihat wajah Thea yang polos dengan tanpa polesan makeup di pagi hari itu sekarang menatapnya dengan sedikit kernyitan dikeningnya.


"Kenapa?" tanya Galang.


"Kamu gak mau bangun? Papah udah nungguin tau."


"Lima menit lagi boleh gak?" ucap Galang seraya mengeratkan pelukanya pada Thea dan membenamkan kepala Thea di dadanya.


Thea tersenyum manis, ia tak melepaskan pelukan Galang. Ini sangat terasa nyaman saat Galang memeluknya seperti ini. Yang entah sejak kapan, ia mulai terbiasa dengan pelukan hangat Galang padanya.


Terlebih ia juga sudah memberikan malam pertamanya pada Galang dan tak pernah menyangka ia bisa melakukan itu.


Apa ia sudah jatuh cinta? Lalu apa Galang juga mencintainya? Ia tak tahu. Tapi yang jelas, ia begitu terlena pada setiap perlakuan Galang padanya.


"Eumh ... itu, hari ini ada rencana ke mana?" tanya Galang lagi.


"Yah, kaya biasa. Aku mau cek toko sebentar, abis itu mau ke rumah ibu. Aku kangen sama ibu, udah dua minggu aku gak datang untuk menengoknya."


"Cie."


"Cie kenapa?"


"Yang udah jadi bos."


"Ck, jangan meledekku terus." Thea tersenyum manis.


Karena sekarang, usaha yang mereka geluti bersama kini sudah berbuah manis, usaha itu berjalan lancar dan saat ini mereka sudah memiliki karyawan karena Thea sudah menandatangani kontrak dengan satu perusahaan besar.


Dengan penghasilan yang lumayan dari penjualannya, setidaknya ia kini tak perlu bekerja di caffe lagi. Ia sudah berhenti selain karena itu tetapi juga karena Galang memintanya untuk berhenti.


Awalnya, Wingky terlihat kecewa tapi ia sedikit memaksa ingin keluar, sebab permintaan Galang adalah satu kewajiban untuknya yang harus ia turuti.


"Alhamdulillah, kita harus bersyukur. Karena atas izin Allah swt usaha kita berjalan lancar," ucap Galang.


Thea menganggukan kepalanya pelan. "Ayo kita turun, gak enak sama papah." Thea langsung bergerak dan duduk dari tidurnya.


"Ck, kenapa si lo gak betah banget deket gue lama-lama ... Hmhh?" tanya Galang sedikit menggerutu.


Tapi Thea tak menggubrisnya dan malah benar-benar beranjak dari tempat tidur.


"Jangan lebay, udah ayo cepet turun. Bukannya kamu sendiri yang sering bilang, kalo Allah gak suka sama orang-orang malas? Liat, udah jam berapa sekarang."


"Iya Iya gue bangun," ucap Galang bernada malas dan beranjak juga dari tempat tidur.


***


Setelah turun ke bawah dan menghampiri Pak Yahya yang sudah menunggu di meja makan, Galang dan Thea duduk untuk sarapan pagi bersama. Seperti biasa ibu mertua yang bernama Rini setiowati itu tak ikut makan bersama mereka.


Thea pun kini mulai mengerti keadaan yang terjadi di rumah ini. Ternyata Bu Rini memang menolak keras kehadiran Galang di rumahnya sebab ia adalah anak bawaan Pak Yahya yang entah dari mana asal usulnya.


Dari cerita yang ia dengar dari Galang, wanita yang ia sebut sebagai ibu itu dulunya pernah memiliki seorang anak laki-laki. . Namun, saat berusia 1tahun, bayi itu hilang diculik orang dan berhasil ditemukan 1tahun kemudian.


Namun, lagi-lagi, kemalangan menimpa Bu Rini karena bayinya meninggal sebab memiliki penyakit akut.


Sampai saat ini, Bu Rini tak pernah memiliki anak lagi. Apa alasanya ia tak tau. Yang jelas, ia sering merasakan kesedihan yang sama jika Galang mendekati Bu Rini meskipun terus mendapat penolakan.


"Bagaimana dengan usaha kalian? Apa semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Pak Yahya membuka pembicaraan mereka.


"Uihh, alhamdulillah lancar, Pah! Siapa dulu dong pegawainya, Galang." Sambar Galang dengan cengiran lebar meledek Thea.


Thea merengut dan sedikit menendang kaki Galang disebelahnya.


Pak Yahya tersenyum. "Syukurlah, jika kalian butuh sesuatu. Bilang saja pada Papah, uang kalian untuk modal membuka toko dulu masih Papah simpan. Siapa tau kalian butuh, kalian bisa mengambilnya kapan saja," ucap Pak Yahya lagi.


"Oh, itu ... gak perlu, Pah, insya Allah uang kita cukup kok. Kan ada mentri keuangan handal di sini. Meskipun pelitnya kebangetan! Tapi alhamdulillah malah bisa terkontrol," ucap Galang lagi seraya menatap Thea dengan sedikit meledek.


Thea semakin merengut kesal.


Bibirnya mengerucut dan ia memelototi Galang karena terus meledeknya sejak tadi.


Saat mereka sedang menyantap sarapan paginya, Bi Esti menghampiri Thea.


"Maaf, Non. Ada yang menelpon dan menanyakan Non Thea," ucap Bi Esti.


"Telpon? Dari siapa?" tanya Thea sedikit mengernyitkan kening. Sebab ia heran kenapa yang mencarinya tak menghubungi ponsel melainkan telpon rumah.


"Katanya dari tetangga ibu Non Thea," jawab Bi Esti.


"Oh, iya Bi. Makasih ya Bi," ucap Thea seraya berpamitan pada Galang dan Pak Yahya untuk mengangkat telpon yang jaraknya tak begitu jauh dari ruang makan.


Ia penasaran juga, kenapa ada tetangga ibunya yang menelpon. Pasti ibunya lagi-lagi meminjam ponsel oraang lain. Hmhh, padahal ia sudah membelikannya ponsel. Tapi tetap saja ibunya selalu begitu.


Setelah sampai, ia langsung mengangkat telponnya.


"Asalamualaikum ...." ia mulai bicara.


Dan orang yang menelponnya pun mulai bicara.


Pertama ia dengar, orang itu panik dan bicaranya pun sangat cepat. Ia terus mendengarkan. Tapi lama kelamaan, napasnya mulai tak beraturan karena terus mendengarkan perkataan orang itu. Tubuhnya bergetar tak karuan, tangannya yang memegang telpon pun tak kuasa lagi ia pegang hingga terjatuh.

__ADS_1


"Astagfirullahal adzim ... Astagfirullahal adzim." Thea beristighfar dengan napas yang tersengal karena sesak menyerang dadanya.


Ia berpegangan pada meja yang berada dihadapannya karena tak sanggup menahan lagi menahan berat tubuhnya sendiri.


"Thea? Lo kenapa?" tanya Galang.


Ia terlihat panik saat melihat gelagat aneh Thea dari meja makan.


"Ibu ...," ucap Thea lirih dan sangat pelan.


"Ibu? Kenapa sama ibu?"


Thea tak menjawab, Tapi air matanya pecah dihadapan Galang dengan sangat deras. Ia menangis berteriak meneriaki nama ibunya. Menandakan telah terjadi sesuatu yang buruk menimpa ibu mertuanya itu.


***


Thea berlari cepat memasuki gang-gang kecil menuju kontrakan ibunya. Air matanya terus mengalir tiada henti, menangisi seorang yang rencananya ingin ia temui pagi ini.


Galang dan Pak Yahya juga mengikutinya dibelakang.


Dan setelah ia sampai di depan sebuah pagar rumah, air matanya semakin menjadi saat melihat kondisi rumah ini.


Bendera kuning terlihat terkibas oleh angin yang begitu menusuk hati.


Kursi-kursi berjejeran di depan rumahnya, banyak orang. Dan semua hal yang sangat ia benci ini ia lihat dihadapannya dengan jelas.


Kedua kakinya bergetaran saat melangkah, pelan. Sungguh ia tak pernah ingin melihat hal ini dalam hidupnya.


"Ibu ...," ucap Thea lirih saat ia sudah sampai di depan pintu.


Terlihat seseorang menghampiri Thea dan Galang dengan cepat setelah melihat kedatangan mereka.


"Thea, kamu yang sabar ya, Nak. Saat pertama saya menemukannya, sepertinya ibu kamu terjatuh di kamar mandi, saya sudah ingin membawanya ke rumah sakit. Tapi ibu kamu sudah meninggal," ucap seorang wanita pemilik kontrakan yang ditempati ibunya. Ia mengusap pelan pundak Thea untuk menyampaikan bela sungkawanya.


Thea terdiam, air matanya semakin deras mengalir kala ia melihat sesosok tubuh kaku yang terbaring di atas kasur. Seluruh tubuhnya sudah ditutupi kain dan ia berjalan menghampiri tubuh ibunya.


"Ibu ...," ucap Thea seraya menggerakan tangannya untuk membuka kain yang menghalangi wajah tubuh itu. Ia masih berharap, bahwa apa yang ia lihat ini adalah salah.


Ia berusaha tak percaya, tapi apalah daya. Yang ia lihat ini memang ternyata benar ibunya.


Wajahnya yang selalu berbinar cerah, memarahinya dan menasihatinya dulu. Kini terlihat begitu pucat. Kehangatan dan pelukan hangatnya saat ia kecil hingga dewasa, kini tenggelam ditelan takdir yang mendatanginya. Dingin ... itulah yang ia rasakan saat menyentuh tangan ibunya.


"Ibu? Ibu kenapa ninggalin aku? Ibu tolong jangan tinggalin aku! Bangun, Bu!" ucap Thea seraya menggerakan tubuh ibunya. Ia menangis terisak dan semakin menjadi-jadi. Memeluk tubuh dingin dan kaku ibunya yang sudah menghadap Allah swt.


"The, sabar. Istighfar! Lo gak boleh kaya gini," ucap Galang yang berusaha menahan tangis Thea dan mencoba melepaskan pegangan tangan Thea pada ibunya.


Tapi Thea tak mendengarkan dan masih terisak menangis memeluk tubuh ibunya.


"Ibu, kenapa harus secepat ini? Gimana sama aku, Bu? Aku udah gak punya siapa-siapa lagi selain Ibu. Ibu, tolong bangun!"


Galang semakin keras menarik tubuh Thea yang semakin hsteris menangisi kepergian ibunya.


"Thea, liat gue. Liat gue!" ucap Galang seraya menghadapkan pandangan Thea padanya. Thea masih menangis, "Lo gak boleh kaya gini, ikhlasin ibu. Kasian ibu kalo lo nangis kaya gini, ibu pasti gak akan bisa tenang," ucap Galang.


Ia mengusap pelan rambut Thea yang kusut menghalangi wajahnya, menatap mata Thea dalam-dalam dan menarik tubuh istrinya itu kepelukannya. Thea masih menangis terisak dipelukannya.


Ia paham.


"Lang, aku gak punya siapa-siapa lagi selain ibu. Kenapa ini harus terjadi sama aku, Lang? Kenapa?" Thea membenamkan wajahnya di dada Galang karena tak sanggup lagi melihat kenyataan yang ada.


Thea terus menangis.


"Tolong segera dibantu untuk pemakamannya. Lang, ajak istrimu ketempat lain dulu," ucap Pak Yahya pada orang-orang yang berada di sana dan meminta Galang membawa Thea ke tempat lain. Sebab tak tega melihatnya terus menangis seperti itu.


Galang hanya mengangguk pelan mengiyakan. "Ayo, The," ucapnya kemudian seraya menuntun tubuh Thea untuk berdiri.


Thea berusaha berdiri, ia masih menatapi tubuh ibunya beberapa saat. Hingga ia mulai melangkah,


Galang merasakan ada keanehan pada Thea. "The?" tanya Galang yang mulai panik saat Thea diam dan malah terus memegangi dadanya.


"Lo kenapa?" tanya Galang lagi.


"Ahh."


Terdengar begitu pelan suara Thea saat menjawab, ia terus mengeratkan pegangan tangannya di dadanya hingga pada akhirnya tubuh Thea limbung tak berdaya.


"Thea? Astagfirullahal adzim." Galang kaget dan menahan tubuh lemah istrinya yang tiba-tiba tak sadarkan diri di kedua tangannya.


Ia melihat wajah istrinya yang tampak pucat di kedua tangan. Thea pasti sangat terpukul atas kepergian ibunya yang sangat mendadak ini.


"Segera bawa istrimu ke rumah sakit, biar di sini Papah yang akan mengurusnya," ucap Pak Yahya.


"Baik, Pah," ucap Galang mengiyakan.


Setelah itu, Ia pun sesegera mungkin mengangkat tubuh Thea untuk membawanya ke rumah sakit.


***


Galang terdiam di samping tubuh lemah istrinya, memegang satu tangan wanita itu dan terus menungguinya sejak tadi.


Tak satu detikpun ia lewatkan, ia tak ingin jika Thea sadar nanti ia tak berada disampingnya. Kini hatinya semakin teguh, menjagai istrinya itu sampai akhir.


Thea yang malang, ia sudah kehilangan ayahnya dan sekarang ia juga harus menerima kenyataan bahwa ibunya juga meninggalkannya.


Klek!


Terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang, Galang pun menoleh dan melihat siapa yang datang.


Ternyata itu adalah Bi Esti dengan membawa satu buah tas ditangannya.


"Asalamualaikum."


"Wa'alaikum salam. Bi," ucapnya seraya tersenyum tipis melihat kedatangan Bi Esti.


"Bagaimana keadaan Non Thea?"


"Kata dokter, keadaanya belum stabil, Bi. Tapi mudah-mudahan aja, Thea bisa sadar secepatnya," ucap Galang pelan seraya masih menatap wajah pucat istrinya.


Bi Esti belum berkata. Namun, matanya mulai memerah menahan tangis karena ikut merasakan kesedihan yang sama.


"Aku merasa sangat bodoh, Bi. Sebab aku gak tau sama sekali soal penyakit Thea. Padahal dia adalah istriku, tapi aku lalai dengan apa yang membuatnya lemah," ucapnya lagi.


"Sabar, Den. Ini semua adalah ujian. Setelah Den Galang tau semuanya, Den Galang harus lebih memperhatikan kesehatan Non Thea. Dan semoga saja, Non Thea juga diberikan ketabahan atas kepergian ibunya," ucap Bi Esti seraya mengusap pelan pundak Galang disertai isakan pelan tangisnya yang tak bisa ia tahan.

__ADS_1


Galang mengangguk pelan.


"Ini sudah waktunya salat dzhuhur Den, lebih baik Aden salat dulu. Biar Bibi yang berganti menjaga Non Thea di sini, Tuan juga akan datang setelah pemakaman selesai," ucap Bi Esti lagi.


Galang terdiam sejenak, melihat Thea lagi untuk beberapa saat. Sangat berat sebenarnya meninggalkan tempat ini walau hanya untuk sekejap.


Tapi ia juga tak bisa mengabaikan kebajibannya menjalankan sholat lima waktu.


"Baiklah, Bi. Aku izin ke mushola dulu sebentar ya," ucapnya kemudian.


Bi Esti hanya mengangguk pelan mengiyakan.


Dan Ia pun segera beranjak dari duduknya untuk pergi mencari tempat ibadah di rumah sakit ini.


***


Waktu terus berjalan saat Galang mulai menapakkan kakinya disebuah mushola, mengambil air wudhu dan menunaikan sholat berjama'ah dzhuhur dengan yang lain.


Setelah salat-nya diakhiri dengan do'a dan salam, ia masih duduk di hamparan sajadah dan masih khusyuk mendoakan yang terbaik untuk Thea.


______________________________


Kematian, itu adalah takdir seseorang yang kita tidak pernah tahu kapan waktunya akan datang. Jika seseorang merasa kehilangan karena ditinggal seorang yang dikasihi, kesedihan akan terus mengikuti.


Jika waktu adalah jawaban dari pertanyaan kapan kesedihan itu akan hilang, maka yang harus kita lakukan adalah belajar.


Belajar menerima kenyataan walaupun itu sangat berjalan lambat.


______________________________


Galang mulai melangkah kembali menuju ruangan tempat Thea dirawat, sudah lima belas menit ia meninggalkan ruangan itu, Ia pun mempercepat langkahnya karena merasa terlalu lama.


Ia berharap, saat ia sampai diruangan Thea sudah siuman dan ia bisa bernapas lega.


"Asalamualaikum."


Tak ada yang menjawab. Hingga ia melangkah lagi masuk ke dalam.


"Bi," ucapnya lagi seraya melihat sekelilingnya.


Bi Esti tak ada.


Hingga pada akhirnya ia melihat hal yang sangat diluar dugaan dan membuatnya tersentak kaget.


"Astagfirullahal adzim, Thea!" Ia sedikit berteriak.


Karena kaget saat melihat bed stretcher itu kosong tak berpenguni, selimut berantakan, selang infusan pun tergolek diatasnya.


"Thea?" tanya Galang seraya mencari keberbagai arah diruangan ini.


Nihil. Tak ada siapapun di sini, Thea? Ke mana istrinya itu pergi? Padahal ia sedang sakit saat ini.


"Den? Ada apa?" tanya Bi Esti yang baru datang masuk ke dalam.


"Bi, Thea gak ada. Dimana dia, Bi?" tanya Galang yang langsung memburu pertanyaan pada Bi Esti.


"Apa?" Bi Esti pun terlihat terkejut dan melihat tempat tidur kosong di depannya. "Maaf Den, tadi Non Thea masih ada di sana, dia masih belum siuman saat bibi pergi ke toilet," ucap Bi Esti bernada panik.


Galang kaget bukan main. "Astagfirullahal adzim, Bi. Kalo gitu, Aku mau nyari Thea sekarang juga," ucapnya seraya langsung berbalik arah dan berlari keluar ruangan.


***


Galang berlari dan terus berlari menyusuri setiap lorong rumah sakit. Bertanya kepada dokter dan suster atau siapapun yang ia temui dijalan. Tapi mereka semua mengatakan hal yang sama. Tidak tau dan tidak melihat.


Perasaanya tak karuan, rasa khawatir kian menjalar mengalir di setiap urat syarafnya. Thea ... di mana istrinya itu sekarang?


Ia terus memanggil dan mencari, hingga pada akhirnya ia melihat seseorang dengan pakaian rumah sakit tengah berjalan dengan terhuyung-huyung diparkiran.


Ia semakin cepat berlari menghampiri, merasa yakin bahwa orang yang ia lihat itu pasti istrinya.


"Thea!" seru Galang dengan cepat menghampiri tubuh wanita yang hampir terjatuh itu.


Kedua tangannya berhasil menahan tubuh lemah seorang wanita, yang ternyata benar itu adalah Thea.


"The, lo kenapa ada di sini? Lo, kan, masih sakit, kenapa lo keluar?" tanya Galang bertubi-tubi seraya masih menahan tubuh Thea.


Thea yang terlihat masih sangat pucat itu malah menangis terisak dan berusaha melepaskan pegangan tangannya.


"Lepasin, Lang. Aku mau liat Ibu, aku mau ketemu sama Ibu," jawab Thea.


"Thea, please. Lo harus kembali ke kamar, ayo The," ucap Galang yang terus menahan gerak tangan Thea yang berusaha berontak darinya.


"Aku gak mau, Lang! Aku mau liat Ibu, kumohon. Anterin aku ketemu sama Ibu! Aku mau ketemu sama Ibu aku Lang! Galang, aku mohon, anterin aku."


Grep!


Tanpa banyak kata lagi, Galang langsung menarik tubuh Thea ke dalam pelukanya. Mencoba menahan getir tangis istrinya yang merasakan kesedihan mendalam atas kepergian ibunya yang masih belum bisa ia terima.


"Galang, aku mohon. Aku ingin melihat ibuku untuk yang terakhir kalinya."


Galang mengeratkan pelukanya, mengusap pelan atas rambut Thea yang kini semakin menangis terisak.


Ia tak peduli, jika sekarang mereka tengah menjadi pusat perhatian semua orang. Yang ia pedulikan adalah Thea.


Ia tak tau lagi harus berbuat apa dengan kondisi Thea yang seperti ini, sedangkan ia tau pasti jenazah Bu Lestat sudah dimakamkan.


"Menangislah, keluarin semua apa yang mau lo lakuin sekarang, kalo itu bisa ngebuat kesedihan lo berkurang. Gue ada di sini, The. Selama apapun yang lo butuhin," ucap Galang pelan.


Thea masih menangis terisak.


Galang juga masih terdiam saat Thea semakin menangis berteriak memanggil nama ibunya dan memukul-mukul punggungnya. Ia terima apapun yang Thea lakukan sekarang, asal bisa meringankan beban istrinya.


Setelah cukup lama Thea mengeluarkan segala perasaanya.


Galang mulai merasakan Thea sudah lebih tenang, Ia pun melepaskan pelukanya dan menatap mata sendu istrinya itu dalam-dalam.


"Kita kembali ke dalem, ya," ucap Galang seraya mengusap pelan rambut Thea yang sedikit kusut menghalangi wajahnya.


Thea tak menjawab.


Dan ia mengerti, Thea tak akan menolaknya kali ini.


Ia pun segera menggendong tubuh Thea di kedua tangannya, membawanya lagi masuk ke dalam rumah sakit.

__ADS_1


"Aku ingin ke tempat ibu, Lang," ucap Thea sangat pelan di gendongannya.


"Iya, nanti setelah dokter ngijinin lo pulang, gue bakal anterin lo. ke manapun yang lo mau," jawabnya seraya membenarkan posisi Thea di kedua tangannya.


__ADS_2