Jodoh Yang Tidak Diinginkan

Jodoh Yang Tidak Diinginkan
JYTD 09


__ADS_3

Beberapa waktu kemudian, hujan dan petir di luar pun sudah mulai mereda. Setelah kejadian tadi Thea kini berada di samping Galang yang masih belum juga siuman di bed stretcher rumah sakit.


Suhu tubuhnya begitu tinggi, igauan kecil terus dikeluarkan Galang dari bibirnya, bahkan sesekali juga ia tiba-tiba berteriak tak jelas seperti ketakutan hingga Thea harus menggenggam erat tangannya, baru setelah itu ia bisa kembali tenang. Entah apa yang ada di dalam mimpinya namun yang jelas suaminya itu tampak begitu pucat sekarang.


Bi Esti hanya menjelaskan bahwa Galang memiliki trauma berat pada gelap. Tak jelas bagaimana kejadiannya, seolah masih ada yang tertutupi sampai Bi Esti tak berani berkata jujur.


Waktu sudah menunjukan pukul 00:30, rasa kantuk yang teramat berat pun sudah menempel di kedua mata Thea, ia berusaha terus mengangkat kelopak matanya ke atas agar tetap terjaga, namun hal itu ternyata sia-sia saja karena ia tak terbiasa tidur selarut ini.


Ia melihat ke arah Galang lagi, sepertinya pemuda itu sudah tertidur lelap sekarang. Thea memutuskan tidur di sofa yang tersedia dalam ruangan itu sambil menunggu Bi Esti yang pergi entah ke mana.


***


"Bibi." Sayup suara Galang memanggil. Menoleh sedikit pada seorang wanita paruh baya yang tidur tepat di kursi sebelahnya terbaring.


"Iya? Alhamdulillaah, akhirnya Aden siuman juga. Ada yang bisa bibi bantu?" tanya Bi Esti.


Galang menggelengkan kepala. Ditatapnya sejenak tempat ia berada saat ini, dan kembali menatap ke arah Bi Esti.


"Sejak kapan aku ada di sini?"


"Selepas Isya. Aden istirahat lagi saja, ya. Ini masih jauh dari pagi."


Bi Esti memberi perhatian, namun Galang malah berusaha bangkit dari tidur walau Bi Esti melarangnya ketat. Sesekali matanya terarah pada Thea yang lelap di sofa. Ia diam.


"Apa bibi ngasih tau Thea soal ini?" tanya Galang.


"Tidak."


"Hmh, bagus." Galang mengangguk paham.


Sesekali Bi Esti menyeka sudut mata dengan sapu tangan melihat ke arah Galang.


"Harusnya Den Galang memberitahu Non Thea yang sebenarnya. Walau bagaimana pun, Non Thea berhak tahu--"


"Enggak, Bi. Aku gak mau ada lagi orang yang baik padaku berdasarkan kasihan. Bibi tahu sendiri perlakuan Papa padaku sekarang? Aku bahkan gak diizinin kuliah," keluh Galang pelan. Menatapi Thea yang berada di sudut sana lelap dalam mimpi.


"Maka dari itu Aden harus mendengar nasihat Tuan. Jalani pengobatan Aden, jika Aden sudah sembuh. Aden bisa melakukan apa yang Aden mau," ucap Bi Esti.


"Aku belum mau mati sebelum harapanku tercapai, Bi. Satu-satunya harapan yang selama ini kuperjuangkan."


"Nyonya?" tebak Bi Esti.


Galang diam. Beberapa saat berlalu tanpa ada jawaban dan kata hingga akhirnya Bi Esti kembali bicara.


"Aden harus punya lebih dari satu harapan dan alasan. Bibi yakin pasti ada seseorang lagi yang mampu membuat Aden punya semangat hidup lagi. Apa aden tidak menyayangi Tuan dan bibi? Ingatlah hal itu, Den ...."


Galang memutar posisi tidurnya mebelakangi Bi Esti. Ia tahu dan paham ini bisa dikatakan tidak sopan saat ada seseorang yang mengajaknya bicara. Namun ia merasa pembicaraan mereka akan tetap menemui jalan buntu, karena Galang tetap bersikukuh akan menjadikan pengakuan ibu kandungnya sebagai satu-satunya harapan yang membuat ia bertahan sampai kini.


Sesuatu yang bersarang di kepalanya dan tertanam lekat menyatu dengan isi otaknya telah mematikan semua harapan dan alasan yang ia miliki.


"Aku pengen pulang besok pagi, Bi."


Galang mengakhiri malam mereka dengan keputusan sendiri. Membuat Bi Esti diam dan paham menghadapi sikap anak majikannya itu.


***


Dua hari kemudian.


Matahari sudah tinggi di atas langit dan mulai menebarkan kehangatannya, tak ada suara burung bercicit yang terdengar adalah suara bising knalpot kendaraan yang berlalu lalang dengan kesibukannya sendiri di pagi hari.


"Den." Terdengar suara memanggil seraya mengetuk pintu.


Galang mulai terusik dari mimpinya, ia memang mendengar ada memanggil tapi entah kenapa ia ingin tidur lebih lama lagi.


Karena apa? Yah apalagi kalau bukan karena Nayla yang datang ke mimpinya.


"Den." Lagi, terdengar suara Bi Esti memanggil dari arah luar.


"Iya, Bi. Lima menit lagi," jawabnya singkat dan pelan seraya memiringkan posisi tidur untuk memeluk bantal guling disampingnya.


Ia tersenyum.


Ini sangat nyaman dan hangat, dan setelah ia bicara pun ia kembali melanjutkan mimpinya yang terpotong.


Tak terdengar lagi suara Bi Esti memanggil dan Galang kini benar-benar nyaman dengan mimpinya bersama Nayla.


Hingga pada akhirnya ia merasakan bantal guling yang ia peluk itu sedikit bergerak dan membalas pelukanya.


Karena mendengar ada suara raungan mesin mobil yang dipanaskan di rumah tetangga, Galang makin terusik dan berdecak kesal.


Ia pun mulai membuka kedua matanya yang masih terasa berat, dengan harapan kecil bahwa saat ia membuka kedua matanya yang ia lihat pertama kali adalah senyuman MEDUSA Nayla yang manis.


Ah! Itu benar benar pemikiran kotor dan bodoh. Ia tersenyum manis, karena dengan samar ia melihat sepasang mata indah kini menatapnya tanpa berkedip.


"Pagi," ucapnya kemudian seraya mengeratkan pelukanya.


Hingga beberapa saat kemudian ia baru menyadari kejanggalan dari apa yang ia lihat tadi. Galang membuka kedua matanya lagi untuk melihat lagi sepasang mata itu.


Dan yang ia lihat, kedua mata indah itu masih menatapnya tanpa berkedip.


Jaraknya cukup dekat dengan kedua mataya, hembusan nafasnya pun memantul dan mengenai dirinya lagi karena saking dekatnya ia dengan seseorang yang ia peluk ini.


Seseorang?


Beberapa detik berlalu.


Ia dan Thea masih terpaku dengan tatapan masing-masing.


Hingga pada akhirnya ...


"AAAAA!"


Lengkingan teriakan Thea membuatnya kaget bukan main hingga ia spontan mendorong tubuh itu cukup keras karena rongga telinganya mulai terasa sakit.


BRUK!


Thea jatuh dan terguling ke lantai bersama selimutnya.


Sedangkan Galang langsung terperanjat dan duduk dengan cepat menatapi Thea yang kini meringis kesakitan.

__ADS_1


"Heh! Kenapa kamu dorong aku sih? Sakit tau!" ucap Thea sedikit berteriak.


"Sukurin! Salah lo sendiri kenapa meluk-meluk gue!" ucap Galang tak ingin kalah.


Ia melihat ke arah Thea, wanita itu masih terduduk di lantai. Wajahnya terlihat begitu kusut dan rambutnya masih berantakan.


Ah! Lagi lagi ia memeluk Thea saat memimpikan Nayla.


"Lo? Lo pasti udah ngapa-ngapain gue kan? Hah?" tanya Galang pada Thea seraya memeriksa seluruh tubuhnya.


Tak ada apa-apa, ia masih mengenakan baju dan ini masih utuh. Sekali lagi ia melihat ke arah Thea, namun istrinya itu terlihat menunduk dan yang lebih anehnya lagi ia bahkan seperti mau menangis.


"Eh, lo kenapa nangis?" tanyanya lagi karena pertanyaan sebelumnya tak di jawab oleh Thea.


"Kenapa? Kamu tanya kenapa? Kamu ngedorong aku dari atas kasur sampe kaya gini, emang kamu fikir ini gak sakit, hah? Lagipula siapa juga yang meluk-meluk kamu, kan kamu duluan yang meluk aku harusnya aku yang marah sama kamu! Dan lagi, kamu udah bikin aku gak tidur semaleman! Kamu ngigo teriak teriak, sampe aku pegang tangan kamu baru kamu bisa tidur! Kamu tuh ngeselin tau gak! Ah!" ucap Thea bertubi-tubi dengan nada tinggi.


Galang terdiam. Sungguh, ia samasekali tak ingat dengan apa yang dikatakan Thea barusan.


Apa benar?


Ia melihat ke arah Thea yang masih duduk di lantai sekarang bahkan wanita itu terlihat benar-benar menangis meskipun tak terlalu terisak.


"Eh, lo beneran nangis?"


"ENGGAK!" bentak Thea seraya menghapus air matanya.


"Eh iya iya iya gue minta maaf, gue beneran gak sengaja ngedorong lo tadi, abisnya gue kaget," ucap Galang.


Thea tak menjawab.


"Emh, sebagai permintaan maaf gue, mau gak gue beliin es krim?" tanya Galang.


"Engh?"


"Es krim?" ucap Galang lagi berharap Thea mau menerima permintaan maafnya.


"Enggak! Emangnya aku anak kecil apa nangis trus diem kalo udah di beliin es krim, hah! Aku gak mau!" ucap Thea lagi bertubi-tubi dan sedikit membentak.


Galang kaget dan sedikit mengernyitkan kening, mengapa Thea tiba-tiba bersikap seperti anak kecil seperti ini?


"Oh, gimana kalo coklat silverQu**n satu mau gak?" tanyanya lagi.


"Hahhh?"


Galang tersenyum, sepertinya kali ini tawarannya berlaku untuk Thea karena wanita itu mulai berhenti menangis.


"SilverQu**n, mau?"


"Lima," ucap Thea.


"Hahhh?"


Galang melongo. Beberapa detik ia tak menjawab perkataan Thea dan terlihat wanita itu mulai menangis lagi.


"Eehhhh iya iya iya lima! Deal! Udah jangan nangis lagi," ucapnya kemudian dengan senyuman manis.


Thea pun benar-benar berhenti menangis.


***


Thea pun sampai di caffe, hanya ada beberapa orang saja di dalamnya, belum terlalu ramai mungkin karena ini masih termasuk jam pagi.


Thea melangkahkan kakinya menuju ruangan Wingky, ingin menanyakan lagi apakah benar ia bisa bekerja disini lagi atau tidak. Agak memalukan sebenarnya, tapi ia benar-benar butuh pekerjaan ini.


"Thea!"


Terdengar suara seseorang memanggil namanya sebelum ia berbelok ke ruangan Wingky hingga membuat Thea menoleh.


Dan terlihat olehnya, seseorang yang sudah lama sekali tak bertemu dengannya itu kini tengah berlari kecil.


"Aida?"


"Hai, apa kabar?" tanya Aida dengan senyuman manis seraya mengulurkan tangannya kearah Thea.


"Kabarku baik, kamu ...?"


"Oh, aku? Aku jelas lagi patah hati. Tau."


Thea terdiam, karena arah pembicaraan mereka berdua ini sangat membuat tak nyaman.


"Maaf yah, kemarin aku ngejauhin kamu. Abisnya aku beneran kaget waktu ngedenger kamu nikah sama Galang, tapi kamu tenang aja, sekarang aku udah move on."


"Benarkah?" tanya Thea memastikan.


Meskipun Aida berkata begitu, tapi tetap saja ia merasa tak enak karena ia sendiri sangat tahu kalau Aida begitu menggilai si tengil itu.


"Iya dong, kamu tau nggak sekarang aku jadian sama siapa?"


"Siapa?"


Aida pun mendekat dan membisikan sebuah nama yang membuat Thea kaget bukan main.


"Hahhh? Ko-ko-itu ..."


"Sssst! Jangan tanya lagi, aku juga gak tau apa alesannya aku jadian sama dia."


Thea mengernyitkan kening, gadis yang sudah menjadi sahabatnya selama tiga tahun ini terlihat berbeda saat sudah lulus.


Ia lebih cerewet dan banyak bicara, gayanya pun sudah lebih kekinian dan modis abis pastinya.


Satu bulan lebih mereka tak bertemu, ternyata banyak perubahan yang ia tak tau.


Lalu bagaimana kabar Pangeran saat ini? Lama juga ia tak bertemu dengannya.


"Thea?"


Thea menoleh karena mendengar ada yang memanggil namanya lagi.


"Wingky?" ucapnya agak menunduk tak berani menatap mata Wingky seperti biasanya.

__ADS_1


"Aku fikir kamu gak jadi dateng, udah lama?"


"Emh itu ... Enggak, baru aja ko." jawabnya singkat.


Ada rasa canggung saat bicara dengan Wingky lagi, karena bagaimanapun ini benar-benar terasa aneh saat ia harus bersikap normal setelah menyakiti pemuda itu.


"Eh, Ky. Aku boleh kan pinjem Thea sekarang? Please, lagian dia juga belom resmi jadi karyawan kamu kan. Boleh yah?" ucap Aida tiba-tiba bernada memelas pada Wingky.


"Ay, tapi Thea baru aja dateng."


"Tunggu, emang kamu mau kemana?" tanya Thea yang heran dengan perkataan Aida barusan.


"Oh iya, The. Aku belom cerita sama kamu yah, kalau sekarang ada pemotretan pertamaku jadi model! Ah, apa kamu tau The? Jadi artis adalah cita-citaku dari dulu. Dan buat hari ini, aku mau kamu yang nemenin aku, siapa tau aja ada yang ngelirik kamu juga, iya nggak?" ucap Aida dengan cepat dan bersemangat.


Wingky terkekeh kecil.


Sedangkan Thea tersenyum garing.


"Iya tapi itu, aku kan sekarang mau ...."


"Ya udah, aku anterin kalian aja gimana?" tanya Wingky.


"Hahhh? Beneran? Asik! Makasih, kalian berdua emang the best deh pokonya, ayo!" ucap Aida lagi seraya menarik tangan Thea dan Wingky bersamaan.


Thea hanya bisa diam dan mengikuti langkah kaki Aida yang menyeretnya keluar caffe.


Ini sungguh diluar dugaan, niatnya ingin kembali bekerja sekarang ia malah pergi mengantar Aida. Entah apa lagi yang akan terjadi satu jam kemudian.


Dan setelah sekian lama akhirnya mereka sampai juga ketujuan, kota Bandung. Itulah tempat yang mereka datangi, tempat yang penuh dengan hal-hal unik dan pastinya banyak juga pemandangan indah dikota ini.


Mereka pun kini berada di satu tempat pariwisata yang cukup terkenal di kota ini.


Setelah sampai, Aida buru-buru pergi ke ruang ganti, Sedangkan ia dan Wingky kini duduk di kursi panjang tak jauh dari tempat Aida akan melakukan pemotretan.


Thea diam, ia larut dalam lamunannya sendiri menatapi orang orang yang berlalu lalang.


"Nih."


"Hahhh?"


Thea menoleh karena ada benada dingin yang menempel dipipinya sampai membuatnya kaget.


Dan ia lihat Wingky sedang menyodorkan sebuah minuman dingin padanya dengan senyuman manisnya yang khas.


"Makasih," ucapnya singkat seraya menerima minuman itu. Hingga ia lihat Wingky pun duduk di sebelahnya.


"Bete juga nungguin orang, untung aku ikut. Kalo enggak kamu pasti udah lumutan nungguin Aida sendirian disini," ucap Wingky.


Thea tersenyum tipis.


"Yah, kamu bener. Ini emang paling ngeselin," jawab Thea seraya merogoh kedalam tasnya dan mengeluarkan sebuah cokelat yang ia beli tadi bersama Galang.


"Cie, masih suka cokelat ternyata. Pasti bawa lebih dari satu, iya kan?"


Thea terkekeh kecil sambil menyodorkan satu batang cokelat utuh pada Wingky.


"Tau aja, ini itu adalah obat yang paling manjur buat ngilangin bete, mau?" tanyanya kemudian.


"Gak pernah berubah," ucap Wingky seraya menerima cokelat utuh itu.


Mereka sama-sama tersenyum, mengingat masa dimana mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Sangat manis dan juga indah, tak ada satu hal apapun yang bisa membuat mereka terpisah. Wingky Pangeran dan Aida adalah sahabat yang selalu ada untuknya kapanpun.


Sebenarnya cokelat itu bukan makanan kesukaanya, tapi makanan ini adalah simbol dari persahabatan mereka berempat.


Kadang ada rasa pahit, namun akan selalu tetap manis.


"Emh, The. Itu, bukanya suami kamu?" ucap Wingky.


"Hahhh?"


Thea agak kaget dan langsung menoleh kearah pandangan mata Wingky tertuju.


Dan ia lihat, benar sekali. Tak jauh di sudut sana ia melihat Galang tengah berjalan bersama Nayla.


Thea terdiam.


Ternyata Galang sedang pergi untuk menemui Nayla, ia tak menyangka kalau tempat yang di tujunya ini akan sama dengan tempat yang dituju Galang sebab suaminya itu hanya meminta izin pergi ke tempat Nayla, mereka berdua kelihatan sangat akrab mengobrol di bawah pohon.


Galang juga terlihat sangat bahagia dengan tawa lepas yang tak pernah di tunjukan jika sedang bersamanya.


"Dia sama siapa?" tanya Wingky.


"Nayla," jawab Thea singkat seraya terus menatapi Galang dan Nayla di sudut sana.


"Oh, kamu kenal? Tapi kayanya mereka akrab banget, kamu gak curiga mereka ada hubungan?"


"Curiga buat apa? Gak ada untungnya juga aku curiga sama dia," ucap Thea bernada datar.


Wingky mengangguk pelan.


"Ky, apa kamu udah makan? Aku lapar, aku mau beli makanan dulu," ucap Thea seraya beranjak dari duduknya.


"Aku temenin, tar kamu nyasar disini kan gak lucu," ucap Wingky.


Thea hanya tersenyum tipis dan sesudah itu ia mulai berbalik arah hendak pergi dari sana.


Namun tiba-tiba saja terdengar suara seseorang menjerit begitu keras saat ia dan Wingky hendak melangkahkan kaki. Hingga mereka berdua spontan berbalik arah lagi untuk melihat siapa yang menjerit itu.


Mata Thea terbelalak seketika saat melihat hal yang ada dihadapannya.


Nayla, gadis itu terlihat terjatuh bersamaan dengan Galang disampingnya. Terlihat juga ada bilahan pohon yang cukup besar di samping mereka, sepertinya bilahan pohon itu terjatuh dan hampir mengenai mereka berdua.


Tapi bukan itu yang jadi pusat perhatian Thea saat ini, tapi apa yang ia lihat setelahnya.


Galang terlihat sangat panik karena Nayla terluka di telapak tangannya.


Saat melihat itu, meskipun tak terlalu terasa tapi kenapa nafasnya agak sesak. Darahnya mengalir keatas kepala perlahan. Tangannya mengepal dan ia tak bisa berhenti menatapi Galang yang jelas menyentuh tangan Nayla.


"Jangan pegang tangannya, Lang." Tiba-tiba hatinya bergumam sendiri tanpa terasa.

__ADS_1


Hatinya mendadak sakit tanpa sebab juga ia kesal sendiri


__ADS_2