Jodoh Yang Tidak Diinginkan

Jodoh Yang Tidak Diinginkan
JYTD 34


__ADS_3

Dalam mobil, air mata Thea hampir mengering setelah terlalu banyak menangis. Tenaga yang ia keluarkan sejak tadi sia-sia, Wingky dan Yasa tak berniat memberinya sedikit cela untuk kabur. Kedua tangannya terikat, Yasa yang duduk di depan hanya diam walau sesekali tersenyum sinis. Sebuah mobil di belakang mereka terus mengikuti, mereka mungkin saja bawahan yang dibawa Wingky.


Yasa Pradipta. Sampai detik ini, Thea sungguh tidak ingin memercayai kenyataan bahwa Yasa bisa bekerja sama dengan seorang iblis seperti Wingky. Dulu ia menganggap Yasa sebagai kakak baginya, yang mampu berbagi dalam kesenangan maupun kesedihan. Yang selalu ada untuknya dalam keadaan terpuruk. Tapi, sekarang? Kenyataan bahwa semua orang memang tak bisa dipercaya memang benar adanya.


"Kamu tega sama aku, Yas. Setelah apa yang kamu lakuin ke aku dulu, aku menganggapmu kakak. Tapi ternyata kamu udah matahin semua kepercayaan itu sama kelakuan kamu sekarang," kata Thea. Ia menatap ke depan melihat ekspresi datar Yasa. "Kenapa kalian berdua gak bunuh aku aja sekalian? Biar kalian puas. Percuma juga aku hidup kalau harus menyerah pada kalian, iblis busuk."


"Itu semua terlalu mudah, Sayang. Aku ingin kau melihat dulu jasad si tengil itu di depan matamu. Besok pagi, pasti akan tersiar kabar bahwa suami tercintamu mati karena serangan jantung. Sekarang sudah lewat satu jam, dia hanya menunggu waktu untuk mati. Atau dia bahkan sudah--"


"Diam kamu, Brengsek! Orang sepertimu lebih layak mati dari pada suamiku!"


Napas Thea tersengal. Ia takut sebenarnya, beban pikirannya menumpuk memikirkan keadaan suaminya di rumah. Tidak bisa ia bayangkan kalau Galang benar-benar meninggal disaat seharusnya mereka bahagia menyambut kehadiran buah hati yang telah dinanti. Separuh jiwanya pasti ikut mati bersama Galang. Air mata Thea menetes lagi setelah bicara.


Tapi Thea berusaha kuat. Janin yang ada dalam rahimnya adalah satu-satunya harapan ia bersama Galang. Dan ia harus bisa bertahan sampai bisa melahirkan bayinya. Melihat anaknya tumbuh dan menyerupai Galang.


"Kenapa kamu gak lepasin aku, Ky. Cari wanita lain yang bisa mencintaimu. Karena sampai kapan pun, kamu gak pernah bisa ngedapetin apa yang kamu mau dariku," kata Thea.


Wingky tersenyum kecut. "Justru itu yang menarik darimu, Thea. Apapun yang kumau selalu kudapat. Tapi kenapa begitu sulit mendapatkanmu? Ini penghinaan berat saat kamu lebih memilih lelaki payah dan tidak berguna itu," jawab Wingky. Tangan kanannya sesekali menuntun sebuah botol minuman ke mulutnya, membuat embusan napasnya dipenuhi alkohol.


Wajah lelaki itu memerah. Dalam setengah sadar, ia meraih wajah Thea. Mencekal kedua pipinya hingga Thea menghadap ke arahnya. Thea hanya bisa berontak kecil, menyingkirkan wajahnya dari manusia itu.


"Menyerahlah, Thea. Racun itu adalah racun terbaik yang kudapat, cukup dengan 20ml. Dia bisa membunuh satu nyawa, dan itu suamimu. Jika dia mati, tidak akan ada lagi penghalang bagiku memilikimu. Dia sekarang seperti tikus kecil yang terkena perangkap," kata Wingky. Ia terkekeh kecil lalu melepas cengkramannya pada Thea sedikit kasar.


Racun yang paling mematikan itu berasal dari bunga Wolblue. Efeknya akan persis seperti terkena serangan jantung jika diminum langsung. Dan akan berakibat kerusakan fungsi organ dalam ketika diberikan secara berkala dalam dosis ringan kepada manusia. Jenis racun yang cukup ampuh dan pasti akan sulit melacak kebenaran jika tidak ada bukti kuat untuk menjerat Wingky.


Thea terdiam. Hatinya menjerit keras, berdoa dan menaruh harapan agar seseorang dapat menolongnya. Ia ingin terbebas dari penderitaan yang terus mengekang bagai rantai ini. Ia ingin hidup tenang dan bahagia. Hanya itu.


Saat perjalanan panjang mereka, tiba-tiba mobil berhenti. Membuat mereka menahan tubuh dan menahan napas sejenak. Wingky geram, ia menendang kasar jok di depannya.


"Kenapa berhenti, bodoh!" bentaknya sangat keras kepada sopir pribadinya.


"Ada yang menghalangi mobil kita, Tuan."


"Apa?" Wingky melihat ke arah depan, tampak sebuah mobil hitam berada tepat di depan mobilnya. "Kurang ajar! Lihat siapa orang yang berani menghadang jalanku, Sa!"


"Ck! Gue lagi. Biasa aja dong ngomongnya, jangan ngegas gitu. Gue bukan babu yang bisa seenaknya lo suruh." Yasa berdecih, lalu keluar dari mobil dengan malas.


Sedangkan pandangan Thea terfokus ke arah depan. Seseorang keluar dari dalam mobil, dan mata Thea dibuat terbelalak lebar melihatnya. Garis senyumnya naik, air matanya mengering penuh tergantikan kebahagiaan. Jelas sekali, Thea yakin ia tidak salah lihat.


"Galang."


Tubuh Thea spontan bergerak. Dengan cepat ia ingin meraih pintu mobil agar bisa keluar dan menghampiri suaminya. Namun, usahanya gagal karena Wingky lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.


"Jangan macam-macam, Thea. Atau aku akan menyakitimu."


"Aku nggak takut!" Thea berontak keras, usahanya lebih kuat ingin terbebas. Ia menggigit lengan Wingky sampai lelaki itu meringis kesakitan. Ia bergegas membuka pintu dan keluar. Namun lagi-lagi Wingky menyusulnya dengan cepat.


"Lepasin aku!" Thea berteriak keras. Lengannya dicengkram erat oleh Wingky dan menyisakan sakit. "Sakit, Ky. Lepas!"


"Seharusnya kau simpan tenagamu pada hal berguna, Thea. Untukku misalnya."


"Nggak mau! Lepas!"


Di samping mobil, Thea masih saja berontak. Tenaganya memang tidak seberapa karena ia khawatir pada janin yang ada dalam perutnya. Lelaki itu tak menyerah, ia juga tidak akan kalah begitu saja.


Namun, tiba-tiba cengkraman di lengan Thea terlepas dengan mudah. Tubuh Wingky menjauh ketika seseorang menyeret paksa dan melayangkan bogem mentah tepat di wajahnya.


"Jangan pernah menyentuh istriku!"


Berkali-kali Galang melayangkan pukulan yang tidak bisa dikembalikan oleh Wingky. Lelaki itu susah payah bertahan dari amukan Galang padanya.


"Dan itu untuk semua yang kau lakukan pada rumah tanggaku." Tangan Galang mengepal kuat. Ia tidak berniat mengurangi amarah yang masih ingin terlampiaskan untuk lelaki itu.


Wingky terjatuh di aspal, ia tak berdaya. Thea lantas berlari kecil menghampiri lelaki yang berdiri tegap di dekatnya, ia bersembunyi di punggung kokoh lelaki itu dengan napas yang masih tersengal lelah.


"Galang ... aku takut."


Galang menarik pelan Thea hingga wanita itu tetap berdiri di sampingnya. Tampak tubuhnya masih bergetar, ditambah mata sembapnya setelah lelah menangis membuat tangan Galang bergerak otomatis menyeka sisa tangisan itu.


"Jangan takut lagi. Aku sudah ada di sini, Thea."


Suara berat Galang sedikit membuyarkan ketakutan Thea. Ia melihat raut wajah suaminya yang menguarkan aura gelap, segelap warna malam yang hitam pekat di atas mereka. Tidak ada lagi senyum menghias, sorot mata tajam itu begitu tegas mengarah pada seseorang yang berusaha berdiri dari aspal.


Saat Wingky sudah berdiri tegap. Akhirnya keduanya bertemu secara nyata. Setelah 6 tahun berlalu, Galang bisa melihat jelas lelaki yang membuatnya frustrasi akan ingatan buruk.


"Kurang ajar. Bagaimana bisa kau ada di sini? Seharusnya racun itu sudah bekerja di tubuhmu," kata Wingky heran.


Galang tersenyum miring. "Racun? Bangunlah dari mimpimu agar kau bisa lihat dengan jelas siapa yang berdiri di hadapanmu sekarang."


Wingky bergerak tak nyaman. Ia mengusap kasar wajahnya lalu menatap ke arah Yasa yang bersandar santai di badan mobil milik Galang.

__ADS_1


"Kenapa lo liatin gue kaya gitu?" tanya Yasa.


"Kau tidak memberikan racun itu padanya. Iya, 'kan?"


Yasa memasang ekspresi santai saja. "Males gue. Lupa juga gue taro di mana itu obat ...," jawab Yasa seenaknya.


Galang menyunggingkan senyum kepuasan. Napas Wingky mulai berkeliaran tak terkendali karena emosi. Lelaki itu merasa telah ditipu mentah-mentah oleh Yasa. Galang jelas menguasai keadaan, rencana yang disusun matang olehnya ternyata tidak sia-sia. Termasuk melibatkan Yasa di dalamnya.


Sudah lama Galang menunggu saat ini datang. Itu karena ketika beberapa waktu lalu, Yasa meneleponnya dan membocorkan apa rencana Wingky. Ternyata benar dugaannya, bahwa Wingky adalah dalang di balik pembobolan toko milik Thea. Lelaki itu berupaya mengumpulkan berbagai macam kesempatan untuk menjebak Thea agar jatuh ke pelukannya. Tapi sayang, waktu itu Wingky menunda niatnya karena Galang terus berada di sampingnya. Dengan keberadaan Yasa, Wingky berniat mengajak Yasa menghancurkan hubungan Galang dan Thea. Dan Yasa memang menyetujui itu pada awalnya. Namun niatnya berubah beberapa waktu kemudian. Ia tidak tega menghancurkan kebahagiaan yang telah dinanti Thea selama 6 tahun.


Memang butuh waktu cukup lama untuk melancarkan rencana ini, sebab ternyata Wingky sudah menyadap rumah Galang di Jakarta dengan kamera tersembunyi saat Galang ada di Makassar. Sehingga Galang harus ekstra hati-hati dan bersikap normal untuk meyakinkan lelaki itu kalau ia belum tahu apa yang terjadi.


"Penghianat! Kalian berdua harus kuberi pelajaran agar kalian tahu sedang berhadapan dengan siapa!" bentak Wingky begitu keras.


"Pelajaran apaan? Bahasa Inggris? Gue udah pinter, gak perlu diajarin," celoteh Yasa.


Galang sedikit terkekeh geli. Di situasi tegang begini, bisa-bisanya jin tomang itu berkata nyeleneh. Sedangkan Wingky sudah bersiap dengan dua orang yang tadi mengikuti mobilnya dari belakang. Lelaki itu memberi perintah hanya dengan gerakan tangan.


"Tunggu apa lagi? Cepet habisin mereka!" Perintah tegas Wingky kepada dua orang lelaki berjaket kulit di belakangnya, namun mereka berdua malah mengekang kedua pergelangan tangannya.


"Hih. Horor banget bisa nyuruh-nyuruh polisi ngabisin orang."


Keterkejutan Wingky belum berakhir. Dua lelaki suruhannya tampak berbeda dan ia baru sadar akan hal itu.


"Anda kami tahan atas tuduhan percobaan pembunuhan kepada saudara Juno Aswanda. Ayo ikut kami ke kantor polisi," ujar salah satu lelaki itu yang ternyata seorang polisi.


"Apa? Tidak! Kalian tidak bisa menahanku tanpa bukti."


"Bisa aja! Nih, buktinya ...." Yasa mengangkat sebuah gawai di tangannya. Menunjukkan bahwa ia sudah merekam semua perkataan Wingky dengan segala rencana jahatnya.


Tampak kepuasan di wajah Galang dan Yasa. Membuat emosi Wingky menjadi-jadi karena terjebak keadaan. Ia tidak mengira mereka berdua akan bekerja sama menghancurkannya begini.


"Kurang ajar! Ini tidak bisa diterima! Aku akan membalas perbuatan kalian berdua padaku!" teriak Wingky seraya berontak sekuat tenaga dari dua orang yang mencekal lengannya. Telah ada mobil polisi yang menunggunya di seberang jalan, langkahnya berat terseok menolak diseret paksa oleh polisi.


Galang menghela napas lega melihat lelaki itu menjauh dan hampir masuk mobil. Kekhawatirannya berkurang karena pasti Wingky akan berurusan dengan polisi dengan bukti yang memberatkannya di sana.


"Thea!"


Teriakan keras terdengar, Galang menoleh lagi. Namun, tubuhnya lebih dulu bereaksi ketika melihat Wingky berhasil merebut pistol dari salah satu polisi. Ia menyingkirkan Thea dan Yasa yang berada di dekatnya, khawatir mereka akan jadi sasaran amukan timah panas itu.


Duar!


"Apa kamu baik-baik saja? Ada yang luka?" tanya Galang seraya melihat wajah Thea.


Thea yang terlalu terkejut oleh keadaan masih belum bisa mengatur napas. Hingga ia mencoba menarik napas dalam untuk menenangkan diri.


"A-aku nggak apa-apa, Lang. Cuma kaget," jawab Thea.


Galang tersenyum. "Alhamdulillah." Ia pun kembali memeluk istrinya lebih erat, melepas penat tubuhnya untuk sejenak. Ini benar-benar melelahkan. Tapi setidaknya sekarang Thea bisa terbebas dari Wingky. Itu sudah cukup.


"Kamu sendiri gimana, Lang? Kamu baik-baik aja, 'kan?"


"Aku ...."


Beberapa detik kemudian, Thea baru menyadari sesuatu. "Astagfirullah! Ka-kamu?" Thea kaget setengah mati. Ada aliran darah segar yang mengalir di sela-sela jemarinya saat menempel di bahu suaminya.


"Jangan terlalu khawatir, Thea. Ini tidak mengenai bagian vital tubuhku ...."


"Jangan khawatir gimana, sih, maksud kamu? Apa aku bisa bersikap tenang saat kamu luka kaya gini?" Thea sungguh tidak bisa membayangkan, bagaimana bisa Galang berkata begitu setelah mengorbankan diri demi dirinya.


Yasa menggeram sedikit kesal. "Ck. Gue lagi," ujarnya. Segera ia mengambil sebuah sapu tangan dan membuka jaket yang dikenakan Galang. Dengan sigap, ia menghentikan pendarahan itu.


"Makasih," ucap Galang pelan menahan nyeri.


"Basi!" Yasa bersikap ketus. Sungguh ia peduli pada Galang. Tapi ia tidak suka saat Thea menangis di depan matanya karena lelaki itu. "Makanya. Kalo mau nyelametin orang tuh yang bener. Biar gak nyusahin!"


Thea ingin sekali memarahi sikap Yasa yang seenaknya. Namun lelaki itu keburu diajak bicara oleh polisi yang datang menghampiri mereka untuk memproses kasus ini. Hingga setelah Galang masuk dalam mobil, ia belum bisa berhenti menangis.


"Jangan menangis dan jangan mengeluh saat melihat kelakuan sahabatmu. Kuyakin kau lebih tahu sifatnya. Dan aku bisa menerima itu, Yasa adalah lelaki baik-baik. Walau sifatnya kadang membuatku muak," ujar Galang menenangkan Thea. Terselip pula makian sebenarnya. Jika bahunya tidak terluka, ingin sekali ia menyumpal mulut Yasa dengan kain pel.


"Ya, kurasa begitu." Thea menerima telapak tangan Galang yang ingin menggenggam erat tangannya. "Kamu gimana? Masih bisa tahan, gak? Kayanya sebentar lagi Yasa selesai."


Galang mengangguk. Ia menyandarkan diri di bahu Thea mencari kenyamanan di sana. Memang lukanya sangat menyakitkan, tapi ini semua tidak berarti setelah usahanya berhasil.


"Pengorbanan karena cinta dan kebodohan itu beda tipis, Lang. Kamu termasuk yang mana?"


Galang tersenyum tipis. "Apapun. Karena aku tidak akan pernah menyesali ini."


Thea menyadari. Jika memang manusia tidak akan pernah bisa menyelam pada hati manusia mana pun. Seberapa dalam ia mengenali seseorang. Tetap saja manusia adalah manusia, tempat berbuat salah dan memperbaiki kesalahan. Dan Thea akan mengingat ini selama hidupnya ... bersama Galang tentunya.

__ADS_1


***


Thea dan Yasa kini berada dalam kecanggungan tak berarti. Thea ingin bertanya atau menyapa lebih dulu. Tapi mulutnya terlalu kaku untuk berkata. Ia merasa bersalah saat mengingat telapak tangannya pernah mendarat keras di wajah lelaki keturunan Jerman itu.


Galang tampak sudah tertidur lelap setelah dokter mengeluarkan peluru di bahunya dan menyuntikkan obat dalam botol infusnya. Garis lelah tergambar nyata dan membuat wajah Galang begitu polos saat tertidur, baru kali ini ia bisa tidur nyenyak. Sebab selama 2 bulan terakhir. Waktu istirahatnya tersita oleh pekerjaan dan pengawasan terhadap keselamatan Thea.


Kabarnya, Bu Rini dan Pak Yahya akan tiba sekitar 10 menit lagi. Dan Thea menunggu kedatangan mereka sekarang. Bu Dewi belum Thea kabari tentang masalah ini karena sedang berada di Semarang ikut bersama suaminya selama beberapa hari. Mungkin, Thea akan mengabari mereka besok pagi. Itu Thea lakukan karena khawatir Bu Dewi akan langsung berangkat di malam hari.


"Maafin aku, Yas." Thea memilih memulai pembicaraan mereka. Ujung kukunya saling menekan untuk pengalihan rasa canggung. Yasa tampak berdeham sebentar lalu membalas tatapannya.


"Buat apa? Karena lo berdua udah nyusahin gue? Gak usah. Gue gak perlu kata maaf," jawab Yasa.


"Bukan cuma itu, Yas. Tapi, karena aku udah nampar kamu tadi. Aku beneran gak sengaja. Kukira kamu beneran jadi orang jahat dan bukan seperti Yasa yang kukenal."


"Oh, ya. Lo harusnya gue tuntut karena KDRT tau, nggak. Udah kena tabok, ditambah kena timpuk lampu. Liat, gara-gara lo muka gue jadi lecet," cerca Yasa. Walau berkata demikian, tersirat perih di hatinya. Karena dengan begini, masalah mereka selesai ... ya, selesai dalam artian sebenarnya.


Yasa benar-benar harus merelakan orang yang dicintainya berbahagia.


"Ish. KDRT dari mana? Jangan ngawur, deh kalau ngomong. Lagian, siapa suruh bikin rencana gak bilang-bilang? Coba kalau aku tau. Kejadiannya gak akan kaya gini, Yas."


Yasa mengulum bibir lalu tersenyum nanar setelahnya. "Kayaknya lo bahagia banget sekarang, The." Pekataan Yasa mebuat kernyitan di dahi Thea dalam sesaat. "Gue gak pernah nyangka. Perubahan yang dibawa si makhluk astral bisa begitu kuat buat lo. Karena lo gak pernah ketawa lepas selama lo sama gue."


Thea terdiam. Sebenarnya semua kata yang ingin terucap pada lelaki itu sudah bisa terbaca oleh Yasa. Sesuatu hal yang tidak bisa ia berikan dengan mudah walau sikap Yasa begitu baik dan manis padanya selama enam tahun.


"Yas. Tolong berhenti bilang gitu ke aku. Karena itu bisa ngebuat hubungan persahabatan kita jadi renggang."


"Nggak akan, Thea. Asal lo bisa terus bahagia. Kecuali, si suami astral lo bikin ulah. Jangan salahin gue kalau nanti telinganya ilang satu," celoteh Yasa.


Thea terkekeh kecil. "Ya ya, terserah kamu aja. Biar cepet."


Sesaat kemudian pandangan Thea bertumpu penuh pada tubuh suaminya. Ia sungguh tidak bisa lagi membayangkan seberapa jauh hidupnya tanpa Galang. Waktu berlalu kian pasti, mematri kenangan yang berdiam diri di dasar hati.


Galang adalah alasan kuat untuknya bertahan sampai sejauh ini. Dan akan selalu seperti itu sampai kapanpun.


"Lo mau ke mana?" tanya Yasa ketika Thea beranjak dari duduk.


"Oh. Ini mama ngabarin aku, katanya mereka udah ada di depan. Aku mau jemput."


"Biar gue aja. Lo kan lagi hamil, The. Harus banget gue ingetin soal begituan! Suami istri sama aja, gak peka sama keselamatan sendiri ...," celetuk Yasa. Membuat bibir Thea mengerucut kesal karena ulahnya.


"Itu perkataan kamu sesekali harus diayak, Yas."


Yasa ikut beranjak. Berhubung peraturan di rumah sakit ini hanya memperbolehkan 2 orang untuk menunggu pasien. Maka salah satu dari mereka harus bergantian berjaga.


"Ck. Kalian lagi apa si? Berisik! Aku jadi tidak bisa tidur."


Suara serak kemarahan Galang terdengar dari tempatnya. Tubuh Thea sudah bergerak otomatis menghampiri dan memastikan suaminya baik-baik saja.


"Thea. Aku haus, ambilkan minum. Tapi badanku kalau gerak pada sakit semua," keluh Galang setelah Thea berada di dekatnya. Terasa sekali efek dari lukanya mulai bekerja di tubuhnya. Berakibat linu dan nyeri saat digerakkan.


Tanpa banyak kata lagi, Thea mengambilkan sebotol air mineral dan sebuah sedotan di sana hingga suaminya bisa minum dengan perlahan. Galang tidak peduli ketika matanya melihat Yasa yang memandang mereka begitu sinis dengan bibir gatal ingin membully tingkat dewa.


"The ... lapar," kata Galang lagi. Ia memegang perutnya yang belum diisi sejak kemarin malam.


"Hah? Tapi aku belom beli makanan, gimana dong."


"Yaela lebay banget si cuma laper doang. Enggak bisa tahan sampe besok pagi apa? Kelakuan kaya bocah minta jajan gak tau waktu! Kalau punya mata, liat noh udah jam berapa! Sekarang udah jam 2 pagi, kalau lo gak bisa baca!"


Galang mendengkus. Sudah bisa ditebak omongan lelaki itu pasti membully-nya habis-habisan. "Heh, Jin Tomang. Yang namanya lapar ya lapar. Mana bisa ditahan. Lagian, gue juga punya perasaan. Mana mungkin gue nyuruh Thea pergi."


"Terus?"


"Lo yang beli lah." Galang menyeringai. Kejahilan akutnya mencuat lagi. Membuat Yasa menggerutu hebat tanpa Galang ingin mendengarnya sama sekali.


Thea hanya bisa menggeleng. Ia sudah terlalu pusing kalau mereka bertengkar begini.


"Ck. Ya udah. Gue beliin. Sekalian jemput orang tua lo di luar." Yasa mulai melangkah pergi. "Puas!"


"Puas pake banget! Thanks!"


"Udah basi!"


"Galang. Kamu sama Yasa cocok banget. Kenapa gak nikah sama dia aja," celetuk Thea ketika Yasa sudah menghilang dari sana.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2