Jodohku Dari Bangku SMA

Jodohku Dari Bangku SMA
BAB 11


__ADS_3

Author POV


Prayoga Zidan Syahputra atau Yoga biasa teman-teman memanggilnya. Terlahir dengan wajah tampan dan berkulit bersih keturunan Indonesia dan Thailand. Tetapi sejak kecil, ia menetapkan di Indonesia.


Ketampanan wajahnya membuat ia dikagumi cewek di sekolahnya termasuk Erlin yang tengah menjadi pacarnya saat ini. Di tambah lagi dengan gigi gingsul putih nan bersih yang terlihat ketika dia senyum makin menambah pesonanya. Yoga mempunyai sifat yang keras kepala, cuek, sedikit pendiam dan penuh kejutan.


Keluarga Yoga termasuk keluarga terpandang. Papanya seorang Presdir di perusahaan terbesar no 2 di negara ia tinggal. Mempunyai showroom mobil di berbagai wilayah dan lahan luas dimana mana, membuat Papa Guna(papanya yoga) , Menjadi seorang yang di takuti oleh siapapun.


Sedangkan Mama nya seorang desainer ternama di negara ini, pandai merawat dirinya dengan berbagai perawatan tubuh dan wajahnya. Sehingga dengan usia setengah abad pun, Mama Bee(panggilannya) masih terlihat sangat cantik dan anggun. Tapi sayangnya, Mama Bee jarang berada di rumah, lebih sering diluar kota maupun diluar negeri untuk kepentingan bisnis. Maka dari itu, Mama Bee memberikan tugas kepada bi Sumi untuk merawat Yoga dari bayi sampai sekarang ia tumbuh menjadi pria tampan.


Sopan santun serta ramah tamah terhadap sesama selalu ajarkan bi Sumi dari kecil. Meskipun Yoga anak majikan nya, Bi Sumi tidak segan-segan memarahinya jika Yoga melakukan kesalahan.


Yoga mempunyai seorang Kakak perempuan masih lajang yang bekerja di perusahaan Papa Guna. Lebih tepatnya tangan kanan pak Guna ketika beliau sedang berada diluar negeri untuk urusan bisnisnya yang lain.


Cerdik, pintar, cekatan,cantik serta body perfect bak model ,itulah gambaran seorang Kak Cita. Oleh sebab itu pak Guna mempercayainya memegang sendiri perusahaannya. Dan benar saja, kak Cita mampu mengendalikan perusahaan dengan baik dalam waktu yang cukup singkat.


Di rumah berlantai 4 yang begitu mewah dan megah itu, Yoga tinggal bersama belasan para asisten rumah yang perorangnya mempunyai tugas masing masing, seperti bi Sumi. Bi Sumi mempunyai tugas mengurus semua yang Yoga butuhkan, seperti menyiapkan makan, menyiapkan baju seragam sekolah dll.


Yoga tidak pernah mempunyai waktu berkumpul atau sekedar makan malam bersama keluarganya di meja makan. Waktu mereka digunakan untuk bisnis dan bisnis, semuanya di gelapkan dengan uang. Sampai-sampai rumah utamanya dijadikan tempat persinggahan saja. Kalau pun di rumah, mereka dalam kamar masing-masing. Tidak ada kegiatan diluar rumah seperti, nonton TV atau duduk santai di balkon. Tidak pernah sama sekalii !!!!


Oleh sebab itu Yoga menganggap Bi Sumi sebagai Ibunya. Bi Sumi sangat menyayangi Yoga seperti anak nya sendiri karena, dari dulu hanya Bi Sumi yang selalu ada untuknya. Yoga tumbuh menjadi pribadi yang pendiam dan jarang berada di rumah. Dia sering nongkrong di pos bersama teman-teman satu kompleks. Meskipun begitu Yoga tetap rajin masuk ke sekolah ,tidak pernah bolos karena Papanya mengancam akan mencabut semua fasilitas yang diberikan padanya.


Sore hari pada hari sabtu, Yoga sedang berada di kamar memainkan gitar kesayangannya. Menghisap sebatang rokok dan menyanyikan lagu-lagu group band favoritnya..


*Tik,.,tik,.,.tik


Waktu berdetik


Tak mungkin bisa ku hentikan


Maumu jadi mauku


Pahitpun itu ku tersenyum


Kamu tak tahu rasanya hatiku


Saat berhadapan kamu


Tik,.,tik,.,.tik,.,.


Air mataku


Biar terjatuh dalam hati


Mau ku tak penting lagi


Biar ku buat bahagiamu


Kamu tak tahu rasanya hatiku


Saat berhadapan kamu


Kamu tak bisa bayangkan rasanya

__ADS_1


Jadi diriku, yang masih cinta


Kamu tak tahu hancurnya hatiku


Saat berhadapan kamu


Kamu tak bisa bayangkan rasanya


Jadi diriku, yang masih cinta*...


tiba tiba ponselnya berbunyi tanda telpon masuk. Yoga pun segera mengambil ponsel keluaran terbaru seharga 20 juta itu. Panggilan tidak terjawab dari Erlin, kekasihnya.


Yoga tersenyum simpul membaca pesan Erlin yang marah marah karena dia tidak menghubunginya sejak tadi.


segera dia mengirim pesan Whatsapp untuk kekasihnya itu.


M****aaf ya , dari tadi aku main sama Angga dan jihan di pos. ngga bawa hpšŸ™šŸ™


tak lamapun balasan Erlin masuk


kok kamu tega sih sayang, aku cariin kamu dari tadi..lain kali kasih kabar dulu dong, biar aku ngga bingung****šŸ˜ˆšŸ”„


Yoga pun enggan membalas pesan dari Erlin yang pasti akan berdebat dengannya.. Sebenarnya Yoga tidak begitu menyukai sikap Erlin yang manja dan selalu minta uang padanya.


Ya, Yoga memang mendapat berbagai fasilitas wah dari Papanya. dari mobil sport miliknya, motor sport, hingga kartu debit tanpa batas. Sehingga membuat dia mudah didekati oleh banyak cewek. termasuk Erlin. Cewek mana coba yang tidak tertarik dengan cowok bermobil sport ,hitam manis, dan royal itu. hahaha... sayangnya, Diandra tidak mengetahui akan hal itu. Diandra hanya sekedar mengenal sosok Yoga, tidak dengan latar belakang dan kekayaannya.


Yoga menaruh kembali ponselnya dan melanjutkan bermain gitar. Entah kenapa pikirannya tidak sefokus tadi. Ada sosok Diandra yang berlarian di otaknya.


"Napa jadi mikirin Diandra sih... " gumam Yoga menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran yang tidak biasa itu.


"Kenapa ya gue grogi saat gue liat dia di kantin kemaren..dan kenapa gue bilang kek gitu sama dia..jadi salting gue kalo ketemu lagi sama dia," gumamnya lirih..


"Yogaaaa...... yogaaaaa....... " teriak Kakaknya memanggil di bawah, tampak ia sedang sedang sibuk dengan ponselnya.


Yoga pun merasa terganggu dengan teriakan khas suara kakaknya ,karena membuyarkan lamunannya.


"Paan sih teriak teriak !!!!!! emang dia nggak bisa apa bicara baik-baik kesini!!!" gumamnya pelan.


"Yogaaaaaaaaa.. cepat turun.. antarin gue bertemu client di cafe Purnama dong.. mobil gue di bengkel nih,," teriak Kakaknya lagi di bawah sana.


Mau tak mau Yoga pun turun kebawah sambil menggerutu kesal.


"Elo kan bisa bawa mobil sendiri Kak..mobil ada banyak di garasi!!! tinggal pilih mau pakek yang mana!!" seru Yoga sambil melangkahkan kaki menuruni tangga.


"Capek gue nyetir sendiri,, udah buruan.. lemot banget sih loe.. keburu telat nihh., ntar tender gue gagal sama orang Jerman itu,," jelas Kakaknya dengan nada tinggi.


"Kenapa ngga minta antar supir aja sih,,males banget gue bawa mobil sore sore," tanya Yoga lagii.


"JANGAN BANYAK PROTES," tegas Kak Cita sedikit membentak.


"Lagian ini semua buat siapa? buat loe anak manja.. gue yang capek kerja loe di rumah cuma enak enakkan habisin duit.. " tambah Kak Cita.


"Iya iya bawel..bentar gue ambil jaket dulu," jawab Yoga mengalah.

__ADS_1


Bagi Yoga, Cita adalah Kakak yang super resek, judes, nggak pernah ngobrol sama dia dan bicara cuma butuh aja seperti saat ini. Itulah sebabnya, Cita belum mendapat pendamping hidup di usia yang menginjak 30 thn karena kalau tidak butuh, dia enggan mengeluarkan suaranya sedikit pun dengan siapapun itu. Tidak ada pria yang berani mendekat, mereka hanya mengagumi kecantikannya saja, tidak dengan sifat Kak Cita yang super judess.


Pernah sekali seorang pria datang mengutarakan cinta padanya, tapi entah kenapa tidak ada respon baik dari Kak Cita. Hemm.... entahlah. .mungkin dia trauma dengan masa lalu yang sangat menyakitkan hati..


ilustrasinya guys....... .


CITA WIDYA PERMATA



****


Yoga segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah keluar dari kompleks . Di dalam mobil pun tidak ada perbincangan apapun, Kakaknya sibuk dengan 3 ponsel ditangannya. Entah kenapa wanita muda ini sangat terlihat sok sibuk sekali. Untuk memecahkan keheningan yang membuat kantuk, Yoga memutar musik dengan volume sedikit menganggu pendengaran dan Kakaknya yang tau ulah Yoga hanya melirik sekilas. Perjalan menuju ke cafe Purnama menempuh waktu sekitar 35 menit. Setelah sampai di parkiran, Cita langsung turun dari mobil tanpa bicara apapun dan langsung menelepon seseorang.


"Dasar mak lampir ngga tau terimakasih," gerutu Yoga.


"Gue pulang aja, dia kan nggak nyuruh gue nunggu sampe kelar,, entar kalo dia marah tinggal bilang kenyataannya kalo dia nggak disuruh.. " akal Yoga.


Kemudian, Yoga melajukan mobilnya perlahan dan berhenti di sebuah taman untuk sekedar menghirup udara segar. Bersandar di depan mobil sport miliknya sambil menghisap sebatang rokok. Ia mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling taman.


Tampak disana muda-mudi se umuran dengannya tengah berduaan dengan kekasih di bangku taman. Berjumlah puluhan bangku penuh dengan anak seusianya berduaan.


Tampak di ujung sana, gadis yang tak asing dimatanya sedang duduk dengan temannya. Bercengkerama asyik membicarakan sesuatu yang menarik, terlihat dari mimik wajahnya yang tertawa terbahak-bahak. Yoga pun tersenyum kecil "Syukurlah kalo loe ngga sedih lagi mikirin si Ricky,," gumamnya pelan. Ya.. dia adalah Diandra.


Ia pun berjalan pelan mendekati tempat dimana Diandra duduk. entah dadanya itu kenapa bisa tak karuan saat melangkah mendekat ke arah Diandra.


"Haii.. boleh gabung?," tanya Yoga saat sudah di belakang Diandra.


Diandra yang tengah asyik minum teh p*ci pun kaget dengan suara yang tak asing. dan dengan bersamaan dia dan Nuril menoleh ke arah sumber suara.


"Yoga!! " seru diandra dan Nuril bersamaan.


"kenapa kalian liatnya kek gitu.. emang gue hantu?," tanya Yoga seraya tertawa..


"Ehh... engga.. kok tiba-tiba loe ada di sini.. gu.. guee kaget," kata Diandra.


"Iya.. bikin kaget aja loe.. " tambah Nuril.


Yoga pun gabung bersama mereka, ternyata ngobrol dengan mereka seru juga. Mereka apa adanya. Tidak jaim sama sekali.


"Eh dian itu hape loe?," tanya Yoga pada Diandra.


"Em iya ini hape gue.. kenapa????" kata Diandra bingung.


"Gapapa,," jawabnya ,memang sengaja Yoga iseng tanya tanya ke Diandra biar kelihatan akrab gitu lohh.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2