Jodohku Dari Bangku SMA

Jodohku Dari Bangku SMA
BAB 34


__ADS_3

Di dalam kamar Nuril tampak urung uringan. Pasalnya, baru aja Jihan mengungkapkan perasaannya di parkiran mall tadi tapi sekarang dia berubah dingin padanya.


"Beneran gak sih tuh anak nembak gw,. gw udah baper banget dia nya kek gitu..gak hargain gw banget sih." gumamnya sambil cemberut.


Kemudian Nuril pun memilih untuk berendam di bathtub untuk menyegarkan kembali badan serta pikiran nya. Berendam di air hangat yang di beri beberapa tetes aromatherapy itu membuat Nuril begitu rileks.


Ponselnya berdering panjang. Di lihatnya Jihan sedang melakukan video call. Nuril pun mengangkat nya.


"Apa??" tanya Nuril sambil melotot.


"Hehehe...udah marah marah aja sih, maaf deh kalo aku salah.." ucap Jihan yang nampak tiduran di kamar nya.


"Mau apa loe video call gw??" tanya Nuril dengan nada jutek.


"Mau kasih kabar aja kalo aku udah sampek rumah..itu kamu lagi mandi??" tanya Jihan sambil melotot melihat Nuril di layar ponselnya.


Nuril yang baru sadar kalau saat ini dia berada di dalam bathtub langsung mematikan ponselnya.


"Kenapa gw ceroboh sih...untuk nggak kelihatan dada gw..." gumam Nuril menahan malu.


tiinnnnggggg.....


Pesan masuk dari Jihan.


Lanjutin dulu mandinya, jangan lama lama kalo berendam nanti masuk angin..kalo udah kabarin ya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Nuril membaca pesan singkat dari Jihan dengan senyum senyum sendiri. Dan segera ia membilas badannya di kucuran air shower hangat.


**


Ke esokan harinya di kampus. Nuril berada di dalam kelas sedang mengutak-atik ponselnya.


"Pagi.", sapa Jihan yang baru saja datang. Nuril hanya menoleh sekilas dengan senyuman manis nya.


"Kamu lagi ngapain??" tanya Jihan duduk di samping Nuril.


"Gak ngapa-ngapain kok." ucap Nuril datar.


"Ohh..ya udah.." Jihan pun memilih untuk pergi keluar kelas tanpa pamit. Sebenarnya Jihan merasa jengkel karena sikap Nuril yang berubah dingin padanya.


Kok malah pergi sih? gak pamit lagi. Batin Nuril kesal.


Di kantin kampus Jihan membeli beberapa snack dan juga dua minuman dingin. Kemudian ia kembali ke dalam kelas.


"Nih buat kamu." ucap Jihan seraya menyerahkan cemilan dan minuman dingin.


"Thanks ya," Nuril menerima pemberian dari kekasihnya itu seraya tersenyum manis.


Sesaat kemudian Dosen pembimbing memasuki kelas untuk memulai pembelajaran.


***


2 jam kemudian, Nuril keluar kelas menuju tempat parkir.


"Sayang, kok kamu diem aja sih??aku ada salah?" tanya Jihan berlari kecil mengejar Nuril yang melangkah cepat.


"Kata siapa marah??" tanya Nuril dengan alis berkerut.


"Please jangan kek gitu..gw gak nyaman tau nggak." ucap Jihan memelas.


"Gimana sih? gw gak gimana gimana kok."


"Kalo kek gini ngapain kemarin loe nerima gw..loe nerima gw atas dasar apa? kasian??" tanya Jihan tersulut emosi.


"Eh kok marah sih..gak gitu maksudnya, Sayang..gw seneng banget bisa jadian sama loe, tapi kan gw malu bersikap seperti dulu di depan loe.."


"Kenapa malu??" tany Jihan seraya menatap tajam kearah Nuril.


"Gw malu kalau pecicilan di depan loe, makanya gw bingung mau ngapain." ucap Nuril menunduk. Dan dengan spontan Jihan menarik Nuril ke pelukannya.


"Jangan seperti itu, aku mohon jadi lah Nuril yang gw kenal dulu.."


"Tapi gw malu sama loe..gw mati gaya di depan loe." kata Nuril pelan.


"Udah ..sssttttt...jangan kek gitu..aku nggak suka. aku mohon kamu jadi Nuril yang apa adanya seperti dulu..aku nerima kamu apa adanya kok."


Nuril bahagia mendengar perkataan Jihan. Kata katanya sungguh menembus ke pori pori hatinya sampai ia luluh dan mempererat pelukannya.


"Dan satu lagi, gak ada loe gue lagi di antara kita.. yang ada aku dan kamu" jelas Jihan sambil mencubit pipi mulus Nuril.


"Iya deh.. sorry kalo keceplosan..hihihi.." jawab Nuril cengengesan.


"Gak boleh keceplosan..makanya di biasa'in manggilnya pakek aku kamu..bukan loe gue..ngerti??"


"Iya, Sayang.."


Flashback off


Di parkiran mobil, Nuril sedang memarkir mobilnya di dekat mobil Jihan.


"Halo, kamu dimana?" tanya Nuril ketika panggilan telepon terhubung.


"Di dalem mobil," jawab Jihan.


"Oh..oke deh ..aku keluar ya.."


Nuril pun menutup teleponnya. Ia merapikan penampilan nya sebelum keluar dari mobil.


"Selamat pagi, Cinta.." ucap Nuril dengan mengibaskan rambutnya.


"Pagi, bawelku.." balas Jihan dengan suara lembut.


Merekapun segera masuk ke dalam kelas sebelum dosen pembimbing memasuki kelas. Begitulah aktivitas sehari-hari pasangan kekasih yang sedang kasmaran itu. Seperti dunia milik berdua.


***


Di perusahaan SHOE Group, Diandra sedang berberes berkas berkas yang selesai di buat untuk meeting dengan beberapa client. Hari ini sungguh melelahkan, pasalnya, baru kali ini ia harus mondar-mandir kesana kemari untuk keruangan para karyawan yang ada di masing-masing lantai di perusahaan itu.


"Diandra, saya rasa kamu boleh pulang untuk istirahat." ucap Pak Roni seraya melihat jam tangannya.


"Maaf, Pak..bukankah ini belum jam untuk pulang kantor?" tanya Diandra heran.


"Istirahat lah, karena nanti pukul 6 sore, kamu ikut saya meeting dengan client di restauran." ucap Pak Roni.


"Tapi, saya tidak enak dengan karyawan yang lain." ucap Diandra.


"Sudah, ini adalah perintah dari saya langsung.."


"Baik, Pak."


"Siapkan berkas berkas yang penting dan juga flashdisk saya." perintah Pak Roni sambil memainkan ponselnya.


"Baik, Pak."


"Ya sudah ,kamu boleh pulang."


Diandra pun memilih untuk pulang ke rumah kost nya.


Tak butuh waktu lama, Diandra sudah berada di dalam kamar kost yang di tata sedemikian rupa sehingga nampak begitu rapi dan nyaman.


"Masih 3 jam lagi, gw tidur bentar ah.." gumam Diandra. Diandra memilih untuk mengistirahatkan tubuh nya yang lelah supaya nanti terlihat fres ketika di depan client.


2 jam kemudian.


Diandra terbangun dari tidurnya akibat bunyi alarm ponsel yang di setelnya sebelum tidur. Ia bergegas untuk membersihkan diri. setengah jam kemudian, Diandra sudah berdiri di depan cermin kecil yang ada di samping tempat tidur.


Ia sibuk meluruskan rambut panjang nya menggunakan catokan rambut dan sedikit meng curly ujungnya agar terlihat lebih bervolume. Tak lupa ia memakai make up andalannya yang biasa ia gunakan sehari-hari untuk pergi ke kantor.


drrrrrttttttt.... drrrrrttttttt..


Ponsel berdering panjang tanda telepon masuk.


"Diandra, saya berada di gang depan..cepat kamu kesini" suara Pak Roni di seberang sana.

__ADS_1


"Baik, Pak." jawab Diandra.


Diandra bergegas menuju gang depan untuk menemui Pak Roni. Ia berjalan melewati kamar kamar kost yang ada di sepanjang jalan menuju jalan raya. Tampak segerombolan Ibu-ibu mengerumpi di depan rumahnya melihat Diandra dengan tatapan kebencian.


"Oh..jadi dia simpanan om.." ucap salah satu orang itu.


"Iya seperti nya begitu, tuh lihat mana ada jam segini kantor buka kalo bukan pergi ke hotel untuk begituan." tambah Ibu-ibu lainnya.


Diandra yang merasa terpancing untuk melawan pun akhirnya berhenti untuk melirik ke sebelah kanannya dimana orang-orang itu berada.


"Permisi..maaf sebelumnya.." ucap Diandra tersenyum manis.


"Oh iya ada apa neng?" tanya salah satu Ibu itu dengan gaya yang di buat buat.


"Saya disini kan tidak pernah mengusik kehidupan kalian di lingkungan ini ..terus kenapa kalian selalu membicarakan saya di belakang?? ada yang salah?" tanya Diandra heran.


Karena tidak ada yang menjawab akhirnya Diandra melanjutkan pembicaraan nya.


"Saya rasa saya tidak pernah melakukan kesalahan kepada kalian deh..trus soal saya keluar ini mau meeting ..saya seorang sekretaris pribadi di perusahaan SHOE Group seberang sana..Anda tau kan??" jelas Diandra panjang lebar.


"Lagian saya heran sama kalian semua, gak ada kerjaan banget ya sampai sampai tiap saya lewat sini pada heboh semua? awalnya saya sih biasa saja ya..tapi lama lama mulut kalian ini sangat lah keterlaluan di dengar telinga.. apalagi kalian disini bawa anak kecil, apa pantas kalian bicara seperti itu??" lanjutnya. Diandra langsung pergi dan mempercepat langkahnya menuju mobil Pak Roni karena merasa tersulut emosi.


Di dalam mobil.


"Pak, maaf menunggu lama.." ucap Diandra dengan sopannya.


"Kenapa?? ada apa? seperti nya kamu sedang tak enak hati?" tanya Pak Roni.


"Tidak, Pak!! hanya masalah kecil saja," kilah Diandra.


"Ceritakan lah, Nak..kamu sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri." ucap Pak Roni sembari melajukan mobilnya.


"Huuufffffttttttt...tetangga kost saya sangatlah keterlaluan, Pak."


"Kenapa??ada apa dengan mereka?" tanya Pak Roni dengan heran.


"Mereka bilang saya ini simpanan om-om ..kerjanya keluar masuk hotel..padahal saya tidak pernah mengusik mereka tapi kenapa mereka tiap saya lewat depan rumahnya selalu di buat bahan pembicaraan." jelas Diandra panjang lebar.


"Hahahaha.....sudah lah tidak perlu di ambil hati..kan omongan mereka jelas salah besar, lebih baik kamu perbaiki suasana hatimu sebelum bertemu client..jangan sampai nanti suasana hatimu ini berpengaruh pada pertemuan dengan nya." ucap Pak Roni memberitahu.


"Baik, Pak."


20 menit kemudian, sampailah mereka di sebuah restoran dimana restauran yang sangat tidak asing lagi bagi Diandra.


Para karyawan yang melihat kedatangan Diandra merasa heran. Pasalnya, pemilik restauran itu kini duduk di ruangan yang biasa di gunakan untuk pertemuan orang orang penting.


"Itu mbak Diandra kan?? kok penampilan nya begitu ya?? seperti seorang sekretaris?" gumam salah satu karyawan dengan karyawan lainnya.


"Iya ya..apa kita kesana saja untuk mempertanyakan hal itu?"


"Sebaiknya tidak perlu," suara manager Susan tiba tiba.


"Kenapa, Bu??"


"Karena sekarang mbak Diandra sedang melaksanakan tugas dan layanin dia seperti pengunjung yang lainnya." perintah manager Susan.


"Baik."


Mbak Diandra ternyata seorang yang sangat gigih..dia sudah mempunyai banyak usaha tapi dia juga bekerja dari nol menjadi seorang sekretaris.. Ia juga juga tidak ingin orang melihat siapa dia, benar benar atasan yang patut di contoh. Batin manager Susan.


Sementara di ruangan yang di khususkan untuk pertemuan orang penting Diandra dan Pak Roni menunggu kedatangan client asal kota Jakarta yang sudah membuat janji beberapa hari yang lalu. Perusahaan yang nantinya akan bergabung dengan perusahaan properti milik Roni Dermawan.


Sebuah mobil sedan Corolla terparkir di halaman Restauran yang luas. Seorang wanita yang cantik keluar dari dalam mobil yang disusul dengan para bodyguard yang menjaganya.


Ia masuk kedalam ruangan yang dimana Pak Roni dan Diandra menunggu.


"Selamat malam, Pak Roni." sapanya dengan sopan.


"Selamat malam, Nona." ucapnya


"Mohon maaf atas keterlambatan saya..dan mohon maaf untuk meeting kali ini Papa saya tidak bisa hadir karena ada sesuatu yang tidak bisa di tinggalkan di sana.." ucap wanita itu memulai pembicaraan.


"Baiklah..tidak apa apa, Nona."


"Baiklah, perkenalan ini adalah Assisten pribadi saya yang nanti akan membantu saya dalam beberapa hal."


"Saya Cita.." ucapnya sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum kecil.


"Salam kenal, Bu Cita saya Diandra."


"Baiklah, sembari kita menunggu kedatangan adik saya, bolehkah saya memesan minuman terlebih dahulu?" tanya Cita yang di sambut gelak tawa dari Pak Roni.


"Astaga saya sampai lupa untuk memesan makanan..baik silahkan.." ucap Pak Roni dengan tertawa kecil.


Cita membolak-balik menu yang ada di depannya.


"Oh..ini Restauran favorit saya di Jakarta, ternyata buka cabang juga di kota Surabaya.." ucap Cita dengan mata berbinar.


"Betul sekali, Bu.. restauran ini buka cabang di berbagai kota besar di Indonesia." ucap Diandra tersenyum manis.


"Tau darimana kamu, Dian??" bisik Pak Roni dengan heran.


"Kebetulan ini adalah restauran favorit saya dan keluarga, Pak."


"Ini juga restauran favorit saya dan adik saya loh, Diandra..saya suka sama menu kopinya." ucap Cita.


"Wah ..sama dengan saya, Bu Cita.."


"Hahaha...saya suka karena adik saya dulu mengajak untuk makan di restoran itu dan makanannya juga cocok di lidah saya.."


"Saya sering banget pesan online menu kopinya untuk di bawa di kantor." tambah Cita lagi.


Pak Roni hanya manggut-manggut sambil memainkan ponselnya. Pak Roni sama sekali tidak mengetahui jika restauran ini adalah Restauran keluarga Diandra. Yang ia ketahui hanya restauran yang ada di kota Jakarta dengan nama S&R yang singkatan dari nama Sugeng dan Rahayu yang adalah orang tua Diandra.


Semenjak Pak Sugeng menyerahkan usahanya ini kepada anaknya, Diandra mengubah nama menjadi inisial namanya. Meskipun telah berganti nama, Restauran itu tetap ramai akan pengunjung setiap harinya, bahkan di jam jam makan siang, restoran itu sangat padat akan pengunjung yang ingin mengisi perut atau melepas dahaganya.


15 menit kemudian. Seorang pria berjalan memasuki Restauran dengan membawa Ipad-nya.


"Sorry menunggu lama." ucapnya dengan nada jutek.


Cita pun mendongakkan kepalanya.


"Oh..Pak Roni, perkenalan ini adik saya yang memegang perusahaan properti itu." ucap Cita dengan bangganya.


"Oh...hehehe...dengan Pak?????"


"Panggil saya Prayoga saja, Pak..saya masih sangat muda." ucapnya seraya tersenyum simpul.


Sementara Diandra hanya menatap lekat ke arah laki laki itu. Laki laki yang tak asing di matanya. Tetapi Yoga tidak menyadari bahwa yang di samping pak Roni adalah Diandra nya yang hilang beberapa tahun terakhir.


Yoga menganggap kalau dia hanya sekretaris pribadi biasa. Makanya ia enggan untuk menoleh ke arah Diandra.


"Baiklah, bisakah kita mulai sekarang?" tanya Pak Roni.


"Baiklah.." ucap Cita dan Yoga secara bersamaan.


"Diandra tolong kamu siapkan semuanya." perintah Pak Roni sedikit berbisik.


Yoga yang pendengaran nya masih berfungsi dengan baik langsung mendongakkan kepalanya mendengar nama yang di sebut oleh pak Roni.


Ia melihat sekretaris itu dengan tatapan tajam nan penuh arti.


"Mohon maaf sebelumnya, sekretaris anda namanya siapa?" tanya Yoga tiba tiba yang membuat jantung Diandra serasa berhenti berdetak.


"Oh..ini namanya Diandra, Mas Prayoga." jawab Pak Roni.


Cita yang melihat adiknya tiba tiba berubah aneh merasa tak enak hati.


"Sudah nanti saja di bahas, sekarang meeting dulu." bisik Cita kepada adiknya. Ia mengerti jika adiknya tertarik dengan sosok Diandra.


Meeting pun di mulai dengan lancar. Dua sejoli yang bertemu setelah terpisah beberapa tahun itu sesekali mencuri pandang satu sama lain.


2 jam kemudian meeting telah usai. Kini Yoga memberanikan diri untuk mengajak Diandra berbicara empat mata.

__ADS_1


"Kak, gw ijin bentar deh ..gw pengen ngobrol sama Diandra." ucap Yoga.


"Baiklah..jangan lama lama."


"Pak Roni, bolehkan saya berbicara dengan Diandra sebentar?? dia adalah teman saya waktu SMA dulu." kata Yoga.


"Boleh silahkan, Mas."


Diandra dan Yoga berjalan ke luar restauran mencari tempat untuk berbicara empat mata.


"Diandra?" panggil Yoga dengan pelan. Diandra hanya menoleh sekilas tanpa menjawab.


"Diandra, kamu gak budeg kan??" tanya Yoga memancing.


"Ya gak lah.." jawab Diandra sedikit tertawa kecil.


"Kirain..emm..gimana kabar kamu?" tanya Yoga dengan menatap lekat ke arah Diandra.


"Baik, kamu sendiri?" tanya Diandra.


"Sangat baik dan bertambah baik saat ketemu sama kamu." ucap Yoga sedikit menggombal.


"Apaan sih, goda goda cewek nanti istri kamu marah lagi.. Oh ya, udah punya anak berapa nih?" ucap Diandra mengalihkan pembicaraan. Ia nampak begitu salah tingkah.


"Itu lagi yang di bahas.." gerutu Yoga.


"Haha..udah buruan mau bicara apa..ngantuk banget nih gw mau pulang."


"Ck..buru buru amat..ya udah gw minta nomor WhatsApp kamu."


"Buat apaan?? nanti istri mu marah sama gw."


"Udah Jan bawel..mana nomor kamu"


Mau tak mau Diandra pun memberikan nomor WhatsApp nya kepada Yoga untuk mempersingkat waktu.


"Oke thanks ya ,"


"Iya sama sama.."


"I miss you so much." bisik Yoga tiba tiba yang membuat Diandra terkejut.


"Ck..apaan sih loe.."


"Ye...mukanya kayak udang goreng tepung..wahahahhh..."


"Apaaan sih..loe tuh ya tetep aja resek kek dulu." kilah Diandra menutupi wajahnya.


"Ya itulah gw..gw yang dulu..yang tetap cinta sama Diandra Putri." ucapnya seraya tersenyum manis.


"Gak boleh bicara kek gitu .loe kan udah punya keluarga sendiri jadi gw harap, loe hargain istri loe." ucap Diandra sok tegar.


"Itu mulu ih yang di bahas, bikin bad mood aja" ucap Yoga tanpa melihat ke arah Diandra.


"Ya kan emang loe udah punya keluarga kan?"


"Punya, gw punya keluarga." ucap Yoga sedikit menahan tawanya.


"Nah gitu masih aja godain gw" celoteh Diandra.


"Gak ada salahnya kok, lagian juga gak ada yang ngelarang kan?"


"Istri loe ???"


"Diandra Putri,, gw udah gak punya istri. bukankah dulu gw udah jelasin panjang lebar.."


"Tapi postingan Erlin di Instagram itu???"


"Hoax..you know hoax??"


"Masa??? tapi kok dia...


"Sssttttt...udah ..gw gak mau bahas Erlin lagi..gw udah pisah sejak kelas 2 SMA dan gw nunggu Diandra sampai sekarang.."


"Hah???"


"Kok hah?? gw bicara jujur ini..gw percaya jika memang kita jodoh pasti akan bertemu lagi di suatu tempat meskipun kita tidak pernah berkomunikasi."


"Bicara apa sih loe? gak jelas!!"


"Ya udah yuk pulang..gw harus segera balik ke Jakarta.."


"Ya udah.."


Merekapun segera meninggalkan tempat itu dan masuk kedalam dimana Pak Roni dan Cita menunggu.


Kesedihan sangat terlihat di wajah Diandra. pasalnya, ia harus berpisah dengan Yoga padahal baru saja bertemu. Berbeda dengan Yoga, ia nampak begitu bahagia karena telah menemukan kembali cintanya yang hilang.


"Baiklah, saya pamit dulu pak Roni.." ucap Cita seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Baik, terimakasih atas waktu nya."


"Diandra, saya permisi dulu ya."


"Iya, Bu Cita.."


"Pak Roni saya permisi." ucap Yoga seraya menyalaminya.


"Terimakasih atas waktu nya, Mas Yoga."


"Diandra, I love you." ucap Yoga sambil tersenyum simpul. Pak Roni yang mendengar perkataan Yoga hanya diam dan timbul beberapa tanda tanya di pikirannya.


"Ayo pulang, Diandra." ajak Pak Roni kemudian.


*


Di dalam mobil Pak Roni.


"Diandra, tadi mas Yoga itu pacar kamu?" tanya Pak Roni penasaran.


"Bukan kok, Pak."


"Kok bilang seperti itu?" tanya Pak Roni dengan sendikit tertawa.


"Tau tuh, Pak..gak jelas."


"Hahaha...dasar anak muda jaman sekarang.."


Diandra yang mendengar perkataan itu hanya tersipu malu.


Sesampainya di rumah kost, Diandra segera membersihkan diri nya sebelum memilih untuk tidur. Ritual yang biasa ia lakukan sebelum tidur selalu ia lakukan. Seperti, memakai skincare dan body lotion di seluruh tubuhnya setelah mandi.


20 menit kemudian.


Diandra sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur mungilnya sambil memainkan ponselnya.


Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal masuk dan berisikan pesan "you are very beautiful .. I love you Diandra .. I miss you"


Diandra membaca pesan itu berulang ulang dengan perasaan tak karuan. Ia sangat bahagia membaca pesan singkat dari Yoga itu.


"Gw juga kangen banget sama kamu, Yoga.!!" gumam Diandra seraya tersenyum manis.


Diandra enggan membalas pesan itu karena matanya terasa sangat berat dan akhirnya ia memilih untuk tidur.


***


Keesokan harinya, seperti biasa Diandra sedang berdandan di depan cermin sebelum pergi ke kantor. Entah mengapa hari ini ia begitu bersemangat untuk menuju tempat kerja. Aura positif nya terpancar di wajah cantiknya itu sehingga menimbulkan keceriaan di diri seorang Diandra Putri.


Pesan singkat dari Yoga telah mendarat di ponsel Diandra.


*Morning cantikku๐Ÿ˜˜ semangat kerjanya.


Diandra senyum senyum sendiri membaca pesan singkat dari Yoga pagi ini. Bak orang yang sedang kasmaran, Diandra berjalan ke kantor dengan senyum senyum sendiri. Sepertinya sekarang ia mempunyai semangat baru untuk menjalani hari-hari nya di kota Surabaya. Meskipun Yoga berada di kota yang berbeda dengan nya, bagi Diandra kini terasa begitu dekat dengan Yoga.

__ADS_1


__ADS_2