
Hari ini adalah hari ke 90 Diandra dan Nuril berada di kelas 11 SMA, lebih tepatnya waktu sudah berlalu 3 bulan lamanya semenjak Diandra tahu tentang kabar Yoga dan Erlin menikah. Tidak terlalu di ambil pusing olehnya. Karena bagi Diandra bila memang Yoga jodohnya, suatu saat pasti di pertemuan di waktu dan saat yang tepat.
Di sekolah, Yoga dan Diandra tidak saling bertegur sapa. Alasannya sudah jelas, Yoga takut Diandra semakin membencinya. Sementara Diandra takut perasaannya semakin bertambah, jika tidak menjaga jarak dengan nya.
Kali ini waktu senggang nya ia gunakan untuk sesekali melihat perkembangan bisnis kecilnya itu. Bisnis yang baru saja di buka itu sekarang sudah mempunyai peminat dari berbagai kota, yang datang berkunjung ke kota Malang. Tak hanya itu, Kini Diandra dan Ibu Ayu sedang memikirkan persiapan membuka cabang di kota lainnya, karena permintaan pembeli.
"Kenaikan bisnis kopi kamu cukup signifikan dalam 1 bulan ini, Dian" ucap Ibu memberitahu Diandra.
"Iya, Bu .. Diandra seneng liatnya..nggak nyangka kalau kedai kopi kita di buru banyak orang." ucap Diandra tersenyum lebar.
"Kamu memang berbakat jadi pembisnis muda, Nak"
Diandra hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Ibunya. Memang, Semenjak Ibu Ayu memberikan tanggung jawab sepenuhnya untuk memegang kendali kedai kopi, Diandra berusah keras seorang diri di bantu manager Aldi yang ada di kota Malang.
"Tapi tetap kamu ingat..kamu masih sekolah ,jangan sampai usahamu ini menggangu kegiatan belajar kamu di sekolah." ucap Ibu Ayu.
"Ibu tenang aja, Diandra bisa mengatur waktu kok" jawabnya.
"Ya sudah kalau begitu, Ibu percaya sama kamu, Nak" ucap Ibu tersenyum simpul.
"Hehehe... Terimakasih banyak Ibu, Ibu sudah banyak membantu Diandra.. sampai sampai sekarang Diandra mempunyai penghasilan sendiri"
"Iya, Nak ..Ibu ke kamar dulu ya..ngantuk banget soalnya" ucap Ibu sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
Diandra memilih untuk masuk ke dalam kamarnya . Ia memilih untuk memejamkan matanya yang terasa berat.
Di tempat lain.
Di kediaman keluarga Guna Herlambang. Aktivitas tetap seperti biasanya. Cita sibuk dengan pekerjaan nya sedangkan, Yoga sibuk dengan sekolah dan kadang kala membantu Papanya di kantor.
Di kamar Erlin. Ia tengah tergeletak lemas tak berdaya di tempat tidur. Pasalnya, beberapa hari terakhir ini, kondisinya begitu lemah sampai sampai ia harus izin tidak masuk sekolah beberap kali.
Tidak ada yang curiga sedikitpun karena mereka pikir Erlin sakit biasa.
Yoga yang baru sampai rumah memasuki kamar Erlin dimana baju bajunya berada.
Ceklek..
Erlin menoleh.
"Hay, Sayang." sapa Erlin.
"Sayang, tolong bantu aku berdiri dong, aku kebelet pipis dari tadi tapi ngga bisa bangun" pinta Erlin lirih.
"Ck..manja banget loe lama lama" gerutu Yoga.
Yoga pun membantu Erlin untuk bangun dari tidurnya, karena rasa kasihan melihat Erlin bermuka pucat. Baru saja berjalan beberapa langkah tiba-tiba...
Brruuukkkkkkkkk...
Erlin terjatuh dan pingsan.
"Eh kalo jalan itu lihat lihat dong, bisa bisa nya jatoh kek anak kecil aja" ucap Yoga berkacak pinggang.
"Kok diem aja??" gumam Yoga. Yoga pun mendekati Erlin.
"Eh, pingsan loe?" Yoga mengguncang pelan bahu Erlin.
Karena memang dasarnya penakut, Yoga berlari ke luar kamar memanggil Bi Sumi.
"Biiii.. .Bibi..Bii !!" teriak Yoga.
"Kenapa kamu teriak teriak?" tanya Cita yang kebetulan berada di rumah.
"Si Erlin , pingsan!" ucap Yoga.
"Kok bisa gadis seperti itu pingsan?" tanya Cita dengan sinisnya.
"Mana gue tau, muka pucet banget."
"Ya sudah panggil Bi Sumi!" ucap Cita.
Karena rasa penasaran yang tinggi, akhirnya Cita memutuskan untuk melihat Erlin di kamarnya.
"Eh kok bisa sih, pucet banget mukanya." ucap Cita sedikit panik.
Lalu kemudian Cita menelepon Dokter pribadi keluarga Guna Herlambang.
"Mbak Cita, kenapa dengan Erlin?" tanya Bi Sumi tiba tiba.
"Mana saya tau, Bi.. tuh liat pucet banget" ucap Cita.
"Mas Yoga, tolong itu di angkat ke tempat tidur, kasihan kalo di bawah," ucap Bibi khawatir.
Yoga pun mengangkat tubuh Erlin ke atas tempat tidurnya.
"Memang belakangan ini dia begitu lemah" kata Bibi pelan sambil mengoleskan minyak angin di pelipis Erlin.
"Kok bisa?" tanya Cita mengerutkan keningnya.
"Saya juga ndak tahu, Mbak Cita, dia sering muntah muntah dan nggak mau makan sama sekali." ucap Bibi.
"Bibi buatkan teh hangat dulu, biar dia saya yang tungguin di sini, Dokter Sisi sudah on the way kesini kok." ucap Cita.
"Oh iya iya sebentar"
Bibi pun bergegas menuju dapur untuk membuat segelas teh hangat untuk Erlin. Tak lama kemudian, Dokter Sisi datang.
Ting tong....Ting tong....
Bibi berlari kecil untuk membuka pintu.
"Eh, Dokter..silahkan masuk, Dok.. anaknya di lantai 3" ucap Bibi.
"Siapa yang sakit, Bi??" tanya Dokter Sisi.
"Eehh ..anu...Istrinya mas Yoga." jawab Bi Sumi.
"Loh.. dia sudah menikah??" ucap Dokter Sisi terkejut.
"Sudah, Dok.. karena suatu insiden"
"Hmmmm....anak sekarang bisa bisanya." ucap Dokter Sisi sambil menggelengkan kepalanya.
"Ehh...tapi jangan bilang bilang kalau saya yang kasih tau ya, Dok,. Dokter pura pura ndak tahu aja" kata Bibi.
"Hehehe... tenang aja, Bi ..ini kamar yang mana?" tanya Dokter Sisi.
"Ya ujung sana, Dok."
Dokter Sisi pun masuk ke dalam kamar Erlin. Memeriksa kondisi Erlin yang begitu lemah.
"Apa sudah lama dia seperti ini?" tanya Dokter Sisi.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut mereka.
"Mbak Cita?" panggil Dokter Sisi.
"Mana saya tau, Dok.. saya sibuk di kantor," ucap Cita sambil tersenyum kecil.
"Mas Yoga? Apa sudah lama dia seperti ini?" tanya Dokter Sisi menatap ke arah Yoga.
Yoga hanya menjawab dengan mengangkat bahunya saja.
Dokter Sisi menggela nafasnya.
"Kenapa dengan gadis itu?" tanya Cita ingin tahu.
"Dari pemeriksaan saya, gadis ini tengah berbadan dua, saat ini kondisinya sangat lemah, karena tidak mendapatkan asupan makanan untuk dirinya." ucap Dokter Sisi.
"What??? hamil? Sama siapa?" tanya Yoga terkejut.
"Kenapa Dokter bisa bicara seperti itu?" tanya Cita.
"Saya dapat mengetahui dari denyut nadi. Untuk wanita normal denyut nadinya sekitar 70-85 kali per menit. Sedangkan dia, denyut nadinya melebihi denyut nadi wanita normal." jelas Dokter Sisi.
"Berapa bulan kandungan nya?" tanya Cita.
"Untuk lebih jelasnya, bawalah gadis ini ke spesialis kandungan." ucap Dokter Sisi.
Kok bisa sih gue hamil ?? Batin Erlin.
__ADS_1
"Loe denger tuh, Loe sekarang hamil" bentak Cita.
"Memangnya salah kalo aku hamil? Aku kan mengandung anak dari Yoga." ucap Erlin lemah.
"Eh ..jangan asal ngomong loe" ucap Yoga tak terima.
"Nyentuh loe aja nggak pernah ,apalagi bikin anak.. Bisa bisanya loe fitnah gue." tambahnya.
"Apa kamu lupa, Sayang? Kejadian malam itu?"
"Hah?? Apa an sih?" tanya Yoga tak mengerti.
"Malam itu kamu sama aku melakukan hubungan suami-isteri, Masa kamu nggak inget?"
"Eh ..jangan ngaco loe kalo ngomong.. nyentuh loe aja nggak pernah!!"
"Ini lihat, Sayang..aku punya foto kita saat berada di atas tempat tidur." ucap Erlin sambil menunjuk kan foto di galeri ponselnya.
"Apa apa an ini??? kalo gue ngelakuin itu sama loe, mestinya gue inget !!" ucap Yoga tak terima di tuduhan Erlin.
"Meskipun kamu nolak dan nggak percaya, aku punya bukti yang kuat!" kata Erlin sembari tersenyum licik.
"Dok, bukan saya, Dok yang hamilin dia!!" ucap Yoga menatap ke arah Dokter Sisi.
"Sebaiknya, besok pagi gadis ini di bawa ke spesialis kandungan untuk membuktikan kebenaran nya" usul Dokter Sisi.
"Baiklah terimakasih, Dokter" ucap Cita.
"Secepatnya ya, Mbak Cita!"
"Iya, Dok"
"Kalau begitu, saya permisi." ucap Dokter Cita melangkahkan kaki keluar kamar.
"Besok akan tahu semua kebenaran nya!!" ucap Cita menunjuk ke arah Erlin.
"Bisa bisanya loe nuduh gue," seru Yoga masih tak terima dengan perkataan Erlin.
"Kok nuduh?? Kenyataan nya memang seperti itu, Sayang!" ucap Erlin menyakinkan.
Karena merasa kesal, Yoga dan Cita meninggalkan tempat itu.
Ke esokan paginya.
Pukul 07.00 WIB, Erlin sudah bersiap untuk pergi ke Dokter kandungan.
"Yoga,, mana si Erlin?" tanya Cita di ruang tamu.
"Mana gue tau," jawab Yoga masih sedikit mengantuk.
"Capet sedikit, gue setelah ini ada meeting penting." teriak Cita.
5 menit kemudian, Erlin sudah turun ke bawah.
"Udah siap kok, Kak" ucap Erlin.
"Lama banget, dandan dandanan segala." gerutu Cita.
Mereka pun menuju Rumah sakit. Setengah jam kemudian, sampailah di halaman rumah sakit ternama di kota itu.
Mereka semua masuk ke dalam ruangan yang berplakat nama dr. Fahri Gunawan Sp.OG
"Mohon maaf, untuk yang masuk ke dalam ruang USG maksimal hanya 2 orang saja." kata suster memberi tahu.
"Tidak ada yang berani melarang saya. Mau jabatan kamu yang sekarang tinggal kenangan?" gertak Pak Guna.
Baik Dokter maupun Suster, hanya diam menunduk tidak yang berani menentang orang paling berpengaruh di Negara ini.
"Baik silahkan duduk, Pak Guna." ucap Dokter Fahri.
"Siapa yang akan di periksa?" tanya Dokter Fahri seraya menatap satu persatu orang di dalam ruangan itu.
"Gadis itu," ucap Pak Guna.
"Apa yang Nona rasakan selama ini?" tanya Dr.Fahri
"Saya merasa gampang lelah, Dok" ucap Erlin pelan.
"Baik, mari saya periksa."
"Hmmm...sudah cukup besar janinnya." ucap Dokter Fahri.
"APA?????" teriak Yoga dan Cita secara bersamaan.
"Jadi benar gadis ini hamil?" tanya Cita yang masih belum percaya.
"Bisa di lihat di monitor ini dan di layar itu, sangat jelas bukan janinnya bergerak?" ucap Dokter.
"Disini janinnya sudah ada detak jantungnya. Emm.. beratnya sekitar 300 gram lebih, Apakah Nona sering buang air kecil?" tanya Dokter Fahri kepada Erlin.
"Iya, Dok..saya sering terbangun di malam hari untuk buang air." ucap Erlin pelan.
"Ya itu salah satunya, janin sudah berkembang cukup besar, sehingga mendesak organ tubuh Nona seperti kandung kemih, uluh hati." ucap Dokter Fahri menjelaskan
"Ada yang di tanyakan lagi?" tanya Dokter Fahri kemudian.
"Berapa usia kandungan gadis itu?" tanya Pak Guna lantang.
"Hmmm....kalau saya lihat, kandungannya sudah memasuki usia 5 bulan atau sekitar
20 Minggu lebih..detak jantung janin biasanya di deteksi pada saat memasuki usia 4 bulan." ucap Dokter Fahri.
"Ini lihat janinnya gerak gerak, Pak" tambahnya.
Pak Guna hanya manggut-manggut sambil tersenyum licik. Sementara Erlin hanya bisa terkejut mendengar perkataan Dokter Fahri.
Berarti gue hamil anak Erdward dong, aduh gimana ini. Batin Erlin.
"Baik, untuk mengetahui perkembangan janin ini, periksa kan setiap bulannya" ucap Dokter Fahri mengakhiri pemeriksaan nya.
Cita dan Yoga tidak bisa berkata apa apa di dalam ruangan itu. Mereka hanya bisa syok mendengar perkataan Dokter Fahri.
Sesampainya di kediaman Guna Herlambang, Erlin di terpa beberapa pertanyaan oleh Cita dan Pak Guna.
"Cepat kau katakan, berhubungan dengan siapa sampai kau hamil?" tanya Pak Guna dingin.
"Tentu saja dengan Yoga, suamiku" jawab Erlin gugup.
"Apa benar kalian sudah berhubungan intim?" tanya Pak Guna menatap tajam kearah Yoga.
"Tidak pernah," jawab Yoga dengan cepat.
"Bohong!!" teriak Erlin kemudian.
"Berarti benar kalian sudah berhubungan??" ucap Pak Guna menahan amarahnya.
"Tidak, Pa.. Yoga berani sumpah."
"Hey, jangan sumpah sumpah ..kalian pernah berhubungan badan dan Bi Sumi lah yang melihat langsung adegan kalian di dalam kamar," ucap Cita lantang.
"What? Bi Sumi??" Yoga tak percaya dengan perkataan Kakaknya.
"Bii .. Bibi, Sini cepat"
"Iya, Mas Yoga ada apa?"
"Apa benar Bibi melihat saya dan dia berhubungan badan?" tanya Yoga.
"Bee..bee..benar, Mas Yoga ! Bibi..bibi..pernah melihatnya langsung." ucap Bibi terbata bata.
"Kapan itu, Bi?? Jangan Ngada ngada deh."
"Apa apa an ini? jawab yang jujur, Yoga!!" ucap Pak Guna lantang.
"Maaf sebelumnya, Mas Yoga waktu itu dalam pengaruh obat ********** yang di berikan Erlin." ucap Bibi menjelaskan.
"Apa??? di mana saya melakukan nya?" tanya Yoga lagi.
"Di kamar tamu," jawab Bibi.
"Oke, untuk lebih jelasnya, Kita cek CCTV yang ada di kamar itu," ucap Cita kemudian.
__ADS_1
Aduh...****** gue. .******. Batin Erlin.
Di ruang monitor CCTV, mereka semua melihat ke kamar tamu dimana Yoga dan Erlin berhubungan.
"Oke, disini sudah jelas, bahwa Yoga dan Erlin berhubungan intim sekitar 2 bulan yang lalu."
Pak Guna menatap tajam kearah Erlin.
"Dengan siapa kau berhubungan." ucap Pak Guna dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Ayo, jawab." ucap Cita
"Dengan Yoga, Pak." jawab Erlin lirih.
"Jelas jelas di situ loe ngracunin gue 2 bulan yang lalu, kalau pun loe hamil anak gue, seharusnya usia kandungan loe itu baru menginjak 1 bulan, bukannya 5 bulan" jelas Yoga panjang lebar.
"Nah, betul apa kata Yoga." ucap Cita menyetujui perkataan Adiknya.
"Sekarang jawab kamu hamil anak siapa!!" kata Pak Guna dengan nada tinggi.
Erlin yang sudah tidak bisa beralasan lagi akhirnya berkata jujur.
"Saya...saya... berhubungan dengan pacar saya, Pak." jawab Erlin lirih.
"Siapa pacar kamu?" tanya Cita.
"Seorang pria luar Negeri."
"Namanya siapaa..saya tau kamu keluar masuk hotel bersamanya." ucap Pak Guna sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Edward." ucapnya lirih.
Plaakkkkkkk......
Tamparan keras dari Cita mendarat di pipi Erlin.
"Edward Wilson maksud loe? Iya?"
"Iya, Kak.. Erlin minta maaf." ucap Erlin lirih sambil menundukkan kepalanya.
"Loe tahu, Edward Wilson itu kekasih gue beberapa bulan belakangan ini, ternyata kalian benar benar brengsek!" ucap Cita penuh amarah.
"Apa, Kak??" Erlin membelalakkan matanya tak percaya.
"Dan yang harus kamu ketahui, ternyata Edward itu adalah saudara tirimu sendiri." ucap Pak Guna menambahi.
"Ma...maksudnya apa ini??" Erlin bingung dengan perkataan Pak Guna.
"Kau ini bodoh apa pura pura bodoh, Hah?" cercaan pak Guna penuh emosi.
"Saya tidak mengerti, Pak."
"Baiklah, saya jelaskan... kamu selama ini berhubungan dengan saudara tirimu sendiri. Edward adalah anak dari William, suami baru Mama kamu yang ada di Jerman" ucap Pak Guna menjelaskan.
"Dari mana Pak Guna bisa tau semua ini?" tanya Cita tak percaya.
"Kau lupa bahwa saya mempunyai banyak sekali orang suruhan yang bekerja mencari informasi tentang semuanya."
Erlin begitu lemas mendengar perkataan pak Guna.
Rencana nya untuk menjadikan Yoga kambing hitam gagal begitu saja karena sudah ada bukti kuat dari tangan Pak Guna dan cepat atau lambat, Erlin akan di usir dari kediaman keluarga Guna Herlambang.
Yang begitu terpukul dengan kejadian ini adalah Cita. Pasalnya, laki laki yang begitu ia cintai sudah menghianatinya sejak dahulu. Cita sudah sangat mempercayainya. Tidak terbesit di pikiran nya bahwa Edward, akan melakukan hal gila seperti ini.
"Bi...kemasi barang barangnya, hari ini kita akan pulangkan gadis ini ke rumah Teguh." ucap Pak Guna kemudian.
"Baik, Tuan."
15 menit Bibi gunakan untuk mengemasi barang-barang Erlin. Ia menuju ruang tengah dimana Pak Guna dan yang lainnya menunggu.
"Sudah, Tuan" ucap Bibi memberitahu.
"Ayo antaran ke rumah Teguh." ucap Pak Guna kepada Mr.C .
"Kalian ikut atau tidak?" tanya Pak Guna menatap kedua anaknya.
"Setelah ini, Cita ada meeting penting, Pa" jawab Cita.
"Kamu??" tanya pak Guna menatap Yoga.
"Males, Pah ! bukan urusan Yoga juga, " kata Yoga sambil melangkah menuju kamar nya.
"Dia kan istrimu." sahut Cita yang masih di ruangan itu.
"Bahkan sampai detik ini, Yoga tidak menganggapnya sebagai seorang istri. apalagi sekarang dia tengah mengandung anak orang, sangat menjijikkan!!" ucap Yoga di anak tangga.
"Bi, Erlin pamit ya..maaf kalau Erlin banyak salah sama Bibi." ucap Erlin.
"Iya, Non.. bibi juga minta maaf kalau ada salah sama Non Erlin."
"Dah, Bii."
"Non, hati hati ya!!" ucap Bibi sedih. Erlin hanya mengangguk pelan dan kemudian melangkahkan kakinya menuju mobil di mana pak Guna sudah menunggunya.
Di dalam mobil tak ada percakapan sedikit pun sampai pada kediaman Teguh Wijaya.
Ting tong....Ting Tong..
Pintu terbuka.
"Pak Teguh ada di rumah?" tanya Mr.C khas dengan suara berat nya.
"Oh, ada Tuan.. Silahkan masuk," ucap pembantu di rumah pak Teguh.
"Silahkan duduk dulu, Tuan."
"Sebaiknya kamu duduk disini tunggu Papa mu keluar." ucap Pak Guna yang melihat Erlin hendak masuk ke dalam. Dan mau tak mau, Erlin pun kembali duduk di samping Pak Guna.
"Pak Guna, Erlin, Mister? ada apa gerangan Anda kesini?" tanya Pak Teguh bingung.
"Duduk lah dulu, Teguh!" perintah Pak Guna.
"Ada apa, Nak?" tanya pak Teguh menatap Erlin.
"Biar saya yang menjelaskan!" ucap Pak Guna.
"Silahkan di minum dulu, Tuan" ucap Bibi pembantu datang membawa minuman.
"Jadi gini, Teguh.. anak mu sekarang sedang berbadan dua."
"Wah..syukur lah, Nak. sebentar lagi Papa akan menjadi kakek" ucap pak Teguh bangga dengan mata berkaca-kaca.
"Benar sekali kau akan menjadi seorang kakek tapi tidak dengan ku!" Pak Guna tersenyum licik.
"Maksud nya apa, Pak Guna?" tanya Teguh bingung tak mengerti.
"Anakmu ini telah hamil dengan selingkuhannya!!"
Pak Teguh tersentak kaget mendengar perkataan besannya. Bagai tersambar petir di siang bolong, kabar Erlin hamil dengan laki-laki lain itu sungguh di luar dugaan nya.
"Apa benar itu, Erlin?" tanya Pak Teguh dengan suara bergetar.
"Untuk apa kau tanyakan hal itu kepada anakmu ! Jelas anakmu akan menyangkalnya" ucap Pak Guna sinis.
"Benar benar keterlaluan kau, Erlin!" kata Pak Teguh geram bukan main.
"Dan harus kau tau, anakmu ini hamil dengan saudara tirinya sendiri." ucap Pak Guna menambahi.
"Si...siapa dia??"
"Anak tunggal William , yang tak lain dan tak bukan adalah suami baru mantan istri mu"
"Ap...apaa..apa benar itu, Erlin??" tanya Pak Teguh.
"Keputusan semua ada di tangan saya, Teguh. Erlin akan cerai dengan Yoga dan tetap mangganti uang sebesar 200 juta."
"Perusahaan saya masih sangat kristis, Pak. Mana punya saya uang sebesar itu, bahkan mobil dan beberapa barang elektronik sudah saya jual untuk menutupi hutang piutang perusahaan."
"Itu bukan urusan saya, Teguh!!"
"Kasihanilah saya, Pak!!" ucap Pak Teguh memohon.
__ADS_1
"Saya beri kamu pilihan, bayar hutang anakmu atau serahkan perusahaan properti milik mu kepadaku."
"Tidak, Pak!!!"