
Pagi hari pukul 08.00 WIB, Nuril tengah bersiap untuk pergi ke kampus nya. Nuril tetap lah menjadi seorang Nuril yang dulu tidak ada perubahan yang signifikan.
Saat ini ia melanjutkan pendidikannya di Universitas yang inginkan Papanya di jurusan hukum.
Ia mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang untuk menuju ke kampus yang cukup dekat itu.
"My baby Jihan udah berangkat apa belum ya?" gumamnya sambil mengutak-atik ponsel.
"Gw telpon ah,"
"Hallo sayang..kamu udah berangkat?" tanya Nuril ketika panggilan telepon nya di angkat oleh kekasihnya.
"Udah ini lagi di jalan, kenapa emang?" tanya Jihan.
"Oh..ya udah , kirain nggak bawa mobil.. sekalian aku jemput gitu.." uca Nuril dengan manja nya.
"Hehehe...udah berangkat kok..see you on campus."
"Okey sayang..see you."
Panggilan telepon berakhir, Nuril kembali melajukan mobilnya yang sempat menepi di pinggir jalan untuk menelpon Jihan.
Kok bisa sih Jihan dan Nuril jadian??
Flashback on
Universitas negeri ****** adalah salah satu universitas yang dipilih Nuril untuk melanjutkan pendidikannya setelah lulus SMA enam bulan yang lalu. Salah satu universitas yang terkenal akan geng cewek cantik dan seksi itu dipilih Nuril karena memang jaraknya yang tidak terlalu jauh dari tempat ia tinggal.
Tak memakan waktu lama bagi Nuril untuk bisa terkenal di lingkungan kampus yang cukup besar itu. Dengan bermodal paras cantik dan mobil mewah, dirinya kini banyak di dekati oleh beberapa cowok hidung belang dan juga teman teman cewek yang ingin memanfaatkan nya saja. Seperti sekarang, Nuril mempunyai geng yang di beri julukan sebagai geng caim yang artinya geng cantik imut. Geng yang terdiri dari 4 cewek cantik dan modis itu sekarang menjadi primadona kampus yang sangat populer.
Tetapi tidak setulus persahabatan Diandra dan Nuril dahulu, persahabatan Nuril yang sekarang bersama para ciwi ciwi nya itu melihat materi. Mereka selalu saja meminta traktiran dari Nuril jika mereka pergi ke mall. Dan jika tidak di penuhi keinginan nya, mereka akan ngambek dan menjauhinya. huuufffffttttttt.
Nuril sedang bersolek di kelasnya menunggu Dosen masuk kelas pada jam paginya itu. Suatu kebiasaan dari dulu masih mendarah daging hingga saat ini yang jika bersama Diandra pasti akan di proses secara terang-terangan karena bagi Diandra itu sangat berlebihan.
"Bisa di hentikan aktivitas Anda??" suara Dosen di depan kelas. Karena merasa terkejut, Nuril bingung harus berbuat apa.
"Hehe..iya, Pak .. sorry." ucap Nuril tersenyum kecut.
"Saya akan memperkenalkan mahasiswa baru yang akan bergabung bersama kalian mulai hari ini." kata Dosen memberi tahu.
"Siapa, Pak??" tanya Sindi dengan antusias.
"Sebentar lagi dia masuk kesini, dia sekarang masih di kantor." ucap Dosen.
Kelas pagi pun di mulai. Seperti biasa, Nuril disibukkan dengan kaca kecil yang selalu ada di dalam tas nya sejak jaman SMA. hihihi..
tok tok tok.
Pintu kelas di ketuk dari luar.
"Masuk!!" perintah Dosen itu.
Seorang pria tampan itu masuk ke dalam kelas.
"Baiklah, ini adalah teman baru kalian yang akan bergabung di kelas ini." kata Dosen.
"Silahkan kenalkan nama anda..!!"
"Baik, Pak!! Nama saya Jihan Pratama, saya pindahan dari universitas negeri Semarang." ucapnya memperkenalkan diri.
Nuril yang sedari tadi sibuk dengan kuku cantiknya menjadi tersentak kaget ketika mendengar nama yang tak asing di telinga nya. Ia pun mendongak menatap ke depan dimana Jihan berdiri.
Laki laki tampan yang di kenalnya itu kini sudah menjadi pria ganteng nan putih bersih hingga membuat seorang Nuril melongo melihat ke arah Jihan tanpa berkedip.
"Baik.. Silahkan duduk di tempat anda, saya akan melanjutkan materi sebelum jam saya habis." ucap Dosen.
Jihan berjalan ke arah tepat duduk nya yang ada di pojok belakang tanpa melihat Nuril sedikit pun.
Gue mimpi apa semalem bisa ketemu sama dia.!!! Batin Nuril.
Ya ampun itu anak sekarang tambah ganteng banget sih..
"Saudara Nuril Cahaya Nusantara, kenapa anda tidak memperhatikan saya dari tadi? apa anda tidak menyukai materi yang saya sampaikan??" tegur Dosen tiba-tiba.
"Ha? Eh enggak kok, Pak.. saya dari tadi juga memperhatikan bapak yang menerangkan di depan kok." kilahnya.
"Jangan banyak alasan.. sebaiknya anda keluar dari kelas saya sekarang..!!!" ucap Dosen killer itu.
"Loh saya nggak alasan kok, Pak.!! Saya dari ta......
"Cukup !! silahkan keluar!!"
"Baiklah.."
Akhirnya Nuril pun melangkah keluar kelas dengan langkah gontai.
"Berdiri di depan pintu sampai jam pelajaran saya selesai." perintah Pak Dosen.
Dosen killer itu tidak mendengarkan alasan Nuril sedikit pun sehingga mau tak mau, Nuril berdiri di depan pintu kelas dengan cemberut.
2 jam berlalu. Nuril duduk lemas di bangku depan kelas. Ketiga sahabatnya itu tidak ada yang mendekati Nuril, mereka memilih untuk berjalan ke arah kantin kampus.
"Nih, minum." ucap seseorang seraya menyodorkan minuman dingin.
Nuril mendongakkan kepalanya.
"Jihan." ucap Nuril terkejut melihat kedatangan Jihan.
"Iya, nih minum..lain kali kalau Dosen kasih materi itu di dengerin." ucap Jihan memberi tahu dengan suara lembut.
"Thanks ya, Jihan." kata Nuril sembari menerima pemberian dari Jihan.
"Iya, Sama sama,"
Nuril pun meneguk habis sebotol minuman dingin yang diberikan Jihan kepada nya.
"Nanti sore jalan yuk.." ajak Jihan tiba-tiba.
"Hah? Kemana??" tanya Nuril kaget bukan main karena tiba-tiba seorang Jihan Pratama mengajaknya untuk jalan jalan.
"Jalan aja lah muter-muter dulu cari angin.", ucap Jihan sambil tersenyum.
"Kok loe bisa disini sih? bukannya loe ..."
"iya gw pindah lagi kesini , disana nggak betah gw."
"Ohh..hehehe...kirain nyariin gw." ucap Nuril asal bicara.
"Iya gw emang nyariin loe, jadinya gw masuk ke kampus ini dan juga ngambil jurusan yang sama kek elo." ucapnya santai.
Eh ya ampun , gw nggak salah denger?? Jihan nyariin gw??? beneran?? Batin Nuril bertanya tanya.
"Kok diem?? loe nggak percaya kalau gw kesini biar deket lagi ama loe??" tanya Jihan yang semakin membuat Nuril salah tingkah.
"Hah??? Eehh..eee...anuu...emm"
"Hahaha.. ya udah lah ya nggak usah di bahas lagi, pulang yuk, kan nggak ada kelas lagi hari ini." ajak Jihan.
"Oh heheh...iya yuk"
Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir dimana mobil mereka berada.
"Loe bawa mobil??" tanya Jihan menatap ke arah Nuril.
"Bawa..tuh di sana!!" jawab Nuril seraya menunjuk ke arah mobil kesayangannya.
"Udah boleh loe bawa mobil sendiri?? nggak di ikutin para bodyguard loe???" tanya Jihan.
__ADS_1
What??kok dia bisa tau kalo gw punya bodyguard sih?? kan selama ini dia bodo amat ama gw..kok bisa.??
"Udah nggak usah ngomong dalem hati, gw tau banyak tentang loe kan dari Yoga sama Diandra dulu waktu jaman SMA."
"Ohh..hehehe..loe bawa mobil nggak??" tanya Nuril mengalihkan pembicaraan.
"Bawa tuh di ujung sana.."
"Ohh..."
"Ya udah hati hati ya pulangnya., Jan ngebut..Oh iya minta no WA loe dong"
What??? Dia minta nomor WhatsApp gw??? nggak mimpi kan gw???
"Boleh??" tanya Jihan lagi.
"Oh boleh kok boleh.. mana hp loe."
Jihan menyerahkan ponsel nya kepada Nuril. Dan segera Nuril mengetik nomor WhatsApp nya.
"Ok thanks..Sampek rumah gw kabarin." ucap Jihan seraya melangkah pergi menuju mobilnya.
Nuril pun memilih untuk segera masuk mobil. Entah mukanya sekarang seperti udang rebus atau udang goreng, ia tak tahu ..yang pasti dirinya sangat bahagia dan juga malu bertemu dengan Jihan.
"Duh...kaca mana kaca...OMG...!!!!! pasti dia ngetawain muka gw yang kek gini.." teriak Nuril dalam mobil.
"Duhh emang susah ya jadi orang putih gini,, malu dikit kelihatan..seneng dikit kelihatan marah dikit, hemmm bukan lagi muka gw kek udang saus Padang deh." gumamnya lagi sambil men touch up kembali bedak andalannya. Setelah itu ia memilih untuk segera pulang kerumahnya.
30 menit kemudian.
Nuril memarkir mobilnya di garasi. Kemudian dengan langkah cepat ia masuk ke dalam kamar nya.
"Nanti nge date dong gw... Pakek baju apaan ya?" ucap Nuril seraya melihat isi lemari yang penuh dengan baju baju branded nya.
"Haduh masih kek ngimpi deh gw bisa di ajak nge date sama Jihan.." gumamnya sambil senyum senyum sendiri.
Waktu cepat berlalu, sekarang sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB , Nuril tengah bersiap siap untuk keluar bersama Jihan. Kali ini ia terlihat sangat anggun dengan menggunakan simple cap dress dengan paduan flatshoes warna abu abu. Tak lupa ia memakai make up yang biasa ia pakai kemana mana.
Nuril di jemput Jihan dengan menggunakan mobilnya. Laki laki yang di idamkan dari dulu itu saat ini terlihat bergitu tampan dengan memakai jeans hitam serta kemeja panjang warna navy yang lengannya di naikkan sebatas siku.
"Sorry ya nunggu lama, abisnya gw ketiduran tadi." ucap Jihan memulai pembicaraan di dalam mobil.
"Iya gapapa.." jawab Nuril pelan. Entah kenapa kali ini dirinya tidak bisa pecicilan seperti biasanya.
"Emm..gw putar musik ya,?" tanya Jihan menatap sekilas ke arah Nuril.
"Sok atuh, kan ini mobil loe." jawab Nuril seraya tertawa kecil.
"Kamu suka lagu apa??" tanya Jihan.
"Apa aja lah yang penting enak di dengar," jawabnya santai.
Akhirnya Jihan memutar musik yang bergenre pop Indonesia untuk mengurangi kecanggungan diantara mereka berdua.
20 menit kemudian, sampailah di sebuah mall.
"Mo kemana nih kita?" tanya Nuril.
"Jalan aja.. nanti nonton yuk, " ajaknya.
"Boleh ayuk,,eh gw mau beli itu tuh.." ucap Nuril sambil menunjuk salah satu penjual telur gulung.
"Ya udah ayok gw anter."
Mereka pun berjalan menuju stand penjual telur gulung itu dengan sesekali bercanda.
Jihan sekarang berbeda dengan Jihan yang dulu. Kalau yang dulu lebih ke pendiam dan pemalu tetapi sekarang menjadi orang yang asyik saat di ajak bercanda dan berbincang tentang banyak hal. Dan hal itu menjadi Nuril menyukai nya lagi.
Di suatu bioskop, Keduanya menonton film romantis. Memang sengaja Jihan memesan tiket nonton film romantis, karena untuk mendukung rencananya menembak cewek yang dari dulu di liriknya dalam diam.
"Ril, lihat gw.." ucap Jihan tiba-tiba. Nuril yang tengah fokus dengan film yang dilihat nya itu tidak menggubris perkataan Jihan sedikit pun.
"Jihannn....bikin gw kaget!!" ucapnya seraya mendengus kesal.
"Hehehe... sorry, abis loe di panggilin dari tadi nggak respon." ucap Jihan cengengesan.
"Ck..apaan...lagi romantis tuh film nya.."
"Ada yang lebih romantis lagi dari film itu." ucap Jihan. Kemudian ia memegang kedua tangan Nuril yang putih mulus. Ada desiran aneh di dada mereka ketika tangan mereka berpegangan.
"Please..tatap mata gw." ucap Jihan pelan.
Aduh .. jantung gw mo copot nih di lihatin kek gini.. batin Nuril.
"Ril?? Plis tatap mata gw!!"pinta Jihan lagi.
"Gw gak mau!!" jawabnya cepat.
"Kenapa??" suara Jihan memelas saat mendengar perkataan Nuril.
"Jantung gw mo copot kalo tatap mata loe." ucap Nuril terus terang.
"Huuuffffftt...kirain apaan..Ya udah kalo gitu, dengerin baik baik ya??"
"Iya,,"
"Gw suka sama loe, gw mau loe jadi cewek gw." ucap Jihan seraya tersenyum simpul.
"What??? eh tunggu sebentar..kok cepet amat sih? ah nggak ah ..ntar loe mainin perasaan gw lagi." celoteh Nuril.
"No...!! gw beneran..gw suka dari dulu sma loe..cuma gw nggak punya keberanian untuk menyatakan cinta ini."
"Nah trus?? kenapa sekarang berani kek gini?" tanya Nuril.
"Gw belajar jadi gentelmen dari Yoga..gw banyak belajar ama dia, dan gw kesini pindah ke kota ini lagi untuk loe." ucap Jihan panjang lebar.
"Yoga?? ah gw nggak percaya."
"Gw berani sumpah, Ril."
"Mana sini handphone loe, gw mau tanya langsung ama tuh anak," ucap Nuril.
"Emang loe nggak punya kontaknya?"
"Nggak, gw udah ganti nomor dari lulus SMA, gw buang tuh kenangan indah bersama Diandra."
"Hmm....Ya udah nih.." Jihan pun menyerahkan ponsel nya kepada Nuril.
"Eh buset..!! ini poto gw loe buat wallpaper di hape loe..gila!!!"
"Sorry, gw ambil di Instagram loe, sorry ya, Ril.." ucap Jihan memelas. Nuril yang melihat ekspresi Jihan pun tertawa kecil sambil mengusap rambut Jihan.
Nuril pun menelepon Yoga untuk menanyakan hal itu.
10 menit kemudian.
"Gimana udah percaya?" tanya Jihan.
"Nggak..siapa tau kalian sekongkol."
"Ya udah kalau loe nggak percaya, anggap aja gw nggak pernah bilang kek gitu sama loe." ucap Jihan menjauh dari Nuril. Ia saat ini pindah ke tempat duduk yang kosong di sebelah kanannya.
"Eh kok pindah sih?" protes Nuril.
"Biarin," ucap Jihan sok cemberut.
"Jan gitu dong, sini deh.." ucap Nuril sambil menepuk kursi di di samping nya.
__ADS_1
"Males, orang loe nggak percaya sama gw kan.." jawabnya.
"Ckk....ya udah." Nuril pun memilih untuk tidak bersuara lagi. Saat ini ia tengah cemberut dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
1 menit. .2 menit.. 3 menit...4 menit...
a few minutes later.
"Gw pulang deh," ucap Jihan seraya bangkit dari duduknya.
"Kok di tinggal sih?" ucap Nuril tersentak kaget melihat Jihan meninggalkan tempat itu.
Tak ada jawaban dari Jihan, ia tetap melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Nuril berlari kecil mengejar Jihan yang berjalan dengan langkah cepat.
"Ihh... tungguin gw dong," teriak Nuril.
Jihan pun berhenti dan menoleh ke belakang.
"Gw mau ke toilet !! Loe mau ikut??" tanya Jihan. Mendengar perkataan itu Nuril langsung menghentikan langkahnya.
"Hah?? ke toilet??" ucap Nuril sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka.
Eh iya ini kan jalan menuju ke toilet pria. Batinnya.
"Loe masuk mobil aja," kata Jihan mempercepat langkahnya menuju toilet.
Nuril pun berjalan ke arah parkiran menuju mobil Jihan yang di parkir di sana.
"Yah..kan mobilnya di kunci yak? bodoh amat gw.. Ckk.... tuh anak bener bener ngerjain gw keknya, gw udah cantik gini di suruh nungguin di parkiran..mana sepi banget lagi.." gumam Nuril kesal.
15 menit kemudian, Jihan menghampiri Nuril dengan membawa pasukan yang lumayan banyak. Bisa di bilang pengunjung mall sekarang berada di belakang Jihan dan hal itu membuat Nuril bertanya-tanya.
"What??? itu orang banyak banget mau kemana?? kok ngikutin Jihan sih??? gumamnya.
"Sorry ya nunggu lama," ucap Jihan yang saat ini berada di samping kiri Nuril.
"Itu siapa?? mo pada ngapain??" tanya Nuril sambil berbisik.
"Oke , maaf untuk kakak kakak semua saya minta waktunya sebentar..saya disini mau bercerita sedikit tentang dia." ucap Jihan lantang seperti pembina upacara.
"Jadi ini adalah Nuril yang dulunya satu sekolah sama saya. Sudah lama saya menaruh hati padanya tetapi saya tidak mempunyai keberanian sedikit pun untuk menyatakan cinta kepada dia."
"Jihan, apaan sih? gw malu dong, " bisik Nuril dengan muka memerah.
"Lanjutkan dong ceritanya." teriak salah satu orang di situ.
"Saya memilih untuk mengamati nya dari jauh dan memilih untuk menjadi penggemar nya secara diam diam. Meskipun saya terlihat masa bodo dengan kecentilan ini cewek, tetapi saya juga menyimpan namanya di hati saya dari dulu.."
"Dan sekarang saya ingin menyatakan perasaan saya di depan kalian semua, agar dia percaya kalo saya ini serius." ucap Jihan seraya menatap lekat ke arah Nuril.
"Terus, mau kah kamu jadi pacarku??" tanya Jihan menatap kedua mata Nuril yang saat ini berkaca-kaca.
"Kamu serius kan, Jihan???" tanya Nuril.
"Ya..aku serius dan nggak pernah aku seserius ini saat bicara dengan wanita lain."
"Kamu nggak bohong kan??" tanya nya lagi.
"No..!!! I want you to be my lover!" ucapnya yakin.
Nuril pun menangis karena terharu dengan keberanian Jihan untuk menyatakan perasaannya di depan banyak orang. Dengan lembut Jihan menyeka air mata Nuril yang saat ini membasahi kedua pipi mulusnya.
"Mau kah kamu menjadi kekasih ku??" tanya Jihan lagi menatap lekat ke arah manik mata Nuril yang saat ini tertutup softlens warna biru.
Nuril menjawab dengan anggukan kepala. Dan itu tandanya dia mau menjadi kekasih Jihan Pratama. Sontak semua orang yang berada di situ bertepuk tangan melihat langsung keromantisan keduanya.
Jihan mendapatkan respon seperti itu menjadi bahagia tak karuan, karena usaha nya untuk menyakinkan Nuril berhasil membuat nya luluh.
"Terimakasih." ucap Jihan berkaca kaca.
"Eh kok nangis." protes Nuril.
"Enggak . gw terharu aja bisa jadi pacar loe," ucapnya.
"Ya udah kakak kakak, terimakasih banyak atas waktu nya ..saya doakan semoga kakak kakak yang belum dapat jodoh segera di pertemukan jodohnya oleh Allah SWT."
"Terimakasih juga kak udah bikin kita terharu..kalian serasi banget..bikin iri aja.." ucap salah satu anak remaja di situ.
Merekapun segera meninggalkan tempat itu, begitu juga dengan Jihan dan Nuril. Sepasang kekasih yang baru saja mempunyai status pacaran itu kini sedang senyum senyum malu.
"Mo pulang apa masih mau di sini??" tanya Jihan dengan suara lembut.
"Pulang aja." jawab Nuril malu malu.
Di dalam mobil.
Mereka sama sama terdiam karena malu. Hingga pada menit ke 10, Jihan memilih untuk membuka suaranya.
"Ril?? tidur??" tanya nya melirik kearah Nuril.
"Gak !! kenapa?" tanya Nuril.
"Ga papa..kok diem aja..gw kek di dalam mobil sendiri an." ucap Jihan tersenyum simpul.
Ck.. kenapa gw jadi mati gaya gini sih sama Jihan..?? gue jadi malu banget sumpah..mana gue malu lagi mau ngaca di samping dia, Batin Nuril.
"Kok ngomongnya dalem hati sih??" ucap Jihan tiba-tiba yang membuat Nuril terkejut.
"Hah?? eh...iya ..ehh enggak siapa yang ngomong dalem hati." kilah Nuril.
"Kok jadi kaku gini?? yang biasa aja dong, Sayang." ucap Jihan seraya menekan kata yang paling belakang.
Sayang??? gw nggak ngimpi kan?? Aaaaaaaaaaaa....gw pengin salto denger ini anak panggil gw sayang.. Batinnya lagi.
"Ck.. ngomongnya dalem hati mulu..males ah.." ucap Jihan pura-pura ngambek.
"Hehehe... sorry deh.."
Tak ada lagi percakapan antara mereka berdua sambil mobil berhenti di depan gerbang besar warna gold dan silver metalik itu.
"Hati hati ya pulangnya.. jangan ngebut." ucap Nuril menatap lekat ke arah Jihan. Jihan hanya mengangguk pelan tanpa melihat Nuril sedikit pun.
"Ya udah aku turun ya??"
Lagi lagi Jihan hanya mengangguk pelan tanpa melihat ke arah Nuril.
"Kenapa sih??? marah??" tanya Nuril dengan lembut. Sebenarnya Jihan seperti itu untuk menarik perhatian nya saja karena memang Nuril semenjak kejadian di parkiran tadi menjadi pendiam. Padahal Jihan berharap bisa romantis di dalam mobil berdua.
"Ckk...jawab dong,Jihan.." pinta Nuril dengan suara memelas. Jihan hanya diam saja sambil memainkan ponselnya.
"Jihan???"
"Hemm..."
"Ckk..aku turun ya??"
"Iya turun aja," jawabnya cuek.
"Tadi katanya serius sama aku, sekarang kek gini.."
"Udah cepetan turun..gw ada urusan penting setelah ini." ucapnya sok cuek.
"Ya udah.." ucap Nuril dengan nada tinggi.
Nuril pun keluar dari mobil dengan sedikit membanting pintu mobil Jihan. Dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Nuril memilih masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Hmmm....marah..lagian sih kaku amat, di ajak ngobrol malah nggak ada respon." gumam Jihan tersenyum simpul dan setelah itu ia melajukan mobilnya meninggalkan rumah Nuril.