
Author POV
Kini hari - hari seorang Yoga terasa begitu hambar, semangatnya untuk mendekati Diandra akan sirna begitu saja. Bagaimana tidak, percuma saja ia membantah papanya ,Pernikahan tetaplah terjadi. Kabur ke ujung dunia pun papanya akan tetap mencari dan menemukannya.
Yoga sedang berada di kamar tengah memikirkan sesuatu.
Diandra, maafin gue.. bukan maksud untuk nyakitin loe.. gue sayang loe diandra. Batin Yoga menangis.
"Mas.. mas Yoga." bi Sumi mengetuk pintu kamar.
"Masuk saja bii.. " perintah Yoga.
"Hemmm. ..mas Yoga yang sabar ya..mas yoga harus tetap semangat, " kata Bibi yang ikut sedih melihat majikannya yang terlihat begitu amburadul.
"Mas Yoga ndak makan? " tanya bibi lagi.
Yoga hanya menggeleng pelan sambil menatap lurus ke arah jendela.
"Bibi ambilkan ya mas.? dari kemarin mas Yoga ndak makan sama sekali." ucap Bibi.
"Tidak, Bi.. Yoga tidak punya selera makan sama sekali" jawab Yoga pelan.
"Hmmm.. ya sudah. kalau lapar, di dapur ada masakan kesukaan mas Yoga"
Yoga hanya mengangguk mengiyakan.
"Oh iya.. Mas Yoga di panggil mbak Cita suruh ke ruang kerjanya" Bibi memberitahu.
"Suruh dia saja yang kesini."
"Ya sudah, bibi sampaikan kepada mbak Cita.. bibi keluar dulu." bibi pun keluar kamar
*Y*a Allah ya Robb.. meskipun aku bukan ibunya, tapi aku merasakan apa yang mas yoga rasakan.. aku ikut sakit hati. Batin bibi seraya berjalan menuruni tangga.
Setelah itu ,Bibi menemui Cita yang tengah berada di ruang kerjanya.
"Bener bener anak itu" gumam Cita.
Kemudian ia menuju ke kamar Yoga.
"Yogaaa......... " teriak Cita di depan pintu kamar.
"Yoga... buka pintu.." Cita menggedor pintu kamar.
apa anak itu sudah tuli??? Batinnya dalam hati.
Segera ia masuk tanpa permisi.
"Apa loe udah belajar tuli?" gertaknya keras setelah masuk ke kamar.
"Ada apa sih kak?" tanya Yoga dengan tatapan sendu.
"Apa kau menyetujui rencana Papa?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Menurutmu?" jawab Yoga dingin.
"Sudah ku duga, kau merasa senang bukan?" ucap Cita sinis.
"Senang? kalau gue merasa senang mau nikah, gue udah nggak di sini, gue udah pesta minum minuman di luar sana" jawabnya ngawur.
"Heh.. lalu? kenapa kau tidak menyukai pernikahan ini??" Tanya Cita dengan nada sinis.
"Sudah lah, males gue bahas masalah itu, " jawab Yoga seraya merebahkan badannya.
"Papa menyuruhmu untuk segera membeli cincin pernikahan. cepatlah" kata Cita yang kemudian pergi dari kamar itu.
Kenapa anak itu terlihat sangat tertekan dengan rencana papa, Bukannya sebaiknya dia merasa senang akan menikah dengan kekasihnya itu. Batin Cita.
******
Diandra berada di kamarnya termenung, pasalnya beberapa hari ini ia tidak bertemu dengan sahabatnya itu.
"Heh.... Nuril... gue kangen banget ama suara loe yang biasa ganggu telinga gue tiap hari" Gumamnya pelan.
"Gimana gue mau hubungi dia, hp gue lagi di servis, kapan selesainya juga nggak tau"
"Apa sebaiknya gue ke rumahnya aja kali ya.. " Diandra berpikir sejenak, kemudian ia memutuskan untuk pergi ke rumah Nuril.
Segera ia memakai jaket dan menemui Ibunya yang tengah menonton TV.
"Ibuu.. Dian mau menjenguk Nuril boleh? beberapa hari ini dia lagi sakit bu, Dian nggak bisa tanya kabarnya soalnya hape dian lagi di servis" ucap Diandra
"Ohh.,sakit apa dia?" Tanya Ibu terkejut.
"Dian nggak tau, bu! makanya ini Dian mau kesana!"
"Ya sudah hati - hati. Sebaiknya kamu bawakan dia bingkisan."
" Iya, nanti Dian mampir ke toko buah. Diandra pamit ya bu.. " Kata Diandra seraya mencium tangan ibu.
"Titipkan salam Ibu untuknya. Semoga lekas sembuh" Kata Ibu sedikit berteriak.
Diandra mengendarai motor ke sayangannya ke arah Utara menuju rumah Nuril. Dan tak lupa ia mampir ke toko buah untuk membeli buah sebagai bingkisan.
Sesampainya di depan rumah Nuril, Diandra menghentikan motor dan melepas helmnya.
"Pak.. Saya mau bertemu dengan Nuril.. " Kata Diandra kepada Satpam yang menjaga gerbang rumah Nuril.
"Non Nuril nya tidak ada di rumah, mbak"
"Lha.. kok nggak di rumah? Katanya sakit kok malah keluyuran emang dasar tuh anak" gumam Diandra.
"Bukan.. bukan keluyuran mbak.. tapi....... "
"Ehhh ada mbak Diandra.. " Pak Diman tiba-tiba nongol.
"Laah ini Pak Diman ada di rumah, katanya Nuril nggak ada di rumah."
"Memang mbak Nuril tidak ada di rumah mbak Dian... " kata Diman seraya tertawa.
"Kemana dia?? Kencan??" Tanya Diandra lagi.
__ADS_1
"Hehe... mbak Diandra ini bisa saja.. mbak Nuril sedang di rawat di rumah sakit mbak" Diman menjawab dengan tertawa kecil.
"Whaaatttttt? pak Diman bercanda?"
"Tidak mbak.. ngapain saya bercanda"
"Nggak bilang dari tadi..emang dia sakit apa sih? Di rawat di rumah sakit mana?" kata Diandra khawatir.
"Mbak Nuril kena typus mbak " Jelas Diman.
"Di rawat dimana ,cepetan bilang saya mau kesana." Kata Diandra tak sabar.
"Hahahaha..... mau naik apa mbak Dian kesana?" Tanya Diman sambil tertawa.
"Ehh malah ketawa lagi.. ya naik motor lah, Pak"
"Naik motor nggak bakalan sampai disana hari ini.. hahahaha.. "
"Ya bisa lah kalau gue bawanya ngebut.. cepatan bilang di rumah sakit mana "
"Saya lupa namanya mbak.. Tuan tidak memberitahu dengan jelas nama rumah sakitnya. "
"Lahhh terus gue kesananya gimana dong..Kok bisa nggak tau sih.." Diandra geram.
"Tidak usah kesana, mbak Dian!! di telepon saja.. "
"Ehh kok enak aja,, gue pengen liat keadaan sahabat gue"
"Ya di video call saja mbak.. Oh iya.. tadi malem mbak Nuril titip salam buat mbak Diandra, katanya kalau ponsel mbak Dian sudah on lagi harus telepon dia secepatnya"
"Ya elah malah video call.. tanya mbak Atun gih alamatnya dimana,, gue pengen kesana, Pak... "
"Mbak Nuril itu di bawa ke luar negeri sama Papa nya tadi malam."
"Whattt????? Luar negeri?? jangan bercanda deh, situasi kek gini malah dibuat candaan. "
"Beneran mbak, Tadi malem mbak Nuril terbang naik helikopter pribadi milik papanya"
"Bo'ong kan?? hayo ngakuu" seru Diandra.
"Sebentar sebentar, Saya panggil Atun dulu biar mbak percaya." Pak Diman kedalam memanggil mbak Atun untuk menyakinkan Diandra.
"Benar, mbak Dian.. mbak Nuril barangkat ke luar Negeri, dirawat disana ..berangkatnya juga baru tadi malam.." kata Mbak Atun.
"Kok Diandra nggak di kasih tau ya mbak" ucap Diandra.
"Ponselnya mbak Diandra susah di hubungi, mbak Nuril nya juga bingung mau kasih kabar kemana lagi."
"Emm.. Ya sudah mbak..Dian pulang dulu ya, ini Dian bawakan bingkisan buat Nuril nanti kalo dia udah pulang."
"Baik mbak.. Hati - Hati di jalan" Kata Mbak Atun.
Diandra melajukan motornya meninggalkan rumah Nuril dan menuju suatu tempat dimana ponselnya di servis.
"Bang Jeky.. gimana hp gue udah kelar apa belum?" Tanya Diandra seraya melepas helmnya.
"Ehh Diandra, hehe.. belum kelar nih masih ngantri. Besok deh besok gue usahain." Kata Jeky yang tengah sibuk dengan ponsel ponsel yang di servisnya.
"Waduh nggak bisa Dian kalau loe minta sekarang gue lagi sibuk banget nih, besok deh agak siangan gitu loe kesini"
"Jadi sekarang nggak bisa ya ?"
" Nggak bisa Diandra "
"Ya udah deh, besok gue kesini lagi ,besok harus kelar tuh hp" Kata Diandra seraya memakai helm nya lagi.
"Ya udeh tenang aje." Jawab Jeky.
Diandra kemudian memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Mengendarai motor nya sambil melamunkan sesuatu.
Nuril loe pergi keluar negeri nggak bilang bilang gue sih, gue kesepian nggak ada loe, nggak ada hp buat tanya kabar loe.. huuuffftt.... Yoga juga kemana tuh anak ya.. lagi ngapain dia sekarang, gue jadi kangen ngobrol bareng tuh anak Batin Diandra.
Tiba - Tiba
tinnnn tinnnnn.... ccciiiiiiiiiittttt.... brakkkkk kkkkkkkkkkkk....
Diandra di tabrak sebuah mobil sedan hitam dan ia terjatuh dari motornya. Seorang bapak bapak berpakaian rapi turun dari mobil segera menghampiri Diandra dengan setengah berlari.
"Nak.. nak.. Kamu tidak apa? maaf kan supir saya ya." kata Bapak itu.
"Saya yang minta maaf, Pak ! karena saya nggak lihat jalan, tadi saya melamun." Jawab Diandra seraya berdiri.
"Tapi kamu seperti ini liat ,luka luka, mari saya antar ke rumah sakit." ajak Bapak itu.
"Nggak usah pak nggak usah.. saya nggak papa kok.. cuma luka kecil saja nanti juga sembuh" jawab Diandra.
"Ini luka berdarah seperti ini kok di bilang gapapa, ini harus di beri antiseptik, ayo saya antar ke rumah sakit." Bapak itu khawatir.
"Cuma luka kecil kok, Pak, nanti di rumah saja saya kasih obat merah sama plester." Jawab Diandra ngeyel.
"Kalau begitu saya kasih uang untuk berobat ya" ucap Bapak itu mengeluarkan beberapa lembar uang warna merah.
"E e nggak usah, Pak..nggak usah.." Kata Diandra menolak.
"Ini sebagai berobat, Nak, gapapa kamu terima saja." ucap Bapak itu.
"Nggak usah pak, saya permisi" Diandra berjalan ajak pincang menuju motornya.
Dia mencoba menghidupkan motornya beberapa kali tapi tidak bisa..
"Aduh kenapa nih motor gue " Gumamnya pelan.
"Kenapa, Nak.. motornya rusak?" tanya Bapak itu berjalan menghampiri.
"Nggak bisa di hidupin, Pak, kenapa ya?" Kata Diandra kebingungan.
"Ya sudah kalau begitu saya antar kamu pulang ya, Nak, nanti urusan motor biar saya yang urus." Bapak itu menawarkan bantuan.
"Tapi pak.. "
"Sudah anggap saja ini pertanggung jawaban supir saya telah menabrak kamu " ucap Bapak itu seraya tersenyum.
__ADS_1
"Motor saya??"
"Nanti saya suruh orang untuk membawanya ke bengkel..Mari saya antar.."
Diandra pun mengiyakan perkataan bapak itu dan masuk kedalam mobilnya.
Di dalam mobil.
"Kenapa kamu tadi bawa motor sambil melamun?" Tanya Bapak itu.
"Hehe.. saya memikirkan sahabat saya, Pak. Dia sakit di bawa ke luar Negeri tapi nggak bilang bilang sama saya." Kata Diandra di kursi belakang.
"Hmm.. lain kali jangan begitu..bahaya!"
"Iya, Pak, saya minta maaf"
"Dimana rumah kamu?"
"Di jalan merpatih putih, Pak, ini masih lurus sekitar 3kg lagi, nanti ada perempatan lampu merah, belok kiri." Diandra menjelaskan.
"Kamu masih sekolah??" Tanya Bapak itu ingin tahu, rntah kenapa dia tertarik dengan gadis seumuran anaknya itu.
"Masih dong ,Pak. Saya masih kelas 1 SMA tahun ini naik ke kelas 2 " jelasnya.
"Oh.. kamu bersekolah dimana?"
"Deket rumah, Pak. SMA 08 "
"SMA 08???"
"Iya, Pak.. kenapa memangnya??"
"Tidak apa apa, anak saya juga bersekolah di SMA itu." Jawab Bapak itu.
"Oooo... siapa nama anak bapak? Siapa tau saya mengenalnya" tanya Diandra.
"Nama anak saya Prayoga Zidan Syahputra. Apa kamu kenal?"
Diandra tersentak kaget mendengar nama orang yang mengisi hatinya itu. Bukankah ini sebuah keberuntungan Diandra bertemu dengan Ayah Yoga tanpa sengaja.
"Nak?" panggil Bapak itu.
"Eeh.. iya Pak saya hanya mengenalnya saja, dia kan anak IPS 3, kalau saya anak IPA."
"Apa kamu juga mengenal Erlin??"
"Erlin?? pacar Yoga ??"
"Iya.. apa kamu mengenalnya??"
"Anak itu sungguh menyebalkan, saya tidak menyukainya karena dia begitu berlebihan.. Yoga juga tidak menyukainya tapi ceweknya aja yang kegatelan ngejar ngejar terus." Kata Diandra tanpa sadar.
Setelah ia sadar akan ucapannya barusan, ia menutup mulutnya.
"aduhh mulut gue kebiasaan nggak ada remnya...gimana nih kalau bapak ini marah" Batinnya.
"Ehh maaf, Pak... maaf..bukan maksud saya bicara seperti itu. "
"Hmmmm... tidak papa.. oh ya nama kamu siapa nak?"
"Nama saya Diandra Putri, Pak ! Pak maafkan saya ya sudah bicara seperti itu tadi"
"Hahhaa... tidak apa apa nak Diandra.. Oh ya ini kartu nama saya, Jika kamu membutuhkan sesuatu bisa menghubungi nomor itu"
"Baik pak.." Kata Diandra menerima kartu nama itu.
"Non, ini kemana??" Tanya supir.
"Oh itu pak lurus aja nanti masuk gang kanan jalan" jelasnya.
Sesampainya di depan rumah Diandra turun.
"Terimakasih banyak, pak Guna" Kata Diandra
"Sama sama.. nanti masalah motor kamu biar di antar kesini sama orang suruhan saya." Kata Pak Guna.
"Baik, Pak! terimakasih.." ucap Diandra.
Diandra berjalan memasuki rumahnya dengan perlahan. Karena kakinya terasa sakit.
"Ya Allah diannnnnnnn..... kamu kenapa??" Tanya Ibu panik.
"Dian tadi di tabrak mobil, Bu " Jawab Diandra membersihkan luka di bagian tubuhnya.
"Ya Allah nakkkk.... kok bisa??? terus tadi kamu pulangnya naik apa??"
"Dian tadi melamun bu, tiba-tiba diandra di tabrak mobil karena bawa motornya terlalu ke tengah." jawabnya cengengesan.
"Ehh ini anak masih cengengesan, terus kamu nggak papa kan??"
"Nggak papa, Bu.. cuma luka luka gini aja.."
"terus motor kamu kemana???"
Diandra menceritakan kejadian yang baru saja ia alami sambil membersihkan luka lukanya. Diandra juga memberitahu bahwa ia tadi di antar oleh bapak bapak yang telah menabrak motornya .
***
Di sebuah ruang rumah sakit ternama di Negara Skotlandia, Nuril berbaring di tempat yang disediakan .Ia tengah uring uringan sendiri dari kemarin. Pasalnya, Papanya memaksa ia untuk terbang ke Negara papanya tinggal untuk menjalani perawatan lebih intensif lagi.
Diandra.... loe kemana sih ,nomor loe nggak aktif aktif dari kemarin.. Gue mau curhat banyak sama loe, Gue juga mau kasih tau loe soal Erlin yang udah selingkuh di belakang Yoga Batin Erlin.
Gue juga belum sempet kasih tau bukti foto ini sama loe Gumamnya dalam hati seraya melihat foto Erlin yang sedang berpelukan dengan pria bule.
"Kalo yoga tau foto ini, pasti dia bakal putusin *** ayam itu,, dasar *** ayam sukanya nempel sendal mahal." Celoteh nya.
"Gue bosen banget di sinii... lagian papa lebay banget sih, kena typus aja sampek di bawa keluar negeri, mana di sini nggak ada orang sama sekali.. kayak uji nyali gue disini " Gerutu Nuril.
Memang di ruangan yang cukup besar itu, ia seorang diri. Hanya sesekali dokter dan suster masuk ke ruangannya untuk mengecek kondisinya.
.
__ADS_1