
Author POV
"Hoyyy maemunah !!!! itu Yoga tanya ...ehhh... malah melongo kek gitu.!!! " Cetus Nuril menyenggol lengan Diandra.
"Ehhh ehhh.....boleh kok.. " jawab Diandra.
"Ya ya yahhhh....... jatuh es krim loe ril..hehehhe,," Diandra.
"Emang sengaja kan loe.. orang gue nitip bentar doang juga.. di buang buang,," gerutu Nuril.
"Ya elo sihh nitip nya lama.. keburu meleleh.. nih tangan gue belepotan kek gini..!!!" gerutu Diandra tak mau kalah.
"Ya udah mana hape loe.. " pinta Diandra...Segera Yoga mengambil hape dalam saku jaket bombersnya.
"Nih loe catet nomor loe," kata Yoga sambil memberikan hapenya. langsung Diandra mengetik beberapa nomor dan mengembalikan kembali kepada empunya.
"Thanks ya... " kata Yoga seraya memasukkan kembali hape kedalam jaket.
Eh... ngomong ngomong jihan kemana thor kok diem aja.???????
Hehehe .. Jihan memang seorang yang pendiam serta pemalu jika perhadapan dengan lawan jenis. Dia sibuk dengan rokok yang dihisapnya sambil main game dihapenya. sementara si Nuril sibuk pandangi wajah Jihan yang sangat cute baginya.
"Yoga..!!! temen loe.. kok diem aja sih???," tanya Nuril sambil melirik sinis.
"Ya loe sapa lah.. diajak bicara kek. " jawab Yoga tertawa kecil.
"Ehemm.. Jihan... kok diem aja.. lagi sariawan yaa,, " tanya Nuril perlahan.
"Enggak... " jawab nya singkat.
"Kok ngga bicara..tanya apa kek.. bahas apa kek.. biar seru gitu loh,," kata Nuril lagi.
"Hehe... ya loe aja yang tanya.. ntar gue jawab.. " katanya Jihan lagi sambil tetap memandang hapenya.
Nuril pun mendengus kesal karena merasa di cuekin dan memilih diam sambil memikirkan sesuatu.
Diandra maupun Yoga tengah sibuk dengan hapenya masing-masing. Sehingga tidak ada percakapan sedikit pun dan akhirnya Diandra memutuskan untuk pulang karena merasa kebelet boker.
"Gue pulang dulu deh.. kalian mo tetep disini apa pulang.. " tanya Diandra kepada mereka.
"Gue pulang juga kok.." jawab Nuril..
"Kalian nggak pulang. " tanya Diandra menatap Yoga dan Jihan yang tengah asyikk mengobrol.
"Gue masih mau nongkrong dulu disini... " jawab Yoga menatap Diandra.
"Oohh ya udah.. gue duluan ya.. bye.. " ucap Diandra seraya berjalan kearah parkiran.
Yoga dan jihan mengangguk bersamaan.
"Hati hati di jalan Diandra,!!" seru Yoga.
Diandra menoleh seraya mengacungkan jempolnya. Ia berjalan menuju motor matic yang ada di parkiran ,sedangkan Nuril berjalan kearah mobilnya di seberang sana dan segera meninggalkan tempat itu.
Yoga tetap pada bangku yang di dudukinya. Setelah itu segerombolan anak muda mendekat setelah Diandra dan Nuril pamit pulang. Itu adalah teman-teman kompleks yang biasa nongkrong di pos bersama Yoga.
Pukul 13.30 Diandra sampai dirumah. Segera ia melakukan aktivitas yang biasa ia lakukan seperti membersihkan diri, Sholat dan makan siang.
Diandra turun kebawah untuk makan siang, dimana beberapa menu masakan sudah tertata rapi di meja makan. Ia sedikit kebingungan, tumben tumben nya Bibi masak segitu banyaknya. Palingan 3 menu itu paling banyak. Nah sekarang mejanya sampe nggak kelihatan.
"Ada apa bi kok masak banyak kek gini???, " tanya Diandra yang masih kebingungan.
Bibi tak menjawab ,hanya tersenyum simpul.
__ADS_1
"Assalamualaikum... " terdengar salam dari luar serentak macam paduan suara.
"Waalaikum salam..... " jawab Diandra dan Bibi. Bergegas Bibi menuju pintu depan. Diandra pun menyusul dengan sedikit berlari karena ingin tahu.
"Ibuuuuuuu..... " teriak Diandra setelah tau bahwa Ibunya pulang dan langsung memeluk erat.
"Ayah... Kakak..Kakak ipar.. kalian pulang juga.. " ucap Diandra tak percaya.
"Iya sayang.. tugas Ibu sudah selesai... jadi Ibu pulang deh.. tapi Ayahmu hanya pulang beberapa hari saja..kemudian keluar kota lagi untuk memantau perkembangan proyeknya." jawab Ibu Ayu.
"Jangan bilang bibi tau semua ini.. ??" selidik Diandra.
"Iya non.. tadi pagi Ibu menelepon bibi.. mau pulang kerumah.. " jawab bibi sambil tersenyum.
"Akhirnyaaaaa.... sekian purnama Ibu lupain Diandra.. Dindra kes....... "
"Halahhhh.... lebay...lebay... " potong kak Juna sambil mengacak-acak rambutnya.
"Eemm mulai deh.. resek,," gerutu Diandra merapikan rambutnya.
"Sudah sudah... ayo kita makan.. perut Ayah sudah keroncongan nih,," kata Ayah seraya berjalan ke dalam rumah.
"Sebaiknya Ayah mandi dulu..baru makan," teriak Ibu.
Merekapun masuk ke kamar masing-masing untuk menaruh barang-barangnya serta membersihkan diri. Sedangkan Diandra menunggu sendirian di meja makan dengan antusias.
Ya.. Diandra merindukan kebersamaan bersama keluarganya. Tak berselang lama mereka sudah kembali berkumpul dimeja makan.. Bercerita tentang aktivitas dan kegiatan mereka masing-masing selama ini. begitu sederhana namun sangat hangat.
Berbeda dengan keluarga Yoga, tidak ada sedikit pun kehangatan yang tercipta disana. Bahkan untuk komunikasi pun tidak pernah. Membuat seorang prayoga jarang berada di rumah seperti sekarang.
***
Waktu menunjukkan pukul 19.30 , Yoga tetap berada di taman bersama segerombolan anak muda lainnya. Ia sedang memakan nasi ayam geprek yang dipesannya melalui gojek, sambil sesekali mengetik pesan singkat. Dia tengah chatting dengan kekasihnya, Erlin yang sangat overprotektif.
Yoga tidak mempermasalahkan hal itu, karena menurutnya lebih baik menuruti apa yang Erlin mau, daripada berdebat panjang yang akan membuat kepalanya pusing. Entah sudah habis berapa puluh juta ia menghabiskan uangnya untuk Erlin. Yoga sendiri tidak mempermasalahkan hal itu. karena dia kan punya kartu debit tanpa batas yang bisa ia gunakan semaunya.
Sebenarnya, sudah lama ia tidak menyukai sikap Erlin yang selalu minta dibelikan ini itu, Tapi mau gimana lagii, bagaimana pun juga dia kekasihnya. Sempat beberapa kali Yoga memutuskan hubungan nya, tapi berbagai cara Erlin lakukan untuk tetap menjadi pacarnya.
"Yaelahh.. gue lupa save nomor Diandra lagii.. gara gara si Erlin nih ngajak ribut mulu,," gerutu Yoga yang sempat di dengar oleh kawan-kawannya.
"Yang pakai motor matic tadi itu buat gue aja, loe kan udah punya cewek. serakah amat loe jadi anak.. " ucap salah satu temannya menggoda.
"Mau cari ribut loe ama gue.. " gertak Yoga dan balas gelak tawa teman-temannya.
"Ya loe harus pilih salah satu lah, jangan kek gitu.. kasian si Diandra..pernah dimanfaatin ama si Ricky..ehh sekarang ganti loe yang mainin dia.." ucap Jihan memperingatkan.
Yoga hanya diam termenung memikirkan apa yang barusan temannya katakan.
Diandra berhasil mendapat tempat tersendiri di hati Yoga, berbeda dengan Erlin ,ia hanya mendapatkan apa yang ia mau ,tapi tidak dengan hatinya. Yoga sempat mempunyai perasaan terhadap Erlin yang awalnya pendiam dan polos.. tak taunya.. makin kesini makin ketauan sifat aslinya dan cepat atau lambat.. Yoga akan memutuskan Erlin. Apapun yang terjadi.
Diandra berkumpul dengan keluarganya di ruang televisi, tengah gelisah menatap ponselnya nya.. pasalnya, Yoga yang meminta nomor tadi siang tidak menelepon atau sekedar mengirimkan pesan sampai detik ini.
*K*ok nggak ada tanda-tanda dia WA gue sih..kan dia tadi minta nomor gue.. gumam diandra dalam hati.
Kak Juna yang hapal betul dengan mimik wajah Diandra yang tengah gusar hanya menatap tajam.
"Bu ,Ayah, Kak Juna, Kakak Ipar , Dindra kekamar dulu ya.. ngantuk banget nih .." kata Diandra seraya melangkahkan kaki menuju kamarnya dilantai atas.
Ngantuk apa ngantuk.. " seru Kakaknya.
"Ngantuk Kakakkkkkkk.... hoooaaaammmmm tuhh nguap.. " kata Diandra mencoba untuk menguap.
"Palingan juga baca novel ..kok tumbenan banget jam segini tidur.. " kata Ibu serasa tertawa.
__ADS_1
Diandra hanya tersenyum seraya menaiki tangga.
"Tuh anak ya.. baca Novel. ..mulu," kata Ayah sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya pak.. Ibu aja liatnya ikut pusing.. buku bukunya banyak banget dikamarnya,," tambah Ibu..
"Biarkan saja, Bu,, asal tidak pacar pacaran, " kata Kak Juna tegas. Memang Juna melarang adik kesayangannya itu untuk berhubungan dengan lelaki. Bagi kak juna usianya terlalu kecil untuk mengerti urusan percintaan. Juna takut hal yang tidak diinginkan terjadi, karena sekarang marak beredar berita anak seusia adiknya hamil diluar nikah. Dan Juna sangat waspada akan hal itu jangan sampai adiknya terjerumus ke dalam gelap nya tipu dunia.
Diandra tengah berada di atas kasur empuknya sambil menatap layar handphone yang berukuran 5 inch dengan gelisah, Dia sedang menunggu pesan dari Yoga.
"Kenapa nggak telepon sihh,,!! " gumam Diandra kesal.
Akhirnya, Diandra memutuskan untuk bangun dan menuju meja belajar untuk membaca Novel. Sambil sesekali melirik kearah dimana handphone-nya berada. Hal itu menjadikan dia gagal fokus untuk bisa masuk kedunia halunya novel. Diandra menggela nafas beratnya.
"Gue tidur aja kali ya.. jam berapa sih ini... baru jam 9 tapi,," kata Diandra seraya melihat jam dinding di kamarnya.
Ia kembali ke tempat tidurnya, mengecek apakah ada pesan masuk.
"Iihhh.....menyebalkan sekali.. hanya ada pesan dari group,!!" gumam Diandra.
"Apa dia sibuk chat dengan si Erlin???," tebaknya dan kemudian ia ingat akan sesuatu.
"Astaga.......kenapa gue bisa lupa kalo dia punya pacar.. bodohhh... bodohhhh... gue bodohhhhhhhhhh,,!!!" gumam nya lagi seraya memukul kepalanya.
Akhirnya dia memutuskan untuk main game di hape sampai kantuk menyerang dan kemudian ia tidur lelap sampai pagi.
***
Yoga yang baru sampai di garasi sedang memarkir motor sport kesayangan tengah ditatap tajam oleh Kak Cita di ambang pintu. Dia memutuskan untuk pulang ketika udara dingin malam hari mulai menusuk tulangnya.
"Terus aja terusss keluyuran ngga jelas.. habisin uang ,pulang malem," cetus Kak Cita yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Apaan sih.. " jawab Yoga melewati Kakaknya tanpa permisi.
"Ehh.. meskipun loe punya ATM tanpa batas, bukan berarti loe seenak nya gunain kartu loe itu,!!!" seru Kakaknya lagi yang menghentikan langkahnya.
"Kok loe bisa tau.. " tanya Yoga sambil mengernyit heran.
"Loe lupa kalo papa menyerahkan sepenuhnya tanggung jawabnya ke gue.. termasuk keluarnya uang loe, !!!! Loe gunain berapapun gue tau.!!" kata Kak Cita sinis.
"Oooohh... " jawab Yoga seraya melangkahkan kakinya lagi.
"Kalo loe kerjanya cuma buang buang uang nggak jelas.. gue akan blokir atm loe,,!!!" gertak Cita.
"Nggak habis pikir gue ama anak jaman sekarang, sebulan bisa habis 100 juta itu buat apa..!!!! dia mikir cari uang itu semudah cari daun kering." tambahnya lagi.
Yoga pun hanya mendengarkan celotehan kakaknya itu. Sebenarnya kalau dihitung hitung ia hanya menghabiskan 3 juta perbulan untuk uang jajan, tetapi semenjak ada Erlin uang yang dihabiskan tidak sedikit membuat Kak Cita curiga akan hal itu.
.
.
.
.
.
.
.
*π₯π₯terimakasih sudah mampir ke karya perdanaku... jangan lupa like dan komen ya.. ditunggu kritik dan sarannya.... π₯π₯π₯π₯
__ADS_1
salam hangat dari author untuk kalian semua. πππ***