
"Tidak, Pak!!!" teriak Pak Teguh dengan suara lantang nya.
"Kenapa kamu tidak mau?" tanya Pak Guna.
"Perusahaan ini saya bangun dari awal dengan jerih payah saya sendiri, Pak Guna Herlambang." ucap Pak Teguh penuh emosi.
"Kalau begitu, bayar hutang anak mu sekarang juga!!!"
"Oke..tunggu sebentar !! Saya akan mencari pinjaman uang secepatnya."
"Hahaha....mau pinjam uang kemana lagi, semua perusahaan di Negara ini sudah ada di bawah kendali saya." ucap Pak Guna dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Bagai jatuh tertimpa tangga pula, Pak Teguh benar benar bingung harus berbuat apa lagi saat ini. Di sisi lain perusahaannya sekarang sangat kritis bahkan bisa di bilang akan gulung tikar, di tambah lagi dengan khasus anaknya yang hamil di luar nikah dan harus membayar hutang ratusan juta.
"Bagaimana, Teguh?? Apa kamu rela memberikan perusahaan mu yang bangkrut itu kepada ku??" tanya Pak Guna lagi.
"Entahlah, rasanya mau mati saja." jawab Pak Teguh penuh emosi.
"Kalau kamu tidak mau memberikan perusahaan properti milik mu, Maka sebagai gantinya anakmu ini yang sedang berbadan dua ini hidup di balik jeruji besi selama 5 tahun lamanya.. mau?"
"Permainan macam apa ini, Pak Guna Herlambang??" tanya Pak Teguh geram. Wajah nya kali ini benar benar merah.
"Permainan kamu bilang? Hey Teguh ! Ini semua tidak akan pernah terjadi kalau anakmu itu tidak meminta uang kepada anak saya!" ucap Pak Guna ikut tersulut emosi.
"Dan satu lagi yang harus Pak Teguh tahu, Pak Teguh akan mendapatkan modal 100 juta untuk membuka usaha baru," ucap Mr.C meluruskan masalah.
"Bukankah kesempatan emas bagimu, Teguh?? mendapatkan modal seperti itu" kata Pak Guna menatap tajam kearah Pak Teguh.
"Jadi anak saya tidak akan masuk penjara??" tanya Pak Teguh.
"Oo tidak, Anakmu tidak akan masuk penjara kalau kamu mau memberikan perusahaan properti milik mu."
"Lantas apakah saya tetap membayar hutang ratusan juta itu??" tanya nya lagi.
"Tidak perlu, Pak Teguh." ucap Mr.C
"Ahh ..kenapa menjadi seperti ini?" gerutu Pak Teguh.
"Sudahlah, tidak perlu banyak pikiran," ucap Pak Guna lagi.
"Baiklah.. saya menerima permintaan Pak Guna, asal jangan berikan beban pada putriku yang sedang hamil."
"Kalau begitu, saya pulang dulu, Oh dan satu lagi.. segera pertemukan Erlin dengan pacarnya, Saya akan kasih pelajaran untuk laki laki kurang ajar itu".
"Bagaimana bisa?? Bahkan saya tidak mengenal nya, Pak!" ucap pak Teguh.
"Hm.. Baiklah, saya yang akan mengatur waktu nya."
Pak Guna dan Mr.C meninggalkan rumah pak Teguh dan kemudian menuju kantor pusat nya.
"Apa yang kau lakukan, Nak?" tanya Pak Teguh menatap sendu ke arah Erlin.
"Hiks..hiks.. Ini semua karena Yoga tidak memberikan kepuasan padaku, Pah!" ucap Erlin.
"Kenapa kau menjadi kan dia kambing hitam ? bukankah sebelum menikah, kau sudah berhubungan dengan kekasih mu!"
Erlin tersentak kaget mendengar nya.
"Ee...sudah lah, Pa ! tidak perlu di bahas lagi , nasi sudah menjadi bubur." kilah Erlin sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit beberapa centi.
"Lantas bagaimana dengan nasib bayi yang kau kandung?? Ia akan lahir tanpa seorang ayah,"
"Erlin akan meminta pertanggung jawaban kepada Edward, Pah."
"Terserah kau saja, Papa sudah pusing..apa salah ku sampai sampai mendapatkan musibah seperti ini??"
"Maafkan Erlin, Pah..ini semua salahku," ucap Erlin menangis tersedu-sedu.
"Sudah..sudah.. jangan terlalu memikirkan hal lain, sekarang fokus kepada anak di dalam perut mu..jangan sampai kau gelisah, kasihan dia, pasti dia akan ikut sedih"
Erlin hanya mengangguk pelan dan kemudian pamit untuk masuk ke dalam kamar nya.
***
Di tempat lain di kediaman Guna Herlambang, Yoga tengah berbincang dengan Bi Sumi. Membicarakan tentang Erlin.
"Bi, kenapa bisa bibi mengintip aktivitas ku dengan Erlin?" tanya Yoga menatap Bibi.
"Waktu Mas Yoga dalam pengaruh obat jahat kan belum makan sama sekali, jadi saya khawatir kalau mas Yoga pingsan."
"Ck...benar benar keterlaluan si Erlin,"
"Dia seperti cacing kepanasan, Mas Yoga!! Saya sampai merinding lihatnya" ucap Bibi mengingat kejadian itu.
"Hahaha... Bibi ih ekspresi nya gitu banget"
"Saya geli sendiri kalau mengingat kejadian itu," ucap Bibi tersenyum malu.
"Hmmmm, tapi ada untungnya juga loh, Bi.. Yoga bisa jauh jauh dari dia..ya nggak?"
"Benar, Mas Yoga"
"Tapi kasian juga kak Cita, cowoknya yang jadi tersangka," gumam Yoga kemudian.
"Hmmmm....rumit sekali kehidupan manusia sekarang ini" ucap Bibi sambil mengelus dada.
"Udah ah, Bi ..bibi makin ngaco ah kalo ngomong, Yoga ke dalam dulu."
Sementara di perusahaan GH Group. Cita yang baru saja selesai meeting penting sekarang berada di dalam ruangan nya. Ia tengah menangis tersedu-sedu karena, lelaki yang begitu di cintai nya sudah melukai perasaan nya.
Nampak ia menghubungi Edward.
tuutttttttt....tuuutttttttttt....tuuutttttttttt
"Halo, Sayang" ucap Edward di seberang sana.
"Kurang ajar sekali kau, Edward."
"Why?? apa salahku? Kenapa kau menangis seperti itu, Sayang?"
"Aku sudah sangat mempercayai mu, tapi kenyataannya kau di belakang bermain dengan berbagai jenis wanita liar,"
"What? apa maksudmu?"
"Tidak perlu berpura-pura tidak tahu, Edward..kau telah...
toktoktok...
"Mbak Cita, di suruh ke ruangan Pak Guna sekarang!" kata sekretaris memberi tahu.
Cita pun langsung mematikan telpon nya dan segera menuju ke ruang Papanya.
"Ada apa, Pah?"
"Papa baru saja mendapatkan kabar terbaru, bahwa Edward sekarang dalam pencarian polisi." ucap Pak Guna memberitahu.
"Ke..kenapa??" tanya Cita membelalakkan matanya.
"Karena dia telah membawa kabur mobil orang, dan sekarang tugasmu adalah pertemukan Papa dengannya,"
"Mana mau dia bertemu dengan Papa?"
"Ck...kamu cari akal sendiri, yang pasti hari ini harus bertemu tatap muka dengan nya langsung."
"Baiklah."
Cita kemudian kembali ke ruang kerjanya dengan perasaan yang tak karuan. Di sisi lain, hatinya masih menyimpan nama Edward dan enggan untuk melepaskan nya. Tetapi di dalam akal sehatnya, Ia mengharuskan untuk melepaskan Edward untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya di rana hukum.
Ia kemudian menuju ke tempat yang nantinya Edward dan dirinya bertemu. Dan bukan Cita namanya kalau tidak bisa merencanakan sesuatu untuk menjebak Edward.
__ADS_1
Di suatu Restauran. Cita saat ini tengah menunggu kedatangan Edward. Ya, Cita berhasil membujuk Erdward untuk bertemu karena suatu alasan.
10 menit kemudian.
Dengan di antar sebuah ojek online, Edward datang menggunakan topi serta masker di wajah nya.
"Haloo, Sayang." sapa Edward sembari duduk di depan Cita.
"Kok naik ojek? Mobil aku kemana?" tanya Cita heran.
"Astaga, tadi tiba-tiba di jalan mogok, Sayang..jadi aku cari ojek biar cepet datang kesini." ucap Edward beralasan.
"Ooh, terus kenapa muka kamu di tutup seperti itu?"
"Lagi flu, Sayang !! Nanti bersin bersin nggak enak kalau di depan kamu."
Pintar sekali mulutnya beralasan, sama persis dengan gadis menjijikkan itu. Batin Cita tersenyum licik.
"Baiklah." jawab Cita seraya tersenyum simpul.
"Oh ya, tadi kenapa kamu di telepon menagis seperti itu?" tanya Edward panik.
"Sudah lah, tidak perlu di bahas lagi, Oh ya kamu mau pesan apa?" tanya Cita membolak-balik an buku menu.
"Sama in aja sama kamu, Sayang."
"Emm...kamu tau kalau kamu di Indonesia punya saudara tiri?" tanya Cita seperti hendak mengintrogasi.
"Siapa itu? sepertinya tidak, saudara tiri ku ada di luar Negeri semua, Sayang."
"Oh..jadi kamu punya saudara tiri berapa?" tanya Cita.
"Banyak lah, Sayang !! Kenapa kamu menanyakan hal itu?"
"Aku kemarin bertemu dengan saudara tirimu.. Dia tengah berbadan dua."
"What?? benar kah??" ucap Edward tak percaya.
"Iya, dia sekarang hamil usia 5 bulan."
"What?? Senang sekali aku mendengar nya"
"Bolehkah aku bertemu dengannya?? aku ingin memberikan ucapan selamat padanya!" ucap Edward sangat antusias.
"Wah..dengan senang hati, Edward."
"Dengan siapa dia menikah? Usia berapa dia sekarang?"
"Emmm.. Dia sudah menikah dengan adik temanku, tetapi dia hamil dengan selingkuhannya.. Dia berumur sekitar 17 atau 18 tahun lah..masih kecil sekali." ucap Cita.
"What?? berani beraninya laki laki itu menghamili saudara ku !!"
"Hahaha..benar sekali, Edward.. lelaki itu memang sangat keterlaluan, dan mau tidak mau, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya itu."
Edward menahan amarahnya, terlihat dari tangannya yang mengepal kuat. Dan suatu keberuntungan bagi Cita karena ia tidak perlu bersusah payah untuk membuat Edward masuk ke dalam jebakannya.
Memang beberapa jam yang lalu, Cita masih sangat mencintainya. Tetapi tidak dengan saat ini. Perasaannya sudah hilang begitu saja tanpa ada yang tersisa sedikit pun. Dan bahkan, saat ini Cita sangat membencinya. Bahkan dulunya tatapan mata Cita yang penuh cinta, sekarang berganti dengan tatapan kebencian terhadap lelaki itu.
"Kalau begitu, maukah kamu menjenguknya? Saat ini dia begitu terpukul dengan kejadian itu, dia di ceraikan oleh suaminya." ucap Cita tiba tiba.
"Boleh, mari kita kesana, aku tidak sabar ingin melihat dia tersungkur di lantai akibat pukulan keras tanganku." kata Edward seraya berdiri dari tempat duduknya.
Bersemangat sekali kau, Edward.. setelah ini kamu akan mendekam dalam tahanan. Batin Cita.
Di dalam mobil Cita.
"Oh ya, Edward.. lalu mobilku kamu bawa ke bengkel mana??" tanya Cita sambil memainkan ponselnya.
"Ha?? Emm...Itu...Dii...Dii.."
"Dimana??"
"Di bengkel pinggir jalan, deket sama hotel aku." jawab Edward gelagapan.
Mereka menuju kediaman Teguh. Disana sudah ada pak Guna besarta pihak kepolisan yang sudah menunggu di dalam mobil.
"Nah itu, rumah yang ada mobilnya." ucap Cita memberitahu.
Edward masih belum sadar akan jebakan yang sudah mengintainya. Ia masih dengan santainya berjalan ke arah pintu masuk rumah pak Teguh.
"Sayang, apakah ini rumahnya?" tanya Edward.
"Benar, ini rumah saudara tirimu." jawab Cita sambil tersenyum kecil.
Merekapun masuk ke dalam rumah saat Bibi pembantu membukakan pintu dan mempersilahkan masuk.
Tak lama kemudian, pak Teguh pun menemui nya.
"Ada apa, Nona Cita?" tanya pak Teguh heran.
"Ada yang ingin bertemu dengan saudara tirinya," ucap Cita setengah tersenyum licik.
"Siapa dia?" tanya pak Teguh lagi.
"Edward..anak tiri mantan istrimu."
"Oh,,, jadi kau yang...."
"Tahan dulu, pak Teguh.. panggil anakmu kesini untuk menemui Kakak nya" ucap Cita memotong pembicaraan Pak Teguh.
"Baiklah, Bi..panggil Erlin kesini," ucap Pak Teguh kepada pembantu nya.
Edward yang mendengar naman Erlin menjadi salah tingkah.
"Erlin?? Erlin siapa, Sayang?" tanya Edward panik.
"Sudahlah, lihat saja.."
Tak lama kemudian, Erlin keluar kamar dengan menggunakan daster tipis yang semakin membuat tubuhnya terlihat kalau sedang berbadan dua.
Baik Edward maupun Erlin, sama sama membelalakkan matanya. Mereka berdua terkejut. Lebih-lebih Edward sekarang menjadi dobel terkejut karena melihat perut Erlin yang sedikit membuncit.
"Honey? kau hamil? Siapa yang melakukan nya?" tanya Edward dengan nada khawatir.
"Yang pasti pacarnya lah, siapa lagi kalau bukan kamu" ucap Cita lantang.
"No..!!! Aku tidak pernah melakukan hal itu!!" bantah Edward.
"Lantas siapa lagi??" tanya Cita dengan tatapan mata tajam.
"No..No.. bukan aku, Sayang , Dia di hotel tidur dengan banyak lelaki untuk mendapatkan uang." jawab Edward jujur.
"Bohong!! Aku tidur denganmu saja!!" teriak Erlin.
"Aku berani sumpah!!" ucap Edward dengan yakinnya.
"Lantas kalau bukan Edward, siapa lagi yang menghamili anak kecil itu?" tanya Cita sedikit heran.
"Aku sekarang jujur, Memang aku sering berhubungan badan dengannya, tetapi aku selalu pakai pengaman, Sayang."
"Itu semua tidak benar, Kak Cita!!!" bantah Erlin dengan tatapan mata membunuh ke arah Edward.
"Aduhhh.. gimana sih, tinggal bilang yang sebenarnya saja pakai berbelit-belit semua." gerutu Cita.
"Aku yang jujur, Kak !! Aku tidak berhubungan dengan banyak pria.. ha..hanya dengan Edward saja." ucap Erlin sambil terisak-isak.
Edward yang melihat kejadian itu kemudian hanya diam. Karena memang salah dia beberapa kali tidak memakai pengaman saat berhubungan dengan Erlin.
"Kenapa kau diam saja??" tanya Cita yang membuat Edward terkejut.
__ADS_1
"Lalu siapa yang menghamili putriku?" tanya Pak Teguh tersulut emosi.
"Baiklah .. Saya yang melakukan nya, tetapi saya tidak menyangka akan seperti ini. kami...kami berhubungan hampir 1 tahun lamanya baik baik saja," ucap Edward mengaku.
"Oh.. bagus lah." ucap Cita sedikit lega mendengar pernyataan dari Edward langsung.
"Lalu apa kau juga mengakui bayi yang di kandung anak saya??" tanya seorang Ibu-ibu bersama dengan gadis cantik yang tengah hamil juga. Mereka tiba-tiba muncul di depan pintu rumah pak Teguh.
"Mita???" ucap Erlin membelalakkan matanya.
Mita adalah teman satu geng Erlin yang ada di sekolahnya. Mita mengenal Edward beberapa waktu yang lalu saat mereka berada di klub malam.
"Saya tidak mengenal nya," ucap Edward.
"Bohong, kamu sangat mengenalnya. bukankah kalian sering jalan berdua? kamu sering kan datang ke rumah saya untuk mengajaknya keluar." seru ibu-ibu itu.
"Saya kira kamu pengusaha kaya raya, terlihat dari wajah tampanmu dan pakaian yang kamu kenakan seperti seorang bos. Eeehh nggak tau nya penipu ulung." tambahnya dengan nafas memburu karena emosi.
"Apa benar itu, Edward?" tanya Cita membentak keras.
Edward hanya mengangguk mengiyakan saja.
"Kau bawa kemana mobil anakku, Hah??" tanya Ibu-ibu itu sambil melotot.
"Ada di rumah." jawab Edward dengan santainya.
"Rumah siapa? Bukankah kau di Indonesia tinggal di hotel? di sini kau tidak punya sanak saudara kan?" tanya Cita seolah memojokkan.
"Ada di parkiran hotel maksud saya.", jawab Edward ngawur.
"Lantas yang saya pakai di depan itu mobil siapa, Pak Edward.!!" ucap seseorang.
Semua yang ada di ruangan itu tersentak kaget termasuk Cita. pasalnya, Pak Guna saat ini membawa pasukan yang masing masing membawa bukti kuat bahwa Edward sekarang dalam pencarian polisi.
"Bukannya pak Edward sudah menjualnya beberapa hari yang lalu kepada saya dengan harga 150 juta??" tambahnya lagi.
"Apa??? Apa benar itu Edward??" tanya Cita tak percaya.
"Tidak... itu tidak benar." jawab Edward.
"Bahkan mobil Cita juga sudah kau jual untuk kepentingan pribadi mu" ucap pak Guna tiba-tiba.
"Bahkan di Negara asalmu sana ,kamu sudah menjadi buronan karena kasus mu. Ya kan?" Mr.C menambahi.
Edward mencoba untuk kabur dari rumah pak Teguh, tetapi hari ini sudah menjadi hari akhirnya menghirup udara bebas sebelum masuk ke dalam jeruji besi.
Di luar sana , sudah ada beberapa polisi yang siap meringkus tersangka kasus dugaan pencuri an mobil dan penggelapan uang perusahaan.
Tak butuh waktu lama, Edward di ringkus polisi karena bukti kuat yang di bawa pak Guna.
Sekarang tinggal Erlin dan Mita yang meratapi nasibnya sendiri. Hamil dengan laki-laki yang sama. Menyesal pun percuma karena memang dasarnya kelakuan liar mereka sendiri lah yang menjerumus dirinya menjadi seperti ini.
***
Sementara di kediaman Guna Herlambang, Yoga sedang menikmati kebebasan nya selama kurang lebih 4 bulan lamanya ia menjadi suami Erlin. Meskipun Yoga tidak pernah menganggap bahwa Erlin adalah istri nya, tetapi kehadiran Erlin di rumahnya membuatnya menjadi sedikit terkekang.
"Besok, gue akan menemui Diandra!" gumam Yoga pelan.
Seperti mendapatkan semangat baru, Yoga ingin kembali mengejar cintanya. Cinta yang selama ini menjauhi nya.
Ke esokan harinya di SMA 08.
Diandra tampak bersantai di depan kelas bersama teman temannya. Mereka sedang menikmati kebebasan jam kosong karena para Guru sedang mengadakan rapat di gedung Guru.
"Put, elo di lihatin sama Yoga terus tuh di sana," ucap Nuril berbisik.
"Biarin ah."
"Tapi kok gue ga pernah liat *** ayam masuk sekolah ya,"
"Ck, ngapain sih bahas mereka" ucap Diandra malas.
Tampak dari kejauhan, Yoga melambaikan tangan memanggil Nuril untuk mendekat ke arahnya.
"Eh bentar bentar,"
"Kemana?" tanya Diandra heran.
"Gue di panggil Yoga tuh, bentar." ucap Nuril seraya berjalan pelan ke arah di mana Yoga berada.
"Ada apa?? tanya Nuril dengan mengibaskan rambut panjang nya.
"Gue pengen cerita ama loe." ucap Yoga memulai pembicaraan nya.
"Apaan , cepet..nanti perempuan loe marah marah lagi," kata Nuril celingukan.
"Mana ada, ga bakalan masuk sekolah lagi dia" ucap Yoga dengan santainya.
"Hah?? kenapa??" tanya Nuril kepo.
"Dia hamil sama pacarnya."
"OMG !! yang bener loe?? kan elo lakinya masa sih hamidun sama orang lain" ucap Nuril tak percaya.
"Di bilangin juga. Udah deh.. ceritanya nanti aja kalau udah sama Diandra, sekarang gue minta tolong bantu in gue temuin sama dia."
"Oke deh.."
Sementara di depan kelas Diandra tengah heboh akan postingan Erlin di Instagram pribadinya. Ia tengah memposting foto di depan cermin sambil memegang perut buncitnya.
"Ehh....ini si Erlin bukan sih?? si anak IPS itu, ehh dia hamil nih.." ucap salah satu teman Diandra.
"Liat coba.... Eh iya loh dia hamil ...ihhh sama siapa ya,"
"Apa jangan jangan dia hamil duluan lagi...iihhhh.. "
"Eh tapi setau gw, dia itu kan cewek nya anak IPS juga ,yang pakek motor sport itu loh."
Beberapa teman sekelas Diandra pada heboh, tetapi tidak dengan dirinya. Hatinya benar-benar terasa sakit mendengar kabar itu. Meskipun mulutnya mengikhlaskan cintanya menikah, tetapi hatinya masih berkata lain.
Tiba-tiba butiran air menetes di pipi tanpa ia sadari.
"Putri...kenapa loe nangis?" tanya salah satu temannya.
"Hah?? Eh...enggak kok, kena debu aja , mata gue sensitif soalnya." ucap Diandra tersenyum simpul sambil mengusap air matanya yang menetes.
Tampak Nuril berjalan pelan mendekati Diandra.
"Huh ...panas banget ya hari ini ,gw lupa pakai sunblock lagi." ucap Nuril super centil.
"Ye...panasan berita ini lah.." sahut salah satu temannya.
"Apaan.???" tanya Nuril ingin tahu.
"Itu si Erlin ngepost foto hamidun."
"What the prett??? Beneran? Liat coba." ucap Nuril heboh minta ampun.
"Oh my God. beneran..ihh dasar *** ayam ngga tau malu ..juuiihhhhhh"
"Sama siapa kira kira dia ngelakuin itu ya???" ucap salah satu temannya.
"Ya jelas sama pacarnya lah," jawab Nuril tanpa sadar.
"APAAAAAA???" seru mereka bersamaan.
"Husss..mulut kalian ini,"
"Berarti si Yoga dong yang ngelakuin." ucap temannya.
__ADS_1
Yang sedari diam saja tidak berkomentar tiba tiba pergi menuju toilet dengan sedikit berlari. Siapa lagi kalau bukan Diandra, dia merasa benar benar sakit hati mendengar itu semua. Percaya atau tidak kali ini dia benar-benar sakit hati di ujung tanduk.
Entah sakit hati di ujung tanduk itu modelnya gimana..hehehe..