
Author POV
teettttttt... teeeetttttttt...teeetttttttt
Tak lama ber masuk berbunyi. Mereka pun segera duduk di bangku masing masing menunggu Guru mapel jam pertama masuk ke kelas sambil melakukan aktivitasnya masing - masing.
Ada yang sibuk dengan ponselnya, ada yang sibuk ngrumpi dengan teman satu bangkunya, ada yang melamun, dan ada yang sibuk dengan rambutnya seperti Nuril yang tengah asyik menyisir rambut nya .
"Udah ah dandan nya, kesita lagi tuh sisir,," ujar Diandra memperingati Nuril.
"Iya iya ah bawel banget, kan kalo belajar harus syantik.. rambut kalo rapi gini enak dipandang mata,, " jawab Nuril yang masih sibuk menyisir rambutnya.
"Ya kalo loe di panggil lagi ke ruang BK jangan ajak gue ..capek gue nasehatin loe" ketus Diandra seraya mengeluarkan buku dalam tasnya.
"Hehehe... iya iya ..udah nihh.. udah gue masukin dalem tas" Nuril cengengesan.
Tak lama kemudian Guru mapel pertama dan kedua masuk kelas. Pelajaran pun di ikuti dengan baik sampai jam istirahat berbunyi.
tteeeeettttttt.... tteeeetttttttttt..... teeetttttttt
Diandra dan Nuril serta teman-teman yang lain segera menuju ke kantin untuk mengisi perut atau sekedar melepas dahaga.
"Loe mau pesen apa ?? gue traktir, Put" ucap Nuril.
"Emm.. es jeruk aja dehh.. di bungkus ya, nanti kita ngadem di bawah pohon deket lapangan" jawab Diandra sibuk dengan ponselnya.
"Nggak laper loe? Cacing loe ngga protes?" tanya Nuril.
"Nggak..tadi di rumah gue udah sarapan" jawab Diandra.
Nuril pun pesan makanan ke ibu kantin. Satu porsi nasgor, dua bungkus es jeruk dan tak lupa membeli gorengan untuk sahabatnya itu. Tak butuh waktu lama Nuril membawa pesanannya itu ke meja dimana Diandra menunggu.
"Akhirnya.... gue makan.. laper banget soalnya. .Nihh punya loe" kata Nuril sambil makan nasgornya..
"Makasih yakk sahabat akuu yang paling baik dan cantik, ehh inii gorengan?? buat siapa? "tanya Diandra.
"Buat loe..daripada loe ngiler liat gue makan." jawab Nuril dengan mulut penuh dengan beberapa sendok nasi.
"Iiisss.. kata opa mulut penuh jangan cakap,,"
"UPIN IPINNNN kali ah" jawab Nuril sambil tertawa ngakak karena melihat sahabatnya bicara seperti Opahnya upin ipin di TV.
"Udah buruan yuk ke lapangan keburu bell masuk nih, " ucap Diandra sambil berdiri.
"Iyaaaa... tinggal tiga sendokk ini nasinya,, mubadzir tauk kalo ngga habis"
"Ya udah gue tunggu di bawah pohon biasanya ya..hati hati itu makannya..jangan kek orang nggak pernah makan.. "ucap Diandra.
"Oke.. habis ini gue kesana.. "
Sesampainya di bawah pohon yang sangat rindang nan sejuk itu, Diandra meminum es jeruknya sambil memainkan ponsel. Tak lama kemudian tampak nuril berjalan pelan menghampirinya.
Haaaaiiiiikkkkkkkkkkkk....
"Kenyang gue ya ampun" kata Nuril sambil memegang perut nya. Diandra hanya menatap sekilas tanpa menjawab perkataan Nuril.
__ADS_1
"Ehh.. itu my baby Jihankuuu... emmm ganteng amat ciihh" kata Nuril sok imut.
Diandra pun mengikuti arah pandangan Nuril.
"Apaan sih ril.. lebay lu ah" jawab Diandra malas melihatnya.
"Yee biarinn, nggak boleh apa?"
"Loe nyebut my baby my baby apa dia itu pacar loe? punya loe? kalo dia punya pacar trus pacarnya tau loe kek gtu gimana? kata diandra menceramahi sahabatnya yang kegenitan itu.
"Hehehehe... kayaknya ngga punya cewek deh" tebak Nuril.
"Masih KAYAKNYA Kan? jangan genit kek gitu dehh.." balas Diandra judes.
"Ehh.. btw... itu yang jalan sama Ricky namanya siapa ya?," lanjut Diandra dengan ekspresi ingin tau sambil memandang lurus ke arah Ricky jalan.
"Yeee.. elo ngatain gue genit, loe sendiri apa kabar shayy hahha,?," Nuril sambil tertawa..
"Gue tanya namanya aja maemunahh... bukan genitt." jawab Diandra penuh penekanan.
"Hahaha... bercanda kali ah,,itu namanya Yoga, anak gang semut merah, belum punya cewe tuh kayaknya.."
"Oooooooo.... " jawab Diandra sambil manggut-manggut.
"Kenapa memangnya?" tanya nuril ingin tahu.
"Loe ngga tau siapa yang gue tabrak tadi?" tanya Diandra balik.
"Siapa memangnya?" tanya Nuril.
"Diaaaa.... siapa tadi kata loe.. Yoga?"
"Malu dong kalo ketemu dia sekarang," Diandra seraya menunduk.
"Lagian juga dia nggak kesini kan.. ngapain malu.. " kata Nuril kemudian.
tteeeeeetttttttttttttttt...... ttteeeeeeetttttttttttttt...
Bel masuk berbunyi. Segera mereka masuk kedalam kelasnya masing-masing begitupun dengan Diandra.
Guru killer sedang menerangkan pelajaran bahasa Indonesia di depan.
Diandra termasuk salah satu murid yang agak pintar dan kadang juga agak kurang mengerti di salah satu materinya, jadi dia memilih fokus memperhatikan guru yang tengah menerangkan di depan.
Berbeda dengan Nuril, yang terlihat tengah sibuk dengan kuku kuku cantiknya tanpa memperhatikan Guru killer di depan. Entah sudah berapa kali Guru killer melirik Nuril karena kesibukkannya itu. Yang jelas namanya sudah di catat di buku peringatan.
Ya memang Guru killer yang satu ini mempunyai cara tersendiri untuk menegur muridnya. Dengan memiliki buku khusus mencatat nama murid yang tidak memperhatikannya ketika menerangkan pelajaran di depan. Alamat jelas Nuril akan di panggil ke kantor untuk kesekian kalinya..
teeeettttttttt.... teeeeettttttttttttttttttt..........
Bel pulang berbunyi. Diandra segera memasukkan bukunya kedalam tas.
"Nuril Cahaya Nusantara.. kamu keruangan saya sekarang,!" kata bu Lis alias Guru killer itu.
"Ya bu" jawab Nuril mengiyakan.
__ADS_1
"Duh ****** gue" gumam nuril pelan.
"Hahaha... kasian deh loe.. dah ah gue kelapangan dulu,"kata Diandra.
Nuril pun menatap Diandra dengan cemberut.
Di lapangan Diandra sedang mengikuti ekstrakurikuler di sekolahnya. Yaitu bola volly.
Saat sedang asyik latihan dengan temannya, Diandra melihat Yoga dan Ricky melintas pulang sekolah tepat di hadapannya.
Entah apa yang di bicarakan mereka berdua sampai begitu asyik tanpa melihat diandra yang di lewatinya.. manis sekali batin Diandra dalam hati dan mengapa dia merasakan ada sesuatu yang aneh di dadanya semenjak kejadian tadi pagi yang sangat memalukan itu.
Ingin rasanya diandra mengenal Yoga lebih jauh, tapi sepertinya tidak akan bisa. Karena Diandra tau dia bukan lah level seorang Yoga.
Dari cerita Nuril, Yoga terkenal di dekati banyak cewek di sekolah. Berwajah tampan, berkulit sawo matang dan tentunya anak konglomerat. Tapi dia mempunyai daya tarik tersendiri ketika dia tersenyum dan Diandra tertarik akan hal itu saja bukan dengan kekayaan nya.
"Dorrrrrr... nglamumin ape loe?" getak Nuril
"Eehh.. enggak," jawab Diandra kembali memainkan bola.
"Udah deh nggak usah di tutup tutupin,, gue sahabat loe dari jaman loe masih ingusan, jadi gue tau loe kenapa kenapa" kata Nuril sok tau.
"S****ok tau looo" jawab Diandra.
"Kalo loe tau, coba tebak gue kenapa?," Diandra menantang.
"Loe suka sama dia kan,?" jawab Nuril enteng sambil menunjuk ke arah parkiran dimana Yoga dan Ricky duduk.
"Heehhh... bambang... ngapain nunjuk nunjuk..isss...nggak asyik loe.. kan malu kalo ada yang tau," kata Diandra sambil celingukan .
"Hehehe.. maaf maaf.. iya kan loe suka ama Yoga kan..halahh ngakuu" selidik Nuril lagi.
"Gue nggak tau yang jelas gue tertarik ketika liat dia tersenyum." jawab Diandra sambil berjalan mengambil bola volly.
"Mau gue cari tau tentang dia?" tanya Nuril sambil mengikuti Diandra.
"Jangan comber loe, males gue kalo loe bilang bilang ke anak-anak yang lain"
"Tenang ajaa lahh." jawab Nuril santai.
"Terserah loe, terserah loe," ucap Diandra malas.
"Oke deh kalau gitu gue pulang dulu ya.. bye" Nuril melambaikan tangannya.
"Ehh elo naik apa pulangnya?" tanya Diandra.
"Supir gue udah nunggu di depan," jawab Nuril.
"Oh oke deh.. bye,"
jawab Diandra seraya memainkan bola volly lagi.
.
.
__ADS_1
.
.