
***
Kini hari hari Diandra di sibukkan dengan menjaga kedai kopi milik Ibu nya. Dia terlihat begitu lihai dalam meracik kopi pesanan pembeli. Awalnya, ia menjaga kedai itu seorang diri tetapi beberapa hari kemudian Ibu Ayu membawa satu karyawan yang ada di restoran untuk menjaga stand kopinya.
Rasa yang begitu nikmat dan juga menggunakan kwalitas bahan bahan yang premium, membuat kedai kopi yang baru buka beberapa hari itu sangat ramai akan pembeli. Bukan hanya kopi saja yang menjadi incaran penikmatnya, melainkan menu susu dengan banyak varian membuat anak anak juga turut menyerbu kedai itu.
Ibu Ayu dan Diandra sangat sibukkan dengan usaha barunya, hingga mereka melupakan tujuan awal mereka datang ke kota ini untuk liburan ke berbagai tempat wisata bersama keluarga nya.
Siang itu, kedai kopi sangat ramai pembeli dari arah pantai. Pasalnya, baru stand kopi milik keluarga Diandra saja lah yang ada di kota ini dengan banyak varian rasa. Sehingga pembeli dengan bebas memilih varian yang di inginkannya.
"Mbak...saya capek banget" seru Rina (karyawan baru di kedai kopi)
"Hehehe..masa gini aja udah capek pakek banget." jawab Diandra seraya tertawa kecil.
"Iya, Mbak.. rame banget dari pagi sampe siang ini.. udah 4 jam loh kita berdiri layanin pembeli" bisik Rita.
"Ya sudah.. sana duduk dulu, biar aku aja yang buatin pesanan" Kata Diandra.
"Iya, Mbak.. makasih..." Rita pun duduk sebentar karena ini pertama kalinya ia berdiri selama itu.
Berbeda dengan Diandra, justru ini kali pertamanya berinteraksi secara langsung dengan pembeli. Sesuatu hal yang baru untuk nya, Ia merasa senang tidak mengeluh sedikit pun. Tetapi saat di sudah di hotel ia langsung tidur sampai pagi. Mungkin karena kecapekan kali ya. Hehe...
Diandra menyukai aktivitas barunya itu sampai sampai ia melupakan sahabat nya Nuril. Nuril kini sudah berada di rumahnya. Ia sudah membalas DM Diandra tetapi belum juga Diandra menelepon nya. Sementara Diandra memilih mengganti nomornya dengan nomor baru, karena nomornya yang lama sudah tidak ia gunakan lagi. Alasannya ia lupa mengisi pulsa.. hehehe.
Bahkan Diandra tidak pernah menyentuh ponsel nya sedikit pun saat berada di hotel dan tidak membawa benda persegi panjang itu saat akan menjaga kedai kopinya. Begitu seterusnya sampai 1 minggu lamanya.
***
Di rumah Nuril
Ia sedang menikmati makan siangnya seorang diri sambil sibuk mengutak-atik ponselnya. Ia merasa jengkel karena sahabatnya itu tidak bisa di hubungi sama sekali sampai sekarang.
"Apa apa an sih Diandra..masa nggak bisa di hubungi sama sekali" Gumamnya.
Ia pun memilih meletakkan ponsel itu dan melanjutkan makannya. Tak berselang lama ponselnya bergetar tanda telepon masuk.
ddrrrrttttt... drrrrtttttt.... ddddrrrrrrtttttt..... 📞
"Siapa nih nomor baru?? apa Diandra kali ya."
Nuril pun langsung mengangkat panggilan telepon itu.
"Haloo ya ampunnn diannnn... loe
kemana aja sihh,, lupa loe ama gue..
hah?" ucap Nuril.
"Eh gue bukan Diandra.. hehe.." ucap seseorang di seberang sana.
"Hah?? siapa nih?" tanya Nuril bingung
"Gue Yoga, apa kabar loe, susah
banget di hubungi?" ucap Yoga.
"Hehe... iya nih gue kemarin lagi di rawat di luar negeri."
"Loe sakit apa, Ril? sampe di bawa.
kesana?"
"Enggak gapapa cuma typus aja kok tapi sekarang udah di rumah kok, ehh..
btw ada apa nih nelpon gue???" ucap Nuril.
"Emmm... gimana kabar Diandra?" tanya Yoga.
"Ya elah makanya itu gue nyariin dia,
masa nomornya nggak pernah bisa
di hubungi sih..bener bener tuh
anak"
"Emm... gue lagi bingung, Ril."
"Kenapa loe lagi berantem sama dia?"
"Bantu gue bilang ke dia, kalo gue
udah nikah sama Erlin."
"What the **** !!!! yang bener loe
gimana ceritanya sih, gila" ucap Nuril tak percaya.
Yoga pun menceritakan semuanya dari awal sampai akhir.
"Ya ampun, gaa..... loe tegaa ya ama
Diandra,, gue ikut sedih ga
dengernya.. asal loe tau, dia suka
ama loe sejak dulu,, tapi dia diem aja
melihat loe pacaran sama si *** ayam
itu" ucap Nuril menangis.
"Eh kok elo nangis sih, Ril?"
"Gue ikut ngrasain sakit hati ga denger
semuanya dan gue nggak tau lagi
reaksi dia gimana saat tau semua ini,"
"Tolong bantu gue, ril,, aku mohon
bantu gue jelasin ke dia yang
sebenarnya."
"Oke kalau gitu, gue bantu pelan pelan"
ttuuuuuuuuttttt
Telepon terputus. Selera makan Nuril lenyap begitu saja saat mendengar tentang kabar itu. Di saat dia udah punya bukti Erlin selingkuh sama bule dan belum menunjukkan kepada Diandra, di saat ini juga dia mendengar kabar yang di luar dugaannya bahwa Yoga telah menikah dengan Erlin. Padahal ia sudah membayangkan betapa bahagianya Yoga dan Diandra jika mereka bersatu.
"Diandra Putri.. nasib loe gini amat sihh." Gumam Nuril seraya meneteskan air mata kesedihan nya.
"Loe bakalan sedih lagi untuk kedua kalinya put ..gue ikut sedih.." Gumamnya lagi.
"Gue harus ke rumahnya.. Yaa.. gue harus kesana"
__ADS_1
Nuril langsung bangjut dari tempat duduknya menuju ke pos satpam dimana pak Diman berada.
"Pak Diman, tolong anterin saya ke rumah Diandra,, cepet nggak pakek lama" Kata Nuril dengan terburu-buru.
"Iya siap, Non Nuril," Jawab pak Diman seraya
berlari kecil ke garasi.
Tak butuh waktu lama mobil meluncur ke arah jalan merpati putih, arah rumah Diandra.15 menit kemudian, mobil telah sampai di depan rumah Diandra.
ting tong..... ting tong...
ting tong .....ting tong.....
Nuril memencet bel rumah Diandra.
"Aduhh kemana sih nggak di buka buka,," Gumamnya.
ting tong..... ting... tong...
Pintu pun terbuka.
"Cari siapa, mbaa??" tanya Bibi.
"Emm.. Diandra ada, Bi?"
"Enon Diandra sedang tidak ada di rumah, mbaa!" jawab Bibi sambil tersenyum.
"Lahh... kemana dia, Bi?" tanya Nuril bingung.
"Enon Diandra lagi di Kota Malang sama Ibu"
"Whatttt?? pulangnya kapan?"
"Sampai masuk sekolah ,kurang lebih 2 minggu lagi"
"Ya udah bi kalau gitu, saya pamit ya"
Nuril lemes seketika mendengar nya dan kemudian ia memilih untuk menelepon Yoga lagi untuk memberi tahu kalau Diandra ada di kota Malang selama liburan.
"Yaaa bakal sepi dong nggak ada loe, Put" Gumam Nuril.
"Terus liburan ini gue pergi kemana nih" Gumamnya lagi.
***
Di kediaman keluarga Guna Herlambang.
Yoga tampak melamun di meja makan. Ia baru saja mendapat kabar dari Nuril kalau Diandra pergi ke kota Malang selama liburan sekolah. Sepertinya ia begitu kehilangan keceriaan Diandra, sampai sampai masa masa di mana ia bercanda dengan Diandra terngiang-ngiang di kepalanya.
"Mas Yoga, ndak makan?" tanya Bi Sumi.
Yoga hanya menggelengkan kepalanya.
"Mas Yoga kenapa??bisa cerita sama bibi???"
"Diandra keluar kota, Bi..Yoga kangen saat bercanda sama dia dan Yoga lagi mikir, gimana reaksi dia kalau tau Yoga udah nikah"
"Owalah mas Yoga, yang sabar,, pokoknya cepat atau lambat, Mas Yoga harus bilang sama embak Diandra nya kalau mas Yoga ini udah menikah" Kata Bibi.
"Yaa" Jawab Yoga seraya mengaguk pelan.
"Bibi ke belakang dulu."
Tak berselang lama, Erlin yang melihat Yoga sendirian di meja makan melangkahkan kakinya kesana.
"Sayang.. kamu sedang apa?" Erlin menghampiri dan ikut duduk di samping nya.
"Sayang." Erlin memeluk lengan Yoga.
"Apaan sih, Er, ganggu orang aja" Ketusnya.
"Kok ngelamun sih?"
"Terserah Gue lah"
"Apa kamu nggak mau meminta hak kamu sebagia suami, aku udah siap kok sayang.. yukk ke kamar" ajak Erlin.
"Gila loe." bentak Yoga.
"Kok gila ? wajar dong aku ajak kamu ******** ,kan kita suami istri"
"Najis" jawab Yoga memalingkan wajahnya.
"Apa jangan jangan kamu nggak normal?? Iya????" Tebak Erlin ngaco.
"Ya.... emang gue nggak normal.. mo apa loe"
"Hahaha... mana mungkin kamu nggak normal, kemarin waktu aku pegang **** kamu ******* tuh ,,kamu ********** kan aku pegang kayak gitu?"
"Nggak." bantah Yoga.
"Ayo lah sayang,,, aku pengen di sentuh sama kamu" rengeknya manja.
"Gue bilang pergi..!!! pergi loe dari sini"
"Jadi Suami kok nggak pernah belai istri, Nanti istrinya di belai orang lain loh.." Gerutu Erlin memancing.
"Bodo amat, udah sana loe pergi,,"
"Ya udah iya.... aku pergi"
Erlin pun melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Liat aja nanti,, gue akan campurin obat ********** ke minuman loe,, dann malam ini loe dan gue akan aaaaa..... selama ini gue cuma merasakan ketangguhan Edward ,sekarang penasaran gue ama ketangguhan loe Yoga," Gumam Erlin seraya tersenyum licik.
Malam pun tiba.
Saat Yoga tengah mandi di kamar mandi tamu, Erlin mengendap-endap ke arah meja makan, ia celingukan menuju ke sana untuk mencampurkan obat ********* ke dalam minuman Yoga yang sudah di isi dengan jus jeruk. Bibi melihat apa yang di lakukan Erlin sejak tadi hanya mengernyit heran.
"Non, sedang apa?" Tanya Bi Sumi tiba-tiba.
Erlin yang yang terkejut akan kedatangan bi Sumi itu gelapan tak karuan.
"Eee... eeeemmm... ee ini... la.. lagi siapin makanan di piring Yoga bi, kan jarang jarang saya layanin suami sendiri. boleh kan?"
"Boleh kok, Non" Jawab bibi sambil tersenyum.
"Eee... hehhee.. Yoga kemana sih kok belum turun, keburu dingin nih makanannya." Ucap Erlin.
"Sebentar lagi juga turun non.mungkin lagi mandi," jawab bibi di dapur.
10 menit kemudian
Yoga turun menuju meja makan. Ia heran melihat Erlin yang berada di samping tempat duduknya.
"Tumben loe makan di sini" seru Yoga sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Iya aku mau makan sama kamu" jawab Erlin seraya tersenyum manis.
"Kak Cita mana ya kok tumben nggak makan?" seru Yoga celingukan mencari Kakaknyam
"Mbak Cita sedang bertemu client di restoran, Mas." jawab Bibi.
"Ooohh...Ya sudah,"
Yoga pun hanya memakan potongan buah yang di siapkan oleh bibi, sementara Erlin menatap penuh arti setiap gerakan tangan Yoga. Setelah menghabiskan beberapa potongan buah , ia meneguk jus yang sudah di sediakan bibi sampai tinggal setengah.
"Kok nggak di habisin sih.. kurang hot dong" Batin Erlin.
"Jus nya di habisin dong sayang, kek aku nih lihat ,jus aku udah habis segelas."
"Ya udah punya gue loe habisin, gitu aja kok repot" ucap Yoga seraya berdiri dari tempat duduknya meninggalkan Erlin seorang diri.
Kemudian Yoga memilih untuk main game di ponselnya di ruang tengah sambil menunggu kak Cita pulang. Erlin berjalan mendekati Yoga dengan membawa jus yang masih tinggal setengah gelas itu.
"Sayang..ini minumnya di habisin dong,, kan sayang kalo di buang," kata Erlin di samping Yoga.
"Ngapain sih loe bawa bawa kesini, orang juga biasa kok gue minumnya nggak habis," Jawabnya ketus.
"Aku kan mau cuci piring sayang, ini kamu habisin dulu, sekalian nyucinya..nih!"
Erlin menyodorkan ke depan muka Yoga.
"Ckkk... ganggu orang aja" gumamnya.
Yoga kemudian meneguk habis jus itu hingga tak tersisa setetes pun.
"Nih,, puas loe" ucap Yoga mengembalikan gelas kosong kepada Erlin.
"Nah gitu dong, kan nggak baik buang buang makanan." kata Erlin kemudian melangkah pergi.
"Kok aneh sih tuh anak" gumam Yoga pelan.
Erlin menuju dapur seraya tersenyum licik. Karena Yoga sudah meneguk habis minuman yang sudah di beri obat ********** itu.
"Hmmmm.... sebentar lagi obat itu bereaksi, dan gue harus siap siap kasih yang terbaik" Gumanya pelan.
Segera Erlin meletakkan gelas itu di meja makan lalu menuju kamarnya dengan tergesa-gesa, ia menyiapkan malam pertamanya kali ini sebaik mungkin.
Erlin tengah membersihkan diri di kamar mandi. Setelah itu ia memakai lingerie seksi transparan serta make up dan lipstik merah merona serta menggulung rambut panjangnya agat tidak mengganggu saat ber***** nanti.
Sementara itu, Di ruang tengah Yoga tampak mulai kegerahan, muka nya menjadi merah karena menahan hasratnya yang tiba-tiba memuncak. Obat yang di berikan Erlin secara diam-diam itu sekarang bereaksi dengan hebatnya. Sekarang muka Yoga seperti ingin menerkam mangsa.
Hebat sekali obat ********* itu.
Yoga kemudian berlari ke kamarnya, Ia mandi di bawah kucuran air yang dingin agar hasratnya yang memuncak itu bisa kembali normal. Tetapi sia sia saja, obat ********** yang di berikan Erlin dosisnya sangat tinggi. Bahkan air dingin pun tidak mampu membuat nya kembali normal, malah semakin menggila.
"Aaaagghhhhhhhhhh......gue kenapa?" Gumamnya sambil menahan sesuatu.
"Gue pengenn.... aaagghhhhhh...."
Ia menuju ke tempat tidur tanpa menggunakan pakaiannya. hasrat nya yang memuncak membuat ia ingin ber***** dengan lawan jenis, tiba-tiba wajah Diandra berlarian di pikiran nya. ia ingin ******** dengan nya.
tok tok tok...
Erlin muncul di depan pintu dengan pakaian seksinya,
Yoga yang mengetahui pintunya terbuka itu langsung membelalak kaget.
"Diandra" Gumanya pelan.
"Aku sangat merindukan mu" ucap Yoga lantang. Ia pun langsung menyerang Erlin dengan ****** ganasnya , lalu mengendong tubuh Erlin ala bridal style dengan terus ******* kasar bibir serta telinganya seraya berjalan menuju ke tempat tidur.
Erlin yang mendapat serangan seperti itu tak mau tinggal diam, ia ikut serta membalas setiap sentuhan dan ******* yang Yoga berikan padanya. Dengan paksa Yoga membuka lingerie yang di gunakan Erlin.
Wajah Yoga saat itu benar-benar seperti hendak menerkam mangsa. Ia langsung menyelundupkan wajah nya ke bawah sana yang membuat Erlin menggeliat tak karuan.
Tak hanya itu, Ia menjelajahi seluruh titik sensitif yang ada pada tubuh Erlin. Hingga akhirnya Yoga junior menerobos hutan rimba yang membuatnya melayang terbang.
Hampir 3 jam permainan itu berlangsung. Erlin sangat kewalahan di buatnya, Entah kenapa obat itu sangat lama reaksinya, padahal jika Edward yang meminumnya hanya bertahan setengah jam dan tidak seganas ini. Kali ini Erlin benar benar di buat kewalahan menghadapi musuh dalam selimutnya itu. Sampai sampai membuat bagian sensitif nya terasa perih dan sakit karena hentakan yang terlalu kasar, padahal bisa di bilang Erlin bukan lagi gadis perawan.
Yoga tergeletak lemas di samping Erlin, Ia telah terlelap karena pengaruh obat yang di berikan istrinya itu sangat lah menguras tenaganya.
Erlin yang licik, langsung memutar video yang sedari tadi merekam adegan mereka. Dengan senyum puas ia menyimpan video itu ke file tersembunyi di ponselnya. Ini bisa jadi senjata bagi Erlin kalau sewaktu waktu pak Guna mengusir nya dari rumah ini.
Erlin pun kemudian ikut tertidur di samping Yoga , tapi sebelum itu ia mengabadikan momen langka dengan camera ponselnya. Momen dimana Yoga memeluk erat tubuh Erlin yang tanpa busana.
Bibi yang menyaksikan adegan itu di ambang pintu hanya bisa mengelus dadanya.
flashback on
Saat itu bibi memang sudah curiga dengan yang Erlin lakukan ,ia mengendap-endap ke arah meja makan sambil membawa sesuatu. Bibi melihat dari kejauhan tahu kalau Erlin mencampur sesuatu ke dalam minuman Yoga, Tapi saat itu bibi hanya pura pura bodoh saja.
Saat Erlin mengembalikan gelas kosong ke meja makan, Erlin bergumam sendiri yang di dengar oleh bibi.
"Hmmmm.... sebentar lagi obat itu bereaksi, dan gue harus siap siap kasih yang terbaik,,"
Gumam Erlin pelan pada saat itu, tetapi waktu itu bibi sedang berada tepat di belakang nya.
"Apa yang di lakukan gadis itu, Ya Allah lindungi Yoga dari gadis jahat ini" Gumam bibi saat itu.
Bibi pun memutuskan untuk mengamati dari jauh reaksi obat itu, dan pada saat Yoga berlari ke kamar, bibi juga mengikuti nya,. Sampai pada akhirnya Erlin datang dengan pakaian seksi yang menurut bibi sangat menjijikkan.
Bibi melihat dengan mata kepalanya kalau Yoga tengah dalam pengaruh obat ********* sedang memakan habis tubuh Erlin. Karena kepalanya tiba-tiba pusing melihat adegan seperti itu, akhirnya bibi memutuskan untuk turun ke lantai dasar untuk mengambil air minum.
Tepat 3 jam kemudian, bibi berniat melihat keadaan Yoga setelah terpengaruh oleh obat gila itu, Bibi khawatir jika Yoga pingsan akibat tenaganya terkuras paksa karena efek sampingnya. Apalagi saat itu Yoga tadi tidak makan sama sekali.
Tapi ternyata 3 jam kemudian mereka baru saja menyelesaikan adegan gila itu, Bibi yang baru sampai di ambang pintu kamar hanya bisa mengelus-elus dadanya. Bibi pun memutuskan untuk turun karena panggilan dari Cita.
Flashback off.
"Dari mana, Bi? kok ngos-ngosan gitu??" tanya Cita melihat tingkah bibi yang aneh.
"Ya Allah mbk Cita,, Erlin itu sangat jahat" Kata bibi sambil tersengal sengal.
"Maksudnya??" Tanya Cita bingung.
"Tadi Erlin masukin obat ********** ke minuman mas Yoga" bisik Bibi.
Cita hanya membelalakan matanya ,ia terkejut dengan apa yang di katakan Bibi barusan.
"Untuk apa?" tanya Cita heran.
"Untuk berhubungan **** , karena selama ini mas Yoga tidak pernah sama sekali menyentuhnya,, maka dengan cara jahat itu. kemudian mereka bergulat hebat di kasur.." kata Bibi yang di susul gelak tawa Cita.
"Bwhahahhaa.... kok bibi ngintip sih... ihh...."
"Saya nggak ngintip... eh iya sih lihat dengan Mata kepala saya sendiri ,laah wong pintunya terbuka lebar,, saya khawatir sama mas Yoga, ia tadi tidak makan seharian mbak, Trus di kasih obat seperti itu,, saya takut kalau dia pingsan." kata bibi menjelaskan.
"Ya udah biarin aja lah bi, namanya juga suami istri"
"Tapi Erlin licik sekali, mbak Cita..saya sampai ngelus dada loh melihatnya"
"Ya udah gampang dia urusan saya, makasih ya bi udah mau jadi mata mata,,hehe"
__ADS_1
"Iya mbak sama sama,, Bibi masuk dulu ke kamar ya, mbak Cita" pamit Bibi kemudian meninggalkan Cita seorang diri di ruang kerjanya.
Bukan Cita namanya kalau hanya diam saja, Ia melaporkan kepada pak Guna (papanya) tentang apa yang dilakukan Erlin terhadap adiknya itu. Meskipun sepertinya Cita tak peduli, tapi ia sangat menyayangi adiknya . Cita akan membenci mereka yang menyakiti keluarga nya, tanpa terkecuali.