Jodohku Dari Bangku SMA

Jodohku Dari Bangku SMA
BAB 25


__ADS_3

***


Cita yang berada di meja makan sangat marah, karena sampai saat ini Erlin tidak segera menampakan batang hidungnya.


Bergegas ia menuju ke kamar Erlin.


Masuk tanpa permisi dan menutup pintu nya dengan keras. Karena di lihatnya Erlin masih tidur dengan pulasnya.


Braakkkkkkkkkk.........


"Ohhh Bagus.. Nyonya besar masih enak enakan tidur" teriak Cita di samping tempat tidur Erlin.


"Bangun!!! Dasar gadis pemalas !!!" teriaknya lagi.


Tak ada jawaban dari Erlin, ia tetap tidur dengan pulasnya. Padahal, saat itu suara Cita sangat menggelegar di kamar Yoga yang buat kedap suara.


"Apa kau belajar ****.. Hah?" teriaknya lagi.


"Hey gadis ***** ,Bangunnn!"


"Masih ngantuk, Bii..entaran aja bangunnya" jawab Erlin dengan mata masih menyatu.


"Hey.. bangun!!! Entaran entaran, enak aja loe kalo ngomong," bentak Cita.


Erlin hanya merenggangkan badan nya saja, tapi kemudian ia memilih untuk memeluk gulingnya lagi tanpa membuka mata. Karena merasa jengkel, Cita mendorong tubuh Erlin hingga ia terjatuh di samping tempat tidur.


blukkk....


"Aduh ya ampun ,Bi ! Apaan sih, nggak sopan banget sama majikan. Ingat ya saya ini Nyonya di sini.." Celoteh nya dengan mata masih terpejam.


"Nyonya nyonya, enak aja loe kalo ngomong" Bentak Cita.


Erlin masih tetap memejamkan matanya, Padahal ia sudah jatuh dari ketinggian setengah meter.


Kini Cita sudah tidak bisa menahan emosinya. Ia menuju kamar mandi untuk mengambil air. Bukan cuma segayung, Melainkan se ember penuh ia bawa dari kamar mandi untuk menyiram Erlin yang membangkang.


Byuuuurrrrrrrrrrrrrr........


"Eh bener bener kurang **** ya loe jadi pembantu. ****** loe jadi basah semua nih, "


"Apa sih mau loe, Bi?? Hah? Apa mata loe udah **** nggak bisa bedain mana taneman mana majikan,!!" Bentak Erlin tapi tak melihat siapa yang menyiram nya.


"Mata loe yang udah **** nggak bisa bedain mana bibi mana bukan.. ba bi ba bi emang loe pikir gue pembokat loe?hah?" ucap Cita.


*S*uaranya kok kek kenal. Batin Erlin, dan kemudian ia melihat siapa yang berdiri di depan nya.


"Ehh.. hehehe.. Kakak ipar..maaf kak, aku nggak tau kalo dari tadi kakak...aku pikir pembantu" ucap Erlin.


"Merasa jadi nyonya besar loe disini.. IYA?"


"Enggak kok, Kak..eehh iya sih kan aku istri Yoga." ucapnya enteng.


Cita langsung melotot ke arah Erlin, benar benar di buat marah pagi ini.


"Loe tau sekarang jam berapa?" Tanya Cita sambil menyilang kan kedua tangannya di dada.


"Jam 9 pagi kak.. kenapa emangnya?"


"kenapa kenapa!! loe lupa tugas loe di rumah ini apa??? hah???"


"Apaan kak?" tanya Erlin tanpa dosa.


"Apaan apaan... loe lupa peraturan yang Papa buat untuk loe kerjakan?" ucap Cita melotot.


"Ooohhh... hehe.. habisnya Yoga nggak bangunin aku, jadinya kesiangan deh"


"Seharusnya, kalo loe punya tanggung jawab, loe bisa ngira ngira harus bangun jam berapa.. malah nyalah.in adek gue lagi.. Dia nggak ada di sini," ucap Cita dengan menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Hah? Kemana dia, Kak?? Apa dia nggak tidur di sini?"


"Dia tidur di ruang tengah, di sofa depan TV"


"Ohh..." jawabnya enteng.


"Terus loe ngapain masih di sini? Seharusnya loe itu bangun dari subuh untuk siapin sarapan buat gue."


"Iya iya, Kak ..maaf."


"Kalo loe nggak bisa patuhi peraturan yang papa buat, siap siap aja loe bayar hutang loe yang 200juta itu, dan siap siap loe akan masuk penjara ,!!" Ucap Cita seraya melangkah pergi dari kamar itu.


"Ehh kakak ipar... maaf deh.. jangan kek gitu, Erlin janji, Erlin nggak akan ulangi lagi !"


"Kalo gitu loe lakukan apa yang seharusnya loe lakukan.! Dan ingat, gue awasin elo kapan pun" ucapnya sambil menuruni tangga.


*H*mm dasar mak lampir. Batin Erlin.


Erlin lalu masuk ke dalam kamar lagi untuk membersihkan diri, dan selanjutnya turun ke bawah untuk menemui Bi Sumi.


"Bi, udah masak?"


"Udah, Non,"


"Terus saya ngerjain apa, Bi?"


"Kalo jam segini biasanya bibi nyapu dan ngepel lantai, Non"


"Whatt?? Jadi aku harus nyapu ngepel gitu?"


"Iya, Non.. peralatan ada di gudang samping."


Erlin kemudian mengambil sapu dan alat pel di gudang samping. Mulai menyapu teras rumah yang cukup luas dengan gerakan yang aneh ,pasalnya se umur umur belum pernah ia menyapu lantai. Jangan kan untuk menyapu, memegang benda nya saja tidak pernah sama sekali.


"Ada yang bisa saya bantu, Non?" ucap bi Sumi menghampiri.


"Nggak usah..entar loe adu'in ke kakak ipar lagi" Jawabnya ketus.


Bibi Sumi pun tersenyum.


"Ya sudah kalau gitu, Bibi masuk ke dalam dulu ya, Non?"


Erlin tak menjawab, ia fokus dengan perkerjaan yang tidak biasa ia lakukan itu. Sesaat kemudian, ia berlari kecil ke arah ruang tengah di mana Yoga tengah tidur pulas.


"Sayang..bangun.." rengeknya manja.


"Hmm"


"Aku gaak bisa kek gini, aku capek.."


"Kok enak loe bilang capek, Itu tugas loe" Kata Yoga.


"Tapi, aku nggak pernah lakuin ini semua"


"Ya mangka nya di biasa'in dari sekarang!"


"Capek, sayang!"


"Nggak ada capek capek..turutin semua peraturan yang di buat Papa."


"Tapi kan sayang, aku istri kamu bukan istri papa kamu.. harusnya kamu dong yang nyuruh nyuruh aku ini itu, bukannya papa kamu"


"Ya udah kalau loe mau gue yang nyuruh, cepetan beresin semuanya.."


"Yaaaaa... sama aja dong sayang, sayang... aku capek pengen istirahat..!!!"

__ADS_1


"Nggak ada alesan. masa loe kalah sama bibi, bibi aja kuat tiap hari kerjain ini semua"


"Kok di sama in sama bibi pembantu sih!!"


"Nggak usah banyak omong, cepetan kerjain kalo enggak gue aduin ke papa loe.."


"Iya iya.."


Erlin langsung melanjutkan perkerjaan nya itu dengan perasaan dongkol, dengan bibir yang di majukan beberapa centi.


Bisa bisa tangan gue kapalan pegang ginian. Batin Erlin.


"Nggak usah ngomel dalem hati, gue awasin loe dari sini" Ucap Yoga tiba-tiba.


Erlin hanya melirik kearah Yoga dan tetap melanjutkan perkerjaan nya dengan malas malasan.


30 menit berlalu..


Erlin masih tetap dengan tugas menyapunya. Yoga yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Erlin merasa jenuh sendiri. Dan akhirnya memilih masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.


Setelah itu ia memilih keluar dengan menggunakan motor sport nya menuju ke suatu tempat.


*Y*ess... Yoga udah minggat, gue bisa istirahat deh. Batin Erlin kegirangan. Ia pun langsung meninggalkan alat pel nya begitu saja di bawah tangga dan memilih masuk ke dalam kamar.


***


Yoga saat ini sedang menuju ke pos tempatnya nongkrong. Disana terlihat Jihan tengah duduk seorang diri sambil memainkan ponselnya.


"Bro, sendirian aja loe?" sapa Yoga memarkir motornya.


"Iya nih ,Budi sama Angga lagi masuk sift pagi."


"Ohh..Rokok nih" Ucap Yoga menawarkan rokok nya.


"Iya, eh gimana Diandra? Udah maju berapa langkah loe deketin dia?" tanya Jihan.


"Nggak jadi bro, gue nggak jadi deketin dia."


"Laaaahhh... kok bisa? di tolak loe ama dia??" tanya Jihan terkejut.


"Enggak ..Gue udah di nikahin sama Erlin."


"What? Loe bercanda kan??" Jihan terkejut lagi.


"Ngapain gue bercanda."


"Kok bisa anj*r,, coba loe ceritain ama gue!!"


Yoga pun menceritakan semua yang terjadi padanya dari awal sampai kejadian tadi pagi.


"Anj*r kok bisa ,Diandra gimana bro..kasian dia..bakal nangis bombay tuh anak"


"Iya makanya itu gue bingung bro, kasian dia pasti bakal sakit hati lagi "


"Terus loe udah bilang sama dia.??"


"Gue nggak tega, gue juga bingung mau jelasin gimana.. padahal loe tau sendiri kan kalau gue ama dia saling suka."


"Iya bro gue tau.. " Jawab Jihan sambil manggut-manggut.


Jihan memang mengetahui bahwa Diandra lah yang mengisi hati Yoga saat ini, bukan Erlin. Karena Yoga setiap ada masalah, ia selalu curhat ke sahabatnya itu. Dan Jihan mendukung hubungannya jika Yoga dan Diandra pacaran.


"Terus loe nggak bilang ke dia gitu?? tapi kalo loe nggak bilang ini sekarang dia malah makin sakit hati bro kalo dia tau suatu saat nanti"


"Gue bingung mau bilang gimana ama dia, gue nggak tega" jawab Yoga pelan.


Meraka pun sama sama terdiam dengan pikiran nya masing-masing sambil sesekali menghisap rokoknya. Beberapa menit kemudian Jihan mendapat ide sedikit cemerlang.


"Nuril maksut loe?"


"Iya itu si Nuril, loe berunding aja sama dia gimana caranya bilang ke Diandra biar nggak terlalu sakit hati.!"


Ide brilian Jihan membuat Yoga bersemangat mengambil ponsel dalam saku jaketnya.


"Eh tapi gue nggak punya kontak si Nuril"


"Minta Ricky, dia kan temennya Ricky"


"Iye iye otak loe encer juga hari ini.." ucap Yoga sambil tertawa.


Segera ia menelepon Ricky..


📞ttuuutttt ttuuutttt tuuuttttttt


Ricky : Haloo ada apa bro?


Yoga : enggak gapapa lagi dimana loe?


Ricky : Biasa lagi di cafe, mau kesini loe?


Yoga : nggak..eh bagi nomor WA si Nuril


Ricky : Buat apa an**??


Yoga : Gue ada urusan bentar.


Ricky : Oh oke oke habis ini gue kirim


Yoga : thanks ya bro.


Ricky : Yo'i**


Yoga menutup teleponnya, tak berselang lama nomor Nuril sudah masuk di ponselnya.


Langsung dia menelepon Nuril.


📞 ttuutttutttutuuutttuuttttt.......


"Nggak bisa bro,, nggak aktif.." kata Yoga.


"Ya udah entar aja loe coba lagi, yang penting loe kan udah punya nomornya." Jawab Jihan.


Sungguh Jihan itu termasuk sahabat Yoga yang paling baik, dia sahabat yang mengerti tidak seperti yang lainnya yang memilih tertawa di atas penderitaan orang lain.


***


Pukul 19.00 WIB di rumah Diandra.


Diandra dan Ibunya tengah bersantai di ruang TV.


"Dian, bagaimana keadaan Nuril sekarang??"


Tanya Ibu sambil menatap ke putrinya.


"Nggak ngerti, Bu..soalnya Dian nggak punya kontaknya lagi.. di restart ama bang Jeky"


"Loohh... kok bisa?? oh iya.. di IG nya kan ada!! "


"Nggak ada dong, Bu..masa nomor di pasang di Instagram" kata Diandra sambil tertawa kecil.


"Maksut ibu kamu hubungi saja lewat Instagram"


"Udah Dian DM dari kemarin cuma belum di balas ama Nuril bu..yaaaa mungkin dia lagi istirahat total biar cepet pulih"

__ADS_1


Ibu hanya manggut-manggut mengerti dan kemudian memilih fokus ke TV yang di lihatnya.


Beberapa saat kemudian.


"Oh iya kapan kita ke kota Malang?" tanya Ibu Ayu.


"Terserah Ibu saja, Dian juga udah libur kok sampai awal bulan depan." jawabnya.


"Kalau begitu gimana kalau kita berangkat besok pagi pagi" usul Ibu.


"Boleh juga tuh"


"Oke kalau gitu besok kita ke sana..bangun pagi kita on the way jam 6 pagi ,,biar nggak ke siangan kita di sana"


"Baik lah.." jawab Diandra.


Kemudian mereka fokus ke film nya masing-masing, sampai akhirnya Ibu memutuskan untuk pergi ke kamar karena merasa matanya sudah berat ingin istirahat.


Mau tak mau Diandra juga masuk ke kamarnya. Berencana untuk mengemas barang-barangnya yang akan ia bawa ke kota Malang beberapa hari ke depan.


*H*uuufffffttttttt.... akhirnya selesai juga. Batin Diandra.


Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap layar ponselnya.


"Nuril.. loe baik baik aja kan di sana?? Gue kangen sama loe, kangen resek nya elo" Gumamnya.


"Yoga... loe juga kemana, ikutan ngilang,, gue kangen suara loe, kangen pas ngobrol sama loe,, kangen bercanda sama loe" Gumanya lagi.


"Ricky juga kemana sih, biasanya juga dia paling sering kirim WA ke gue.. kan kalo dia WA sekarang ,gue bisa minta nomor Nuril."


Diandra menarik nafas panjang.


Ia kemudian memilih untuk membaca membaca novel sembari tiduran di kasur nya. Lembar demi lembar ia baca hingga matanya terasa berat, Dan kemudian ia memilih untuk tidur.


***


Di dalam kamar, Erlin tampak selonjoran sambil tertawa kecil, Ia tengah chatingan dengan kekasihnya Edward. Edward selalu melontarkan kalimat yang membuat Erlin tertawa sendiri ketika membaca isi pesan singkat itu.


Yoga yang baru pulang dari pos itu langsung masuk ke dalam kamar tanpa melihat Erlin sedikit pun, Mengambil pakaian ganti lalu masuk ke kamar mandi. Seolah-olah di kamar tidak ada orang kecuali dirinya saja.


Gue di kira hantuuu kali main nyelonong aja. Batin Erlin.


Ia memilih fokus lagi dengan ponselnya.


15 menit kemudian Yoga keluar dari kamar mandinya, Setelah itu ia melangkahkan kakinya ke luar kamar.


"Sayang??" panggil Erlin yang menghentikan langkahnya. Yoga pun menoleh sekilas.


"Kamu nggak tidur udah malem loh!"


"Gue kamar tamu aja"


"Loh kenapa nggak tidur sama aku, kan aku istri kamu"


"Sekamar ama loe? bahkan untuk bernafas pun gue ngrasa sesak nafas." Ucap Yoga lalu keluar kamar.


Sok jual mahal loe.. ganteng juga kagak. Batin Erlin.


Ia kemudian memilih untuk memejamkan matanya.


Sementara di ruang tengah, nampak Cita dan Bi Sumi yang tengah berbincang tentang Erlin.


"Apa yang di kerjakan gadis itu, Bi?"


"Non Erlin hanya menyapu saja, dan mengepel lantai bawah, itu juga tidak semua Mbak Cita" jelas bi Sumi.


"Tidak semua???"


"Iya, dia tadi meninggalkan begitu saja alat pelnya di situ. lalu dia masuk kamar nya."


"Benar benar kurang **** anak itu, bukankah tadi aku sudah bilang kerjakan semuanya."


"Tadi juga Mas Yoga sudah bilang, tapi dia hanya menuruti sesaat, lalu setelah mas Yoga pergi keluar, dia langsung masuk ke dalam kamar."


"Ooh" Cita hanya manggut-manggut sambil tersenyum licik. Ia tengah memikirkan hal lain.


"Kalau begitu, saya ke kamar dulu ya mbak Cita" ucap Bibi dan di jawab anggukan oleh Cita.


"Gue punya rencana buat anak itu.. gue akan bebasin dia, gue pengen tau seberapa besar nyalinya bermain-main dengan keluarga ini" Gumam Cita.


"Gue akan berunding sama Papa untuk bebasin anak itu..Gue minta papa untuk hapus peraturan yang sudah di buat "


Cita pun menelepon Papanya untuk membicarakan tentang Erlin yang tidak melaksanakan tugas nya dengan baik.


Bahkan dengan gampangnya papa menuruti apa yang gue usulkan.,, lihat saja nanti gadis kecil kurang **** ,,perlahan loe anak masuk penjara dengan sendirinya. Batin Cita.


Cita pun memilih untuk masuk ke dalam kamar nya, melewati beberapa kamar yang di sediakan untuk tamu yang menginap di rumah Guna Herlambang.


"Kok lampu di kamar itu nyala sih." Gumamnya.


Cita melangkahkan kakinya ke kamar itu berniat untuk mematikan lampu,,


"Eh kok tidur sini tuh anak " ucap Cita setengah terkejut melihat Yoga tertidur pulas di kamar itu. Kemudian ia tersenyum licik.


"Bahkan adek gue tidak menyukai loe Erlin" Gumamnya, ia lalu memilih untuk pergi ke kamarnya.


****


Pagi hari pukul 07.00 Wib , di perusahaan GH group, Pak Guna sudah ada di ruangannya dengan Mr.C . Ya ,beberapa jam yang lalu ia sudah mendarat dari perjalanan jauhnya.


"Cita menyuruh saya untuk mencabut semua peraturan yang saya buat untuk Erlin" Kata Pak Guna.


"Alasannya apa bos?" tanya Mr.C kaget.


"Erlin tidak melaksanakan tugas nya dengan baik, haha.. anak itu menguji kesabaran Cita, belum tahu dia kalau Cita marah seperti singa kelaparan"


"Lalu?" tanya Mr.C lagi.


"Saya akan membebaskan Erlin.. tidak memberinya tugas apapun, dan saya akan membiarkan dia keluar sesuka hatinya"


"Lalu apakah dia tetap mendapat haknya?"


"Itu tergantung Yoga, ia mau memberinya uang atau tidak kepada anak itu"


"Lantas tugas saya apa, Bos?"


"Heemmm... tugas kamu ikuti dia kemana pun dia pergi,, dan kumpulkan bukti bukti yang menurut mu tidak pantas ia lakukan di luar sana.."


"Baik bos"


"Oh iya, apakah kamu kemarin mengantar nak Diandra sampai depan rumah?" tanya pak Guna.


"Iya bos, sesuai yang bos perintah kan, tetapi sebelum pulang ,ia meminta untuk di antar ke sebuah konter kecil di pinggir jalan untuk mengambil ponselnya yang tengah di servis "


"Ponsel di servis???" Seru pak Guna tak percaya. Karena dia tidak pernah melakukan hal itu, ponselnya saja tiap bulan selalu ganti yang baru.


"Iya bos benar !!"


"Kenapa sampai di servis? Apa dia tidak punya uang untuk membeli ponsel baru"


"Hmm.. saya sempat mendengar percakapannya dengan tukang servis itu, katanya ponsel itu di belinya dari hasil tabungannya sendiri, tidak minta orang tuanya"


Pak Guna tercengang mendengar penjelasan dari Mr.C .Pasalnya, ia tidak pernah menjumpai anak yang seperti itu, bahkan banyak menjumpai anak yang membangga-banggakan kekayaan orang tuanya ,bermanja ingin di belikan barang-barang mewah.

__ADS_1


__ADS_2