Jodohku Dari Bangku SMA

Jodohku Dari Bangku SMA
BAB 28


__ADS_3

3 Minggu kemudian.


Kini tak terasa waktu cepat berlalu. Waktu liburan semester terasa begitu singkat bagi Diandra yang tengah sibuk mengurus kedai kopi miliknya. Saat ini Diandra sudah kembali ke Jakarta karena hari ini Ia akan masuk sekolah untuk ajaran baru di kelas 11.


Di parkiran.


Seperti waktu lampau, Diandra menunggu sahabatnya di atas motor matic kesayangannya. Ia sangat bersemangat sekali pagi ini karena, hari ini Ia akan bertemu sahabat yang sangat di rindukannya. Rona bahagia terpancar di wajahnya pada hari Senin awal tahun pelajaran di SMA 08.


"Hay Diandra !" sapa salah satu temennya.


"Hai.." jawabnya sambil melambaikan tangan.


"Putrii,!! Ya ampun loe bikin gw mau mati tau nggak,!!" seru Nuril berlari ke arah Diandra. Diandra yang melihat itu langsung mengembangkan senyum manisnya.


Mereka berpelukan sesaat sama sama melepaskan rasa rindunya.


"Kenapa loe mau mati,?" tanya Diandra dengan tawa kecil.


"Loe ya.. bisa bisanya ngilang bagaikan di telan bulan..!!! nomor juga nggak aktif gimana ceritanya tuh. heran gw,!!" celoteh Nuril tak karuan.


"Hehehe.. Sorry deh, gw ganti nomor.. habisnya di Malang nggak ada signal sama sekali,," Diandra memberi jawaban.


"What? Kok nggak bilang bilang kalo loe ganti nomor?" tanya Nuril heran.


"Gue sibuk banget tau nggak..!! Gue di sana itu ngurusin kedai kopi punya gue sendiri.!"


"Loe punya kedai kopi?" tanya Nuril terkejut.


"Iya,, Awalnya sih itu punya nyokap tapi setelah itu di kasihkan ke gue.."


"Kok bisa??"


"Ya bisa dong, gue ahli banget tuh layanin pembeli, makanya nyokap percaya ama gue" jawab Diandra bangga.


"Emmm...kapan kapan ajak gue dong kesana..!!" rengek Nuril.


"Iya nanti kalo liburan kita kesana yups..sekarang ke kelas yuk."


Diandra berjalan beriringan menuju kelas barunya sambil sesekali membicarakan tentang aktivitasnya masing-masing.


"Eh Yoga kemana ya?" Diandra celingukan.


"Put,,!" panggil Nuril pelan.


"Hm"


"Yoga udah nikah sama Erlin.."


deggggg...... Bagai di sambar petir di pagi hari. Kata kata Nuril barusan membuat ia seakan tengah bermimpi buruk.


"Ee... Elo bercanda kan?" tanya Diandra tak percaya.


Nuril pun menjelaskan semuanya pada Diandra dengan sangat hati hati. Nuril takut sahabatnya itu akan terluka dengan kabar tak masuk akal itu.


Gue kuat gue tegar.. meskipun tidak menjadi seorang kekasih, gue tetap bisa menjadi sahabat nya. Batin Diandra.


"Put..? Elo gapapa kan?" tanya Nuril yang melihat sahabatnya menatap lurus dengan pandangan mata kosong.


"Hey..." panggil Nuril lagi sambil mengguncang bahu Diandra.


"Ooh.. ehh... enggak.. gw gapapa.. mungkin mereka udah jodoh.." jawab Diandra dengan senyum kecut.


"Beneran loe gapapa.?" tanya Nuril lagi ingin memastikan.


"Enggak.. gue gapapa, " Diandra terlihat tersenyum meskipun hatinya remuk.


Mereka tetap berjalan sampai kelasnya dengan sama sama bungkam. Nuril takut kalau Diandra marah sedangkan Diandra tengah kacau sekali pikirannya memikirkan perasaan yang tak karuan.


Mungkin sudah jodohnya kali ya..Aku harus ikhlas, Yoga sekarang suami orang,, gue harus menjaga jarak supaya nggak di anggap perusak rumah tangga nya yang masih se umur jagung. Batin Diandra.


Di parkiran


Yoga yang baru sampai sedang memarkir motor sport nya. Ia datang seorang diri karena, Erlin di antar supir ke sekolah.


Yoga memang melarang Erlin untuk ikut bersamanya ke sekolah karena, Ia tidak ingin semuanya tahu kalau mereka sudah menikah. Yoga juga melarang Erlin untuk bersikap berlebihan saat berada di lingkungan sekolah.


"Haii sayang.." Erlin menghampiri Yoga di parkiran.


"Ck.. elo lagi!!! Gue udah bilang nggak usah deket deket gue kalau di sekolah..!!"


"Ya nggak masalah dong, anggap aja kita masih pacaran kek dulu" jawab Erlin dengan entengnya.


Yoga berjalan meninggalkan Erlin yang tengah berbicara panjang lebar. Ia memilih masuk ke dalam ke kelasnya untuk bergabung bersama teman-temannya.


Tak lama Guru pun masuk ke kelas untuk memulai pelajaran baru di kelas 11.


***


2 jam kemudian bel istirahat berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas untuk menuju kantin sekolah. Begitu pula dengan Diandra dan Nuril, mereka berjalan ke arah kantin untuk mengisi perutnya yang keroncongan.


"Eh, Put !! liat deh itu si Yoga lagi makan berduaan sama Erlin" ucap Nuril syok melihat pemandangan itu.


Terlihat Yoga sedang menikmati makanannya dengan Erlin di bangku kantin paling pojok.


"Biarin lah, bukan urusan gue juga." jawab Diandra santai.


Mereka pun berjalan dengan santainya melewati bangku yang duduki Yoga dan Erlin.


"Dasar *** ayam" ucap Nuril dengan lantangnya sambil menggebrak meja makan.


"Apa loe bilang? eh ada masalah apa loe ama gue ?" ucap Erlin tersulut emosi.


"Eh dasar loe itu *** ayam, sukanya nempel di sendal mahal kayak Yoga sama bule itu!!" ucap Nuril penuh penekanan.


"Maksud loe apaan, Ril?" tanya Yoga tak mengerti.


"Ini perempuan loe sukanya nempel sana sini..!! Bisa bisa nya dia gebet pria bule" ucap Nuril dengan sinisnya.


"Jangan sembarangan loe kalau bicara !!" sentak Erlin tiba tiba.


"Gue ada buktinya..nih lihat !" Nuril menunjukkan foto Erlin bergandengan dengan pria bule .


"Hah?? Si...siapa tuh..salah orang kali loe" bantah Erlin.


Itu kan salah satu mobil gue yang ada di rumah..kok bisa di situ sih? siapa pria bule itu ? batin Yoga.


"Yoga,!!! elo nggak marah?" tanya Nuril bingung karena dilihatnya Yoga sangat santuy melihat bukti perselingkuhan istrinya.


"Bodo amat gue, Ril" ucap Yoga dengan tertawa kecil.


"Eh...elo apa apan sih.. maksud loe apaan nunjukin foto nggak jelas itu?" cetus Erlin.


"Ya biar, Yoga tau kalo loe itu nggak pantes buat dia..paham!!" Ucap Nuril seraya melangkah pergi menuju tempat Diandra.


Memang saat Nuril berhenti di meja Yoga dan Erlin, Diandra memilih mempercepat langkahnya menuju tempat yang jauh dari meja mereka.


"Ngapain sih elo pakek gebrak gebrak meja mereka" tanya Diandra malas.


"Gue ga tahan tau nggak lihat gayanya yang sok sok an itu.." ucap Nuril.


"Ya biarin lah, Ril..!! kan udah Sah !"


"Ngga bisa gitu dong, Put ! Yoga itu di takdir kan buat jadi pendamping hidup loe ! bukan *** ayam itu !"


"Husss..!! Udah ah nggak usah di bahas"


"Ehh, Put !! Tapi masa si Yoga ngga cemburu sama sekali loh lihat foto itu" ucap Nuril heran.


"Masa??" Diandra tak percaya.


"Namanya juga nikah tanpa dasar C.I.N.T.A " Ucap Nuril sembari menikmati makanannya.


Diandra enggan menjawab perkataan sahabatnya itu. Ia memilih untuk mengisi perutnya yang keroncongan sebelum bel istirahat berbunyi.

__ADS_1


Diandra ingat perkataan Mr.C yang tiba tiba menyuruhnya untuk menjauhi Yoga.


Gue paham kenapa Mr.C menyuruhku untuk menjauhi Yoga batin Diandra.


Selesai makan, mereka berjalan ke arah lapangan dimana spot favorit Diandra berada. Yoga yang sedang melihat kedatangan Diandra pun hanya bisa melihat dari jauh. Ia takut mendekati nya karena takut Diandra sakit hati.


Diandra ,gue cuma bisa liat loe dari sini.. gue takut loe marah besar ke gue soal pernikahan ini. Batin Yoga.


Yoga terlihat tersenyum manis saat melihat Diandra dan Nuril tertawa terbahak-bahak.


***


Di perusahaan GH group.


Cita yang baru saja mengadakan pertemuan dengan client dari Negara Inggris, tengah bersantai di ruangannya. Ia sedang mengutak-atik laptop sambil mengecek email yang valid.


Dering telepon genggam milik Cita berbunyi. Segera ia mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, Pah "


"Kamu benar benar keterlaluan !!" Ucap Pak Guna di seberang sana.


"Ke..kenapa, Pah?" tanya Cita tak mengerti.


"Kamu ke ruangan saya sekarang" perintah Pak Guna.


Cita pun bergegas pergi menuju ruangan Papanya.


tok tok tok


"Ada apa, Pah?" Tanya Cita sedikit gugup.


"Siapa yang berani berani mengendarai mobil Guna Herlambang tanpa ijin?" tanya pak Guna dengan ekspresi wajah yang menyeramkan.


"A..a...Cit...cita ...cita."


"Jawab!!!" sentak pak Guna lantang.


"Teman Cita, Pah" jawabnya sambil menundukkan kepalanya.


"Siapa dia? Kekasihmu?" tanya pak Guna.


"Bu..Bu bukan, Pah.. cuma teman dekat Cita saja" jawabnya pelan.


"Lalu kenapa dengan ceroboh nya kamu meminjamkan mobil padanya? Apa dia sangat miskin?"


"Di..dia disini nga..nggak punya mobil, Pah"


"Disini nggak punya mobil? maksud kamu dia bukan orang sini?"


"Pengusaha dari luar Negeri, Pah"


"Mau Pengusaha, mau gembel, mau pengemis tetap saja dia telah mencuri mobil Guna Herlambang" ucap Pak Guna lantang.


"Pah!! dia bukan pencuri, dia ke Indonesia untuk sekedar mengelilingi kota ini dan hanya Cita yang ia kenal di sini ..makanya, Cita meminjamkan mobil padanya"


"Ck.. apakah dia yang dulu sempat kamu kenalkan kepada Papa?"


"Iya, Pah..dia Erdward .." jawab Cita.


Pak Guna hanya diam tanpa menjawab perkataan anaknya. Ia sudah menyelidiki semuanya tentang Edward termasuk hubungan gelapnya dengan Erlin yang tak lain dan tak bukan adalah menantu nya sendiri.


"Apa kau menyukai nya?" tanya pak Guna tiba tiba. Cita yang mendengar pertanyaan itu menjadi sangat terkejut.


"Kenapa Papa bertanya seperti itu?"


"Jawab saja dulu..kamu suka sama dia?"


"Iya, Pah!!" jawab Cita lirih.


"Hahahaha... Usia boleh kepala 3 tetapi hati dan pikirannya masih kepala 1"


"Apa maksud, Papa?" tanya Cita tak mengerti.


"Apa kau yakin pria asing itu juga menyukai mu?" tanya pak Guna seraya memainkan pulpen.


"Kamu itu terlalu di butakan dengan cinta..sudah kamu boleh pergi dari sini"


"Papa kalau bicara suka gantung, males ah" ucap Cita sebel.


"Nanti juga kamu bakal tahu sendiri..tidak akan lama kebenaran akan terungkap" jawab Pak Guna seraya tertawa.


Pak Guna masih membiarkan Erlin bersenang senang dengan posisinya sekarang, karena ia masih mempunyai rencana besar yaitu, merebut saham dari Perusahaan properti milik Teguh Wijaya yang akan menjadi miliknya beberapa bulan lagi.


"Hmmm....nak Diandra sedang apa ya? Apa dia baik baik saja setelah kecelakaan waktu itu? Kok jadi khawatir sama dia? Gumam Pak Guna tiba tiba.


Tok tok tok..


"Masuk" ucap pak Guna.


Mr.C melangkahkan kakinya memasuki ruangan bos besar nya.


"Ada berita baik apa hari ini?" tanya pak Guna antusias.


"Erdward, kekasih Nona Erlin ternyata adalah anak tiri dari Mamanya Nona Erlin, Bos"


"Hah? coba kamu ulangi lagi yang jelas"


"Mantan istri Pak Teguh itu kan menikah dengan orang Asing , nah..orang asing itu ternyata Ayah dari Edward, Bos" jelas Mr.C.


"Hahaha...Dunia sangat sempit ternyata.."


"Tapi sejak kecil, Edward di asuh oleh bibinya karena Tuan William sibuk mengurus perusahaan nya." ucap Mr.C memberi tahu.


"Apakah ada yang tau soal ini?" tany Pak Guna.


"Tidak, Bos !! bahkan Nona Erlin yang sudah menjalin hubungan dengan Erdward beberapa bulan lalu tidak mengetahui latar belakang nya sama sekali." ucap Mr.C yang membuat Pak Guna membelalakkan matanya.


"Apa?? haha..Dia menjalin hubungan dengan saudara tirinya sendiri" pak Guna tertawa terbahak-bahak.


"Apa kamu membawa bukti-bukti lainnya tentang Edward dan Erlin?" lanjut nya.


Mr.C mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri dimana koleksi foto penyelidikan perselingkuhan.


"Ini, Bos . Mereka berhubungan intim lagi di dalam sebuah hotel di Jakarta" ucap Mr.C


"Kurang ajar..! benar benar keterlaluan!! gadis menjijikkan!" amarah pak Guna.


"Jangan biarkan gadis sialan itu berhubungan intim dengan anakku! Aku tidak ingin anakku terlular penyakit AIDS dari pria asing itu" ucap Pak Guna.


Mr.C membelalakkan matanya. Ia terkejut mendengar perintah Pak Guna yang sangat tidak masuk akal.


Mangkin kesini makin tidak masuk akal si Bos ini.. bagaimana bisa aku mengintip aktivitas anaknya di rumah..Aaahhhhhh.... perkejaan ini membuatku sakit kepala. Batin Mr.C


"Apa kamu bisa?" tanya pak Guna.


"Tidak bisa, Bos !" jawab Mr.C terus terang.


"Kenapa? Apa alasannya?" tanya Pak Guna mengerutkan keningnya.


"Apa pantas saya melarang aktivitas yang dilakukan oleh sepasang suami istri? Saya tidak berani, Bos"


"Aaahh...bodoh!!" ucap Pak Guna kesal.


"Kalau begitu, Bos saja yang melarang nya!! Kan bos orang tuanya." ide cemerlang Mr.C


"Hmmmm... baiklah.. kumpulkan semua bukti-bukti lainnya, kamu cetak dengan jelas"


"Baik, Bos!"


"Ya sudah , lanjutkan tugas mu!!" perintah Pak Guna.


"Baik, Permisi,!" Mr.C meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


***


Malam hari di kediaman Guna Herlambang.


Erlin sedang bersantai memainkan ponselnya sambil selonjoran di kamar nya. Kali ini dia sudah benar-benar sudah merasa menjadi nyonya besar di rumah ini. Karena, dengan bebasnya dia keluar masuk rumah tanpa ada yang melarang. Memakai fasilitas mewah yang ada di rumah tanpa ada yang menggunjing.


Beberapa hari ini, Ia merasa sedikit pusing serta mual, entah salah makan atau masuk angin ia tak tahu pasti. Yang jelas kondisi badannya saat ini benar benar lemas tak bertenaga.


Ceklek...


Yoga memasuki kamar di mana Erlin berada. Ia ingin mengambil baju gantinya di lemari besarnya.


"Hay, Sayang.." sapa Erlin sambil tersenyum simpul. Sementara Yoga, hanya diam enggan menoleh atau menjawabnya.


Tiba-tiba..


Hoooekkkkk....hooeeekkkkkk...


Erlin berlari kencang ke arah kamar mandi.


Kenapa tuh anak . batin Yoga.


Hooekkk....hoooeekkk...


"Sayang..sayang..kesini deh." teriak Erlin dari dalam kamar mandi.


"Sayang...cepetan kesini..!!" teriaknya lagi.


Mau tak mau Yoga pun akhirnya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Kenapa sih low teriak teriak?" tanya Yoga dengan lantang.


"Sayang, kepala aku pusing banget..aku dari tadi muntah muntah terus, tapi lihat...nggak keluar apa apa ,padahal rasanya nggak karuan di sini." jelas Erlin sambil memegang perutnya.


"Terus kanapa low panggil gue?" tanya Yoga mengerutkan keningnya.


"Bikinin apa kek, ambilin apa kek..kan kamu suami aku, masa istrinya sakit kek gini di biarin sih!!" ucap Erlin kesal.


Yoga pun melangkah keluar kamar menuju dapur.


"Bi..Bibi..!!" panggil Yoga kepada Bi Sumi.


"Iya, Mas Yoga..ada apa?" tanya Bi Sumi yang tengah membersihkan dapur.


"Si Erlin muntah muntah itu, bikinin apa gitu, Bi" ucap Yoga.


"Hah? muntah muntah? Ke..kenapa?" tanya Bibi heran.


"Ckk...mana Yoga tau.. Yoga di suruh urusin dia ..males banget.!" ucap Yoga kemudian melangkah kedalam kamar tamu.


"Apa jangan jangan dia hamidun?" gumam Bibi.


Bibi segera membuat kan teh hangat dan kemudian menuju kamar Erlin.


tok tok tok...


"Permisi, Nona" ucap Bibi yang melihat Erlin tiduran di atas tempat tidur.


"Ini, Bibi buatkan teh anget ..di minum ya, Non" ucap nya lagi.


"Bi, kok kepala ku pusing banget ya?" kata Erlin dengan suara lemahnya.


"Mungkin Nona telat makan atau lagi masuk angin..Ini di minum dulu teh nya biar agak mendingan" ucap Bibi sambil tersenyum.


"Apa mungkin? nggak biasanya loh aku kek gini!" ucapnya lagi.


"Coba dulu minum teh nya, Non."


Erlin pun meminum teh hangat yang di buatkan Bi Sumi. Baru saja ia meneguknya tiba tiba.


Hooeekkkk.....hoooeeekkkkkk.......


"Tuh kan, Bi..mual banget rasanya." rengek Erlin sambil menangis.


"Ehh masa gitu aja nangis sih, Non..bentar ya Bibi ambilkan minyak angin aromatherapy dulu." ucap Bibi melangkah keluar kamar.


Beberapa saat kemudian, Bibi kembali dengan membawa minyak angin miliknya.


"Ini, Nona oleskan di bagian pelipis dan juga di leher..biasanya Bibi kalo masuk angin pakai ini manjur kok" ucap Bibi.


"Masa sih, Bi?" kata Erlin seraya menerima minyak angin milik Bibi.


"Coba coba sini Bibi oleskan." ucap Bibi. Erlin pun menurut.


"Kalau mandi jangan malam malam, Non.. Bisa masuk angin" nasihat Bibi sambil memijat tengkuk leher Erlin.


"Udah biasa, Bi..lagian aku juga suka banget berendam di bathtub beberapa jam sambil dengerin musik" ucap Erlin pelan.


"Mana boleh seperti itu.. kalaupun berendam, harusnya pakai air anget"


"Erlin nggak suka air anget, Bi ...nggak seger di badan" ucap Erlin sambil tersenyum simpul.


Entah mengapa, di perlakukan seperti itu oleh Bibi membuat nya nyaman. Bibi sangat perhatian padanya padahal, Erlin selalu saja bersikap semena mena dengan Bi Sumi.


"Udah enakan, Non?" tanya Bibi.


"Udah mendingan kok, Bi.. makasih banyak ya, Bik..bibi baik banget" ucap Erlin sambil memeluk Bi Sumi.


"Ehh..Non" Bibi kaget mendapat perlakukan seperti itu dari Erlin.


"Bi..Erlin tiba tiba kangen banget sama Mama." ucap Erlin menangis.


"Memang Mamanya Non Erlin kemana?" tanya Bibi ingin tahu.


"Mama ikut suaminya, Bi..Erlin nggak boleh ketemu sama Mama"


"Mama tinggal di mana memangnya, Non?" tanya Bibi lagi.


"Mama tinggal di Negara Jerman, Erlin nggak bisa kesana dan Mama juga nggak bisa ke Indonesia karena suaminya selalu mengawasinya" ucap Erlin terisak. Entah kenapa dia menjadi begitu sensitif.


"Hmm...yang sabar ya, Non" ucap Bibi sambil mengelus rambut coklat milik Erlin.


"Kok aku jadi curhat sih..hehe...maaf ya, Bi" Erlin tertawa kecil sambil mengusap air matanya.


"Hemmm...Ndak apa apa, Non..anggap saja Bibi ini sahabat Nona Erlin" ucap Bibi tersenyum.


"Emang boleh ya, Bi?" tanya Erlin.


"Boleh, Non..ya sudah Nona istirahat ya biar cepat mendingan" ucap Bibi sambil mengelus rambut coklat milik Erlin.


"Iya, Bi .. makasih banyak ya Bi!"


Bibi pun melangkahkan kakinya keluar kamar. Dan Erlin memilih untuk tidur karena pijatan lembut dari tangan Bi Sumi membuatnya rileks dan nyaman.


"Bibi dari mana?" tanya Cita tiba tiba.


"Eh...ya ampun Mbak Cita...bibi kaget, tiba-tiba muncul di situ" ucap Bibi sambil mengelus dada.


"Hehe...Cita dari tadi disini kok, Bibi aja yang ngelamun"


"Masa saya melamun?" tanya Bibi tak percaya.


"Ngapain Bibi malem malem dari kamar gadis ****** itu?"


"Itu..emm..anu. .Nona Erlin sedang tidak enak badan, mangkanya saya kesana untuk memberikan teh hangat" ucap Bibi.


"Manja banget anak itu !" ucap Cita sinis.


"Tadi dia muntah muntah !! Kasihan sekali Mbak ..saya ndak tega lihatnya"


"Alaahh palingan juga akting, Bi" ucap Cita sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


Bibi hanya menggelengkan kepalanya dan kemudian pamit untuk masuk ke dalam kamar nya untuk istirahat.

__ADS_1


"Hmmm...Mbak Cita ini ada ada saja..Ya sudah saja permisi dulu ya, Mbak"


Cita hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.


__ADS_2