
Pagi hari pukul 07.00 WIB , Diandra sudah rapi dengan pakaian kantornya. Ia saat ini menggunakan busana kerja yang sangat simpel namun masih terlihat elegan. Blouse warna putih dengan blazer hitam serta rok selutut nan ketat itu, makin membuat seorang Diandra Putri terlihat begitu cantik dan mempesona karena terlihat tinggi semampai. Tak lupa high heels andalannya dengan tinggi 7 senti ia gunakan untuk aktivitas sehari-hari di kantor tempatnya bekerja.
drrttt ...drrrttt....drrrt
Ponsel Diandra berdering panjang tanda telepon masuk. Dengan sedikit berlari, Diandra mengambil ponselnya di atas nakas.
"Selamat pagi Pak Roni." sapa Diandra sopan santun.
"Pagi..apakah hari ini ada jadwal yang sangat penting?" tanya Pak Roni di seberang sana.
"Ada meeting penting dengan client dari Negara Cina dan juga meeting dengan beberapa karyawan kantor, Pak."
"Pukul berapa meeting itu?" tanya Pak Roni lagi.
"Pukul 08.30 pagi dan setelah itu membahas tender baru di kota Kalimantan dengan beberapa atasan di kantor siang nanti." jelas Diandra panjang lebar.
"Baiklah, kamu siapkan semua nya..mungkin nanti saya sedikit telat karena harus mengantar anak saya ke bandara." ucap Pak Roni.
"Baik, Pak.."
tuuuutttt ...
Telepon terputus. Diandra kembali menata rambut panjang nya dengan catok mini di depan cermin sebelum ia berangkat ke kantor.
"Beruntung banget gw dapet kerjaan ini, bisa tambah pengalaman, Bosnya baik hati pula.." gumamnya lirih sambil bersolek di depan cermin. Saat ini ia sedang memakai lipstik andalannya dari dulu jaman sekolah.
Flashback on
"Sudah tiga minggu kamu di rumah, Nak..Apa kamu tidak mempunyai keinginan untuk melanjutkan sekolahmu ke Universitas yang kamu inginkan??" tanya Ibu Ayu berbincang dengan Diandra dan juga Ayah Sugeng di ruang keluarga.
"Diandra nggak mau kuliah, Bu..Dian pengen kerja saja sambil memantau usaha Dian." jawab Diandra dengan santainya.
"Apa kamu tidak ingin kuliah seperti teman temanmu yang lain?" tanya Ayah Sugeng.
"Diandra nggak minat sama sekali, Ayah.. Diandra pengen kerja.." jawabnya lagi.
"Hmm...ya sudah jika itu mau mu..Ayah dan Ibu tidak bisa memaksa," ucap Ibu Ayu.
"Kalau begitu, mau kah kamu bekerja di perusahaan sektor pertambangan milik teman ayah?" tanya Pak Sugeng kemudian.
Diandra yang mendengar hal itu langsung membelalakkan matanya.
"Yang bener, Yah??" tanya Diandra tak percaya.
"Iya , Dia sedang mencari seseorang untuk menjadi sekretaris pribadi di kantor nya."
"Mau..mau ... di Jakarta mana, Yah??" tanya Diandra antusias.
"Hehe..bukan..bukan di Jakarta, Nak.. perusahaan nya di kota Medan."
"Jauh dong, Yah.." ucap Diandra memelas.
"Iya memang perusahaan nya di kota itu," jawab Ayah Sugeng sambil tertawa kecil.
"Nggak mau, Yah.. jauh." ucap Diandra malas.
"Kalau di kota Surabaya apa kamu mau??" tanya Pak Sugeng.
"Bagian apa itu, Yah??"
"Sama.. sekretaris pribadi di perusahaan properti milik Roni, teman kecil ayah."
"Wah...boleh boleh, Diandra mau yang di Surabaya itu, Yah.." ucap Diandra.
"Baiklah..nanti ayah hubungi Roni, " jawabnya.
*
Malam harinya, Diandra sedang berkemas untuk menuju ke kota Surabaya. Pasalnya, lusa ia sudah mulai berkerja di sana sebagai sekretaris pribadi Presdir yang tak lain adalah Pak Roni Sahabat Pak Sugeng dari kecil.
"Besok pagi ayah akan mengantarmu mencari rumah kontrakan di sana." ucap Pak Sugeng di ruang keluarga.
"Baik lah..Ibu tidak apa kan kalau Diandra tinggal." kata Diandra menatap Ibunya.
"Tidak apa apa, sayang..lagian kan ada Bi Mirna disini yang temenin Ibu., Nanti kalau ada waktu Ibu akan mengunjungi tempat mu." ujar Ibu Ayu sambil tersenyum simpul.
"Baiklah," ucap Diandra.
Pagi harinya, Diandra beserta Ayah dan Ibunya berangkat menuju ke kota Surabaya. Mereka menuju ke kota itu naik pesawat karena untuk mempercepat waktu saja.
Pukul 08.00 WIB mereka mendarat di Bandar Udara Internasional Juanda Surabaya. Untuk menuju ke tempat yang di tuju, membutuhkan waktu sekitar satu jam. Mereka di jemput oleh salah satu karyawan pak Sugeng yang ada di kota itu menggunakan mobil pribadi yang di sediakan di restauran.
Diandra memilih untuk mencari rumah kos di dekat perusahaan itu supaya tidak membutuhkan waktu lama untuk berangkat di pagi hari ataupun untuk kepentingan mendadak. Apalagi kali ini ia tidak membawa motor matic kesayangannya. Jadi ia memilih jarak yang cukup beberapa langkah saja dari perusahaan properti yang menjulang tinggi.
Di salah satu restauran di kota Surabaya, Diandra dan keluarga bertemu dengan Pak Roni.
"Oh..jadi ini anak mu yang dulu sering kau ajak kemari." ucap Pak Roni sambil tertawa.
"Iya, Ron.. dia akan bekerja di perusahaan mu. Bukankah kamu membutuhkan seorang sekretaris pribadi?"
"Betul sekali, aku membutuhkan seorang sekretaris pribadi. Karena sekretaris ku yang dulu sudah mengundurkan diri beberapa hari yang lalu karena melahirkan." jelasnya panjang lebar.
"Emm. .kalau begitu besok saya akan membuat lamaran pekerjaan ke perusahaan bapak." ucap Diandra tersenyum simpul.
"Tidak perlu, kamu besok pagi langsung saja berkeja, saya yakin kamu mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja di tempat saya." ucap Pak Roni bangga.
"Apa tidak apa apa kalau tidak memakai surat lamaran kerja?" tanya Pak Sugeng kemudian.
"Tidak apa apa, Mas Sugeng..kamu ini seperti sama orang lain saja." ucap Pak Roni.
"Tapi kan saya tidak mempunyai pengalaman sama sekali menjadi sekretaris pribadi, Pak!!" kata Diandra menatap Pak Roni.
"Tidak apa apa.. kamu nanti akan di dampingi oleh sekretaris pribadi manager Johan beberapa hari sampai kamu bisa mandiri..sudah lah, besok kamu tinggal berangkat ke kantor dengan pakaian khas seorang sekretaris." ucap Pak Roni panjang lebar.
"Baik lah, Pak ..saya mohon bimbingannya, dan saya tidak sakit hati jika bapak memarahi saya jika nanti saya melakukan kesalahan." ucap Diandra yakin.
"Hahaha...baiklah, Nak."
"Terimakasih banyak sebelumnya, Pak." ucap Diandra.
Flashback off
tuk tuk tuk tuk
Suara high heels Diandra saat melangkahkan kakinya di lobby kantor. Beberapa pasang mata menatap nya kagum dan ada juga yang menatap nya dengan pandangan tak suka. Siapa lagi kalau bukan karyawati kantor yang merasa iri dan tersaingi akan kecantikan Diandra.
"Nih lihat sekretaris baru sok cantik banget tuh," bisik salah satu karyawan dengan teman-temannya.
"Cantikan juga gue," tambah teman satu geng nya.
"Halah...baru kerja disini aja songong, sok berkuasa atur ini itu.."
"Nol pengalaman dia kerja disini tuh, pasti dia godain si Bos."
Diandra yang mendengar perkataan orang orang syirik itu hanya menoleh sekilas dengan senyuman manis nya. Ia enggan menanggapi hal yang baginya sangat tidak penting. Selagi tidak main fisik dan mencoreng harga dirinya, Diandra tetap diam saja. Begitulah prinsip Diandra di kota ini.
"Selamat pagi Mbak Dian.." sapa salah satu karyawan laki laki.
"Pagi juga, Mas" jawab Diandra tersenyum manis.
"Mbak Dian makin hari makin cantik aja sih, bikin gemes.." ucapnya lagi..
__ADS_1
Diandra hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. Begitulah setiap hari sapaan dari para karyawan laki laki di kantor itu. Diandra sudah terbiasa dan menganggap nya hanya gurauan belaka. Ia tetap melangkahkan kakinya menuju lantai 45 dimana tempat kerjanya berada.
**
Di suatu perusahaan lain di kota Jakarta, Prayoga tengah sibuk mengecek beberapa laporan hari ini. Yoga sekarang bekerja di perusahaan properti milik Pak Guna yang tak lain adalah Papa nya sendiri atas wewenang dari pak Guna langsung. Memang, dari dulu Yoga di ajak Papa nya untuk terjun langsung untuk melihat kondisi perusahaan.
Hingga pada suatu hari, Pak Guna Herlambang memerintahkan Yoga untuk memegang perusahaan properti milik nya itu. Tentu tak gampang untuk membuat seorang Guna Herlambang percaya begitu saja kepada anak nya. Ia mengamati kinerja Yoga dari beberapa tahun lalu, tepatnya setelah bercerai dari Erlin. Atau lebih tepatnya saat ini Yoga menjadi tangan kanan Pak Guna di perusahaan properti itu.
tok tok tok...
"Masuk," ucap Yoga tanpa mengalihkan pandangan nya. Seorang sekretaris pribadi bernama Vega masuk dengan gaya di buat buat sok cantik nan seksi.
"Permisi, Mas Yoga.. ini laporan yang harus Mas Yoga tanda tangani." ucap Vega sambil tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya.
"Oh silahkan taruh saja di situ!" ucap Yoga tanpa melihat ke arah Vega.
"Emm..Mas Yoga ada yang bisa di bantu??" tanya Vega kemudian menawarkan diri.
"Tidak..kamu boleh keluar." ucap Yoga.
Vega pun mendengus kesal karena merasa di acuhkan oleh pewaris perusahaan properti itu. Sudah beberapa kali ia mencoba mendekati bos muda nya, tetapi sia sia saja. Yoga selalu bersikap dingin kepada nya.
Vega berusia tak jauh beda dengan Prayoga karena dia termasuk sekretaris baru yang bekerja di Perusahaan itu. Tubuh nya yang seksi serta paras yang cantik, membuat Vega gampang di terima di manapun ia mau. Apalagi Ia mempunyai prestasi yang sangat memadai untuk menjadi sekretaris.
"Dia udah punya pacar kali ya?" gumam Vega di meja kerjanya.
"Tapi perasaan nggak pernah tuh gw liat dia bawa cewek,"
"Apa mungkin kurang greget kali ya pendekatan nya??" gumamnya.
"Kenapa kamu bicara sendiri??" tanya Cita tiba tiba muncul di depan meja kerjanya.
"Ehh...hehe...tidak, Bu Cita.." jawabnya sambil tersenyum kaku.
"Waktunya kerja ya kerja, sekarang bukan jam nya untuk melamun.." gertak Cita.
"Baik, Bu ..saya minta maaf..", ucapnya lirih.
"Kerja yang profesional, kalau sekali lagi kamu melakukan hal itu lagi ,kamu saya pecat..!!!" ucap Cita seraya menggebrak meja kerjanya.
Vega hanya mengangguk pelan tanpa menjawab perkataan Cita.
"Paham??" tanya Cita lagi.
"Baik, Bu saya paham." ucapnya lirih.
Cita kemudian langsung melangkah masuk ke dalam ruang kerja Yoga.
"Sibuk loe?" tanya Cita tiba tiba.
"Oh..nggak kok, Kak..lagi ngecek laporan aja..kenapa?" tanya Yoga.
"Gak apa apa, tadi habis meeting di restauran deket sini, jadi gw mampir deh.." ucap Cita sambil duduk di sofa ruang kerja Yoga.
"Ohh.."
"Gimana udah berani loe tampil sendiri di ruang meeting??" tanya Cita sambil melirik ke arah Adiknya itu.
"Sudah dua kali gw berdiri tanpa Papa." ucap Yoga.
"Baguslah.. tingkatkan kualitas kerja loe dan juga rasa percaya diri loe,"
"Baiklah, Kak.." ucap Yoga sambil tersenyum.
Memang, semenjak Yoga mau terjun dan berlajar di perusahaan nya, Cita menjadi seorang Kakak yang baik dan juga pembimbing. Tidak ada lagi Cita yang kejam atau judes yang menyebalkan.
"Kalo udah makan yuk, gw laper banget nih," ajak Cita.
"Oke, tunggu 5 menit lagi." ucap Yoga sambil sibuk mengutak-atik laptop nya.
***
"Pak, mau nambah lagi dong," ucap Diandra.
"Siap, Mbak Dian.." ucap Pak Di penjual bakso langganannya itu.
"Oh ya tadi pagi Pak Dika minta nomor WhatsApp kamu," ucap Suci memberi tahu.
"Pak Dika..?? Pak Dika yang...."
"Iya , Pak Dika AssMen itu loh beb."
"Kok minta nomor WhatsApp gw lewat kamu?? emang kenal??" tanya Diandra heran.
"Iya kan Dika itu kakaknya Siska teman SMA ku." jawabnya.
"Ohh..buat apaan sih minta nomor segala??" gumam Diandra seraya memakan baksonya.
"Yee.....emang kamu gak peka apa kalau tiap pagi dia lihatin kamu terus.."
"Ya biasa aja sih, banyak juga yang lihatin aku kalo jalan." ucap Diandra.
"Hmm.. percaya yang cantik sekantor, baru kerja di sini aja udah punya banyak hatters nya."
"Bwahahaha....Pak Di, denger gak katanya saya ini cantik sekantor." Diandra tertawa terbahak-bahak. Pak Di hanya tertawa mendengarnya karena merasa tak pantas jika ikut nimbrung bicara dengan orang orang cantik.
"Loh emang kamu cantik kok..beneran." ucap Suci yakin kalau teman barunya itu benar benar menggoda lawan jenis.
"Kamu juga cantik.. semua wanita ini cantik," ucap Diandra kemudian.
"Yeee.....bisa aja lu.."
dddrrrrrtttt.....drrrrrttttttt.... drrrrrttttttt...
Ponsel Diandra berdering panjang tanda telepon masuk.
"Halo selamat siang, Pak Roni." ucap Diandra dengan sopannya.
"Halo.. kamu sekarang dimana?" tanya Pak Roni di seberang sana.
"Saya sedang makan siang di depan, Pak." ucap Diandra.
"Oh setelah makan kamu antarkan berkas berkas yang ada di meja saya ya..kamu antar ke ruangan Assisten manager." perintah Pak Roni.
"Baik, Pak"
"Dan satu lagi, kamu bilang laporan itu sangat banyak kekeliruan, jadi mintalah dia untuk segera merevisi ulang. 2 jam lagi saya akan presentasi dengan client dari Jakarta."
"Baik, Pak segera saya laksanakan."
"Ya..saya sedang berada di luar ada kepentingan mendadak jadi kamu handle semua ya..bisa kan?"
"Bisa, Pak."
"Baiklah .. terimakasih."
Panggilan terputus.
"Ada apa??" tanya Suci ingin tahu.
"Oh nggak ini Bos minta aku keruangan Assisten manager untuk mengembalikan berkas laporan nya."
__ADS_1
"Assisten manager??? Pak Dika dong.." tanya Suci membelalakkan matanya.
"Iya..kenapa??"
"Dia pasti grogi banget kalau kamu ke ruangannya." ucap nya heboh.
"Ck...apaan sih .. aku duluan ya, Pak Di ini uangnya..sekalian sama makanan Suci ya."
"Baik ,Mbak.. totalnya semua 45 ribu."
Diandra kemudian mengeluarkan uang selembar 50 ribuan.
"Nih Pak..ambil aja kembaliannya."
"Mbak Diandra ini udah cantik baik hati tidak sombong lagi." gumam Pak Di seraya melihat Diandra melangkah meninggalkan tempat itu.
***
Di tempat lain tepatnya di restauran yang menjadi tempat makan terfavorit bagi seorang Prayoga, Ia sedang membolak-balik menu makanan.
"Saya mau macaroni schotel keju pedas aja, Mbak..sama minuman nya....emmm..."
"Bisa di coba menu best seller kami, Kak..ada menu es kopi susu yang mempunyai banyak menu pilihan." ucap karyawan resto memberi tahu.
"Ohh..ini ya yang lagi best seller..saya mau yang es coffe latte aja,"
"Baik, sama apa lagi, Kak??"
"Loe mau yang mana kak??" tanya Yoga melihat ke arah Kakaknya.
"Samain aja sama punya loe." jawab Cita sambil memainkan ponselnya.
"Baik, silahkan di tunggu sebentar ya, Kak."
"Gw mau ke Surabaya besok, loe mau ikut?" tanya Kak Cita tiba tiba.
"Ngapain loe ke sana??Kek gak ada kerjaan aja.."
"Songong....!!! Ini juga tender proyek perusahaan properti elu, Bambang!! Gue di suruh Papa kesana untuk ketemu sama client nya" jelas Kak Cita.
"Oh...kirain liburan."
"Luh mau ikut nggak?? sekalian belajar."
"Nggak deh keknya..Kan besok gw harus meeting sama client dari Jepang." balas Yoga.
"Ya udah kalo loe ada jadwal, kirain kosong.."
"Hehehe...kan lu tau sendiri kalo gue sekarang super sibuk jadi nggak ada waktu tuh buat main main lagi kek dulu." ucap Yoga sambil tersenyum simpul.
"Percaya deh yang udah mulai pinter mimpin perusahaan sendiri."
"Kan Kakak yang ngajarin, ya harus pinter juga lah kayak gurunya." ucap Yoga bangga.
Mereka pun tertawa bersama.
Tak berselang lama, makanan pun datang. Mereka langsung menikmati makanan di siang hari itu dengan lahapnya.
"Ini enak banget loh macaroni schotel nya." ucap Cita di sela sela makan.
"Mangkanya tempat ini menjadi favorit gw dari dulu, Kak."
"Beda loh dari yang lain, hebat yang buat ini.." ucap Cita lagi.
"Mbak Mbak...sini deh," panggil Cita kepada salah satu pelayan restoran.
"Iya, Mbak ada yang bisa saya bantu?"
"Ini kok bisa enak banget sih, yang buat siapa?" tanya Cita antusias.
"Yang buat chef restauran kami, Mbak.. resep nya dari Ibu Bos langsung." jawabnya.
"Emm...jadi resep ini dari pemilik restauran ya?"
"Es coffe latte ini juga???" tanya Yoga kemudian.
"Betul sekali, Kak..Menu kopi langsung dari resep anak Bos kami.."
"Ooo..ya udah terimakasih" ucap Cita.
"Baik, saya permisi, Kak..."
Yoga dan Kakaknya membicarakan banyak hal hingga 2 jam lamanya. Membahas sesuatu yang bersangkutan dengan perusahaan dan project-nya. Mereka berdua tidak memikirkan lagi soal urusan percintaan karena bagi mereka tidaklah penting.
Apalagi Yoga, ia tidak ingin berhubungan dengan perempuan lain karena hatinya masih ingin bersama Diandra meskipun sekarang Diandra tak tahu berada di mana.
Bahkan media sosial nya sudah di blokir oleh Diandra semenjak kejadian yang lalu. Yoga hanya bisa pasrah, jika memang dirinya berjodoh dengan Diandra pasti Tuhan akan mempertemukan mereka lagi suatu saat.
***
Sekarang sudah jam kerja lagi setelah istirahat siang selama 1 jam. Mereka sibuk dengan pekerjaan masing masing tanpa ada suara sedikitpun.
tuk tuk tuk tuk tuk...
Suara high heels Diandra memecah keheningan di dalam kantor memasuki ruang kerja Assisten manager.
"Saya ingin bertemu dengan AssMen atas perintah Bos Roni." ucap Diandra kepada sekretaris AssMen.
"Iya kamu masuk aja, Dian."
"Baik, terimakasih."
tok tok tok..
"Permisi, Pak Dika."
"Oh ya silahkan masuk."
"Saya ingin mengantar kan berkas laporan yang bapak buat..Bos minta Anda untuk segera merevisi ulang karena 2 jam lagi akan di buat presentasi di depan client."
"Apa ada yang salah??" tanya Dika gugup.
"Bos sudah menandai bagian mana yang harus di perhatikan.. Segera ya, Pak..saya kembali lagi 1 jam lagi untuk mengambil nya."
"Ba..baik.."
Diandra melangkah keluar dari ruangan Dika. Dika yang melihat tubuh Diandra dari belakang itu hanya bisa menelan ludah nya.
"Cantik banget ..bikin gw gagal fokus tau nggak.." gumamnya pelan.
"Ahhh...Sial..!!! Pakek salah lagi nih laporan., jadi molor deh jam pulang gw" gerutunya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB, semua karyawan kantor berhamburan keluar untuk pulang ke rumah masing-masing. Begitupun dengan Diandra dan Suci. Mereka berjalan beriringan menuju rumah kos mereka yang jaraknya hanya beberapa langkah.
Di kamar kos bernomor 13 itu , Diandra membuka pintu kamar kosnya. Ia langsung menhampas tubuhnya di atas tempat tidur mungil miliknya. Sementara Suci memilih untuk masuk ke dalam kamar kosnya yang berada tepat di samping kamar Diandra yang bernomor 14.
Kamar kos yang berukuran 3x4 itu sangatlah sederhana karena hanya ada single bed, lemari dan juga kamar mandi yang begitu sempit. Bisa saja Diandra memilih tempat kos yang agak besar, tetapi karena alasan tak mempunyai kendaraan di kota ini, jadinya mau tak mau ia harus menempati tempat kost itu.
Sebenarnya bisa saja Diandra membeli sebuah apartemen mewah di kota itu, tetapi ia tak ingin terlalu muluk-muluk. Diandra ingin mengumpulkan penghasilan nya untuk membeli rumah yang ia inginkan. Maka dari itu, Ia saat ini sangat disibukkan dengan urusan kantornya dan juga memantau perkembangan bisnis kecilnya itu.
Bicara soal bisnis, Diandra mampu mengendalikan bisnisnya dari jauh. Ia sekarang juga tengah mengurus cabang restauran yang ada di kota Surabaya itu karena permintaan Ayahnya. Sedangkan bisnis kedai kopinya sekarang sudah mempunyai banyak cabang yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia.
__ADS_1
Diandra juga mempunyai orang orang kepercayaan untuk mengurusi bisnisnya. Keuntungan dari bisnis yang ia pegang sekarang sudah mampu untuk membeli sebuah mobil serta rumah mewah jika ia mau. Tetapi memang pada dasarnya Diandra tidak ingin terlihat mencolok. Ia tetap menjadi Diandra yang apa adanya. Diandra yang hanya seorang sekretaris pribadi lulusan SMA 08.
Saat ini dirinya sudah mempunyai 100 orang karyawan yang berkerja di bisnisnya. Hmm sangat fantastis bukan?