
"Lelucon macam apa lagi ini?? Gue kek buronan aja di skap nggak boleh keluar!!", ucap Erlin Lantang.
"Tapi itu sudah perintah dari Tuan besar, Nona"
"Hey.. dengarkan saya.. saya juga nyonya disini, saya berhak keluar masuk tanpa harus minta izin" ucap Erlin sedikit berteriak.
"Ada apa ini teriak teriak??" Tanya Cita tiba-tiba.
Erlin menoleh kearah sumber suara . Menatap Cita dari atas sampai bawah, Dari bawah sampai atas dengan sinisnya.
"Kau siapa?? kenapa kau berada di rumah gue??" tanya Erlin dengan ketus.
"Oh jadi loe nggak tahu gue siapa?? tanya Cita tersenyum licik.
"Memangnya loe siapa?hah??? Bentak Erlin.
"Aduhhh non erlin cari gara-gara, pasti ngamuk nih non citanya" Gumam pembantu itu.
"Jawab loe siapa berani berani masuk ke rumah gue" bentak Erlin lagi.
"Hey... loe kira ini hutan se enak jidat loe teriak teriak nggak jelas" bentak Cita dengan menahan amarahnya.
"Ya biarin lah, rumah rumah gue, dari penampilan elo.. seperti nya loe ini Salwa obat herbal deh." ucap Erlin kemudian.
Cita hanya menatap tajam ke arah Erlin.
Anak tak tahu diri, baru saja tinggal disini sudah sok berkuasa . Batin Cita sambil mengepalkan tangannya.
"Maaf, Non Erlin, itu adalah Nona muda Cita anak pertama dari Tuan besar Guna Herlambang." Kata salah satu pembantu memberi tahu.
Erlin langsung lemas mendengar nya.
Oh my God mulut guee.. kenapa sih ceroboh kek gini. Batin Erlin seraya menutup mulutnya.
"Ehh... hehehe haloo, Kakak ipar.. Kakak ipar sedang apa disini??" Tanya Erlin gugup.
"Sedang apa sedang apa.. Ini rumah keluarga saya."
"Hehe..maafkan saya, Kakak ipar"
"Nggak usah sok akrab dengan saya" bentak Cita seraya berjalan ke ruang kerjanya.
"Ehh ehh, Kakak ipar..kita kan belum kenalan.. " Erlin berlari kecil ke arah Cita.
"CUKUP..!!! Saya tidak suka mendengar suaramu itu" bentak Cita seraya menunjuk ke arah Erlin berdiri.
Kenapa penghuni rumah ini sangat menyeramkan semua. Batin Erlin.
Erlin memilih masuk ke kamar membangunkan Yoga yang tengah tidur lelap.
"Suamiku..suamikuu bangunn!!!" Teriak Erlin di samping Yoga.
"Apaan sih, Er... berisik. !!!!! ganggu orang tidur aja"
"Suamiku, anterin ke rumah Papa ambil baju dong.. aku disini kan nggak punya baju." Kata Erlin seraya menarik narik tangan Yoga.
"Ogahhhh...loe punya kaki tinggal jalan aja kesana" kata Yoga dengan mata yang masih terpejam.
"Aku nggak boleh keluar dari sini tanpa seizin Papa mertua.." Rengeknya
"Bodo amat. "
Erlin mendengus kesal.
Bahkan hape juga lupa nggak gue bawa tadi. Batin Erlin.
Erlin memilih duduk di sofa sambil menyilangkan kedua tangannya di dada dengan bibirnya yang dimajukan dua senti.
"Benar benar membosankan.." ucap Erlin. Ia pun memilih tidur di sofa itu menunggu Mr.C datang kerumah.
*****
Siang ini Diandra sedang berada di teras rumah, menunggu motornya yang tak kunjung datang..
"Yaaa ..kalo motor gue nggak dateng dateng gue nggak bisa ambil hape gue dong di bang Jeky" Gumamnya pelan.
Ia sedang mengganti perban yang ada di lengannya.
"Sedang apa kamu, Dian.." Tanya Ibu Ayu menghampiri.
"Motor Dian kok nggak dateng dateng ya Bu? Kan dian mau ngambil hp."
"Coba kamu hubungi nomor Pak Guna, tanyakan pada dia" ucap Ibu memberi saran.
"Ohhh.. iya iya.. boleh pinjam hp nya, Bu??"
"Di kamar Ibu kamu ambil sendiri ya, Ibu mau ke toko sebelah dulu"
"Okey, Bu.."
Diandra segera menuju kamarnya mengambil kartu nama Pak Guna. setelah itu ia mengambil ponsel Ibu di kamar.
tuutt tutt tutttt...
Kok nggak bisa di hubungi?? Batin Diandra.
Beberapa kali ia mencoba menelepon ulang tapi hasilnya nihil, nomor pak Guna tidak bisa di hubungi.
"Gimana nih? pak Guna nggak bisa di telpon lagi.. " Gumam nya pelan.
"Apa gue ke kantor pak Guna saja, disini kan tertera alamat lengkap perusahaan GH group"
Lalu segera ia memesan ojek online. Dan pamit dengan Ibunya yang sedang masak di dapur.
"Bu.. Diandra mau ke kantor pak Guna saja, Diandra curiga soalnya nomornya tidak bisa dihubungi "
"Ya sudah hati - hati,. "
****
Di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi , Diandra menemui Security yang ada di depan pintu masuk.
"Permisi, Pak.. benar ini perusahaannya bapak Guna Herlambang" tanya Diandra dengan sopan.
"Betul..ada perlu apa Anda mencarinya?" Tanya security.
"Hanya ada masalah kecil yang ingin saya tanyakan padanya."
"Untuk lebih jelasnya silahkan ketempat resepsionis." Kata security itu.
"Terimakasih pak."
Diandra segera menuju ke tempat resepsionis.
__ADS_1
"Selamat siang mbak.. ada yang bisa saya bantu?" kata resepsionis itu.
"Siang, saya ingin bertemu dengan pak Guna Herlambang mbak."
Untuk apa anak ini mencari bos besar Batinnya.
"Apakah sudah membuat janji?"
"Belum sih, mbak.. tapi saya mau bertemu dengannya untuk menanyakan sesuatu."
"Kalau belum membuat janji mbaknya harus menunggu di situ sampai Pak Guna melewati jalan ini" Kata resepsionis itu seraya tertawa kecil.
"Laah kok gitu, mbak?" tanya Diandra bingung.
"Kantor ini itu untuk orang - orang penting, Lha kamu masih sekolah kan? bukan disini dek main nya, sana di lampu merah" Ejek resepsionis itu seraya melihat Diandra dari bawah ke atas.
brakkkk
Diandra yang tak terima dengan perkataan perempuan itu langsung menggebrak meja .
"Gue mau ketemu sama pak Guna, mbak nya tinggal bilang aja susah amat sih"
"Hey, jaga ya sikap kamu.. Apa kamu tidak punya sopan santun..hah?" ucap resepsionis itu.
"Saya dari tadi sudah sopan, tapi Anda ngatain saya anak kecil, emang salah kalo saya mau bertemu dengan pemilik perusahaan ini?" seru Diandra nyolot.
"Salah besar..! Disini tidak ada anak kecil. Yang ada orang-orang penting berpakaian rapi"
"Apa apa an sih ini.. intinya gini aja ya mbaknya yang cantikk.... saya ingin bertemu dengan pak Guna boleh apa tidak??kalau tidak boleh saya pulang." ucap Diandra dengan geram.
"Oh silahkan pulang.. pintu keluar ada di sebelah sana"
Mr.C yang kebetulan lewat melihat dua wanita tengah beradu mulut.
"Ada apa ini?" Tanya Mr.C menatap resepsionis itu dan Diandra secara bergantian.
"Ini tuan, adek kecil ini mau ketemu sama bapak Guna Herlambang" Ucapnya sok manis.
"Adek kecil adek kecil..kenapa sih tuh orang sensi banget Ama gue" Gumam Diandra.
"Ada perlu apa Nona ingin bertemu dengan Bos besar kami?" Tanya Mr.C dengan suara beratnya.
"Saya ingin menanyakan sesuatu Tuan ,bolehkah saya bertemu dengannya?"
"Nama Anda siapa, Nona??"
"Diandra Putri, Tuan."
Mr.C segera menelepon pak Guna untuk memberitahu ada yang mencarinya.
"Halo, Bos, ada yang ingin bertemu"
"Seorang gadis bernama Diandra Putri"
"Baik, Bos" Mr.C menutup teleponnya.
"Anda di minta ke ruangannya sekarang" Kata Mr.C melihat Diandra.
"Tapi dimana pak Guna berada?"
"Ada di Lantai 45, mari ikut saya."
"Anda nanti ke ruangan pak Guna karena berani ribut disini." Kata Mr.C kepada resepsionis itu dengan tatapan tajam.
Diandra kemudian berjalan mengikuti Mr.C .Tidak ada suara yang keluar dari mulut keduanya. Diandra memilih mengekor di belakang Mr.C seraya mengedarkan pandangan nya ke segala arah. Bahkan di dalam lift pun tidak ada yang membuka suara sampai pada ruangan pak Guna di lantai 45.
Sekretaris pak Guna yang melihat itu merasa bertanya-tanya. Pasalnya baru kali ini ada gadis yang berani bertemu dengan pak Guna di jam kerja. Apalagi hari ini jadwal meeting sangat padat.
Mr.C mempersilakan Diandra masuk ke ruangan pak Guna.
"Selamat siang pak Guna." Sapa Diandra sambil menundukkan kepalanya tanda hormat.
Pak Guna yang saat itu tengah sibuk dengan beberapa laporan yang di cek nya menoleh ke sumber suara dengan tersenyum.
"Ehh, Nak Diandra, silahkan duduk."
Diandra hanya mengangguk seraya berjalan ke tempat duduk di depan pak Guna.
"Ada apa, Nak Diandra? Apa lukamu baik baik saja?" Tanya pak Guna seraya melihat lengan Diandra yang tertutup oleh jaketnya.
"Sudah tidak papa kok, Pak.. Oh iya pak, saya mau menanyakan tentang motor saya.. kok belum di antar ke rumah ?"
"Oh astaga saya lupa menyuruh orang untuk mengambilnya di bengkel" Ucap pak Guna seraya menepuk jidatnya.
"Tapi motornya sudah selesai kan pak?"
"Sudah sudah.. pemilik bengkel sudah memberitahu saya tadi pagi..Saya lupa nak Dian, soalnya dari pagi saya sangat sibuk."
"Ohh.. hehehe.. tidak apa, Pak Guna..kalau begitu dimana alamat bengkel itu, Pak? saya mau mengambil motor saya karena sudah ada janji."
"Biar kan orang suruhan saya yang mengantar kamu kesana"
"Wah.. tidak usah pak.. merepotkan.. hehehe.. saya naik ojek saja kesana."
"Sudah jangan membantah.." Seru pak Guna kemudian menelepon seseorang.
"Kamu ke ruangan saya sekarang." Perintah Pak Guna.
Sesaat kemudian, Mr.C muncul di ruangan pak Guna.
"Ada yang bisa saya bantu, Bos?" tanya Mr.C .
"Oh iya.. kamu antar nak Diandra ke bengkel mengambil motornya. Jangan biarkan dia pulang sendiri bawa motor.. kamu paham?"
"Baik, bos saya paham.",
"Eh tapi pak ,saya bisa bawa pulang sendiri motornya , terus saya nanti tidak langsung pulang ke rumah. Saya mau mengambil ponsel saya yang sedang di servis."
"Tidak apa biar dia yang akan mengantar kamu ke tempat itu.." kata pak Guna tersenyum.
"Baru kali ini bos terlihat begitu peduli dengan gadis ini !!!"Batin Mr.C
"Ya sudah kalau begitu pak, saya permisi dulu" Diandra bangkit dari tempat duduknya kemudian menyalimi tangan pak Guna dengan sopan.
"Anak ini begitu sopan santun dengan orang tua." Batin Pak Guna dan ia tersenyum simpul.
"Hati - hati, nak Diandra " kata pak Guna.
"Baik, Pak.." jawab Diandra tersenyum simpul.
"Mari ikut saya, Nona.." ajak Mr.C .
Diandra pun mengikuti Mr.C seperti tadi.. Ia memilih untuk tidak bersuara sedikit pun. Begitu pula waktu di dalam mobil, Diandra lebih memilih melihat ke arah luar jendela yang terlihat setengah terbuka itu.
__ADS_1
Karena Diandra melihat Mr.C sangat lah menyeramkan. Dia berbadan besar kekar ,mempunyai jambang tipis yang menutupi sebagian rahangnya. Dan memakai kacamata hitam serta suaranya yang berat.
"Nona Diandra?" Panggil Mr.C
"Ya, Tuan?" jawab Diandra seraya menoleh ke arah Mr.C .
"Anda mau di antar kemana dulu sebelum mengambil motor di bengkel? "
"Ohh.. ke jalan hitam putih Tuan mengambil ponselku disana?" Jawab Diandra pelan.
"Panggil saya Mister!" Perintah Mr.C dengan suara beratnya.
"Baik tuua... eh Mister..Nanti kalau sudah dekat saya kasih tahu." jawab Diandra.
Tak ada jawaban lagi dari Mr.C ,dia hanya diam dan Diandra juga memilih diam melihat lagi ke arah luar jendela.
Setelah berada di jalan hitam putih dan telah sampai di sebuah konter hp kecil ,Diandra turun menemui bang Jeky.
"Bang Jek.. udah kelar kan?" tanya Diandra tiba-tiba.
"Udah nih, eh elo kok nggak bawa motor, naik apa loe kesini?" Tanya Jeky celingukan.
"Hehe iya bang motor gue di bengkel, itu gue naik mobil" jawab Diandra seraya menunjuk mobil yang berhenti di pinggir jalan.
"Berapa bang?"
"250 ribu.. nih hape loe udah buntut tau.. masih aja di pelihara.. hahaha. " ucap nya.
"Ehh biarin lah, Gue dapetin ini itu pakek duit gue sendiri. hasil nabung selama setahun..udah ya bang makasih..gue balik dulu "
"Ya ya.. hati hati loe.."
Di dalam mobil Mr.C mendengar jelas apa yang Diandra dan orang itu bicarakan. Karena mobil terparkir tidak jauh dari konter itu.
"Sudah, Mister.. ayo jalan lagi." Ucap Diandra memasuki mobil.
Tidak ada jawaban dari Mr.C ,Diandra tengah sibuk dengan ponselnya.
"Yahh.... nomornya hilang semua, gimana sih bang Jeky.." Gumamnya pelan tapi Mr.C mendengar nya.
"Aduh nomor Yoga juga nggak ada lagi ."
"Apa yang di maksud nona diandra itu tuan yoga?? Apa dia mengenal nya??
"Nona, kenapa ada yang bisa saya bantu?"
tanya Mr.C ingin tahu.
"Eh enggak ,Mister.. ini loh ponselku di restart ulang, nomornya hilang semua..jadi bingung mau hubungi mereka kemana"
"Kan Nona bisa bertemu dengan mereka di sekolah" jawab Mr.C dengan enteng nya.
"Iya tapi kan ini lagi musim liburan Mister, nggak bisa ketemu " jawab Diandra melas.
"Datangi saja rumahnya.."
"Sahabat saya di luar Negeri, Mister..sedang di rawat di sana, terus rumah Yoga saya nggak tahu dimana"
"Yoga?? Apa yang anda maksut Tuan Prayoga?"
"Anda mengenal nya?? Astaga kenapa saya bisa lupa kalau anda bagian dari keluarga Pak Guna" seru Diandra menepuk jidat.
"Saya bukan bagian dari keluarga Guna Herlambang nona.. saya hanya orang suruhan Presdir " Kata Mr.C terkekeh kecil.
"Ohh... hehehe... kan sama saja anda keluar masuk rumah nya"
"Apa anda menyukai tuan Prayoga?"
Diandra tersentak kaget mendengar pertanyaan Mr.C. Dia bingung mau menjawabnya.
"Sebaiknya, Anda tidak usah mendekati Tuan Prayoga lagi !" seru Mr.C tiba-tiba.
Diandra di buat terkejut lagi dengan ucapan nya barusan.
"A.. Apa alasannya..kenapa?" Tanya Diandra pelan.
"Saya tidak bisa memberi tahu alasannya... yang jelas, Anda tidak perlu mendekati nya lagi."
maaf kan saya nona Diandra, seperti nya anda orang baik. saya tidak tega melihat kenyataan sebenarnya bahwa Tuan prayoga sudah di nikahkan dengan nona erlin .Batin Mister C.
Diandra memilih diam dengan perasaan tak karuan. Kenapa hatinya begitu sakit mendengar tentang hal itu. Jujur selama ini hatinya telah di isi dengan sosok Yoga, Meskipun ia tahu kalau Yoga mempunyai kekasih.
Dulu Yoga pernah bilang kalau dia tidak menyukai Erlin karena sikap Erlin yang sangat berlebihan.
Maka dari itu ia berani membuka hatinya untuk Yoga.
hhuuuuuuffffff.....
Diandra menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.
Bahkan baru saja saya bertemu dengan anda, saya bisa menyimpulkan kalau anda menyukainya.. hmm.. itulah kehebatan dari seorang Mister Carly,.. kasihan sekali anda. Batin Mr.C kemudian.
****
Di dalam kamar Yoga tengah tertidur pulas di bangunkan dengan suara ponselnya. Ia terpaksa membuka matanya karena ponsel itu terus berdering tanpa henti.
Ia bangun dan menyambar ponselnya yang ada di meja samping tempat tidurnya.
ngapain kak cita telepon gue sampek segini banyaknya.
Ia kemudian membuka pesan yang di kirimkan oleh Cita.
"ngapain gue di suruh ke ruangannya?"
Yoga pun segera mencuci mukanya, di lihatnya Erlin tengah tertidur pulas di sofa dengan kaki yang menekuk.
Yoga merasa cuek bebek dengannya dan memilih pergi ke ruangan kakaknya..
"Ada apa kak?? gue tadi lagi tidur..!!!", kata Yoga.
"Kenapa istrimu sangat tidak sopan dengan ku??" tanya kak cita.
"Dia memang seperti itu "jawab Yoga cuek.
"Baru saja menikah, sudah menganggap ini rumah nya " gerutu Cita.
"Kalau Kakak kesini mau bahas Erlin, Mending Yoga keluar" Seru Yoga berdiri dari tempat duduknya.
"Dia kan istrimu"
"Bahkan sampai detik ini, Yoga menganggap menikah dengannya adalah mimpi buruk. Yoga tidak menganggapnya istri " Ucapnya seraya keluar dari ruangan itu.
Baik Erlin, loe belum tahu siapa gue.. Gue akan buat perhitungan sama loe. Batin Cita.
__ADS_1