
Semenjak kejadian saat itu, Diandra benar benar menutup pintu hati nya untuk laki laki lain termasuk Yoga. Sudah beberapa kali Nuril menjelaskan, tetapi tak pernah sedikitpun Diandra mengindahkan ucapan sahabat nya itu.
Pada suatu hari di suatu mall, Diandra dan Nuril tengah asyik bersantai di sebuah cafe setelah beberapa jam keliling untuk shopping. Mereka tengah menikmati cemilan nya sambil sesekali tertawa lepas membicarakan tentang sesuatu.
"Ehemmmm.." Nuril berdehem untuk memulai pembicaraan.
"Napa loe?? keselek??" tanya Diandra seraya tertawa kecil.
"Emmm ..gue mau tanya boleh?" tanya Nuril
"Nanya apaan?" jawab Diandra sambil memakan kentang goreng nya.
"Emmm....itu si Erlin, berita yang di postingan tidak lah benar adanya, Put." kata Nuril dengan sangat hati-hati.
"Lalu??"
"Ya cuma bo'ongan.. Dia mau cari sensasi gitu loh dan Yoga juga udah bilang kalo udah cerai sama tuh anak," ucap Nuril.
Diandra hanya diam mendengarkan perkataan sahabatnya itu. satu menit, dua menit, tiga menit tak ada jawaban dari Diandra.
"Putri.....!!!!!" panggil Nuril kesal.
"Apaan sih teriak teriak, gue nggak budeg kali" ucap Diandra kesal.
"Elo kok nggak respon sama sekali sih apa yang gue bilang? bikin males deh." gerutu Nuril bete.
"Ya udah kalo males tuh stop..!!" ucap Diandra malas.
"Ya tapi kan......"
"Gue kan udah pernah bilang sama elo..jangan bahas ini lagi, gue udah muak.. Ngerti !!" ucap Diandra penuh penekanan.
"Ya tapi kan gue....."
"CUKUP..CUKUP...dan CUKUP...gue nggak mau bahas ini lagi." potong Diandra kesal.
Nuril pun hanya mendengus kesal karena merasa kesulitan untuk menjelaskan kebenaran hubungan Yoga dan Erlin.
"Gue kasian sama Yoga, dia udah mohon mohon sama gue untuk bantuin dia deket lagi sama elo..tapi kayak gini respon loe sekarang." ucap Nuril ngegas.
"Buat apa ?? Hey.. loe mau gue jadi cacian orang orang dan anak anak lainnya kalau gue ini pelakor..Iya? sahabat macam apa loe??" jawab Diandra penuh emosi dan ikutan ngegas.
Diandra sudah tak tahan dengan sikap keterlaluan Nuril, setiap hari mau di rumah , di sekolah, di telepon bahasnya tentang Yoga, Yoga, dan Yoga.
"Tapi mereka itu udah cerai, Put!!" ucap Nuril kemudian.
Diandra bangkit dari tempat duduknya dan memilih untuk pergi meninggalkan Nuril yang banyak bicara tak penting itu.
"Putri.. elo kok ninggalin gue sih," teriak Nuril mengejar Diandra.
"Males gue sama loe, udah hampir 2 bulan ngomongnya itu terus..capek gue." ucap Diandra seraya mempercepat langkahnya.
"Tapi kan emang bener, kalo Yoga pengen deket lagi sama elo dan gue sebagai sahabat loe, pengen yang terbaik buat kalian." ucap Nuril mengimbangi langkah Diandra yang begitu cepat.
"Nggak perlu loe lakuin hal itu!!!" ucap Diandra
"Ya nggak boleh gitu dong, Put!!! elo nggak boleh keras kepala kek gitu, hargai usaha gue!!"
"Cukup!!! pergi loe dari sini..gue nggak mau berteman lagi sama loe" ucap Diandra penuh emosi.
"Lohh kok gue sih yang salah??" tanya Nuril tak mengerti.
"Ya jelas loe yang salah!! dari bulan lalu loe nyerocos mulu nggak ada hentinya dan loe tau,, gue muak sama loe." ucap Diandra penuh penekanan.
"Gue juga muak sama loe ,punya sahabat kok nggak bisa di kasih tau pelan pelan, mau nya menang sendiri." ucap Nuril tak mau kalah.
"Oh ya udah, nggak usah berteman sama gue..pergi loe!!!" ucap Diandra sambil mendorong pelan tubuh Nuril.
"Oke , gue akan pergi dan satu lagi, nggak usah panggil panggil nama gue lagi." kata Nuril dengan mengibaskan rambut panjang nya.
Mereka akhirnya pulang sendiri sendiri. Diandra memilih untuk naik taksi sedang kan Nuril pulang dengan supirnya, Pak Diman.
Diandra sangat kesal di buatnya. Bagaimana tidak, sudah beberapa kali Diandra bicara baik baik kepada Nuril untuk tidak membahas tentang hal itu lagi, tetapi tetap saja Nuril mengulangi perbuatannya itu. Benar benar membuatnya naik darah.
Ke esokan harinya di SMA 08.
Diandra baru saja memarkir kendaraan nya di parkiran. Sejenak ia duduk di atas motor matic kesayangannya untuk melepas helm dan kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas. Ia tidak menunggu Nuril seperti biasanya, karena sudah jelas sekarang mereka sedang bertengkar.
Sementara di depan gerbang, Nuril baru saja turun dari mobil di antar Pak Diman. Ia berjalan santai seperti biasanya. Dan pada saat di parkiran, Nuril sengaja celingukan mencari keberadaan Diandra, tetapi nihil. Tidak ada sahabat nya lagi yang biasa menunggu di atas motornya.
"Oh... beneran dia musuhin gw." gumam Nuril kesal.
Ia pun melangkah kakinya ke dalam kelas. Di lihatnya Diandra tengah asyik bercanda dengan teman-temannya tanpa menghiraukan dirinya yang baru saja datang.
Nuril mengerucutkan bibirnya yang mungil karena kesal.
"Helow....gw baru dateng nih !! nggak ada yang nyambut gw?? sibuk amat loe pada!!" teriak Nuril.
Diandra hanya melirik sekilas dan kemudian melanjutkan berbincang dengan temen temen nya.
"Ohh...bener loe ya nggak temenan lagi Ama gw??" gumam Nuril kesal. Ia memilih memainkan ponselnya sambil sesekali melihat ke arah kanannya dimana Diandra tengah asyik berbincang.
Tak lama Guru pun masuk memulai kegiatan belajar di pagi hari itu.
***
Dua jam kemudian bel istirahat berbunyi, semua murid kelas 11 IPA berhamburan keluar kelas untuk menuju ke arah kantin. Begitu pula dengan Diandra, Ia berjalan seorang diri menuju kantin untuk membeli minuman dingin.
Yoga yang melihat Diandra berjalan seorang diri menjadi bertanya tanya. Pasalnya, baru kali ini Diandra sendirian ke kantin.
Karena merasa ingin tahu, akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Nuril untuk menanyakan hal itu.
ttuuuuuuttttttttt📞
"Apaan??" jawab Nuril tiba tiba di seberang sana.
"Elo nggak masuk hari ini?" tanya Yoga.
"Masuk gue, kenapa?" jawab Nuril.
"Di mana loe sekarang?" tanya Yoga lagi.
"Di kelas lah..Napa emang?"
"Elo kok nggak keluar ke kantin sih sama Diandra?? kalian nggak lagi musuhan kan?"
"Iya gue berantem sama dia, gara gara gue belain elo .gue kemarin di maki maki sama Diandra Putri" ucap Nuril dengan nada tinggi.
"Loh..kalian berantem?? maafin gue ya, Ril.." ucap Yoga merasa tak enak hati.
"It's okey..gapapa kok." jawab Nuril di seberang sana.
"Ya udah kalo gitu, eh btw thanks ya udah bantuin gw selama ini.. sekali lagi gue minta maaf." ucap Yoga lagi tak enak hati.
"Udah gpp emang Diandra nya aja yang keras kepala" ucap Nuril sebal.
"Ya udah kalo gitu, sorry."
tuuuuuuuttttt📞.
Panggilan terputus.
Yoga kembali mengamati Diandra dari kejauhan. Sementara Diandra saat ini tengah berbincang dengan temen temen yang lainnya di depan kelas.
Nuril yang merasa haus akhirnya memutuskan untuk menuju ke kantin. Ia berjalan ke luar kelas melewati Diandra.
__ADS_1
Nuril berjalan lurus tanpa melihat ataupun melirik ke arah Diandra, sehingga menimbulkan pertanyaan di benak teman temannya yang lain.
"Eh kenapa itu si Nuril?" tanya Mega kepada Diandra. Sementara Diandra hanya menjawab dengan mengangkat bahunya saja.
"Kalian berantem??" tanya Mega lagi. Dan lagi lagi Diandra hanya menjawab dengan mengangkat bahunya.
Sesaat kemudian, Nuril kembali dengan membawa mie instan dalam cup dan sebotol air mineral. Sama seperti tadi, Ia berjalan tanpa menoleh kearah Diandra.
"Fiks kalian berantem," ucap Mega menyimpulkan sendiri.
Diandra hanya diam sambil memainkan gadget nya.
"Kok bisa sih kalian berantem, kan kalian dari kelas 1 udah klop banget," ucap Mega kemudian.
"Udah gapapa, santai aja ..lagi sebel gw ama tuh anak," jawab Diandra ogah ogahan.
"Hmmm...hari ini dia nggak ada suaranya ya, dieeemmm mulu" ucap Mega seraya tertawa terbahak-bahak.
"Udah ah, bahas yang lain aja." ucap Diandra.
Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Meraka semua memutuskan untuk masuk ke dalam kelas masing-masing begitu pula dengan Diandra.
***
Di kediaman Teguh.
Erlin tengah selonjoran sambil memainkan ponselnya. Kehamilannya kini telah memasuki usia 7 bulan lebih dan sampai saat ini belum diketahui jenis kelamin bayi itu karena terkendala dana.
Erlin di rumah bersama pak Teguh saja. Pasalnya beberapa waktu yang lalu, Bibi pembantu di berhentikan oleh pak Teguh karena tidak bisa membayar gaji tiap bulannya. Meskipun demikian, Bibi pembantu rumah sesekali menengok keadaan mantan majikannya yang tengah hamil itu. Ia tak tega melihat Erlin yang tengah hamil tanpa ada yang memperhatikan.
Dan surat gugatan cerai dari Yoga telah meluncur satu bulan yang lalu. Meskipun demikian, Pak Guna tetap memberikan uang sebesar 500 ribu rupiah per bulan untuk menyambung hidupnya, serta memberikan bingkisan berupa kebutuhan ibu hamil setiap minggunya. Seperti parselan buah dan susu khusus ibu hamil.
Bukan karena apa apa, hal itu Pak Guna lakukan sebagai ucapan terimakasih atas penyerahan perusahaan properti milik Teguh. Dan Pak Guna akan tetap membantu biaya Erlin sampai bayi itu lahir termasuk biaya persalinan di rumah sakit.
Memang pada dasarnya masih belum dewasa dalam berpikir, Erlin mengira kalau perlakukan khusus dari Pak Guna itu karena menganggap dirinya masih berstatus sebagai menantu keluarga Guna Herlambang. Sehingga, Ia selalu memposting pemberian dari Pak Guna di Instagram pribadinya dengan caption yang di buat buat. Seolah olah pak Guna perhatian padanya.
Hal itulah yang membuat Diandra yakin untuk tidak mau membuka hatinya lagi untuk Yoga. Diandra diam diam selalu melihat postingan Erlin dari hari ke hari karena rasa penasaran yang tinggi.
Itulah sebabnya, Diandra musti emosi ketika Nuril selalu meminta nya untuk dekat lagi dengan Yoga. Ia tidak ingin menjadi seorang perusak rumah tangga orang meskipun orang itu sangat di cintai nya. Apalagi Pak Guna adalah orang yang paling berpengaruh di Negara ini, apapun akan di lakukan nya jikalau kehidupannya terusik oleh orang lain.
tok tok tok.
"Erlin, kamu sedang apa?" tanya Pak Teguh di ambang pintu kamar Erlin.
"Lagi nunggu pesanan makanan datang, Pah!" jawab Erlin.
"Bukankah Papa tadi sudah memasak sayur bayam untukmu??" tanya Pak Teguh mengerutkan keningnya.
"Nggak suka!!" sentak Erlin sambil memegang perut buncitnya.
"Lalu kamu sedang memesan makanan apa??"
"Erlin lagi pengen mie ayam," ucap nya enteng.
"Hmmm... belajar hemat sedikit kenapa sih, Nduk?"
"Pa!! Erlin kan sudah di kasih uang jajan oleh mertua Erlin, jadi harus di habiskan dong," ucapnya.
"Hey,, kamu itu sudah bukan lagi menantu di kelurga itu, sadar, Nakk..."
"Lalu apa artinya semua ini??" seru Cita dengan nada tinggi.
"Pak Guna hanya kasihan padamu, karena tidak ada yang memberimu asupan makanan bergizi untuk janin di kandungan mu itu, Papa tidak mempunyai uang lebih untuk membelikan ini semua.. paham??" jelas Pak Teguh panjang lebar.
"Huuuuhhhh.....kenapa harus begitu," gerutu Erlin.
"Bukankah dia begitu baik kepada kita, meskipun perusahaan properti milik Papa di ambil alih olehnya, tetapi dia masih baik memberikan modal kecil untuk membuka usaha baru," jelas Pak Teguh lagi.
"Iya juga sih, tapi gapapa, Erlin bikin sensasi ajah di Instagram biar pada heboh." ucap Erlin sambil tersenyum licik.
"Suka suka Erlin lah, Pa!!" jawab Erlin ketus.
Semenit kemudian tiba-tiba, Erlin merasakan kesakitan di perut bawah nya.
"Aaaaaaahhhhh....aduhhh...aduhhhh...sakit banget..." keluh Erlin panik.
"Ke..kenapa kamu, Erlin???" tanya pak Teguh ikut panik.
"Sakit, Pah..aduhhhh.......sakittt...." teriaknya.
"Ayo, ayo kita kerumah sakit sekarang."
Karena tidak bisa berjalan, Erlin pun akhirnya di gendong pak Teguh menuju jalan depan untuk mencari angkutan umum.
15 menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit terdekat.
"Aduhh ,,huuuu...haaaa....aduhhhh ..hu...huuh" rintih Erlin di gendong an papanya.
"Sabar, Nak sabar.."
"Sussss.....Susterr....tolong ini anak saya perutnya sakit." teriak pak Teguh mencari bantuan.
"Atas nama siapa, Pak?" tanya salah satu Suster cantik itu.
"Erlina." ucapnya panik.
"Baik, Silahkan tunggu sebentar, saya akan mengambil kursi roda." ucap Suster itu.
Erlin di naikkan ke kursi roda lalu di bawa ke ruangan persalinan.
"Dok, pasien atas nama Nona Erlin akan melahirkan." ucap Suster.
"Baiklah, saya periksa pembukaannya dulu." kata Dokter itu.
"Aduh sakit..!!!!!!!" teriak Erlin saat di cek pembukaan jalan lahir.
"Masih pembukaan satu, sementara Nona ini sangat lemah kondisinya." ucap Dokter itu kemudian.
"Aduhhh....sakittt ......haaaaaa........" teriak Erlinn tak karuan.
"Nona...tenang dulu...tolong ikuti arahan saya, tarik nafas..buang.... tarik.....buangg... ayo cepat"
"Enggak......nggak bisa, sakittttttttt....." ucap Erlin.
"Nona..kalau kamu teriak teriak seperti ini nanti tenaganya habis." ucap Suster menambahi.
"Aduhhhh.....haaaaa.....sakitttt.....tolonggg....."
Suster membantu mengelus pinggangnya untuk mengurangi rasa nyeri.
Dokter pun mengecek pembukaan lagi.
"Jangan.... jangan di colok colok ..sakit..!!!" teriak Erlin meronta.
"Gapapa tahan sebentar, saya akan mengecek pembukaan jalan lahirnya." ucap Dokter ikut panik.
"Aduhhh jangan di colok,, sakittt....huwaaaaaahahhaa..." ucap Erlin menangis.
Suster yang melihat kejadian itu hanya diam menahan tawas serta jengkel.
Sementara di luar ruangan, Pak Teguh menunggu dengan cemas. Ia mondar-mandir kesana kemari sambil sesekali melihat ke kaca kecil ruangan itu dimana Erlin tengah kesakitan di tangani Dokter.
"Ya Tuhan..tolong lancarkan persalinan anak hamba." gumam Pak Teguh gelisah.
Dokter kemudian keluar menemui Pak Teguh.
__ADS_1
"Pak, Nona Erlin sampai saat ini masih pembukaan dua," ucap Dokter memberi tahu.
"Lalu?" tanya pak Teguh tak mengerti.
"Saya akan melakukan induksi persalinan." ucap Dokter itu.
"Lakukanlah yang terbaik, Dok." ucap Pak Teguh sedikit memohon.
"Baiklah."
Sementara di ruang persalinan, Erlin yang tengah kesakitan sedang uring-uringan akibat sikap Suster.
"Kenapa Nona marah marah pada Suster?" tanya Dokter.
"Apa apaan , kenapa payudara saya di pegang pegang.. saya nggak suka..addduhhhhh...sakitttt..." ucapnya.
"Nona, ini namanya stimulasi ****** susu agar dapat memicu kontraksi." ucap Dokter memberi tahu.
"Aduhhh.....udah lepasinn...nggak usah di plintir plintir kayak gini..sakit." ucap Erlin sedikit membentak.
"Kalau begitu, siapkan peralatan operasi." kata Dokter itu kemudian.
"Nggak....nggak mau operasi. sakit.. "
"Nona..!!! dengarkan saya!! bayi anda ini sudah ingin keluar, jadi tolong lah jangan egois, kasian bayi ini..kita harus segera menangani nya agar kalian berdua selamat." sentak Suster dengan tatapan mata tajam.
"Betul apa kata suster, kalau tidak ingin operasi maka Nona harus ikutin arahan saya."
"Aduuhhhhhh.....perutku....sakittttt......" teriaknya lagi.
"Sebentar sebentar, saya cek dulu."
"Pelan pelan ya, Dok kalau colok jalan lahir saya..sakit tau." pinta Erlin.
"Aduhhh.....di bilang pelan pelan malah di obok obok ..gimana sih, Dok !!"
"Sudah diam, Mbak !!" ucap Suster.
"Baru pembukaan 4." gumam Dokter.
Suster tetap melakukan stimulasi ****** susu meskipun Erlin sesekali menepis tangannya.
2 jam kemudian.
"Kebelet pup, Dok." ucap Erlin tiba tiba.
"Jangan sampai Nona mengejan, tunggu sampai pembukaan lengkap ya..."
"Tarik nafas..buang ...tarik nafas....buang...ayo coba." ucap Suster memberi arahan.
"Huuuhhhhhaaaaaa....Eeeeeeegg...."
"Jangan ngeden dulu, Mbak ." ucap Suster kesal.
20 menit kemudian
"Eehhh.....ini apaaa, gue pipis ya??" teriak Erlin tiba tiba.
"Dok, ketubannya sudah pecah..!!" teriak suster.
"Baik, ayo ikutin arahan saya, Nona.."
"Sakitt....aduhh.... tolong. !!!!" teriaknya lagi.
"Aduh...mbak...jangan jambak rambut saya dong," ucap suster kesal.
"Edward...!!!! gara gara loe ,gue kesakitan kek gini ..huuuhhh...haaaa.....Eeeeeegggggggg"
3 jam kemudian, lahirnya bayi perempuan dengan bobot 2,5 kg dan panjang 50 cm. Tentunya dengan tragedi yang sangat menegangkan bagi Erlin.
Berbagai sumpah serapah di lontarkan nya kepada Edward, selalu ayah dari bayi itu. Dan yang menjadi pelampiasan adalah suster. hihihi. Sekarang penampilan Suster menjadi tak karuan. Rambut yang tadinya tapi sekarang amburadul karena jambakan dari Erlin. Mungkin jika ada suaminya pasti suaminya lah yang menjadi pelampiasan.
"Nona, bayi Anda perempuan, sempurna." ucap Dokter sambil tersenyum.
"Iya, Dok,!! eh mau di apain lagi ini?? kan bayinya udah keluar" tanya Erlin.
"Eh, Mbak ..!! ini robekannya kemana mana, kalau nggak di jahit ya nggak lucu dong, mleber kemana mana." ucap Suster emosi. Ia tengah mempersiapkan peralatan jahit untuk menjahit jalan lahir itu.
"What?? di jahit..eh jangan ngadi ngadi deh, udah capek nglahirin, sakit sekarang di bikin sakit lagi." protes Erlin.
"Ngadi ngadi gundulmu itu, ini juga demi kebaikanmu juga, Mbak!!" gerutu Suster.
"Sudahlah, Nona ..menurut saja, semua orang yang melahirkan normal dan mempunyai robekan jalan lahir pasti di jahit kok."
"Tapi sakit lah..gila..nggak mau gue" tolak Erlin lagi.
"Saya ambilkan kaca, silahkan di lihat sendiri punya kamu, Mbak..!!" ucap Suster. Ia kemudian mengambil kaca yang berukuran persegi.
"Tuh...lihat sendiri..bagus nggak kek gitu?"
"Ya ampun...itu apaan kek gitu?? serem amat," ucap Erlin terkejut melihat bagian bawah nya yang robek kesana kemari.
Dokter Ninda dan Suster Elmi tertawa bersamaan mendengar perkataan Erlin. Baginya, ini adalah sebuah pengalaman pertama mempunyai pasien sangat mengocak perut dalam situasi seperti ini.
"Tenang dan rileks saja..semua pasti akan baik baik saja.." ucap Dokter memberi tahu.
Suster kemudian menyuntikkan obat bius di bagian **** * Erlin agar tidak terasa sakit nanti waktu di jahit.
"Aduhh,,, apaan sih ini.." ucap Erlin sambil meronta.
"Ehh ..jangan gerak gerak, Mbak..nanti ketusuk jarum ini baru tahu rasa kamu.."
"Katanya kalo di bius nggak sakit, ini masih sakit banget malah.." ucap Erlin.
"Aduhhh.....pelan pelan napa sih, kek jahit baju sobek aja loe, kasar amat."
"Berisik banget sih!! Diam aja napa?"
Setelah semuanya selesai, Erlin segera memposting foto bayi kecilnya yang tengah menyusu itu ke media sosial dengan caption yang di buat buat.
Sementara itu, Diandra yang tengah memainkan ponselnya tengah menstalking Instagram milik Erlin.
"Oh,, udah lahiran." gumam Diandra seraya tersenyum simpul. tiba-tiba butiran kecil bening meluncur mulus di kedua pipinya. Ada perasaan sakit yang teramat sakit melihat itu semua. Mungkin mulutnya mengikhlaskan cintanya sudah berkeluarga tetapi tidak dengan hati nya.
Diandra membayangkan Yoga tengah berbahagia dengan kelahiran anak pertama mereka.
"Pasti saat ini elo seneng banget" ucap Diandra tersenyum simpul dengan mata berkaca-kaca.
"Gue ikut bahagia lihat ini semua, dan pasti Pak Guna juga tengah berbahagia karena sudah menimang cucu pertama kali nya." gumam nya lagi.
Sementara itu di kediaman Guna Herlambang. Mr C tengah berbincang dengan pak Guna dan juga Yoga di ruang tamu.
"Bos, tadi sore Nona Erlin sudah melahirkan di rumah sakit terdekat." ucap Mr C memberikan informasi.
"Bukankah usia kehamilan nya baru akan memasuki usia 8 bulan?" tanya Pak Guna heran.
"Saya tidak mengerti akan hal itu, Bos ! Nona Erlin sudah melahirkan normal dan mempunyai bayi perempuan dengan bobot 2,5 kg."
"Sudah kau urus administrasi nya??" tanya Pak Guna kemudian.
"Sudah, Bos!!"
"Baguslah..setelah ini kita akan melakukan cek DNA untuk mengetahui ayah dari bayi itu." ucap Pak Guna lagi.
"Untuk apa lagi, Pah?? bukankah sudah jelas kalau bayi itu anaknya Edward?" tanya Yoga tak mengerti.
__ADS_1
"Untuk memastikan bahwa bayi itu benar benar bukan darah dagingmu dan bukan keturunan Guna Herlambang." ucap Pak Guna lantang.