
Bak mantra mujarab, ucapan ketus namun jujur apa adanya dari Rhine semalam membuat suasana hati dan wajah Junna yang semula kelam kelabu berubah cerah ceria, bahkan hampir seperti orang gila karena terlalu banyak tersenyum kepada hampir semua orang yang ia temui di sekolahnya.
"Junna, lo nggak lagi kesambet setan penghuni rumah-rumah kosong di komplek lo kan?" Tia melongo melihat perubahan drastis dari sohabat kentalnya itu.
"Enggak, malah gue ngerasa setan itu (maksudnya Rhine) membantu gue dalam mempercepat penyembuhan sakit hati gue," Senyum Junna benar-benar tidak lepas dari bibirnya. Teman-temannya menjadi agak merinding dibuatnya. Mereka justru khawatir Junna benar-benar sudah mendekati gila karena patah hati dari cinta pertama. Semua orang pun tahu jika membicarakan cinta pertama tidak akan pernah mudah untuk melupakannya.
"Sudahlah Na, kalau memang mau menangis ya menangis saja, gue aja kalau lagi kesal sama cowok gue, gue nangis...," Ucap Riri.
"Yee..., itu sih karena elonya aja yang mellow dan drama," Junna mencubit pipi chubby Riri dengan gemas. Tentunya dengan rintihan sakit yang dikeluarkan Riri.
TENG... TENG... TENG...
Terdengar bunyi bel tanda masuk sekolah. Anak-anak murid pun segera membubarkan diri dari kerumunan di kursi Junna dan kembali duduk di bangkunya masing-masing setelah mendengar bel tersebut.
"Selamat pagi anak-anak," Pak Thamrin, guru Biologi masuk ke dalam kelas.
"Selamat pagi Pak...," Jawab anak-anak murid serempak. "Bagaimana anak-anak, apakah PR yang minggu lalu sudah kalian kerjaan?"
"Sudah Pak!!"
"Bagus, sekarang kalian kumpulkan ke depan," Pak Thamrin memberi instruksi.
"Mampus gue!" Junna memukul kepalanya. "Buku PR Biologi gue ketinggalan di rumah! Gimana nih?"
"Serius lo?" Tanya Tia jadi ikut-ikutan cemas. "Coba cari sekali lagi di dalam tas lo."
"Sudah Tia, tas gue udah gue ubek-ubek sampe tiga kali tapi nggak ada..., pasti ketinggalan di rumah...," Junna telah kehabisan kata-kata. Kepalanya jadi pusing karena stres memikirkan bukunya yang nggak ada. Masa' anak teladan sepertiku bisa ketinggalan buku PR? Mau ditaruh dimana mukaku? Bisa turun derajat nih...Ia *** kepalanya menyerah tak tahu harus bagaimana lagi untuk menyelamatkan harga dirinya.
__ADS_1
TOK...TOK...TOK...
Terdengar suara pintu kelas XII-A yang diketuk oleh seseorang. Seluruh murid pun sontak menoleh kearah suara ketukan pintu.
"Permisi Pak, saya mau mencari Junna," Seorang lelaki penampilan necis berambut hitam pekat dan kacamata minus berbingkai merah sangat serasi dengan kaos putih polos, celana jeans hitam, tali pinggang merah dan sneaker senada berdiri di luar kelas menarik perhatian seluruh murid di dalam kelas XII-A, termasuk Junna.
Rhine?! Ngapain dia kesini?! Memangnya dia nggak ada kerjaan lain apa sampai harus tebar pesona di sekolahku?! Junna mengernyitkan dahinya tidak habis pikir melihat tingkah Rhine yang sok pura-pura menyamar agar tidak ada yang tahu bahwa ada artis terkenal yang datang ke sekolahnya.
"Saya mau mengantarkan buku PR Biologinya yang ketinggalan di rumah."
"Junna, ini ada orang yang mencari kamu." Pak Thamrin memanggil.
"Gilee..., keren banget!!" Tia yang berinsting tajam jika sudah menyangkut cowok-cowok keren dan ganteng segera menangkap sinyal kuat dan memberi komentar. "Pantesan Na, lo nggak lama-lama sedih setelah putus dari Ega, kalau cowok penggantinya sekeren dan seganteng ini sih gue rela diputusin Ega!"
"Iya Junna, keren banget!!" Sambung Cia, Lily dan Riri tak kalah histerisnya. "Mati pun kami rela kalau cowok kita kayak gini!"
"Dasar kalian pada gila semua! Dia itu bukan pacar baru gue, dia cuma tetangga baru disebelah rumah gue," Junna berdiri dari duduknya dan menghampiri Rhine. Ia pun segera menarik kaos Rhine guna menjauh dari kelas.
"Harusnya lo ngucapin terima kasih sama gue karena gue sudah mau menyempatkan waktu gue yang sangat berharga ini hanya untuk mengantarkan satu buku ke lo, lo tahu kan bayaran gue itu sangat mahal!" Rhine memukul kepala Junna pelan dengan buku PR milik Junna. "Tapi hebat juga lo bisa tahu kalau ini gue..., padahal ini adalah penyamaran sempurna dari gue untuk menghindari para fans."
"Aduh, ya tahu lah..., meskipun dandanan lo nggak heboh seperti biasanya, tetangga cowok yang gue tahu ya cuma elo," Junna mengelus-elus bagian kepalanya yang sedikit sakit karena dipukul buku oleh Rhine.
"Tadi waktu gue mau pergi ke studio, gue ketemu sama nyokap lo dan beliau menitipkab buku ini ke gue, untung hari ini pakaian gue biasa-biasa saja and nggak nunjukin kalau gue itu artis, bisa-bisa gue mati gaya karena dikerubutin para fan di sekolah lo," Rhine memasang gaya narsisnya.
"Iya-iya, terima kasih atas bukunya. Sekarang sana pergi! Gue nggak mau lo sampai ketahuan kalau lo itu Rhine," Junna mendorong Rhine, eh maksudnya mengusir Rhine.
Rhine menghela napas. Nampaknya ia mengerti maksud Junna. "Belajar yang rajin ya..." Tak lupa ia mengusap rambut Junna dengan lembut.
__ADS_1
Junna sontak terkejut ketika Rhine mengusap rambutnya. Wajahnya mendadak memerah dan jantungnya berdebar-debar. Padahal hal ini bukanlah yang pertama kali Rhine lakukan kepadanya. A..aku kenapa? Kok rambutku yang diusap Rhine, jantungku yang deg-degan?
"He-em!" Deheman Pak Thamrin menyadarkan Junna dari lamunannya. "Sudah selesai serah terima bukunya Junna?"
"Eh, oh, sudah Pak, hehehe...," Junna menyeringai dan kembali masuk ke kelas untuk duduk dibangkunya.
"Cieee..., yang seneng disamperin cowok barunya...," Ketiga teman Junna dan para murid lainnya meledek Junna. "Kenalin dong ke kita-kita."
"Pada berisik nih lo semua! Gue kan sudah bilang dia bukan pacar baru gue," Junna tetap kekeuh sama pendiriannya. Siapa yang sudi mau jadi pacar dia?
"Kalau bukan pacar terus apa? Kakak? Enggak mungkin kan?" Lily berucap sambil senyum-senyum.
"Kakak ketemu gede kali...," Salah satu teman cowok di kelas mengeluarkan celatukkannya.
Sialan! Enggak sopan! Gerutu Junna. Gue diledekin habis-habisan..., tamatlah riwayatmu Rhine!
"HAHAHA...," Seluruh anak sekelas tertawa.
"Sudah berhenti bercandanya," Pak Thamrin mengetok-ngetokkan spidol di whiteboard untuk menghentikan keributan kecil di kelas tempat ia mengajar saat ini.
"Tapi kalau diamati kayaknya muka cowok tadi nggak asing deh, mukanya mirip artis siapa gitu," Dahi Tia berkerut seakan ia sedang berpikir keras mengingat sesuatu hal yang terlupakan olehnya.
"Ah, cuma perasaan lo aja kali," Junna menjadi sedikit panik dan berusaha mengalihkan pembicaraan. "Dia cuma mahasiswa yang dibeliin rumah oleh orangtuanya dan kebetulan disebelah rumah gue."
"Iya kali ya...," Tia mengangkat bahu tanda menyerah karena tak menemukan jawaban.
Untung Tia percaya omongan gue, kalau dia tahu orang tadi adalah Rhine matilah gue...
__ADS_1
Junna menghela napas panjang dan mengelus dadanya sebagai tanda kelegaan. Ia pun kembali fokus pada materi Biologi yang diajarkan gurunya
***