
Langit hari ini begitu gelap dan menggumpal penuh awan Cumulus menandakan perubahan musim gugur yang akan segera berlalu digantikan musim dingin. Titik-titik putih mulai berjatuhan menyentuh jendela rumah sakit. Rupanya butiran salju tak sabar untuk menyapa dengan dingin esnya. Junna tampak lemah bersender pada sofa yang ada di ruang praktek tempat Shine dengan pipinya yang kemerahan bekas air mata.
"Jangan terlalu menyiksa dirimu sendiri Junna," Suara Shine yang membawa sekaleng minuman lemon hangat favorit Junna membuat Junna sedikit menengadah kearah Shine.
"Terima kasih...," Dengan tangan sedikit gemetar ia meraih dan segera membuka minuman kaleng tersebut kemudian meminumnya berharap suasana hatinya sedikit tenang.
Shine sempat terkejut ketika jam kerja prakteknya selesai, tiba-tiba Junna datang dan memeluknya erat. Tangisnya pecah tak tertahankan. Tak pernah sedikitpun terpikir bahwa adiknya yang ceria dan penuh warna mendadak kelabu tak terkendali pilu. Ada apa gerangan yang membuatnya seolah terluka dan kecewa? Ia pun membiarkannya sejenak agar Junna dapat melampiaskan seluruh tangisnya. Hingga adik tirinya itu menjadi sedikit tenang seperti sekarang ini.
"Kak..., mengapa aku merasa Tuhan tak adil padaku ya?" Junna menatap kosong kearah pintu ruang praktek milik Shine itu. "Mengapa yang aku inginkan dan harapkan susah kuraih sementara orang lain sangat mudah mendapatkannya?"
__ADS_1
"Hush, nggak boleh berucap seperti itu Junna," Tegur Shine secara halus.
"Semua sahabatku sudah menemukan jodohnya masing-masing dan beberapa dari mereka ada yang sudah menikah dan akan menikah dalam waktu dekat ini,” Junna berusaha untuk tidak menangis, namun desakan sesak di dadanya yang cenderung terasa perih memaksanya untuk mengeluarkan air matanya kembali. “Sedangkan percintaanku tidak berjalan mulus. Dulu Ega dan sekarang Rhine! Delapan tahun Kak Shine, delapan tahun aku menunggu dan bersabar untuk meraih cintaku, namun apa yang terjadi? Ibunya Rhine begitu tak menginginkan keberadaanku disisi putranya hanya karena...,” Junna tak sanggup melanjutkan ucapannya karena permintaan Ashiya yang begitu menyakitinya hingga tak sanggup mengulang cerita.
“Junna...,”
“Apa yang salah Kak dari diriku ini? Mengapa aku harus dihadapkan dengan masalah sepelik ini?!” Suara Junna tiba-tiba meninggi dan berubah histeris dan frustasi. “Apakah aku tidak pantas mendapatkan cintaku dan berbahagia akan hal itu?!”
“Hei, maukah kamu mendengarkan sebuah kisah?” Shine mengenggenggam kedua tangan Junna dan duduk bersimpuh mengandalkan lutut sebagai tumpuannya. “Sebuah kisah tentang seorang anak yang harus menghadapi perceraian kedua orang tuanya karena ternyata selama ini Ayah dari anak itu tak pernah mencintai Ibunya. Ayahnya menyesal telah mengorbankan tunangannya yang rela mengalah agar Ayah dan Ibu anak tersebut bersatu mengingat Ayahnya mau bertunangan dengannya demi kesembuhan Ibunya yang menderita penyakit kronis. Sang Ibu telah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak bercerai dengan suaminya demi anak tersebut, namun perasaan tak dapat dipaksakan sehingga perceraianpun tetap terjadi. Tak lama sejak perceraian itu, penyakit Ibunya kembali kambuh sehingga menyebabkannya meninggalkan anaknya untuk selamanya sedangkan Ayahnya menikah dengan perempuan yang pernah menjadi tunangannya dan melahirkan seorang anak perempuan yang cantik dan sepasang malaikat lelaki kembar yang saat ini menjadi adik-adikku...,” Shine tersenyum lembur dan mengaitkan poni rambut panjang Junna ke belakang telinga sang gadis. Lelaki itu hanya berusaha meredam gemetar yang ia alami ketika menceritakan masa lalunya.
__ADS_1
“Kak...,” Junna terkejut dengan kenyataan yang diceritakan oleh Shine. Ia tak menyangka bahwa ada polemik seperti itu terjadi pada keluarganya karena semuanya tampak baik-baik saja. Shine sangat akrab dengan Mamanya yang notabennya adalah Ibu tiri baginya. Kakaknya itupun sangat menyayangi dirinya dan kedua adiknya. Apakah ini karma untuknya yang selama ini berbahagia dan berkelimpahan kasih sayang serta cinta dari kedua orang tuanya diatas penderitaan anak yang bersedih karena kehilangan keluarga utuhnya? Pantaslah ia menghadapi dilema yang sama tentang cintanya pada Rhine yang melibatkan Ibunya.
Tuhan..., jika seperti itu mohon ampuni atas dosa dan ketidaktahuan hamba-Mu ini...
“Apakah Kakak menyalahkan semua takdir yang terjadi?” Shine menggelengkan kepalanya kemudian melanjutkan ucapannya. “Tidak Junna, Kakak tidak menyalahkan siapa-siapa. Bahkan Kakak begitu sayang padamu dan kedua adik kembar kita. Kakak anggap bahwa ujian itu untuk membuat Kakak menjadi pribadi yang tangguh untuk dapat menggapai asa dan cita-cita Kakak hingga menjadi dokter yang diperhitungkan disini.” Ia mengusap air mata Junna. “Jadi, apapun yang terjadi, tetap ada Kakak, Papa, Mama Nadia, Izer, dan Isar yang selalu ada dan akan memelukmu dalam kondisi apapun.”
“Kak Shine,” Junna memeluk erat Shine sambil terus menangis. “Maafkan aku yang selama ini tidak pernah mengerti perasaan Kakak yang kesepian dan terluka. Maafkan aku karena merasa bahwa diriku yang paling menderita padahal Kak Shine mungkin lebih terluka dibandingkan aku..., maafkan aku ya Kak...”
“Sudah..., sudah...,” Shine mengusap-usap punggung Junna dan sesekali menepuk-nepuk untuk menenangkannya. “Tuhan itu Mahaadil Junna dan kamu tak boleh meragukan hal itu sedikitpun. Namun terkadang kita sebagai manusia lupa bahwa adilnya Sang Pemilik segalanya itu takarannya berbeda dan tak terbatas jika dibandingkan dengan pikiran manusia yang terbatas. Percayalah bahwa Dia tak akan menguji hamba-Nya dengan suatu ujian yang hamba-Nya itu tak dapat melewatinya. Aku yakin kamu bisa melewati ini semua dan begitu kamu bisa melewatinya, dalam sekali jentikan jari, kebahagiaan akan menyambutmu tak henti-hentinya seperti Kakak yang punya seorang Ibu tiri yang baiknya luar biasa sayang pada Kakak dan adik-adik yang mengesalkan namun sangat Kakak sayangi seperti dirimu, Izer dan Isar.”
__ADS_1
“Iya Kak,” Junna mengangguk di pundak Shine tempat dirinya menumpahkan tangis. Ia berjanji pada dirinya sendiri dan membatkan tekad bahwa apapun keputusan yang ia buat nanti adalah yang terbaik untuk semuanya. Jikalaupun ada yang terluka, cukuplah ia yang merasakannya dan akan berusaha melewatinya untuk menggapai kebahagiaan yang menantinya. Tak apa-apa, semua akan baik-baik saja Junna..., semua akan baik-baik saja..., kamu pasti bisa melewatinya..., pasti! rapalnya berkali-kali untuk menenangkan dan meyakinkan diri dan hati.
***