Junna dan Rhine

Junna dan Rhine
14-1


__ADS_3

"Rhine, jika kau mendengar pesan suaraku ini berarti aku sudah pergi meninggalkan Seoul untuk kembali ketempat seharusnya aku berada..."


BLAM!


Rhine menutup pintu mobil yang ditumpanginya bersama Yudha tepat berada di depan rumah besar bergaya minimalis modern milik kedua orang tuanya yang berada di Distrik Gangnam.


"Rhine! Tunggu Rhine!" Teriak Yudha. Ia yang melihat adanya amarah yang siap meledak segera menyusul Rhine untuk menahan lelaki itu sejenak agar tidak melakukan tindakan gegabah.


"Maafkan aku yang tidak bisa berkomitmen untuk tetap bersamamu Rhine...," Terdengar suara Junna yang bergetar. "Aku melakukan hal ini demi kebaikanmu dan keluargamu..."


"Rhine tunggu!" Yudha berhasil menyusul Rhine dan menghalanginya untuk masuk ke rumah.


"Jangan halangi aku lagi Mas Yudha karena kali ini Ibu sungguh keterlaluan!" Ucap Rhine dengan nada tinggi tepat dihadapan Yudha. "Minggir!" Ia pun menepis pundak Yudha untuk terus menerobos masuk namun tetap berusaha dihalangi oleh Yudha. Bagaimana tidak, niat awalnya ingin memberikan kejutan kepada Junna untuk melamarnya dengan cincin berlian bermata satu dan berwarna pink yang ia pesan khusus sesuai warna kesukaan gadisnya itu setelah sekian lama ia sibuk dengan aktifitas mengawasi seluruh produksi lagu dari para penyanyi yang berada di bawah naungan DG Entertainment justru ia yang mendapatkan kejutan yang tak terduga dari Junna. Ini gila!


"Banyak hal indah dan membahagiakan yang terjadi ketika kita bersama. Terutama ketika perasaanku terhubung nyata dan sama dengan perasaanmu, rasanya bahagia...sekali dan merasa takjub kita yang telalu berbeda ini bisa menembang asa cinta bersama, padahal kalau diingat-ingat aku kan benci sekali padamu ya Rhine," Senyuman Junna tersirat dibalik wajahnya yang ia tahan untuk tetap bersikap biasa ketika menyampaikan pesan untuk Rhine padahal hatinya ia ingin menangis sejadi-jadinya. "Namun ternyata semuanya hanya sementara..., rupanya Tuhan berkehendak lain Rhine..."


"Lepaskan aku Mas Yudha, lepaskan!" Rhine begitu gusar ketika berhasil memasuki rumah orang tuanya karena merasa ditahan oleh Yudha untuk menyampaikan apa yang ia rasakan saat ini. Emosinya tercampur aduk antara frustasi, marah, kesal, dan kecewa. Dunianya yang semula bak air laut biru nan jernih dan tenang tiba-tiba diterjang badai merubahnya menjadi kelam.


"Aku akan melepaskanmu jika kau bisa mengendalikan emosimu ketika menyampaikannya kepada orang tuamu, khususnya Ibumu!" Lanjut Yudha. "Aku tak ingin kau menjadi anak durhaka hanya gara-gara urusanmu dengan Junna! Karena aku yakin Junna melakukan ini padamu untuk mencegah hal seperti ini terjadi Rhine!"


"Persetan dengan itu!" Jawab Rhine gusar.


Ashiya menghentikan niat untuk meminum teh dari cangkir yang dipegangnya dan Kwon Hyun Suk menghentikan aktifitas membaca koran yang biasa dilakukannya setiap hari ketika mendengar derap langkah kaki Rhine yang sangat mereka kenal.

__ADS_1


"Ternyata selama 25 tahun hidupku saat ini terlalu banyak limpahan kebahagiaan yang diberikan oleh orang-orang disekelilingku tanpa menyadari bahwa kebahagiaanku itu berdiri diatas penderitaan yang lainnya. Rupanya delapan tahun merasa kehilangan tak cukup bagi Yang Mahakuasa untuk membuatku lebih dewasa dalam menghadapi hidup sehingga memberikanku ujian yang sama lagi."


Rhine meremas dadanya yang terasa sesak dan nyeri setiap mengingat rekaman suara Junna sebelum meninggalkan Korea Selatan pagi ini. Ia lengah! Seharusnya ia menyelesaikan masalah ini dengan Ibunya lebih cepat sehingga kejadian yang tak pernah ia duga ini tidak akan terjadi. Sekarang ia dapat mengerti perasaan Junna ketika tiba-tiba ia menghilang dari hadapannya tanpa berkata apa-apa setelah menyampaikan rasa. Dirinya yang dibuai dan dibumbung tinggi ke angkasa oleh cinta tiba-tiba dihantamkan ke bumi dalam kecepatan cahaya. Rasanya sakit dan terluka namun tak berdarah.


"Mungkin benar katamu bahwa kunci gembok yang kugantungkan di Namsang Tower dan kubuang ke bawah gunung itu mengenai orang lain dan kepalanya benjol atau terluka karena aku melemparnya dengan penuh niat dan sekuat tenaga sehingga orang itu menyumpah-serapahi aku agar doaku untuk dapat saling bertautan dan bersatu denganmu selamanya menjadi tidak terkabul," Terdengar Junna tertawa terkekeh miris.


"Apa yang Ibu lakukan kepada Junna?" Napas Rhine memburu berusaha menahan emosinya.


"Kamu itu bicara apa Rhine?" Ashiya tertawa keki dan mengaitkan rambutnya ke belakang telinga. Betapa cepatnya kabar itu sampai ke telinga putra tunggalnya itu.


"Apakah Ibu yang meminta Junna untuk meninggalkanku dengan cara diam-diam seperti ini seolah ia adalah pihak yang menyakitiku?!"


"Maafkan aku hanya bisa mengirimkan rekaman suara seperti ini karena aku tak sanggup untuk bertatapan muka langsung denganmu sehingga membuat keputusanku saat ini goyah dan bersikap egois untuk tetap bersamamu. Jangan salahkan siapapun atas semua ini, kalaupun ada orang yang ingin kamu salahkan itu adalah aku sendiri. Tak apa-apa Rhine... kita akan baik-baik saja meskipun keinginan kita tidak sejalan dengan takdir yang ada..."


"Selamat tinggal Tuan Narsisku..., kumohon jangan susul aku..., dan berbahagialah selalu...”


"Apa salah gadis itu hingga Ibu harus memaksanya untuk meninggalkanku?!" Ujar Rhine frustasi. "Apakah tidak cukup bagi Ibu memisahkanku dengannya ketika kecelakaan delapan tahun yang lalu sehingga ia merasakan bahwa aku telah mempermainkan perasaannya?! Apakah tidak cukup aku memaklumi Ibu yang memanfaatkan amnesiaku pada saat itu dan memaksa Mas Yudha untuk menyetujui ide gila membawaku pergi dan tinggal disini serta memaafkan Ayah?!"


Apa?! Jadi Rhine... Ashiya tidak menyangka bahwa Rhine telah sembuh dari penyakit amnesianya dan ia dengan seenaknya telah mengambil tindakan yang...


"Apakah tak cukup aku mengalah dan berusaha mengerti keinginan Ibu serta memaafkan perbuatan Ibu dan Mas Yudha padaku agar aku bisa menerima Ayah sehingga kita menjadi keluarga utuh sekarang ini?!" Rhine mengepalkan kesepuluh jari tangannya sekuat tenaga untuk mengendalikan emosinya. "Mengapa Ibu meminta hal yang tak mungkin ditolak Junna mengingat ia adalah orang yang sangat menghormati dan menyayangi keluarganya? Termasuk Ibu!"


"Aku...,"

__ADS_1


"Mengapa Ibu mengambil satu-satunya kebahagiaanku?! mengapa?!!" Rhine kali ini benar-benar lepas kontrol dan berteriak kearah Ashiya. Dalam hatinya ia berharap ampunan kepada Yang Mahakuasa karena sudah bertindak kurang ajar cenderung durhaka kepada Ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya sebagai orang tua tunggal yang penuh kasih sayang.


"Benarkah itu Ashiya?" Kwon Hyun Suk yang biasanya lebih banyak diam dan mengalah kepada Ashiya akhirnya membuka suaranya setelah mencerna dengan situasi yang terjadi pada istri dan putranya itu. "Jadi selama ini kamu..."


"Hyun Suk aku...," Ashiya bingung harus bagaimana bersikap dengan semua ini. Ia yang memiliki kelemahan mudah panik dan berpikiran pendek membuat situasi semakin rumit.


Yudha hanya menepuk dahinya menghadapi adegan drama sebuah keluarga yang membuatnya tertarik ke dalamnya begitu jauh.


Ampun..., mengapa semuanya menjadi begini?


***


NGIIIIIIIIINGGGG!


Pesawat berplat merah yang membawa Junna dari Seoul kembali ke Jakarta selama 6,5 jam akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tepat di Terminal Ultimate 3, terminal yang dibangun dengan desain modern kontemporer yang ramah lingkungan dan kental akan rasa tradisional. Setelah terhubung dengan sempurna dengan garbarata, satu persatu penumpang dipersilahkan keluar dari pesawat termasuk dirinya.


Jakarta..., akhirnya aku kembali... Junna menatap kesekelilingnya ketika kakinya telah menginjak ruang kedatangan.


Setelah meyakinkan bahwa koper yang tadi dititipkan pada bagasi pesawat telah diambil olehnya dan melewati imigrasi, akhirnya ia dapat menuju pintu keluar dan telah mempersiapkan diri ketika bertemu keluarganya serta telah berjanji untuk bersikap baik-baik saja. Namun ternyata bersikap baik-baik saja tidaklah mudah ketika Junna melihat Mamanya melambaikan tangan kanannya keatas didampingi sang Papa. Air matanya yang sejak dari Bandara Internasional Incheon berusaha ia tahan untuk tidak keluar akhirnya jebol dan meleleh juga di pipi. Ia pun segera berhambur memeluk keduanya.


"Pa..., Ma..., apa yang kulakukan ini sudah benarkan?" Tangis Junna semakin pecah. Ia tak memperdulikan orang-orang disekelilingnya yang menatap aneh kearahnya. "Benarkan?"


Nadia mengelus-elus punggung Junna berusaha menenangkan putrinya itu. "Sudah, tidak apa-apa, kamu sudah melakukan yang terbaik..."

__ADS_1


***


__ADS_2