Junna dan Rhine

Junna dan Rhine
4-2


__ADS_3

"Fiuhhh..., benar-benar malam yang melelahkan ya?" Rhine berkata sambil mengendarai mobil Ferrari merahnya. "Lo pasti capek karena tidak terbiasa dengan aktifitas hari ini, maaf ya udah buat lo jadi overtime di luar rumah, kayaknya gue mesti minta maaf juga sama orang tua lo."


Rhine sejak tadi terus saja berbicara sambil menyetir, namun orang yang diajak bicara malah sibuk dengan diri dan pikirannya sendiri.


Enggak, ini tidak mungkin! Masa iya aku jadi suka sama Rhine? Orang narsis kayak dia?! Pasti ada yang salah sama otakku! Iya, pasti ada yang salah!


"Hei, kok lo diam saja? Berarti gue dari tadi ngomong sama angin dong," Tanya Rhine bingung. "Lo masih ngambek sama gue? Gue kan sudah minta maaf sama lo, jangan ngambek lagi dong..."


"Siapa yang ngambek?" Junna berkata tanpa menoleh kearah Rhine.


"Habis..., pas tadi makan lo mendadak bersikap aneh..."


"Yang aneh itu lo tahu! Lo mendadak kayak orang lain aja hari ini, gue jadi bingung lo itu sebenarnya seperti apa?"


"Enggak usah bingung, gue yang di panggung sama keseharian gue kan berbeda, di panggung gue menjadi Rhine si artis, sedangkan di rumah gue jadi Rhine yang biasa."


"Enggak! Lo bukan Tuan Narsis yang gue kenal! Akh..., gue beneran nggak ngerti sama lo!" Junna semakin pusing mendengar ucapan Rhine. "Lo kayak punya kepribadian ganda!"


"Enak saja kepribadian ganda! Gue ya gue, hah..., kayaknya elo deh yang aneh..., pasti kecapekan banget ya?"

__ADS_1


CIIITTT!! Mobil Ferarri merah Rhine berhenti tepat di depan rumah Junna.


BLAM! Junna keluar dari mobil Rhine.


"Sana cepat tidur, biar besok lo nggak bangun kesiangan dan otaknya jadi fresh lagi serta bisa berpikir normal," Ledek Rhine.


"Berisik!" Bukannya terima kasih, Junna malah ngambek dan segera masuk ke rumah meninggalkan Rhine yang masih di dalam mobil. Rhine pun menghela napas. Ia kemudian memarkirkan mobilnya di garasi dan segera keluar dari mobilnya untuk masuk ke dalam rumah. Hari ini ia amat senang. Ia sungguh tak menyangka dapat berbuat hal konyol seperti itu. Selama ini hidupnya selalu penuh tekanan pekerjaan yang menuntut profesionalitas dan tidak memberikan kesempatan kepada kehidupan pribadinya. Keputusan yang ia ambil dengan pemikiran yang sangat matang, keputusan yang ia ambil akibat dari masa lalunya. Masa lalu yang tak pernah ia bagi oleh siapapun termasuk manajernya.


"Aku pulang Ma," Tak terdengar jawaban dari dalam rumah. "Ma..., Mama sudah tidur ya?"


"Junna..., tolong Mama...," Terdengar rintihan dari kamar orangtuanya. Junna pun bergegas menuju kamar orang tuanya. Betapa terkejutnya ia melihat Mamanya terduduk lemas di lantai.


"Junna..., tolong bantu Mama..., sepertinya sebentar lagi Mama akan melahirkan..."


"Apa?!" Junna pun jadi panik setengah mati. Aduh..., bagaimana ini...? Papa sedang ada dinas keluar kota, aku belum bisa nyetir mobil..., kalau panggil taksi kelamaan!!! Rhine! Iya, dia bisa membantuku!


"Mama disini sebentar ya, aku mau minta tolong sama Rhine...," Junna segera berlari menuju rumah Rhine. Digedor-gedornya pintu rumah Rhine.


DOK! DOK! DOK! DOK!

__ADS_1


"Tuan Narsis! Tuan Narsis!" Teriak Junna masih dalam keadaan panik. Karena terlalu panik yang terbesit dalam pikirannya hanya mengetok pintu depan rumah Rhine. Padahal jelas-jelas disebelahnya ada bel yang dapat digunakan untuk memanggil pemilik rumah. Ternyata benar bahwa ketika orang sedang dalam keadaan panik otaknya tidak dapat berkompromi dengan baik. "Tolong buka pintunya Tuan Narsis!"


"Ampun deh..., baru juga mau istirahat...," Keluh Rhine yang baru saja berniat untuk tidur. "Ngapain sih Junna malam-malam begini ngetok-ngetok pintu? Padahal kan sudah gue suruh dia untuk lekas tidur."


TOK! TOK! TOK! TOK!


"Tuan Narsis! Tolong buka pintunya..., gue mohon..."


"Iya sebentar!" Rhine segera turun ke lantai dua menuju pintu depan dan langsung membuka pintu. "Ada apa sih malam-malam begini?!"


Rhine terhenyak melihat wajah Junna yang hampir menangis.


"Tuan Narsis..., tolongin nyokap gue..., nyokap gue sepertinya sudah hampir melahirkan..., beliau harus segera dibawa ke rumah sakit..., tapi gue nggak bisa nyetir mobil..."


"Apa?! Ya sudah, tunggu bentar ya, gue ambil kunci mobil gue dulu!" Rhine segera mengambil kunci mobil dan langsung mengeluarkan mobilnya dari garasi. Setelah itu pelan-pelan ia membantu Nadia untuk masuk ke dalam mobil.


"Tante tenang saja, saya akan segera membawa Tante ke rumah sakit...," Rhine langsung menginjak pedal gas dan segera melesat menuju rumah sakit.


***

__ADS_1


__ADS_2