
Suasana sibuk tampak terlihat di rumah sakit Hallym University Medical Center. Sebuah rumah sakit yang diklaim sebagai rumah sakit yang memiliki keunggulan dan paling besar se-Korea Selatan. Tidak hanya itu saja, rumah sakit ini sering dijadikan tempat syuting sejumlah drama Korea ternama. Jadi, bagi fans yang ingin bertemu dengan aktor dan aktris terkenal di Korea dapat berkunjung kesana.
Akhir-akhir ini banyak pasien yang masuk ke rumah sakit dikarenakan wabah flu akibat perubahan musim yang cukup signifikan. Junna yang merupakan dokter magang pun tak dapat menghindar dari tugas tambahan untuk merawat pasien-pasien tersebut. Ia lelah, namun tak memungkiri bahwa ia sangat senang berada disini saat ini. Passion yang sempat hilang perlahan-lahan mulai ia temukan kembali.
"Ini kopi untukmu, terima kasih atas kerja kerasnya hari ini," Shine menyerahkan gelas plastik berisi kopi kepada Junna. Hari ini mereka mengalami malam yang paling sibuk dibandingkan hari-hari biasanya. Tak hanya pasien wabah flu, pasien kecelakaan pun cukup banyak yang masuk dari semalam. Rupanya anomali cuaca yang dialami di Korea Selatan saat ini khususnya Seoul tempat ia berada sekarang membuat orang-orang yang berkendara kurang mawas diri sehingga menyebabkan kecelakaan.
"Terima kasih Kak," Junna menerima gelas plastik tersebut dan segera meminumnya perlahan. Ah..., sungguh nikmat kopi panas ini..., rasa lelah dan kantuk yang ia tahan sejak tadi sedikit berkurang.
"Nampaknya kamu mulai terbiasa dengan suasana di rumah sakit ini, kendala bahasa dan culture shock yang sempat kukhawatirkan akan terjadi kepadamu ternyata tidak terjadi, para dokter yang bekerja disini dan pasien-pasien yang kamu tanganipun cukup puas dengan kinerjamu. Jadi aku tidak salah kan mengajakmu kesini?"
"Hmm...," Junna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Berterima kasihlah pada seorang Rhine yang memiliki separuh darah Korea dan selalu mencekoki segala sesuatu yang berbau Korea sehingga ia tidak mengalami kendala yang berarti selama ia disini. Rhine, nama itu lagi..., mengapa nama itu sangat susah sekali dihapuskan dari hatinya?
Junna melihat jam tangan pink yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Waktu telah menunjukkan pukul 10 pagi. Lebih baik sekarang ia pulang ke apartemen dan beristirahat. Rasanya sangat lelah dan yang ia butuhkan saat ini adalah tidur. "Kak Shine, aku pulang dulu ya, rasanya mataku ini tinggal setengah watt lagi dan butuh tidur."
__ADS_1
"Baiklah, aku juga akan bersiap-siap untuk menerima kunjungan pasien hari ini." Sambung Shine. "Hari ini aku ada janji dengan salah satu orang terkenal di dunia permusikan Korea lho...," Entah bagaimana ceritanya, Shine yang mengetahui dari Sang Papa bahwa Junna alergi dengan dunia entertainment sehingga sangat menghindari apapun yang berhubungan dengan dunia showbiz tersebut sengaja ingin menggoda adiknya itu. Melihat wajah kesal adiknya membuatnya tersenyum.
"Ya...ya...ya..., dan aku tidak tertarik untuk mendengar ceritanya," Junna melambaikan tangannya dan berjalan meninggalkan Shine menuju lorong tempat ruangannya berada untuk bersiap-siap pulang.
***
"Aku itu tidak sakit..., kenapa harus selalu dipaksa ke rumah sakit Mas Yudha?!" Suara protes seorang lelaki terdengar langsung di telinga Junna.
Suaranya agak mirip dengan Rhine! Ah, mungkin aku terlalu lelah sehingga mengalami halusinasi... Junna terus melangkah lurus tak memperhatikan sekelilingnya.
"Untuk apa ingat kembali? Kurasa Tuhan sengaja membuatku amnesia karena dimasa laluku hanya berisi hal-hal yang menyedihkan saja. Aku lebih suka dengan diriku yang sekarang."
"Jangan sembarangan kalau bicara!" Yudha memukul kepala Rhine karena kesal dengan sifat acuh tak acuh artis kesayangannya itu. "Aku ini sedang berusaha mengembalikan ingatanmu makanya aku terus-terusan cerewet dan mendampingimu untuk terapi dengan dokter terbaik dirumah sakit ini."
__ADS_1
"Terserah sajalah, toh hasilnya masih sama saja kan, aku tidak ingat apapun juga tentang masa laluku sampai sekarang." Rhine mengangkat bahunya cuek. "Yang terpenting kan bakatku menciptakan lagu-lagu hits tidak pernah pudar. Ayahku pun sangat bangga padaku. Lalu apa lagi yang kuharapkan?"
Yudha hanya menghela napas panjang. Ia mengingat kembali delapan tahun lamanya masa-masa ia mendampingi Rhine tinggal di Seoul. Kecelakaan yang terjadi ketika Rhine berusaha menghindari anak kecil yang menyeberang jalan raya merupakan titik balik kehidupan Rhine yang merupakan seorang penyanyi bertalenta dan terkenal mendadak hilang dari panggung dunia hiburan serta berubah menjadi produser musik bertangan dingin sekaligus pewaris tahta kerajaan bisnis DG Entertainment, perusahaan musik raksasa yang menguasai Asia. Ia benci mengakuinya, konspirasi licik dengan Ashiya–Ibunda Rhine, untuk membuat Rhine menerima Kwon Hyun Suk sang pemilik DG Entertainment sebagai Ayahnya berjalan mulus. Mereka berdua memutuskan pindah ke Seoul dan menghilang dari pemberitaan entertainment di Indonesia.
Disisi lain ia ingin menyembuhkan amnesia Rhine untuk memenuhi cita-cita Rhine menjadi penyanyi papan atas Dunia atau setidaknya di Asia, namun disisi lain ia ingin Rhine hidup bahagia bersama kedua orang tua yang telah kembali lengkap akibat kesalahan konyol orang tuanya dimasa lalu. ditambah lagi ia menemukan sebuah rahasia kecil yang selama ini disimpan rapat oleh Rhine sebelum kehilangan ingatannya. Sebuah foto Rhine bersama seorang gadis berseragam SMA yang cukup terkenal di Indonesia ia temukan di dalam dompet milik Rhine. Ia bertanya-tanya siapakah gerangan gadis itu? Mengingat Rhine yang ia kenal selama ini sangat menjauhi makhluk yang bernama perempuan. Mungkin saja gadis itu dapat membantunya mengembalikan ingatan Rhine untuk menebus rasa bersalahnya dan Ashiya selama ini kepada Rhine. Tapi bagaimana ia bisa menemukan gadis itu?
BRUK!
"Hei, kalau jalan pakai mata dong! Jangan ditaruh di dengkul!" Teriakan Rhine menyadarkan Yudha dari lamunannya. Ia melihat seorang perempuan dengan wajah pucat kelelahan tampak menundukkan wajahnya.
"Maafkan saya, saya sangat kelelahan sehingga tidak memperhatikan jalan saya," Junna yang hampir kehilangan seluruh tenaganya berusaha sekuat tenaga untuk meminta maaf. Ia tak menyangka telah menabrak seseorang.
"Ya sudahlah," Rhine mengangkat bahu dan berlalu begitu saja. Yudha yang melihat kejadian itu tanpa sadar menatap perempuan tersebut. Sekilas ia memperhatikan wajahnya dan tersentak kaget. Dia kan..., belum sempat Yudha beranjak untuk mengejar wanita yang menabrak Rhine tadi, lengan kirinya telah ditarik Rhine.
__ADS_1
"Kau niat tidak sih untuk menemaniku terapi?" Keluh Rhine sambil menggeret paksa Yudha yang terdiam. Ia merasakan feeling-nya kali ini tidak salah. Wajah perempuan itu mirip dengan foto yang dimiliki Rhine hanya saja wajahnya lebih dewasa. Ia harus tahu siapa perempuan itu? Dari pakaian yang dikenakannya ia tahu bahwa perempuan tersebut adalah salah satu dokter yang ada di rumah sakit ini. Pertanyaannya adalah, bagaimana ia bisa mendapatkan informasi mengenai perempuan itu?
***