Junna dan Rhine

Junna dan Rhine
14-2


__ADS_3

"Pokoknya aku yang duduk di depan dan sebelahan sama Kak Junna!"


"Enggak boleh! Aku yang harus duduk di depan bersama Kak Junna dan kamu di belakang!"


"Aku...!"


"Enggak, aku...!"


"Aku!!" Kaizer dan Kaisar saling melemparkan tatapan tidak mau mengalah satu sama lain. Sementara Junna yang menjadi objek perebutan saudara kembar itu hanya bisa memejamkan kedua matanya menahan stres dan emosi sambil mengurut dahinya yang berkedut tegang dalam menghadapi kedua adik kembar lelakinya itu yang saling berebut tempat duduk di dalam mobil yang akan ia kendarai. Kaizer dan Kaisar saling tarik-menarik kedua sisi berlawanan dress motif bunga-bunga kecil berwarna pink muda selutut yang ia kenakan saat ini. Ya Tuhan..., jika tidak segera dilerai dua bocah ini bajuku alamat robek nih...


Sejak kepulangannya dari Korea Selatan, tak ada satu hari pun kesibukannya berkurang, justru sebaliknya, dengan promosi jabatan di rumah sakit yang dilakukan oleh Papanya menjadi Kepala Bagian disalah satu bagian dan tugas tambahan menjadi kakak dari sepasang adik kembar yang selalu saja membutuhkan perhatian ekstra karena kesal dan sebal selama ini ditinggal bekerja di Seoul membuatnya semakin sibuk. Terlebih lagi kedua orang tuanya memutuskan untuk melakukan honeymoon yang entah keberapa kalinya seakan balas dendam karena dirinya absen menjaga kedua makhluk menyebalkan namun menggemaskan dihadapannya ini. Mirip siapa sih?!


"Pokoknya aku!"


"Enggak bisa, harus aku!"


Melihat kedua kepala adiknya sudah saling beradu untuk mempertahankan pendapatnya masing-masing yang tak mau mengalah hanya karena urusan sepele baginya mau tidak mau membuat Junna menggunakan jurus maut omelannya.


"Stoooopppp!!" Junna melerai kepala kedua adiknya itu. "Kenapa sih kalian itu hobi sekali membuat Kakak emosi jiwa hanya urusan rebutan tempat duduk di mobil?! Kalian berdua itu seperti...,” Junna sempat terdiam ketika bayangan seseorang yang tak seharusnya diingat olehnya muncul nyaris menjadi bahan pembicaraan. "Ah, sudah lupakan saja," Ia menggelengkan kepalanya berusaha menghapus bayangan semunya itu. "Sekarang kalian suwit jari saja, yang menang dia yang akan duduk disebelahku pada saat berangkat dan yang kalah dia yang akan duduk disebelahku pada saat pulang nanti dan tidak ada tapi-tapian atau kalian berdua Kakak tinggal dan tak jadi beli mainan. Mengerti?!"


"Iya Kak...," Kaizer dan Kaisar mengangguk menuruti perintah Junna dan memulai permainan itu.


"Daritadi kek, ampun deh...," Keluh Junna sambil mengusap wajahnya. "Sudah?"


"Sudah Kak," Jawab Kaizer dan Kaisar serempak.


"Jadi siapa yang menang?" Tanya Junna sambil berkacak pinggang dan menunjukkan wajah galak.


"Izar...," Kaisar menunjuk kearah kakak kembarnya dengan telunjuk jarinya. Nada suaranya terdengar lesu dan kecewa.


"Ya sudah, sekarang masuk ke mobil," Junna membuka pintu mobil dan duduk di bangku supir. "Kakak ini sudah terlambat setengah jam gara-gara perdebatan kalian, untuk berikutnya Kakak tidak mau ya kalian berantem gara-gara hal sepele seperti ini," Ia menekan tombol start engine untuk menyalakan mesin dan mengganti persneling otomatis mobil miliknya kemudian berlalu meninggalkan rumahnya menuju tempat janjian yang telah disepakati dengan keempat sahabatnya.


***


"Sumpah demi apa?!" Tia ternganga tak percaya dengan video musik yang saat ini ditontonnya melalui aplikasi MyTube dari smartphone miliknya sambil memangku anak balita perempuan hasil pernikahan dengan kekasihnya sejak SMA. Setelah sekian purnama dan hanya php saja, akhirnya Tia dan keempat sahabatnya berhasil merealisasikan pertemuan hari ini disalah satu restoran pizza favorit mereka di TA Mall.


"Mulutnya tolong, mulutnya dikondisikan," Cia menaikkan dagu Tia agar mulut sahabatnya itu kembali pada kondisi normalnya. "Lo mau ngecesin anak lo?"


"Iuuuhhhh, jijay...," Riri dan Lily merespon dengan ekspresi jijiknya.


"Ngomong-ngomong, si anak teladan kemana? Kok tumben jadi punya hobi ngaret gini?" Tanya Riri sambil menyuapi anak lelakinya yang sudah berusia 3 tahun dan duduk di stroller.

__ADS_1


"Biasa, dia harus drama dulu sama adik kembar lelakinya yang posesif itu sehingga terlambat datang kesini," Lanjut Cia. "Emang apa sih yang lo lihat sampai segitunya?!"


"Ini!" Tia menunjukkan video musik yang sedang ditontonnya dan seketika timbullah teriakan histeris dari ketiganya.


"Gila! Tolong cubit gue Ly," Tia tak percaya melihat sosok yang menyanyikan lagu bergenre ballad menggunakan Bahasa Korea dengan huruf Hangeul-nya. Penontonnya pun sudah menyentuh angka 10 juta dalam kurun satu hari setelah di-upload pada akun resmi DG Entertainment. "Jadi selama ini Rhine..."


"Sorry guys, telat...,” Junna tergopoh-gopoh menghampiri keempat sahabatnya dengan Kaizer dan Kaizar digandengan tangan kanan dan kirinya. "You know lah kenapa...," Junna menyengir dengan menunjukkan giginya merasa bersalah atas keterlambatannya sambil menunjuk kanan dan kirinya lewat gerakan dagunya. Ia pun begitu sibuk menentukan posisi duduk kedua adiknya sementara keempat temannya saling bertatapan dan melempar kode isyarat apakah mereka harus menyampaikan berita baru ini atau tidak. "Kalian sudah pesan?"


"Sudah, tinggal nunggu makanannya datang," Jawab Tia.


"Ya sudah, sekarang giliran gue yang pesan," Junna membuka buku menu yang sengaja ditinggal satu oleh pelayan restoran.


Terakhir kali mereka mendengarkan cerita mengenai hubungan Junna dengan Rhine yang harus berakhir dramatis karena Ibunda Rhine yang tidak merestui sejak pernah berpisah dengan alasan yang sumpah demi apapun menurut mereka sangat konyol dan tidak masuk dalam logika mereka yang pas-pasan, akhirnya Junna dapat mengembalikan keceriaannya. Rupanya kesibukan pekerjaan sebagai kepala bagian internis di rumah sakit dan kedua adik kembarnya membuat Junna perlahan dapat melupakan kesedihannya mengenai kegagalan cintanya dengan Rhine. Padahal mereka sempat ikut bahagia mendapatkan video call kencan pertama Junna dan Rhine di Namsan Park yang membuat iri setengah mati sampai menggigit jari melihat Rhine mencium dahi Junna dengan mesra dengan sengaja seolah memamerkannya pada mereka.


"Kalian berdua yakin mau memakan pizza ukuran extra large ini?" Junna masih sibuk meladeni Kaizer dan Kaisar. "Sama minumnya chocolate milk shake dan vanilla milk shake?"


"Um," Angguk si kembar kompak.


"Harus habis lho, karena jika sampai tidak habis Kakak akan membatalkan janji Kakak untuk membelikan mainan setiap kali kalian juara kelas."


"Pasti habis kok,"


"Benar ya," Junna memanggil salah satu pelayan restoran dengan mengangkat tangan kanannya keatas. "Mbak, kami mau pesan..."


"Kayaknya jangan deh," Lily mengibas-ngibaskan kelima jari tangan kanannya bentuk penolakan. "Hatinya baru sembuh, jangan dipancing untuk mengingat-ingat lagi masa lalunya dengan Rhine. Lo masih belum amnesia kan pada saat kejadian dia putus dari Ega gimana dulu?"


"Iya juga sih, ya sudah deh," Cia menutup aplikasi MyTube dan berfokus kembali pada balitanya.


"Kalian ini kenapa bisik-bisik?" Tegur Junna yang telah menyelesaikan pesanan makanannya sementara pelayan lain datang untuk mengantarkan makanan yang telah dipesan oleh sahabat-sahabatnya itu.


"Eh, oh, enggak ada hal yang penting kok," Jawab Cia, Tia, Riri, dan Lily serempak. Kenapa sih dengan hari ini? Pada sok kompak nggak jelas? Enggak mereka, enggak si kembar, pada aneh semuanya! Junna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ngomong-ngomong gimana kabar Bu Kabag termuda kita ini? Kok makin lama makin habis tuh badan," Riri bertanya berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Sembarangan!" Junna memukul kepala Riri dengan buku menu pelan. "Sejak hasil medical check up terakhir gue yang divonis kebanyakan lemak karena sembarangan makan apa saja efek dari stres dengan pekerjaan, sekarang gue mulai menerapkan hidup sehat dan lebih banyak berolahraga tahu."


"Tempe kali," Sambung Tia seenaknya. 


Dan mereka berlima pun tertawa mendengar ucapan receh tanpa makna dari Tia kemudian melanjutkan pembahasan mengenai nostalgia mereka di bangku sekolah.


***

__ADS_1


"Capek...," Junna merebahkan tubuh lelahnya di tempat tidur miliknya setelah seharian menemani Kaizer dan Kaisar membeli mainan. Ia terdiam dan memandang langit-langit kamarnya yang tak berubah sama sekali sepanjang hidupnya. Yang berubah hanyalah dirinya tak berani menoleh kearah jendela yang menghubungkannya dengan balkon dan rumah disebelahnya sejak ia kembali dari Seoul enam bulan lalu. 


Enam bulan ya..., sudah enam bulan sejak peristiwa yang sangat menguras perasaan dan tangisan air matanya hingga membuatnya mati rasa seolah enggan menyapa cinta. Setiap kali ia meniatkan hendak berkenalan dengan lawan jenis yang dulu enggan ia lakukan selalu berakhir kegagalan dan tidak berlanjut. Padahal dirinya sudah belajar mengikhlaskan semuanya dan siap membuka hatinya untuk cinta yang baru...


Mengapa?


Mengapa dirinya seakan berdiam ditempat yang sama setiap kali ia berniat memulainya dengan orang lain? Mengapa seakan hatinya telah tertawan oleh Rhine yang sudah tak mungkin lagi ia tautkan untuk kembali bersama ketika restu tak datang untuknya? 


Apa yang salah dengan semua ini Tuhan? Bukankah aku sudah ikhlas menjalani hidupku dan menerima kenyataan takdir yang terbaik dari-Mu? Namun mengapa aku tak juga bertemu sosok pujaan hati yang terbaik dari-Mu sementara segala usaha sudah kulakukan...


Junna menutup wajahnya dan kembali menangisi nasibnya.


"Mukamu jelek lho kalau nangis," Terdengar suara seseorang yang sangat familiar baginya dari seberang jendela membuat Junna menghentikan tangisnya dan bangkit dari posisi rebahannya. Ia tidak salah dengar kan? Ia tidak sedang berhalusinasi kan?


"Nah, gitu dong, jangan menangis lagi!" Ah, tidak mungkin! Dirinya pasti salah dengar..., atau jangan-jangan benar lagi rumah sebelah ada hantunya sejak ditinggal lama oleh sang pemilik rumah? Junna bergidik ngeri membayangkan hal yang tidak-tidak. Padahal ia telah terbiasa bolak-balik ke kamar mayat di rumah sakit...


"Ngapain kamu bengong saja kayak ayam sakaratul maut gitu?" Suara kekehan melihat ekspresi Junna yang begitu bingung bercampur ketakutan tak menghentikannya untuk menjahili gadis itu. "Menolehlah kearah balkon dan cepat keluar dari kamarmu itu!"


Dengan takut-takut Junna memberanikan diri untuk menoleh kearah balkon rumahnya. Matanya membulat sempurna melihat sosok yang melambaikan tangan kanan kearahnya dengan senyum miring nan jahil tercetak jelas di bibirnya.


"Hai gadis jelek...,"


Rhine?!


Kirana pun segera membuka pintu geser dan keluar menuju balkon rumahnya memastikan bahwa sosok itu nyata dihadapan mata. 


"Kamu...benar Rhine?" Tanya Junna masih tidak percaya.


"Ya iyalah, memangnya aku hantu bisa bicara langsung seperti ini?" Rhine mencondongkan tubuhnya lebih mendekat kearah Junna yang masih menunjukkan ekspresi tak percaya.


"Ya kali...," Setelah meyakinkan diri bahwa sosok itu benarlah Rhine adanya, Junna menjadi rileks seketika dan mengangkat bahunya seolah tidak pernah terjadi antara dirinya dan Rhine. Ia tak memungkiri ada yang aneh dengan keberadaan Rhine saat ini. "Tapi..., kamu ngapain disini?" Tanyanya kembali.


"Pulanglah, memangnya aku nggak boleh pulang ke rumahku sendiri?" 


"Iya juga ya?" Junna menggaruk pipi kanannya dan pandangannya tampak bingung menghadapi situasi yang tak pernah terpikirkan akan terjadi padanya. Setelah ia mengatakan untuk tidak menyusulnya kesini pada kenyataannya lelaki ini ada dihadapannya. Ah, mungkin hanya rasa ge-er nya saja ketika otak terlalu cerdasnya itu berasumsi bahwa Rhine datang kesini untuknya. Rhine pun menangkap maksud pikiran Junna dan memaklumi apa yang dirasakan gadis itu saat ini.


"Tidak, aku kesini untuk menjemputmu," Rhine tersenyum dan menatap lembut kearah Junna.


"Eh?"


"Junna..., ayo kita menikah!"

__ADS_1


***


__ADS_2