Junna dan Rhine

Junna dan Rhine
Epilog


__ADS_3

"Rhine, maaf aku tak bisa..."


Junna berdiri dari duduknya di sebuah halte setelah bis yang hendak ia naiki berhenti tepat dihadapannya. Setelah pintu bis otomatis terbuka, langkah kakinya menginjak tangga menuju tempat duduk di dalam bis dan memilih sepasang bangku kosong serta duduk tepat disebelah jendela.


"Kenapa? Jika karena Ibuku kamu tak perlu khawatir karena aku sudah menyelesaikan semuanya tanpa harus menjadikanku anak durhaka, meskipun nyaris..."


Tak lama kemudian supir bis yang dinaiki Junna menekan tombol penutup pintu otomatis kemudian menekan gas untuk kembali melaju menuju tempat akhir yang dituju. Angin semilir musim semi bertiup seolah menyapa gedung-gedung kokoh di kanan dan kiri jalan. Dari nampak kejauhan, tatapan mata Junna tertuju pada sebuah layar televisi yang ada disebuah gedung tinggi menjulang berkonsep elegan minimalis perpaduan hitam, putih, dan abu-abu. Ia melihat video klip Rhine yang menyanyi setelah sekian lama vakum dan memutuskan untuk bekerja dibalik layar sebagai produser musik.  


Kau adalah matahariku


Kau adalah sumber cahayaku


Kau sinari hatiku yang beku


Kau tetesi batu diriku nan kaku


Memecah keheningan rindu


Yang tak bertepi dan kini memelukmu


Kan kugenggam erat tanganmu dan tak kulepas lagi


Karena kau adalah bahagiaku


Yang dulu sempat terlupa dalam angan yang tertutup lembayung sendu...


Di dalam video itu, tampak Rhine memetik gitar akustiknya sambil menyanyi sepenuh jiwa.


Jangan pergi kasihku...


Jangan pernah tinggalkanku


Dalam kesepian rindu


Aku tak mampu kehilanganmu


Jika perlu kan kugapai purnama untuk meminangmu


Jangan pergi kasihku...


Jangan pernah tinggalkanku


Dalam buaian keputusasaan menggapaimu

__ADS_1


Kembali ke dalam pelukan cinta sejatiku...


Junna tersenyum ketika mendengarkan bait lagu tersebut dan segera menekan tombol untuk dapat berhenti di halte terdekat dari gedung itu. Tak lama bis yang dinaiki Junna berhenti tepat di halte yang ia tuju, Distrik Gangnam, atau tepatnya Hallyu K-Star Road. Ia turun dari bis dan disambut oleh kelopak-kelopak bunga sakura yang rontok tertiup angin seolah menyambut kedatangannya disana.


"Aku tidak mau jika Ibumu terpaksa merestuiku untukmu bersama denganku Rhine," Junna menundukkan kepalanya sedih karena kembali teringat pembicaraannya dengan Ashiya dulu. "Bagiku restu orangtua adalah segalanya sebagai gerbang awal dilancarkannya sebuah hubungan terutama pernikahan..."


Junna memperhatikan jalan setapak yang dilaluinya. Sepanjang langkah kakinya, ia melihat para fans berfoto dengan patung-patung beruang besar yang dikenal dengan nama GangnamDol. Setiap patung memiliki ciri khas dari setiap boygroup atau girlgroup tenar di Korea Selatan.


"Bukankah aku pernah bilang tidak terima penolakan terutama darimu?"


"Aku...," Junna mengepalkan tangannya untuk mengumpulkan tenaganya dari rasa shock yang tiba-tiba. "Aku tidak tahu Rhine!" Ia memilih untuk melarikan diri dan kembali masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Rhine sendirian disana.


***


Rhine menghempaskan tubuhnya ke sofa hitam di ruangan kantornya setengah hari dirinya berada di dapur rekaman. Sial! Dirinya seperti terkena karma dimarahi produser seniornya yaitu Ayahnya sendiri karena dulu sering memarahi para penyanyi yang melakukan rekaman lagu dengannya. Mimpi apa lagi Ayahnya menjadi begitu bersemangat seperti itu?


"Lantas Ibu harus bagaimana Rhine?" Ashiya yang panik mendadak menangis histeris karena merasa tertekan dengan situasi yang dihadapinya saat ini. "Ibu pikir hanya itu jalan satu-satunya yang dapat aku lakukan mengingat kamu sebegitu bencinya pada Ayahmu..."


Rhine yang tak tega dengan Ashiya yang memilik sifat paranoia berlebihan hingga bisa menjadi histeris seperti saat ini akhirnya memilih mengalah dengan menurunkan tensi emosinya dan duduk disebelah Ibunya sambil menggenggam tangannya itu untuk menenangkannya. Mungkin benar kata Mas Yudha, ia harus bicara baik-baik dan tenang kepada Ibunya. "Seharusnya Ibu berterima kasih pada Junna, bukan malah memintanya pergi dariku, karena berkat Junna-lah aku belajar lebih bijak dan dewasa untuk lebih berdamai dengan hatiku yang terlalu keras kepada Ayah...," Rhine menoleh kearah Kwon Hyun Suk. "Maafkan aku Ayah karena pernah memarahi dan memakimu serta tidak mau mengakui dirimu..."


"Tidak apa-apa Nak, Ayah juga bersalah karena tidak segera mencari Ibumu dulu," Kwon Hyun Suk menggelengkan kepalanya menjawab.


"Kalau seperti ini aku merasa tua Mas Yudha," Keluh Rhine sambil memijat-mijat punggungnya yang pegal karena harus berkali-kali take ulang rekaman.


"Lah, siapa suruh dirimu terbawa perasaan karena ditinggal Junna dan melampiaskannya dengan menyanyi seorang diri di studio rekaman hingga tidak sadar aksimu itu dan kurekam kemudian ku-upload di akun DG Entertainment pada aplikasi MyTube?" Yudha tertawa puas akhirnya cita-citanya membuat Rhine mau tak mau terpaksa kembali ke dunia tarik suara berhasil. "Responnya tak kusangka akan sedahsyat itu!" Ia bertepuk tangan kegirangan puas dengan hasilnya. "Aku benar-benar berterima kasih pada Junna yang telah membuatmu kembali menghasilkan karya!"


"Kumohon Ibu meminta maaf kepada Junna dan membantuku untuk kembali padaku...," Rhine memohon dengan sangat kepada Ashiya.


"Tapi apakah Junna akan memaafkan Ibu Rhine?" Tanya Ashiya khawatir. "Karena kata-kata Ibu begitu kejam padanya..."


"Aku yakin dia akan memaafkanmu Bu..."


"Ah, lupakan saja!" Rhine membuka sebuah pesan yang masuk kedalam smartphone-nya dan berdiri dari duduknya.


"Kau mau kemana?" Tanya Yudha.


"Aku mau pulang ke apartemenku untuk istirahat setelah sejak pagi Ayahku menyiksaku tadi." Junna berjalan keluar ruangan Yudha. "Gara-gara Mas Yudha aku jadi kehilangan kehidupanku yang damai."


"Enak saja, memang sejak kapan hidupmu pernah damai?" Yudha tak terima dirinya disalahkan. "Kau itu selalu membuat masalah tahu!"


"Hah..., terserah Mas Yudha sajalah...," Rhine melambaikan tangannya tanpa menoleh kearah Yudha dan pergi meninggalkan pria itu sendirian di ruangannya.


***

__ADS_1


Junna memasuki salah satu gedung pencakar langit dihadapannya. Tak lupa ia men-tap id card miliknya. Sesekali ia tersenyum membalas sapa dari orang-orang yang ada di gedung itu. Nampaknya gadis itu cukup dikenal oleh orang-orang yang bekerja disana.


"Junna, maafkan keegoisan Tante ya karena telah menyakitimu...," Junna terdiam mematung ketika dirinya hendak bergabung sarapan bersama dengan keluarganya. Bukankah dirinya sudah meminta kepada kedua orang tuanya untuk menolak apapun yang berhubungan dengan Rhine? Mengapa mereka jadi lemah dan mengalah seperti ini? Ia pun tak menyangka Rhine sebegitu keras kepala untuk memaksanya hingga meminta Ibunya datang dan berkunjung ke rumah orang tuanya. "Tante mohon kembalilah pada Rhine..."


Langkahnya membawanya menuju salah satu pintu lift. Ia tampak menerima suatu pesan dari smartphone-nya sambil tertawa kecil.


TING!


Tak lama pintu lift tersebut menunjukkan sosok yang sepertinya sedang ditunggunya.


"Junna? Mengapa kamu disini?" Tanya Rhine terkejut tak menyangka gadis itu muncul dihadapannya. "Bukankah kamu bilang akan menungguku di apartemen?"


"Kejutan!" Junna menghampiri Rhine dan memeluk erat lelaki itu. "Aku sukses nggak mengagetkanmu? Memangnya kamu saja yang punya hobi mengesalkan itu?"


"Dasar!" Rhine menyentil dahi Junna dan melepaskan pelukan gadis itu.


"Aduh," Junna mengelus-elus dahinya yang sakit karena sentilan yang cukup keras dari Rhine. “Aku kan kangen padamu...,” Rajuknya. “Sejak kamu aktif menyanyi lagi dan sering syuting di acara-acara musik baik on air maupun off air aku lebih sering kamu tinggalin di apartemen sendirian...”


“Salah sendiri membuatku jadi seperti ini,” Protes Rhine menarik pipi Junna gemas.


“Lagi pula bukan hanya aku saja yang rindu padamu tapi yang disini juga,” Junna menunjuk kearah perutnya yang sedikit membuncit.


Rhine menepuk dahinya lupa akan statusnya saat ini. Sejak ia berhasil membujuk Junna untuk kembali bersamanya bahkan harus memohon kepada orang tua Junna yang sempat menolaknya, akhirnya ia berhasil mengikat gadisnya itu sejak lima bulan yang lalu. Tidak-tidak, dia sudah tidak gadis lagi, dia sudah menjadi wanita dengan calon bayi mereka yang berada di dalam rahimnya.


"Ya sudah, ayo kita pulang," Rhine mengulurkan tangan kanannya dan disambut tangan kiri Junna. Dijari manis tangan kirinya melingkar dua buah cincin, cincin emas putih dengan sebuah berlian berwarna pink di tengahnya dan cincin polos bergaris biru.


“Iya,” Junna mengangguk mantap dan mensejajarkan langkah kakinya dengan Rhine dan berjalan menuju pintu keluar utama gedung tersebut.


Pemandangan sejoli itu membuat orang-orang yang berada di gedung DG Entertainment berteriak histeris seolah melihat adegan di drama-drama Korea yang sering mereka tonton di televisi atau di smartphone mereka. Rhine dengan sedikit tersipu saat menggandeng mesra Junna mengusap-usap ujung hidungnya dengan jari telunjuk tangan kirinya sehingga menunjukkan cincin emas putih bergaris biru senada dengan milik Junna tadi.


Setiap peristiwa dalam hidup kita terjadi atas izin dari Yang Maha Kuasa


Matematika manusia tak ada apa-apanya dibandingkan Matematika-Nya


Oleh karena itu jadilah seperti seorang bayi


Ia menerima apapun yang diberikan kepadanya tanpa protes apa-apa


Ia percaya bahwa apapun yang diberikan kepadanya adalah yang terbaik dari Sang Maha Pemberi


Jangan biarkan logikamu mengambil semuanya seolah-olah kau lebih tahu yang terbaik untukmu dibandingkan dengan logika-Nya yang tak terhingga


Oleh karena itu, tetaplah tersenyum pada dunia dan berkata saya siap menerima apapun yang diberikan oleh-Nya serta tak akan membiarkan kesedihan merasuk sukma

__ADS_1


Jadi jangan lupa untuk selalu berbahagia dan menikmati serta menjalani segala yang telah diatur oleh-Nya untuk kita...


THE END


__ADS_2