
Junna menatap papan pengumuman hasil ujian akhir yang terpampang di papan pengumuman. Ia tak dapat berkata apa-apa dan hanya menyisakan mulutnya yang ternganga antara percaya dan tidak percaya. Ia tahu bahwa ia akan menjadi juara umum disekolahnya namun yang ia tak habis pikir nilai yang didapatnya tidak sempurna. Dari enam pelajaran yang diujikan yaitu Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, ia kehilangan satu poin dari nilai Bahasa Indonesianya.
"Ditutup dong mulutnya, untung saja nggak ada lalat yang masuk. Bisa berabe dan berujung masuk rumah sakit nih ceritanya!" Tia mendorong dagu Junna hingga bibirnya tertutup. "Enggak usah shock gitu kenapa? Bukannya lo sudah biasa melihat nama lo terpampang di papan pengumuman di urutan pertama?"
"Enggak, enggak kenapa-napa," Junna menggelengkan kepalanya menyadarkan dirinya dari keterpanaan. Ya, entah apa dapat dikatakan, disisi lain ia kecewa bahwa nilai yang didapatnya tidak sempurna namun disisi lain ia bahagia karena ia kalah taruhan dari Rhine. Itu berarti ia harus memenuhi apapun permintaan yang akan diminta oleh Rhine sebagai resiko kekalahannya. Apapun? Jantung Rea mendadak nyeri. Ia teringat dengan peristiwa yang membuatnya memutuskan menjaga jarak dari Rhine. Ya, dia bukanlah orang spesial di hati Rhine, ia hanyalah tetangga dan teman berantem untuk Rhine, tidak lebih. Ia tidak boleh berharap apapun. Lelaki itu sudah memiliki kekasih.
"Kalian berempat gimana?" Junna segera menoleh kearah empat sahabatnya dan berusaha bersikap biasa.
"Kami lulus dong...," Keempat sahabatnya ber-koor kompak menunjukkan senyuman lebar mereka. Tak lupa tanda 'Victory' mengapit disela-sela jari tangan mereka.
"Syukur deh kalau begitu," Junna menghela napas. Sebenarnya ia cukup khawatir dengan keempat sahabatnya itu, namun ternyata kekhawatirannya tidak terbukti.
"Kayaknya lo kurang bersemangat? Lo lagi sakit ya?" Cia memeriksa dahi Junna. "Badan lo anget lho..."
"Gue baik-baik saja," Junna tersenyum lemah. Ia sebenarnya sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja, akhir-akhir ini ia merasa kekebalan tubuhnya melemah. Mungkin efek dari dirinya yang terlalu memforsir belajar demi ujian akhir ini sehingga tidak memperdulikan kesehatan dan pola makannya. "Entar gue periksa ke dokter, sekalian nemenin nyokap gue imunisasi adik-adik gue."
"Elo yakin? Gue anter deh ke rumah sakit," Ujar Tia yang kebetulan hari ini mendapat izin dari orang tuanya untuk membawa mobil.
"Iya, kita bertiga juga ikut kok," Cia, Riri dan Lily tak kalah cemas.
"Lo jadi orang jangan keras kepala kenapa?" Protes Tia. "Ke rumah sakit gratis ini masih saja banyak alasan. Kali ini harus menggunakan taksi ya, nggak boleh protes seperti dulu!"
Keempat teman Junna memaksa Junna untuk ke rumah sakit. Dan kali ini Junna hanya bisa pasrah saja. Selain karena tubuhnya yang sudah tida bertenaga, ia juga kalah telak dalam pengambilan suara. Keempat temannya lebih vokal dibandingkan dirinya.
***
"Tidak apa-apa, hanya gejala Thypus," Ujar Dokter Rendi, sahabat Papa Junna sekaligus dokter spesialis dibidang penyakit dalam atau internis.
"Ekh?! Yang benar saja?!" Teriak Junna tanpa sadar. Hanya gejala Thypus? Gampang banget Om Rendi bilangnya? Itu penyakit berbahaya tahu!
"Kamu harus banyak beristirahat," Dokter Randi yang sudah menganggap Junna seperti anaknya menepuk-nepuk kepala sang gadis dengan lembut.
"Lo dengar tuh Na, jangan memaksakan diri!" Cia menyenggol pundak sahabatnya itu. "Tanpa memaksakan diri juga lo akan tetap jadi nomor satu di sekolah."
"Iya..., iya..., terserah apa kata lo saja," Junna menggerutu kesal karena merasa seperti anak kecil yang diceramahi oleh orang dewasa. Gejala Thypus..., Gejala Thypus..., pikirannya terus berputar memikirkan kalimat yang diucapkan oleh sang Dokter. Bagaimana bisa ia kembali terserang penyakit yang sama setelah lebih dari tiga tahun ia tidak pernah mengalami penyakit tersebut?
"Untung kita-kita nemenin lo ke rumah sakit, coba kalau lo sendirian, bisa pingsan dijalan." Tia memberikan ceramah panjang kali lebar. Habis sudah Junna tak dapat berkata apa-apa.
"Jadi pilih yang mana Junna, istirahat di rumah atau di rumah sakit?"
Junna terdiam sejenak, apa yang harus ia putuskan, jika ia dirawat di rumah, ia pasti akan melihat adegan yang tidak diinginkannya antara Rhine dan kekasihnya. Jika ia di rumah sakit, hal tersebut akan membuat kedua orang tuanya khawatir.
"Yak, sepertinya kamu memang harus dirawat di rumah sakit!" Ujar Dokter Rendi memutuskan secara sepihak ketika melihat Junna yang bimbang. "Suster, tolong siapkan kamar untuk Nona Junna."
Yang benar saja?! Kenapa malang sekali hidupku!!! Teriak Junna dalam hati.
__ADS_1
"Kami serahkan sahabat kami yang keras kepala ini kepadamu ya Dok, tolong rawat ia sampai sembuh." Keempat sahabat Junna berucap kompak.
"Ja...jangan tinggalkan aku sendirian!!"
Pada akhirnya Junna di rawat di ruangan VVIP nomor 509. Ruangan yang paling ia benci dengan segala fasilitas lengkap yang ada didalamnya menyaingi kamar luxury hotel berbintang lima. Ia merasa terlalu diistimewakan karena kedudukan Papanya yang seorang Kepala rumah sakit. Bisakah ia mendapatkan pelayanan standar yang biasa dilakukan kepada seluruh pasien yang ada disini? Jawabannya sudah pasti tidak! Terkadang ia bersyukur disaat dirinya sakit, ia dapat segera mendapatkan pelayanan kesehatan nomor satu, belum tentu orang lain bisa seberuntung dirinya. Namun rupanya disisi lain ia merasa hal tersebut terlalu berlebihan.
"Apa yang lo lamunin?" Tiba-tiba sebuah rangkaian besar bunga chrysanthenum merah mendarat tepat di atas kepala Junna. Junna pun langsung menoleh kearah orang yang membawa rangkaian bunga tersebut. Lelaki berpakaian serba hitam dengan rambut berwarna hitam Fringe style-nya begitu kontras dengan kulitnya yang putih bak porselen, piercing di dekat alis dan bibirnya. Wajahnya yang tirus dan memiliki garis rahang kokoh yang menunjukkan kemaskulinan.
"Rhine?" Junna tak menyangka bahwa sosok yang sangat ia rindukan muncul dihadapannya. "Kenapa lo ada disini?"
"Harusnya lo bangga dijenguk artis beken kayak gue," Rhine masih saja berkata seenaknya yang membuat Junna kesal. Ia dengan santainya duduk dipinggir tempat tidur Junna
"Whatever deh...," Jawab Junna dengan malas dan lemas tak bertenaga.
"Jadi ini hasil lo belajar mati-matian? Sudah nggak dapat nilai maksimal, kena tipes pula."
"Gue lagi nggak pengen denger komentar lo! Daripada lo ngasih komentar sampah yang bikin gue makin emosi jiwa mending lo keluarin semua komentar sampah lo itu ke cewek lo!"
"Cewek gue?" Rhine menatap bingung kearah gadis yang telah berhasil mencuri hatinya. "Yang mana ya? Perasaan gue nggak pernah punya cewek?"
"Yang itu...cewek cantik yang datang ke rumah lo dan langsung lo peluk! Menyebalkan! Bikin iri saja! Sudah tahu gue lagi jomblo terus dengan sengaja memamerkan kemesraan lo? Gitu?!"
"Ooo...," Rhine menangkap sinyal kecemburuan dari Junna. Ia tak tahan untuk tertawa. Betapa senang dalam hatinya. Akhirnya ia yakin seratus persen, bahwa gadis keras kepala dihadapannya memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Kenapa lo ketawa?! Enggak ada yang lucu tahu!"
"Hummpphh, Bwahahahahahaha..., masa nggak bisa bedain sama sekali sih? Cewek yang lo bilang sebelumnya itu nyokap gue!" Rhine benar-benar tidak dapat menahan tawanya. Ia tertawa sepuas-puasnya.
"Hah? Bagaimana bisa dia emak lo? Dilihat bagaimanapun umurnya seperti baru memasuki umur tiga puluhan," Dengan polosnya Junna berkata.
"Perasaan gue pernah bilang ke elo sebelumnya, gen keluarga gue itu mengerikan, lo juga pernah mengira gue umurnya sembilan belas tahun kan? Padahal jelas-jelas umur gue sekarang 25 tahun."
"Pantesan, berarti gue yang bego dong..."
"Memang lo bego! Sejak kapan lo jadi pintar?" Rhine mengacak-ngacak rambut Junna.
"Sembarangan! Kalo gue bego, gue nggak akan masuk kuliah jurusan kedokteran melalui PMDK, kalau gue bego, gue nggak akan jadi nomor satu di sekolah, kalau gue..." Seperti biasa, mood swing Junna kembali keluar. Rhine yang melihatnya kembali terkekeh.
"Iya...iya..., gue akan dengerin kecerewetan lo nanti, tapi sekarang, lo diam dulu...," Kedua tangan Rhine memegang wajah Junna membuat Junna terdiam. Tatapan mata Rhine yang tajam sekelam malam menembus mata Junna seolah membiusnya. Tanpa Junna sadari pipinya berubah menjadi kemerahan. Dadanya berdebar-debar tak karuan. Ia tak bisa berkutik. Jarak wajah mereka semakin dekat. Junna merasakan intimidasi yang amat sangat sehingga membuatnya menutup kedua mata indahnya.
"Dasar nakal!" Rhine tersenyum licik dan menarik hidung Junna. "Lo pasti mikir yang macam-macam ya?"
"Aduh duh...," Tak pelak wajah Junna semakin memerah menyaingi warna tomat. "Elo menjahili gue lagi!"
"Gimana ya, habis gue kangen banget untuk ngisengin elo!" Rhine menyengir menatap wajah cemberut Junna yang memalingkan wajahnya karena kesal. Sungguh manis... "Gue kangen kecerewetan lo, gue kangen berantem sama lo, dan gue...kangen sama lo..."
__ADS_1
Mata Junna sontak membesar, tak percaya dengan ucapan Rhine. Ia segera berbalik menatap wajah Rhine. "Tuan Narsis..."
"Hei, kenapa muka lo pasang tampang bengong kayak gitu?" Rhine menyeringai jahil sedikit meremehkan. "Lo kaget ya gue ngomong seperti itu?"
"Iya, gue kaget banget," Masih dengan ekspresi terkejutnya Junna berkata, "Elo nggak salah makan sesuatu kan sampai ngomong kayak gitu."
"Hadeeuhhh, sakit kepala deh gue," Rhine menepuk dahinya sendiri. "Gue nggak serius salah, gue serius juga salah," Kali ini rasa kesal dihinggapi oleh Rhine. Ia sendiri bingung, kenapa ia bisa jatuh cinta pada gadis yang terkadang sangat menyenangkan dan terkadang sangat mengesalkan seperti Junna? Bersama gadis ini ia merasa seperti dijungkirbalikan seratus delapan puluh derajat dalam waktu bersamaan.
"Tapi ucapan lo itu benar-benar langka Tuan Narsis."
"Terserah lo deh..."
"Gue..."
"Apa?!" Rhine mendelik tajam kearah Junna.
"Gue juga kangen sama lo Rhine...," Ujar Junna berbisik. Ia menundukkan kepalanya agar Rhine tidak dapat membaca ekspresi dan semburat merah dipipinya. "Gue..."
Sontak Junna terkejut, wajah manisnya terangkat oleh kedua tangan kekar dan merasakan ada benda kenyal yang menyentuh bibirnya. Ya, itu bibir milik Rhine. Rhine mencium bibir Junna dengan penuh penekanan.
"Rhi...umm...," Junna tak menyangka Rhine akan melakukan tindakan diluar logikanya. Ia berusaha melepaskan ciuman Rhine dengan memukul-mukul punggung Rhine. Namun hal itu tidak membuat Rhine menghentikan aksinya. Ia justru semakin ganas melumat bibir ranum itu. Ia sudah tak perduli jika virus Thypus menyerangnya. Sudah cukup lama ia menunggu hingga Junna lulus SMA dan ia tak ingin melepas kesempatan itu. Hasratnya yang selama ini ia tahan akhirnya dapat tersalurkan juga. Gadisnya ini sangat mempesona dan membuatnya gemas sehingga tak tahan untuk menciumnya lebih dalam. Ya Tuhan..., tak sadarkah dirinya bahwa sikapnya itu tidak seperti orang dewasa?
"Tenanglah Junna, tugasmu hanya menikmati saja."
"Tapi...," Belum sempat Junna menyelesaikan ucapannya, Rhine mengambil kesempatan memasukkan lidahnya kedalam mulut sang gadis mengabsen setiap bagian didalamnya. Dikecapnya rasa manis milik Junna seolah tak ingin kehilangan sela satupun di dalamnya.
"Ehhmmmm...," Junna pun mulai kehilangan akal sehatnya. Ia yang belum pernah merasakan kecupan yang dilakukan oleh Rhine mulai menikmatinya. Kedua tangan mungilnya *** pakaian yang dikenakan Rhine. Perasaan yang selama ini ia tahan bak mendapatkan kesempatan untuk menyampaikannya. Ia pun membalas ciuman Rhine dan memainkan lidahnya bertarung dengan lidah milik Rhine seolah ia tak mau kalah. Rhine menyeringai, ia pun semakin memperdalam ciumannya.
Junna yang kehabisan nafas ingin melepaskan ciumannya, namun rupanya Rhine tak memberikan kesempatan itu. Ia sibuk meraup lebih bibir milik Junna. Junna yang merasa bingung harus bagaimana akhirnya mengambil buket bunga yang dibawa Rhine untuknya dan memukulkannya tepat di pipi kiri Rhine.
"Aww, sakit tahu!" Spontan Rhine melepas ciumannya dan menyentuh pipi kirinya yang kemerahan akibat insiden tadi. "Apa yang kamu lakukan?!" Protes Rhine. Dalam sekejap bahasa yang mereka gunakan berubah lebih intim dibandingkan sebelumnya.
"Aku kehabisan napas! Hosh...hosh..."
"Dasar amatir!" Rhine yang gemas menarik kedua pipi Junna.
"Aduh duh..., sakit..., sudah tahu amatir, masih saja berbuat seperti itu!" Junna menyentuh kedua pipinya yang memerah akibat cubitan Rhine. Tak menyangka ia akan mengalami ciuman sedahsyat itu. Ciuman yang hanya sering ia tonton di film-film romantis produksi Negeri Paman Sam.
"Tapi suka kan," Ledek Rhine yang tak pelak membuat kedua pipi Junna merona merah.
"Permisi...," Sebuah suara menghentikan kemesraan diantara kedua insan berbeda gender ini. Rupanya seorang suster berusia dua puluhan masuk kedalam kamar Junna. "Saya ingin mengecek kondisi pasien. Bisakah anda menyingkir sejenak Tuan?"
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu," Rhine segera beranjak dari posisinya, tak lupa ia mencium mesra dahi Junna dengan sepenuh hatinya. "Nanti kita lanjutkan." Tak lama kemudian sosok Rhine mulai menjauh dari padangan Rhine. Entah mengapa ia merasakan firasat tidak enak dihatinya ketika menatap punggung lelaki yang ternyata memiliki perasaan yang sama dengannya. Ada apa? Bukankah setelah ia sembuh akan kembali bertemu dengan Rhine?
***
__ADS_1