
Junna menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan untuk menyesap udara segar pagi menjelang siang pada hari ini. Hembusan angin musim gugur meniupkan dedauan berwarna kuning keorenan yang tak kuasa bergelayut kokoh pada ranting pohon hingga gugur menyapu jalan. Ia duduk disebuah halte bis sambil memainkan kedua kakinya untuk mengusir rasa bosan kesendiriannya karena menunggu Rhine menjemputnya. Setelah bergelut dengan jam kerja shift yang tidak menolerir adanya ketidakhadiran dan keluhan dari Rhine yang selalu ditolak olehnya pada saat mengajaknya kencan, akhirnya waktu libur dan kencannya pun tiba. Tapi...mengapa lama sekali sih? Katanya janjian pukul 10 pagi di Halte Bis yang mengarah ke Namsan Park? Ini sudah hampir pukul 11 siang dan ia sudah dua kali bolak-balik ke convinience store untuk membeli minuman lemon hangat botolan namun Rhine masih belum menampakkan batang hidungnya, dasar karet! Keluh Junna sambil melihat jam sporty berwarna pink fanta yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.
Sesuai rencana awal, mereka hendak berkencan di Namsan Park, salah satu tempat wisata yang terkenal di Seoul, Korea Selatan bagi pecinta pejalan kaki yang menyukai suasana alam pegunungan. Tentu saja pilihan menggunakan transportasi umum seperti orang lain untuk menuju kesana sudah pasti ditolak mentah-mentah oleh Rhine pada awalnya. Bukan hal yang mudah untuk memutuskan tempat kencan pertama mereka yang tertunda delapan tahun lamanya. Mengingat mereka cukup keras hati dengan menambahkan bumbu debat panjang yang membuat kepalanya ikut pusing karena berusaha mengendalikan diri. Hah..., rasanya sudah lama sekali ia tak merasakan bernyawa seperti ini. Meskipun tarik urat emosi mengiringi, tapi ia merasakan dirinya yang dulu sempat hilang kini telah kembali. Dan disinilah ia sekarang tak sabar menunggu lelaki itu.
TAP!
Goyangan kaki Junna terhenti ketika ia melihat sepasang sepatu hiking berwarna biru muda dengan aksen garis oranye dibeberapa sisi berpadu dengan celana jogger cargo berwarna hitam. Sontak dirinya yang sejak tadi berfokus pada jalanan dan minuman yang dipegangnya meneliti dari ujung kaki kearah kepala. Ketika pandangan matanya menuju kebagian tubuh yang ia yakin sebagai Rhine, tenggorokannya yang baru saja meneguk minuman lemon hangat itu tersedak dan menyemburkan cairan bening kekuningan tersebut kearah Rhine seketika karena melihat kaos berwarna pink muda dengan tulisan 'Mr. Narcissist' tercetak besar dan tebal tepat dibagian dada bidang lelaki itu.
UHUK! UHUK!
"Yah, kok malah dikotorin sih!" Protes Rhine sambil berusaha mengeringkan kaos yang ia kenakan dengan mengibas-ngibaskan kaosnya. Niatnya ingin menjahili Junna namun ternyata tindakannya itu berubah menjadi bumerang kearahnya. Sial!
"Salah sen...UHUK! UHUK!"
Walaupun sedikit kesal karena kaos yang dikenakannya basah, reaksi Junna membuat senyum Rhine yang sejak dulu senang menjahili gadis tersebut semakin melebar sebagai tanda ia telah berhasil menarik perhatiannya. Rhine yakin Junna tak pernah terpikirkan bahwa dirinya akan mengenakan kaos yang diberikan Junna dulu dan dihujatnya setengah mati karena warna pink yang sangat dibencinya. Ia boleh narsis tapi bukan berarti ia juga menyukai warna yang identik dengan wanita itu.
UHUK! UHUK!
Namun kesenangan itu tak berlangsung lama dan berubah menjadi kecemasan ketika batuk Junna tak kunjung reda. Rhine yang melihat gadis itu mengelus-elus dadanya berusaha menenangkan rasa sakit karena batuk tak tega hingga membantunya mengelus punggung kekasihnya itu.
"Makanya kalau minum itu baca doa dulu," Lanjut Rhine dan direspon malas oleh Junna sambil memutar matanya. Sempat-sempatnya lho ditengah-tengah batuk...
__ADS_1
Setelah batuknya reda, kini giliran Junna berbicara, "Kamu sih, pakai acara menggunakan kaos pink yang kuberikan dulu! Sudah tahu arti pemberianku itu sebagai bentuk sarkastik ketidaksukaan akan sifat narsismu..."
"Aku memang sengaja mengenakannya kok untuk menanti responmu minus semburan penuh cintamu tadi sehingga membuat kaos yang sudah susah payah kubongkar dari lemari bajuku basah seperti ini," Rhine duduk disebelah Junna sambil menunjukkan noda basah di kaos pink muda itu.
"Ya maaf kalau jadi basah," Junna mengerucutkan bibirnya antara merasa kesal dan menyesal. Hal itu membuat Rhine gemas ingin mengecupnya namun berusaha ditahannya. Ayolah otak, bisakah kau tidak didominasi dengan nafsu sehingga hanya sentuhan fisik saja yang ingin pemilikmu lakukan? Keluh Rhine dalam hati. Meskipun Junna sudah dewasa dan tidak ada kekhawatiran lagi baginya untuk menyentuh gadis itu, baginya perasaan cintanya tidak sedangkal itu walaupun ia sudah menelan rindu selama delapan tahun untuk gadisnya. Ia ingin perlahan menyesap rasa cinta yang dulu sempat layu kemudian diberi kesempatan untuk menumbuhkan kuncupnya kembali. Menikmati perlahan hingga tumbuh sempurna perasaan hangat yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata dan disimpannya dalam dada.
BRRUUMM! CIIITTTT!
Terdengar suara bis yang berhenti tepat didepan Junna dan Rhine kemudian membuka pintu otomatis seakan hendak menyambut mereka saja yang ada di halte itu. Dengan sigap Rhine berdiri dan mengulurkan tangan kanannya dihadapan Junna. Junna mengerjap-ngerjapkan kedua matanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Apakah ini nyata? Atau ini hanyalah mimpi yang menyerupai kenyataan?
Junna menatap senyuman lebar diwajah Rhine. Senyuman jahil yang sedikit mengesalkan mengarah kepadanya. Wajah tampan dan sedikit tengil yang terkadang ingin dicubitnya karena menyebalkan namun ia rindukan. Hatinya bergemuruh, sekelibat memori dirinya ditinggal pergi dengan tiba-tiba oleh Rhine ketika ia sedang berbahagia menyambut cintanya pada lelaki tersebut berkelibat dipikirannya. Rasa takut akan ditinggal dan kehilangan sosok Rhine ketika dirinya merasakan kebahagiaan bersama lelaki itu membuatnya sedikit ragu untuk menggapai tangan besar nan hangat itu. Ia takut bahwa dirinya akan kembali kehilangan setelah merasakan kebahagiaan. Jika itu terjadi entahlah, apakah ia sanggup mencinta kembali atau tidak...
"Eh?"
"Ya ampun, sempat-sempatnya bengong?" Rhine menarik kedua pipi Junna hingga memerah untuk menyadarkan dan mengembalikan Junna dari pikiran jauhnya.
“Aduh-duh sakit...,” Keluh Junna memegang pipinya.
Rhine dapat merasakan keraguan dimata Junna untuk menggapai tangannya dan ia menyadari apa penyebabnya. Oleh karena itulah saat ini ia berjuang untuk meyakinkan Junna bahwa gadis itu tak perlu khawatir dirinya akan pergi meninggalkannya lagi.
__ADS_1
“Semuanya akan baik-baik saja,” Rhine menepuk-nepuk kepala Junna dan tersenyum lembut untuk meyakinkan gadisnya bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. “Aku akan selalu ada disampingmu untuk menggantikan kesedihan dan kesepianmu selama delapan tahun ini. Tidak, tidak hanya delapan tahun namun bertahun-tahun kedepannya akan kita lalui bersama dan aku akan berusaha merealisasikan janjiku itu.” Ya, sejak dirinya kembali dapat mengingat masa lalunya, ia berusaha untuk membuat semua rencananya untuk Junna menjadi nyata. Itu tekadnya!
“Rhine...,” Kecemasan yang dirasakan Junna mendadak sirna ketika mendengar ucapan Rhine.
“Percuma kamu berusaha menyembunyikan isi hatimu itu,” Usapan halus di rambut Junna berubah dengan sedikit penekanan dan mengacaknya. “Kamu itu terlalu simpel untuk dibaca olehku.”
“Isshhh, tapi nggak pakai ngacak-acak rambut juga kan?!” Junna berusaha merapikan rambutnya yang sebelumnya tertata rapi dikuncir kuda. “Hobi banget sih membuatku kesal?”
“Itu suatu kebahagiaan buatku tahu!” Rhine berkacak pinggang tampak bangga dengan perbuatannya. “Seperti gimana gitu, kayak menemukan kepuasan tersendiri membuatmu emosi.”
“Dasar gila dan narsis!” Cibir Junna.
TIIN! TIIIN!
Bunyi klakson bis menyadarkan Rhine dan Junna yang seolah tenggelam dalam pembicaraan berdua saja hingga lupa apa tujuan mereka pergi.
“Apakah kalian berdua jadi naik atau tidak?” Tanya supir bis yang mendapat pemandangan indah perdebatan sepasang kekasih seperti di drama korea yang sering ditontonnya. Dasar anak muda! Senang sekali mempertontonkan rasa kasih sayang yang membuat orang lain iri melihatnya!
Rhine dan Junna saling berpandangan. Tak lama mereka berdua tertawa.
“Jadi Pak!” Jawab Rhine lantang. Ia pun kembali mengulurkan tangan kanannya dihadapan Junna. “Ayo Junna!”
__ADS_1
“Iya!” Kali ini tak ada keraguan sedikitpun untuk menautkan kelima jari tangan kirinya dengan kelima jari tangan kanan Rhine. Kehangatan mulai menjalar menyentuh hati Junna membuat kekhawatirannya perlahan menghilang berubah menjadi ketenangan dan kenyamanan yang sempat hilang. Mereka berdua berjalan menaiki bis dan duduk pada dua bangku kosong yang saling berdampingan seolah tak terpisahkan. Didalam hati mereka berdua berharap bahwa mereka bisa seperti sepasang bangku yang mereka duduki sekarang. Selalu bersama...
***