Junna dan Rhine

Junna dan Rhine
3-1


__ADS_3

Sejak kejadian dirinya diputuskan Ega secara sepihak, Junna lebih banyak melamun. Tubuhnya lemas tak ada semangat dan gairah untuk melakukan sesuatu. Ia menarik napas dan membuang napas seolah-olah bernapas adalah hal yang terasa berat untuk dilakukan. Nampaknya patah hatinya terlalu dalam.


"Junna, hari ini ada artikel terbaru tentang konser Rhine di luar negeri!" Dan seperti biasanya, Tia tergopoh-gopoh berlari menuju tempat Junna biasa duduk di kelas dengan membawa sebuah majalah terbitan edisi baru. Semangatnya untuk membuat Junna menyukai idolanya memang tidak pernah surut dan dapat diacungi jempol sebagai anggota fans sejati Rhine.


"Hooo..., artikel tentang Rhine ya?" Dengan tidak semangat ia membuka halaman per halaman majalah yang dibawa Tia tadi hingga ia berhenti di halaman mengenai Rhine. "Keren ya Rhine..., tuh kan..., memang dia keren..."


Mata Tia melotot tak percaya dengan apa yang diucapkan sahabatnya itu. Ia sungguh heran dengan kelakuan aneh Junna akhir-akhir ini. Junna yang sangat membenci idolanya itu tiba-tiba memujinya.


"Junna, lo nggak sedang sakit?" Tia menempelkan tangannya ke dahi Junna. "Tapi suhu badan lo normal kok..."


"Ha..ha...ha...," Tawa sumbang pun keluar dari mulut Junna. "Gue memang sedang sakit...tapi sakit hati..."


"Hah?!" Tia tambah heran. "Sakit hati?! sakit hati sama sapa lo? Setau gue nih, lo itu nggak pernah memasukkan kata-kata itu dalam kamus hidup lo deh..."


"Gue diputusin sama Ega...," Suara Junna mendadak melemah.


"What?! Gue nggak salah denger kan?! Lo diputusin sama Ega?!" Suara Tia yang sangat kencang bersaing dengan towa mesjid disekolah pada saat mengumandangkan adzan membuat gelegar dan goncangan satu sekolah. Bak sumbu bom yang telah dipercikkan api, berita tentang putusnya hubungan Junna dan Ega seketika membuat angin segar bagi para lelaki yang memendam perasaan suka pada Junna. Siapa yang tidak tertarik dengan Junna, dengan tubuh langsing setinggi 165 cm bak model dan wajah yang manis khas Indonesia ditambah nilai-nilai sekolahnya yang selalu bertengger diurutan pertama serta anak seorang pemilik rumah sakit membuatnya jadi idola dan incaran di sekolahnya.


"Junna, mau pulang ya? Mau gue boncengin pake sepeda lo sampe rumah?" Edo anak kelas sebelah menawarkan.


"Enggak usah, thanks," Jawab Junna malas.


"Kak Junna, kita ke kantin yuk makan bakso sama aku, tenang..., aku yang traktir kok...," Kali ini Andi adik kelas Junna anak kelas XI.


"Makasih, gue bawa bekal sendiri dari rumah," Tolak Junna.


"Junna, gue punya tiket nonton untuk pasangan nih, lo mau jalan sama gue nggak?"


"Gue lagi nggak selera untuk nonton." Ujar Junna datar.


Satu per satu para lelaki yang memendam perasaan pada Junna berguguran karena ditolak Junna. Namun rupanya mereka tidak pernah putus asa mendekati Junna. Ini membuat Junna muak dan ingin kabur tidak masuk sekolah. Hal tersebut dikarenakan Junna masih trauma dengan percintaannya yang kandas bersama Ega. Untuk sementara ini sepertinya ia harus absen dari dunia perpacaran dan percintaan guna menyembuhkan luka hatinya. Mungkin kata orang cinta masa SMA itu hanyalah cinta monyet semata tapi berbeda dengan Junna, ia menganggap hubungan yang ia jalani sebelumnya dengan Ega adalah hubungan yang serius karena telah melibatkan kedua orang tua mereka masing-masing.


Kini hari-harinya hanya diisi dengan membaca buku...melamun...membaca buku lagi...melamun lagi..., begitu seterusnya. Nadia sang Mama pun bingung harus berbuat apa setelah tahu kondisi sebenarnya dari anak pertamanya itu. Ia pun memaklumi kondisi Junna karena ia pernah merasakan diposisi anak gadisnya itu. Bahkan mungkin lebih buruk dan mengerikan serta penuh drama.


"Sudahlah Nak, kamu tidak perlu memikirkan tentang Ega lagi...," Nadia berujar. Jari-jarinya sibuk merajut pakaian berukuran kecil untuk calon jagoan kembarnya. "Tidak bagus buat kamu sendiri, apa lagi sebentar lagi kami mau ujian akhir, aneh kan kalau anak dari pemilik salah satu rumah sakit terbaik di Indonesia tidak lulus SMA karena patah hati diputusin pacarnya?"

__ADS_1


"Mama memang tidak mengerti perasaanku," Junna berkata ketus dan beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Mamanya sendirian di ruang keluarga menuju kamarnya. Dalam hati ia merasa berdosa karena bersikap seperti itu pada Mamanya. Namun ia terpaksa melakukannya agar sang Mama tidak terus-menerus memberikan nasehat yang berulang seperti kaset rusak. Ia hanya butuh sendiri untuk menenangkan diri.


"Hah..., anak itu benar-benar susah dinasehati...," Nadia berbicara sendiri. "Mungkin orang itu bisa memberikan solusi supaya dia nggak murung terus. Tapi kan sekarang dia sedang sibuk tour ke luar negeri. Yah, semoga saja dia cepat pulang..."


Dan sepertinya doa Nadia didengarkan oleh Tuhan. Tepat sekali Rhine pulang ke rumah hari ini. Kondisinya yang tampak lelah tidak membuat wajah tampannya pudar. Hal yang pertama kali ia lakukan sesampainya ia di kamar adalah menoleh ke kamar tetangganya atau tepatnya kamar Junna. Ia merindukan kegiatannya menjahili Junna. Bagi orang yang satu ini menjahili Junna adalah obat stres dan pelepas lelah paling ampuh untuk mengembalikan energinya seperti semula.


Gue sudah nggak sabar melihat muka marah dan juteknya Junna karena gue kerjain! Hehehe... Gumam Rhine dalam hati.


Tetapi sayangnya niat itu urung dilakukan. Ketika ia keluar kamar dan berjalan menuju balkon, yang ia lihat bukan Junna yang seperti biasanya tetapi Junna yang berwajah murung seakan-akan rohnya entah hilang kemana.


"Hei!" Panggil Rhine.


Tak ada respon dari Junna.


"Hei!" Panggil Rhine untuk kedua kalinya.


Junna tetap tidak merespon juga. Karena kesal, Rhine ***-remas kertas berisi partiture lagu gagal yang belum sempat ia buang dari kamarnya menjadi bulatan bola dan meleparnya kearah kepala Junna.


PUK!


"Aduh!" Akhirnya anak yang satu ini sadar juga. "Kertas dari mana nih?"


"Gue bukan dodol..., gue manusia...," Junna menatap Rhine dan berkata dengan datar. Pandangan matanya tidak fokus sama sekali. "Dodol itu enaknya dimakan...hehehe..."


"Lo kenapa sih? Bengong nggak jelas kayak ayam sakaratul maut gitu?" Dan dimulailah keusilan yang keluar dari mulut Rhine. "Ah, gue tahu! Lo kangen ya... enggak ketemu sama gue satu hari saja? Baru juga seminggu gue ninggalin elo. Sampe kangen segitunya..., gue jadi terharu ada fans gue yang begitu mengidolakan gue."


"Apaan sih lo?" Junna yang semula diam akhirnya menunjukan reaksinya. "Siapa yang kangen sama lo?! Penting banget mikirin lo?!"


"Terus ngapain dari tadi lo pasang muka nggak jelas kayak tadi?" Tanya Rhine penuh selidik. "Kayak bukan lo yang biasanya?"


"Sok tahu lo tentang gue!"


"Yee..., ya harus tahu lah..., tetangga gitu loh!" Rhine berlagak sok tahu.


Akhirnya Junna menyerah untuk berdebat dengan Rhine. Ia menelan air ludahnya menyiapkan diri untuk berucap kata. "Gue...putus dengan Ega... "

__ADS_1


"Hah?! Gue kurang dengar lo bilang apa?" Rhine mendekatkan telinganya lebih mendekat ke Junna untuk meyakinkan bahwa ia tidak salah dengar.


"Ukh..., GUE PUTUS DENGAN EGA!!! Puas?!" Junna berteriak sekencang-kencangnya hingga membuat kuping Rhine mendadak panas dan berdenging.


Air mata yang berusaha Junna tahan mati-matian selama ini akhirnya meleleh bak anak sungai di kedua pipi mulusnya. Rasa sakit hatinya kembali menyeruak. Tangisnya pun kembali meledak. Ia sudah tidak perduli dirinya menangis di depan Rhine, lelaki yang paling dibencinya. "Huuu...Huuu..."


"Gue nggak salah dengar kan?" Rhine tertawa. "Hahaha..., akhirnya cowok lo eh bukan, mantan cowok lo itu sadar juga kalau lo itu nggak pantas sebagai pacarnya..."


"Lo bener, gue memang nggak pantes jadi pacarnya, hiks...," Junna berusaha untuk tidak terus menangis namun air matanya terus keluar seolah tak mau diajak kompromi. "Gue itu jelek, gue itu kekanak-kanakan, gue egois, gue arogan, gue nggak pintar, gue manja, makanya Ega selingkuh dan gue diputusin Ega..."


"Hei...hei..., lo nggak boleh menghakimi diri lo sendiri kayak gitu," Rhine berujar.


"Gue sedih banget...," Junna menundukkan kepalanya dan menempelkannya ke balkon. "Ega itu cinta pertama gue dan gue sayang banget sama dia..., bagi gue, dia adalah cowok yang paling sempurna untuk gue tapi kenapa ia mutusin gue dan dengan entengnya dia bilang dia sudah punya cewek lain yang lebih mengerti tentang dia. Dasar Ega jahat! Huweee..."


"Sudahlah, cowok kayak dia nggak usah terlalu dipikirin lama-lama, keenakan dianya," Komentar Rhine. Ia pun berusaha menghibur Junna dengan menepuk-nepuk kepala Junna. "Lo sakit hati, sedih, kecewa kepadanya, yang ada lo nya yang rugi makan hati karena sibuk mikirin dia. Sedangkan dia malah asik-asikan pacaran sama cewek lain..., enggak guna banget!"


"Tapi..."


"Enggak ada tapi-tapian! Sudah, sekarang hapus air mata lo, tutup buku tentang dia, anggap saja dia nggak pernah ada! Karena memang nggak ada waktu mikirin dia."


"Tapi gue pasti akan ketemu dia terus..., dia kan sebentar lagi akan diangkat jadi dokter resmi di rumah sakit TA setelah lulus nanti. Bokap gue kan kepala rumah sakit disana," Junna masih agak ragu. "Gimana gue harus bersikap?"


"Hadapi saja dengan santai, lo kenal dia dan nggak mungkin menghindar terus kan? Tunjukin ke dia kalau lo baik-baik saja tanpa dia. Selesai kan perkara, begitu saja kok dipusingkan," Rhine berucap santai. "Inilah repotnya jadi cewek..., apa-apa semuanya pake perasaan! Makanya gampang baperan!"


Aku baru sadar..., selama kenal Rhine, baru kali ini aku menemukan satu point plus di dirinya... Junna menghapus air matanya. Hanya mendengar kata-kata tajam darinya aku langsung berhenti nangis dan lupa bahwa aku sedang patah hati...


"Tuan Narsis..."


"Apa?"


"Selama gue kenal sama lo, baru kali ini lo normal ngomongnya," Dasar Junna yang gengsi tidak mau mengakui, masih saja tidak mau jujur. "Elo nggak salah makan sesuatu kan sampai bisa berkata bijak seperti tadi?"


"Dasar anak tidak sopan...," Rhine meringis menahan kesal.


"Tapi..., terima kasih ya...," Junna memberikan senyuman terbaiknya membuat Rhine agak terkejut dan terpana.

__ADS_1


Sial! Cewek ini beneran manis! Gumam Rhine dalam hati sambil memalingkan wajahnya karena takut ekspresinya saat ini diketahui oleh Junna. Tak dapat ia pungkiri, gadis 17 tahun yang dihadapannya bukan gadis ingusan biasa. Dengan tubuh cukup tinggi dan langsing berisi membuat gadis itu begitu indah dilihat. Ditambah wajahnya yang begitu sensual namun tidak disadari oleh sang gadis membuatnya semakin terpengaruh, jika pikirannya sedang tidak jernih sudah sejak awal ia ingin menaklukkan gadis itu. Sepertinya ia harus bersabar untuk tidak melakukannya. Gadis itu masih baru proses menyembuhkan luka hatinya. Bertindak sekarang sama saja merusak rencananya yang belum matang.


***


__ADS_2