Junna dan Rhine

Junna dan Rhine
3-4


__ADS_3

"Ah..., di rumah Junna memang enak ya..., sejuk!" Teriak Tia sambil mengangkag kedua tangannya ke atas setibanya di kamar Junna. "Rasanya bawaannya mau tidur..."


"Hei, kita disini bukan untuk tidur! Kita disini mau belajar kelompok tahu! Belajar kelompok!" Junna mencubit kedua pipi Tia.


"Aduh duh, melar deh ini pipi...melar...," Keluh Tia menahan sakit.


"Inget dong Mbak, bentar lagi kita ujian akhir, lagian juga kalian harus tes masuk universitas."


"Tahu deh yang udah pasti keterima di Universitas TA jurusan kedokteran lewat PMDK," Ledek Cia.


"Dasar elo ini," Junna menghela napas. "Gue ngomong begini kan supaya nggak cuma gue saja yang sukses tapi sahabat-sahabat gue juga ikut sukses."


"Iya Bu Guru Junna," Jawab Cia seenaknya.


"Junna, rumah tetangga lo yang ganteng itu dimana?" Tanya Tia penasaran.


"Emangnya penting gue jawab?" Junna mengambil tumpukan buku yang akan dibahas bersama teman-temannya hari ini.


"Pentinglah, soalnya gue juga mau kenalan sama dia," Tia senyum-senyum sendiri.


Apa?! Gawat kalau sampai hal itu kejadian...bisa kiamat duluan sebelum kiamat sebenarnya datang! Junna berteriak dalam hati penuh dengan kepanikan tingkat tinggi.


"Enggak boleh!" Teriak Junna.


"Lho, emangnya kenapa?" Tanya Cia. "Ah, gue tahu, lo takut ya dia diambil sama kita-kita."


"Bukan begitu juga sih...," Junna menggaruk-garukkan pipinya yang tidak gatal. Tuh kan benar..., aku jadi beneran aneh, aku merasa keberadaan Rhine tidak boleh diketahui oleh mereka. Kenapa aku merasa egois ya? Padahal aku kan nggak ngefans Rhine sama sekali?


"Junna..., Junna...," Riri menggoyang-goyangkan badan Junna menyadarkannya dari lamunan.


"Eh, kenapa?"


"Nah ya ketahuan, lagi bengong mikirin tetangga lo itu ya?" Ledek Tia.


"Eng...enggak kok...," Wajah Junna sontak memerah bak buah tomat.

__ADS_1


"Enggak perlu khawatir, kita-kita kan sudah punya pacar, lagian kita-kita malah senang kalau lo beneran sudah mendapatkan penggantinya Ega, jadinya lo nggak sedih lagi, iya nggak teman-teman?" Lanjut Lily yang terkenal sangat alim dan jarang memberikan komentar.


"Betul!!!" Seru Riri dan Cia serempak.


"Dasar kalian ini...," Junna menghela napas. "Eh, gue ke bawah dulu ya, gue mau ngambil cake sama minuman yang tadi udah dibuatin sama nyokap gue."


"Okay Bos!"


Tapi..., rencana tinggallah rencana, yang namanya belajar kelompok itu bukannya benar-benar belajar, mereka malah asyik bermain-main. Dasar-cewek-cewek! Kalau sudah berkumpul, kumat deh hobi ngerumpinya temasuk Junna. Dan tanpa terasa waktu sudah beranjak sore dan sudah waktunya teman-teman Junna pulang ke rumah masing-masing.


"Tante, kami semua pulang dulu ya...," Teriak Tia, Cia, Lily dan Riri.


"Makasih lho Tante, cake keju coklatnya enak banget," Ujar Cia nggak mau kalah.


"Iya, Tante, jus lemonnya juga segar, bikin kepala fresh!" Sambut Riri.


"Syukurlah kalau kalian semua senang sama makanan buatan Tante," Nadia tersenyum. "Kalian jangan bosan-bosan datang kesini ya..."


"Tentu saja tidak akan pernah bosan Tante," Ujar Tia, Cia, Lily dan Riri serempak.


"Hehehe...," Tia, Cia, Lily dan Riri memberikan cengiran tanpa dosa dihadapan Junna.


"Ma, aku mengantarkan teman-temanku dulu ya sampai depan," Junna berjalan menuruni tangga sambil mendorong keempat temannya untuk mengantarkan teman-temannya ke depan rumah. Betapa mengejutkannya ketika tanpa sadar mereka melihat ke sebelah rumah Junna.


"Lho, itu kan...," Tia yang super sensitif dengan makhluk yang namanya cowok ganteng langsung menangkap sinyal kuat tepat di taman sebelah rumah Junna.


"Rhine!!!" Teriak Lily, Cia dan Riri serempak.


"Ups!" Rhine yang sadar jika keberadaannya yang selama ini disembunyikannya dari wartawan dan para fansnya hanya bisa diam mematung.


"Ketahuan deh...," Junna memukul kepalanya sendiri. Hah..., dunia gue yang penuh ketenangan kayaknya bakalan banyak goncangan nih!


Dan benar saja, disaat malam tiba, tentunya setelah dengan berbagai cara Junna mengusir secara halus keempat temannya yang sangat berisik itu, terdengarlah perang mulut diantar Junna dan Rhine. Dimana lagi jika bukan di balkon lantai dua.


"Lo itu gimana sih? Enggak bisa jaga teman ya? Kalau begini kan privasi gue jadi beneran terganggu!!" Teriak Rhine. Terlihat sekali jika ia benar-benar marah kali ini.

__ADS_1


"Lho, harusnya gue yang marah! Salah siapa yang seenaknya keluar rumah tanpa konfirmasi terlebih dahulu?" Teriak Junna nggak mau kalah. "Gue kan sudah bilang kalau temen gue mau datang, lo-nya aja yang kegatelan pengen keluar disambut teman-teman gue yang notabennya fans lo!!"


"Sembarangan! Lo-nya juga yang membiarkan teman-teman lo kelamaan main ke rumah lo! Gue kan lama-lama nggak betah juga di dalam rumah!"


"Sudahlah! Kebanyakan ngeles lo!" Junna nampaknya sangat kesal kali ini. "Kalau sudah begini jadinya, kesepakatan kita berdua batal total!! Karena ketidaksabaran dan kegatelan lo ingin tampil dimuka umum, gue yang jadi kena getahnya! Ketenangan gue kayaknya benar-benar hilang sejak lo membongkar identitas lo sendiri di depan teman-teman gue..., gue nggak bisa bayangin bagaimana nasib gue besok di sekolah...," Ia frustasi dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Yang ada gue yang keganggu privasinya, kalau teman-teman lo itu yang kata lo fans gue, mereka pastilah alamat akan mendatangani rumah gue setiap hari, gue jadi nggak bisa bernafas lega juga," Rhine membela diri.


"Dasar nggak mau disalahin!!" Cibir Junna. "Terserah lo deh mau ngapain! Gue sudah capek berdebat sama lo! Sekarang lebih baik kita urusin urusan masing-masing! Selamat malam!"


BRAK!


Junna menutup pintu kamarnya dengan keras dan mematikan lampu kamarnya. Ia memilih tidur lebih awal untuk mendinginkan otaknya yang panas setelah bersitegang dengan Rhine.


"Dasar anak keras kepala...," Rhine menghela napas mengendalikan emosinya. "Tapi guenya juga yang salah, kenapa sih gue susah banget mengucapkan kata maaf ke Junna? Kalau sudah begini enaknya gimana? kayaknya Junna beneran marah sama gue..., yah..., hilang deh objek ledekan gue..."


Esoknya di sekolah, Junna sudah dihadang oleh keempat temannya. Dan sepertinya Junna hanya bisa pasrah menghadapi berondongan pertanyaan dari temannya.


"Kenapa lo nggak bilang kalau tetangga baru lo itu Rhine?"


"Karena Rhine yang minta...," Jawab Junna pasrah.


"Lo tega ya jadi temen, lo kan tahu kalau kita berempat kan ngefans abis sama Rhine, kok tega-teganya gitu lho, lo nyembunyiin keberadaan Rhine, enggak setia kawan banget sih lo jadi temen."


"Atau jangan-jangan lo mau memonopoli Rhine sendirian?"


"Aduh..., bukannya begitu..., duh, gimana ya menjelaskannya ?" Junna rupanya saat ini merasa mati kutu kali ini menghadapi keempat temannya. "Rhine itu pindah kesana bilangnya mau cari ketenangan, lagian juga lo berempat kan tahu kalau gue nggak suka sama dia, terserah deh kalian mau ngapain gue, gue juga sudah nggak tahu lagi harus gimana..., soalnya karena lo berempat fans-nya Rhine gue sudah membayangkan lo semua akan datang ke rumah gue setiap hari dan gue sudah siap kehilangan ketenangan gue..."


"Enggak segitunya kali," Ujar Tia sambil menyentil dahi Junna.


"Eh, maksud lo?"


"Kita bakalan maafin lo kalau lo mau memenuhi permintaan kita berempat..."


***

__ADS_1


__ADS_2