Junna dan Rhine

Junna dan Rhine
9-2


__ADS_3

"Tuan Narsis..."


Siapa?


"Tuan Narsis..."


Kamu siapa? Kenapa memanggilku Tuan Narsis? Namaku Rhine, bukan Tuan Narsis! Samar-samar Rhine melihat ada sesosok gadis yang memanggilnya. Semakin lama sosok itu semakin jelas. Rambut hitam lurus berlayer yang diikat kuncir kuda dengan poni menutupi dahinya, kulit kuning langsat, bola mata hitam berkelopak dengan bulu mata yang lentik, wajah bulat telur, hidung yang mancung, bibirnya yang mungil nan ranum, tubuhnya yang langsing berisi dengan tinggi 160 cm. Ia tampak cantik dan terasa sangat familiar.


"Tuan Narsis, aku merindukanmu...," Gadis itu mendekat dan memeluk Rhine erat.


Pipipipipipipippiii!


Alarm bulat berwarna silver yang diletakkan pada nakas disebelah tempat tidur Rhine berbunyi keras membangunkan Rhine dari mimpi yang baru saja ia alami. Bulir-bulir keringat tampak keluar dipelipisnya dan napasnya memburu. Ekspresinya tampak terkejut setelah mimpi yang dialaminya. Ia segera mengambil smartphone miliknya. Pukul 7 pagi. Ia pun bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kulkas di dapur untuk mengambil sekaleng jus jeruk kemudian menuju beranda apartemennya. Semilir angin musim dingin menyapa lembut di pagi harinya saat ini. Dipandanginya deretan gedung-gedung pencakar langit di Seoul yang menjulang kokoh tak jauh dari tempatnya berdiri untuk menghilangkan rasa sesak dan penat yang ia alami sejak mimpi aneh yang ia alami tadi. Sial..., setelah delapan tahun ia tinggal di Seoul baru kali ini ia mengalami mimpi seperti itu berturut-turut sejak terakhir kali ia terapi ke rumah sakit. Bagaimana bisa? Ia memang dekat dengan beberapa wanita untuk keperluan bisnis musiknya, namun ia tidak mengenal gadis dalam mimpinya. Siapakah gerangan gadis itu?


Meskipun ia bisa tinggal di rumah mewah bersama kedua orang tuanya, ia memilih untuk tinggal sendiri di sebuah apartemen yang tidak jauh dari tempat ia bekerja sebagai produser musik di perusahaan raksasa milik Ayahnya. Entah mengapa walaupun ia akrab dengan Ayahnya, ia masih merasakan kecanggungan jika ia berada terlalu dekat dengan Sang Ayah. Menurut Ibunya, dulu sebelum akhirnya Rhine kembali bersama untuk hidup di Seoul telah terjadi kesalahpahaman diantara Rhine dan Ayahnya namun Ibunya tidak menjelaskan masalah detailnya. Ia pun tak mau mengambil pusing urusan itu. Ia berterima kasih kepada Ayahnya karena telah diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk berkreasi dibidang musik. Walaupun ia memilih untuk berdiri dibalik layar dan menghasilkan banyak karya yang mengantarkan para artis binaan perusahaannya ke Top Chart tidak hanya Korea namun juga dunia. Entah mengapa ia malas untuk kembali ke depan layar seolah ada hal yang menghalanginya untuk kembali.


BRAK!!


Terdengar bunyi pintu yang dibuka secara kasar.


"Rhine!!!!"


Oh tidak, mengapa hari ini ia harus dihadapkan dengan managernya yang menyebalkan ini? Jika Mas Yudha datang maka itu merupakan tanda bahwa ia harus mendatangi rumah sakit untuk terapi mengingat masa lalunya. Dan ia benci itu. Bagaimana tidak, sudah delapan tahun berlalu namun tidak ada satupun yang ia ingat. Ia sudah mengikhlaskannya jika memang ia tidak mengingat apapun tentang masa lalunya. Mengapa Mas Yudha harus memaksanya?! Memangnya ada hal penting yang harus ia ingat?


"Bagaimana pagimu hari ini?" Tanya Yudha yang segera bergabung dengan Rhine di beranda. Dengan sengaja ia mengambil kaleng berisi jus jeruk yang dipegang oleh Rhine sedari tadi dan segera meminumnya.


"Buruk! Dan dengan kedatanganmu semakin bertambah buruk!"


"Hei, berani-beraninya kau menghina orang yang telah berjasa dalam karirmu ini!" Yudha memukul kepala Rhine.

__ADS_1


"Aisshh..., kenapa Mas Yudha senang sekali memukul kepalaku?! Sakit tahu!" Protes Rhine yang merasakan sedikit nyeri di kepalanya.


"Hari ini adalah jadwal untuk terapi kan?" Yudha berkata penuh semangat. "Ayo bersiap-siap! Supaya kita bisa mendapat giliran pertama untuk terapi. Kau kan tahu jika Dokter Shine itu sangat sibuk dan banyak pasiennya."


"Iya-iya..., bawel banget sih Mas Yudha ini," Rhine mendengus kesal. Ia memutuskan untuk masuk kembali ke apartemennya untuk bersiap-siap ke rumah sakit. "Makanya Mas Yudha lekas menikah jadi tidak pusing memikirkan aku yang sangat merepotkan ini."


"A-Yeong masih bisa sabar menungguku sampai aku berhasil membuatmu ingat kembali dan menjadi Rhine penyanyi papan atas di Asia," Yudha mengekori Rhine dari belakang dan duduk disalah satu sofa yang ada diruang tamu. Ia segera menyambar remot televisi yang ada di meja. "Jangan lama-lama ya, aku lapar belum sarapan!"


Rhine yang mendengarnya dari dalam kamar mandi hanya memutar bola matanya sebal. Ia bukan anak kecil lagi! Umurnya sudah 33 tahun namun ia merasa masih diperlakukan seperti anak kecil. Tidak hanya Mas Yudha, Ibunya pun seperti itu. Memangnya ia barang pecah belah apa, yang sekali senggol langsung pecah?


***


Setibanya di rumah sakit, Yudha dan Rhine segera berjalan menuju ruang dokter dimana Shine praktek. Beruntunglah Yudha yang supel sehingga ia bisa berteman dengan perawat dan Dokter Shine sehingga mereka selalu mendapatkan nomor urut awal untuk terapi.


"Bagaimana Rhine, apakah akhir-akhir ini anda mengalami sesuatu seperti mimpi atau sekelebat ingatan yang menghampiri?" Dengan telaten dan sabar Shine bertanya pada pasien khususnya hari ini.


Yudha tersenyum dalam hati. Dari ucapan yang baru dikeluarkan saja sudah terdengar narsis.


"Itu suatu kemajuan Rhine."


TOK! TOK! TOK!


Suara ketukan pintu menghentikan pembicaraan mereka bertiga. Tampak seorang perempuan muda masuk ke ruangan Shine membuat ketiganya menoleh kearahnya.


"Junna, ada apa?"


"Kak Shine maaf mengganggu, barusan aku melihat diruangan dokter ada dokumenmu yang tertinggal sehingga aku berinisiatif untuk...," Belum sempat perempuan itu melanjutkan ucapannya dokumen yang dipegangnya terjatuh ke lantai. Perempuan muda tersebut tampak shock melihat pasien yang sedang ditangani oleh kakak tirinya tersebut. "Tuan Narsis...," Desisnya pelan namun terdengar jelas di telinga Yudha.


"O iya, perkenalkan, perempuan cantik yang dihadapan kalian ini adalah adik tiriku yang sedang magang disini," Shine berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Junna yang masih berwajah tegang. "Namanya Junna Putri Saga, biasa dipanggil Junna."

__ADS_1


"Sa...salam kenal," Dengan gemetar Junna menjulurkan tangan kanannya kearah Rhine dan Yudha.


"Junna, ini pasien khusus yang waktu itu kuceritakan. Ia mengalami kecelakaan delapan tahun yang lalu sehingga mengalami amnesia."


"Am...ne...sia?" Junna terdiam. Ya Tuhan..., kupikir selama ini Rhine menghilang karena ingin mempermainkan perasaanku. Ternyata...


"Salam kenal, aku Rhine," Rhine dengan mantap menyambut tangan Junna. Sejenak ia merasakan desiran aneh di dalam dadanya. Seolah ada kerinduan yang mendesak ingin dikeluarkan. Ingin rasanya ia memeluk erat perempuan dihadapannya. Bagaimana bisa? Ia baru pertama kali bertemu dengan perempuan muda ini.


"Jangan terlalu lama berjabat tangannya, ia bisa salah paham Rhine," Celetuk Yudha dengan dehaman.


"Oh maaf," Junna segera menarik tangannya dan beralih berjabat tangan dengan Yudha.


"Saya Yudha, Manajernya Rhine,"


"Junna," Junna berusaha tersenyum menghadapi kondisi saat ini. Perasaannya bercampur aduk ingin bertanya mengapa Rhine bisa seperti saat ini. Namun keprofesionalannya sebagai dokter menahannya. Ia memilih pergi dari ruangan tersebut sebelum ia bertindak diluar akal sehatnya. "Oh iya Kak, aku kembali dulu ke ruanganku ya, ada yang harus kukerjakan."


Yudha yang menanggap sinyal itu segera berinisiatif. Ia cukup penasaran dengan Junna. Ia pun bergegas menyusul sosok perempuan itu namun apa daya, langkah Junna yang terlalu cepat membuat Yudha kehilangan jejak.


"Akh..., sial! Aku kehilangan jejak gadis itu lagi!" Ujar Yudha gusar sambil mengacak-acak rambutnya. "Aku harus menemui gadis itu lagi untuk berbicara empat mata!"


"Bicara dengan gadis yang mana Mas Yudha?" Tiba-tiba Rhine muncul di belakang Yudha membuat dirinya terkejut. "Kau mau selingkuh dari sepupuku hah?"


"Rhine..., kamu membuatku kaget saja," Yudha menghela napas untuk menormalkan detak jantungnya yang berdentum kencang akibat keterkejutannya. "Aku itu bukan playboy Rhine, mana mungkin menduakan A-Yeong. Apa kau sudah gila?"


"Mas Yudha memang bukan playboy tapi mantan playboy," Cibir Rhine dan berlalu meninggalkan Yudha.


"Hadueehhh..., susah ya ngomong sama orang sepertimu," Yudha hanya bisa menghela napas panjang menghadapi mulut pedas Rhine. Ia berusaha menyamakan langkah kakinya menyusul Rhine keluar dari rumah sakit. Tanpa mereka sadari sepasang mata berwarna hitam pekat nan indah mengikuti kemana arah mereka. Tampak gurat kesedihan memancar didalamnya.


***

__ADS_1


__ADS_2