
"Eh, ada kabar bagus!" Hari ini wajah Junna tampak begitu cerah. Maklum saja karena hari ini adalah hari Minggu, ia memutuskan untuk bersantai-santai di rumah tanpa harus dibebankan pekerjaan rumah yang menguras tenaga dan pikiran. "Sebentar lagi nyokap gue melahirkan dan gue bakal punya adik cowok lho, enggak tanggung-tanggung, kembar sekaligus! Senangnya..."
"Segitu senangnya ?" Rhine tidur-tiduran di kursi santainya dengan hanya menggunakan kaos tanpa lengan warna putih dan celana pendek bahan jeans serta kaca mata hitam. Tapi tetep ya..., walaupun lagi santai harus gaya...
"Pastinya! Gue kan sudah menunggu selama 17 tahun supaya bisa punya adik," Junna menjelaskan penuh semangat dan berapi-api. "Bokap nyokap gue kan dua-duanya sibuk dan terlalu mencurahkan kasih sayangnya ke gue, jadi ya..., baru bisa ngasih adik ke gue deh sekarang."
"Memangnya enak ya punya adik?" Tanya Rhine.
"Sudah pasti dong! Kita nggak akan kesepian lagi setiap hari karena ada teman bermain. Apa lagi kalau adik cowok, wuih, bakalan ramai terus setiap hari! Memangnya lo nggak punya adik?" Junna tersadar bahwa ucapannya sepertinya sedikit menjurus kearah ruang lingkup pribadi Rhine yang tidak pernah suka diungkit-ungkit masalah pribadinya.
"Ups, sorry..., lo kan nggak suka ngomongin tentang kehidupan pribadi," Junna menutup mulutnya sendiri dengan tangannya.
Kenapa aku jadi nanyain tentang urusan pribadi si Tuan Narsis ini ? aku kan nggak suka sama dia...dasar aku bego! Bego!
"Nah itu tahu, kalau lo mendadak nanyain kayak gitu berarti itu tandanya lo nggak benci-benci banget sama gue kan?" Rhine menghadapkan wajahnya kearah Junna yang sedang menyender di balkon. "Jadi enak nih tambah fans satu lagi..."
"Pede gila!" Junna mulai kembali sewot. Seperti tombol merah, setiap kali kenarsisan Rhine ditampakkan kepada dirinya, entah mengapa ia seperti terpecik api dari pematik dan berubah menjadi amarah. "Gimana gue nggak tahu tentang lo kalau setiap hari di sekolah disamperin empat orang temen gue yang mendapat julukan 'RATU GOSIP SEJAGAD' itu terus-terusan membicarakan tentang lo dari A sampai Z? Sampai bikin kuping gue panas, kepala pusing, dan tenggorokan eneg! Kenapa juga sih mereka nggak bosan-bosannya ngomongin tentang lo? Heran gue...," Junna mengacak-ngacak rambutnya karena frustasi. "Asli, sudah pada nggak waras semua kali ya? Elo ngasih virus apaan sih sampai mereka bisa tergila-gila sama lo?"
"Hehehe..., agak terpengaruh juga kan lo," Rhine tidak mampu menahan gelinya. "Makanya jadi fans gue..., gue akan jadiin lo fans istimewa gue deh! Lo mau gua kasih apa? CD plus tanda tangan? Kaos gambar gue? Perawatan salon selama 1 tahun? Ikut Tour gue? Apa saja deh..."
"Sekali tidak tetap tidak, titik dan nggak pake koma!" Junna memutuskan untuk bermain game Harukanaru Toki No Naka De yang ada di PSP-nya. Sebuah game yang menceritakan tentang perjuangan seorang gadis dari masa sekarang yang kembali ke masa lalu untuk mengumpulkan para Hachiyo agar ia dapat kembali ke dunianya.
"Gue bocorin satu rahasia gue," Ucap Rhine dengan melirik kearah Junna. Ekspresinya berubah menjadi serius. "Gue hanya seorang diri di dunia ini."
"Eh...," Junna yang sedang berkutat dengan keypad di PSP-nya mendadak menghentikan jari-jarinya. Ia terdiam menatap Rhine yang tersenyum agak sedih. Junna pun jadi ikut sedih sekaligus merasa tidak enak karena tadi dengan bahagianya menceritakan tentang keluarganya yang sempurna.
"WAKAKAKAK...," Tawa Rhine meledak melihat ekspresi Junna. "Kena tipu!"
__ADS_1
"Apa?!" Mata Junna melotot. "Sialan lo! Padahal tadi gue nggak enakan banget tahu sama lo!"
"Gue anak satu-satunya dari sebuah keluarga yang sibuk seperti lo, tapi yang membedakan gue sama lo kalau keluarga gue tinggal di luar negeri."
"Diam! Tetap saja lo bikin gue sedikit feeling guilty sama lo! Sebel! Sebel! Sebel!!"
Merasa tertipu, Junna melepar semua barang yang ada disekelilingnya. Apa lagi jika bukan buku-buku yang ditumpuknya hingga setinggi satu meter yang sudah habis dilahapnya tadi. Dan ia ikhlas buku-buku tersebut ditawan oleh Rhine karena toh sebentar lagi dirinya lulus SMA. Hei, kemana rasa cintamu pada buku-buku itu?
"Ngerjain lo itu seru banget!" Rhine benar-benar tertawa terpingkal-pingkal sampai sakit perut. Tentunya sambil menghindar dari sambitan buku-buku Junna. "Lo benar-benar jadi objek hiburan gue! Hahahaha..."
"Bodo!" Jawab Junna ketus dan keras. Ia berjalan masuk ke kamarnya dan mengambil persediaan coklatnya. Tak beberapa lama ia kembali ke tempat duduknya tadi. Ditatapnya Rhine dengan tatapan penuh kekesalan tentunya sambil mengunyah coklat.
"Lo ngambek sama gue?" Kali ini Rhine yang berbalik menjadi tidak enak hati karena telah membuat Junna lebih kesal lagi padanya.
"....," Junna memilih diam dan terus mengunyah coklat. Ia sedang memperbaiki mood-nya yang hancur berantakan. Satu bungkus...dua bungkus...tiga bungkus...empat bungkus...
"EGP!" Jawab Junna cuek. "Emang gue pikirin! Cowok gue nggak menilai gue dari fisik tahu! Memang kayak lo yang terlalu sibuk ngurusin fisik tapi tidak memperdulikan atittude!"
"Dasar anak yang nggak pernah hidup susah!" Rhine menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela napas. Sebenarnya siapa yang tidak memperdulikan attitude?
"Lo juga nggak pernah hidup susah kan? Jadi nggak usah komentar kayak gitu sama gue!"
"Gue nggak pernah hidup susah kata lo? Siapa bilang?" Elak Rhine. "Gue juga..."
Belum sempat Rhine menyelesaikan kalimatnya, ia memutuskan untuk segera menghentikannya dan mengalihkan pembicaraan dengan topik yang lain. Ia merasa untuk saat ini hanya sebatas ini yang bisa ia bagi tentang kehidupannya kepada orang lain. Bahkan untuk seorang Manajernya sekalipun ia tutup rapat tentang hal itu.
Dia kenapa? Junna berkata dalam hati. Sok misterius!
__ADS_1
"Ngomong-ngomong soal cowok lo, gue nggak pernah lihat dia datang ke rumah lo?"
"Gue kan udah bilang, cowok gue kan anak kedokteran tingkat 4..."
"Nenek-nenek juga tua!" Ujar Rhine. "Memangnya kalau sudah tingkat 4 kuliah kenapa? Sibuk?"
"Hah..., susah ya ngobrol sama orang yang nggak pernah sekolah..."
"Sembarangan! Begini-begini gue lulusan S1 Jurusan Manajemen bisnis dengan IPK cumlaud mendekati skala empat tahu!" Rhine meringis menahan kekesalan.
"Ya...ya...ya...," Junna menanggapi omongan Rhine dengan enteng.
"Ketahuan banget lo nggak percaya sama gue!" Giliran Rhine yang mulai naik darah.
"Begitu deh... oh iya, kembali ke pertanyaan asal. Cowok gue kan udah jadi CoAs... jadi makin sibuk deh sampai-sampai sms atau kirim WA aja sulit."
"Segitu sibuknya?! Hmm..., gue jadi curiga, jangan-jangan cowok lo selingkuh lagi?" Tebak Rhine asal.
"Enak saja! Cowok gue tuh orang paling setia sedunia tahu! Dia nggak bakalan selingkuh! Dia kan jadi CoAs-nya di rumah sakit tempat bokap gue kerja! Jadi bokap gue juga pasti mengawasi!"
"Gue kan cuma nebak! Lo nggak harus sewot kan?!"
"Ah, susah ngomong sama lo!" Junna kembali ke kamar. Kali ini dia memilih untuk tidak keluar seperti tadi.
"Yah..., dia malah marah beneran," Rhine menghela napas. Lagi-lagi pembicaraan antara dirinya dan Junna selalu berakhir dengan Junna yang marah duluan dan memilih meninggalkan Rhine sendirian.
***
__ADS_1