
Bak termakan ucapannya sendiri, hidup Junna dibuat semakin stres karena dipaksa untuk mengikuti seluruh jadwal kegiatan Rhine yang sangat padat hari ini. Foto untuk cover majalah, foto untuk iklan parfum dengan gaya yang menurut Junna sok seksi, interview di radio, menemaninya yang sedang gladiresik untuk penampilannya di sebuah stasiun televisi swasta malam harinya, hingga yang terakhir menjadi asisten atau babu (menurut pendapat Junna) dengan menemaninya membeli baju di berbagai butik terkenal di pusat kota.
"Apa maksud lo gue harus nemenin lo seharian?!" Teriak Junna kesal di tengah-tengah keramaian mengundang semua mata memandang. "Malah disuruh bawa barang belanjaan lo sebanyak ini lagi, menyebalkan!"
"Lho, siapa suruh lo ngomong seenaknya dengan bilang apa pun permintaan gue akan elo penuhi," Rhine yang memang senang menjadi pusat perhatian bersikap santai seolah tak terjadi apa-apa dan terus berjalan ketempat berikutnya meskipun sesekali meladeni pada fans-nya yang meminta tanda tangan dan berfoto bersama. "Jadi gue minta lo nemenin gue seharian. Lumayanlah, setidaknya manajer gue bisa libur seharian ini..."
"Sialan!" Umpat Junna.
"Hei, lo lapar nggak?" Tanya Rhine tiba-tiba.
"Eh?" Junna agak terkejut dengan pertanyaan Rhine. Tumben dia perhatian? Tahu aja kalau aku kelaparan...
"Iya, gue lapar...," Ucap Junna cemberut dan sedikit merengek. "Ini semua gara-gara lo! Ayo tanggung jawab!"
"Iya gue ngerti," Rhine tersenyum mengarah pada Junna. "Gue tahu tempat yang bagus dan enak makanannya..., ayo ikut!"
Junna diajak makan di sebuah restoran yang cukup terkenal di kota tersebut yang menyediakan menu makanan fushion dari Barat hingga Timur. Ia tahu restoran ini. Beberapa kali ia dan keempat temannya mampir untuk hang out disana. Rhine memperbolehkan Junna memilih menu makanan apapun. Dan Junna pun memesan mie goreng seafood, chicken steak, es kacang merah dan es sarang burung favoritnya. Ckckck, kecil-kecil banyak juga ya makannya?
"Gimana? Enak makanannya?" Tanya Rhine senyum-senyum.
__ADS_1
"Enak banget! Gue kan sering makan disini sama anak-anak...," Junna menjawab sambil terus makan dan tidak perduli mulutnya penuh dan belepotan dengan makanan. Kelaparan banget ya mbak?
"Makannya yang benar dong, jangan kayak orang nggak dikasih makan seminggu!" Rhine yang risih dengan mulut Junna yang belepotan makanan segera mengusap mulut Junna dengan tisu yang tersedia di meja.
"Emang kelaparan tahu! Elo pikir ngebawain barang-barang lo terus ngintilin lo kemana-mana nggak nguras energi apa?! Untung makanannya enak."
"Bagus kalau begitu, berarti gue nggak salah buka restoran ini, hehehehe...," Rhine tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya yang putih kearah Junna sambil menopangkan wajahnya dengan tangan kanannya.
"Huk! Uhuk-uhuk..., uhuk-uhuk...," Junna yang terkejut dengan kata-kata yang diucapkan Rhine mendadak tersedak. Diminumnya es sarang burung yang tadi dipesannya.
"Kenapa? Kaget ya? Hahaha, muka lo yang keselek itu lucu banget! Hahahaha...," Rhine tak dapat menghentikan tawanya yang semakin keras. Perutnya mulai terasa sakit karena menahan tawanya.
"Udah nggak usah komentar apa-apa, habisin aja makanannya," Rhine meminum cappucino ice sambil membaca buku National Geography, buku favoritnya. "Gratis kok..."
"Kalaupun nggak gratis juga gue masih bisa bayar tahu!" Junna menjawab dengan nada penuh kekesalan.
"Mukanya jangan manyun kayak gitu, nanti cantiknya hilang lho...," Rhine tersenyum hangat kearah Junna membuat dirinya terheran-heran.
"Sumpah, hari ini lo beneran aneh! Enggak biasanya lo bersikap baik kayak gini ke gue?"
__ADS_1
"Enggak juga, ini sebagai ucapan terima kasih gue ke elo karena sudah mau nemenin gue seharian. Pasti capek kan?"
"Gimana nggak capek? Jadwal lo itu lho..., seabrek-abrek! Gue kalau jadi manajer lo nggak bakalan kuat!"
"Makanya gue ingin ngajak lo menggantikan manajer gue supaya lo bisa menilai apakah gue sebegitu nyebelinnya dan sebegitu ngartisnya sampai lo bilang gue memuakkan," Rhine berbicara sambil terus membaca bukunya. "Ini semua tuntutan pekerjaan gue sebagai artis, jadi ya harus begitu."
"Ini ajang promosi lo ke gue ya supaya gue mau jadi fans lo?" Tuduh Junna blak-blakan.
"Terserah lo mau nganggap gue gimana, cuma gue merasa kayaknya alangkah baiknya kalau gue ramah sama tetangga gue sendiri." Rhine mengangkat bahunya cuek.
"Tuh kan lo beneran aneh, kepala lo tadi kejedot tembok ya sampai lo berubah begini? Ngeri gue ngelihatnya."
"Ini gue apa adanya, gue kan nggak selamanya hidup dari profesi gue sebagai penyanyi, jadi restoran ini untuk investasi ke depan. Apa gunanya gue kuliah sampai S2 kalau nggak ada hasilnya. Lo beruntung bisa tahu gue yang sebenarnya, nah, makan yang banyak ya, karena habis ini masih ada tiga kegiatan lagi yang harus kita lakukan, mungkin sampai jam 9 malam kita baru pulang," Rhine mengusap kepala Junna dengan lembut. "Gue kesana dulu menyapa karyawan-karyawan gue."
DEG ! Terdengar detakan jantung Junna menjadi berdebar keras.
Perasaan ini lagi..., debarannya lebih keras dari sebelumnya..., rasanya jantung ini mau lepas..., padahal ini hanya karena Rhine yang mengusap kepalaku..., jangan-jangan aku..., ah, masa' iya...? Dengan orang seperti dia?
Junna menoleh kearah Rhine yang tampak sibuk berbicara dengan karyawannya. Wajahnya memerah, tatapannya pun tak dapat berpaling dari sosok Rhine yang sedang berbincang-bincang dengan para karyawannya. Ia memandang Rhine dari atas hingga bawah. Tiba-tiba muncul keinginan memeluk Rhine, merasakan ciuman dari sang artis, rasa itu seolah menuntut. Tidak! Ia benar-benar gila jika melakukannya! Keinginan itu sungguh konyol! Cukup sudah! Harus dibatasi!
__ADS_1
***