
“Ya ampun..., adik gue lucu banget...," Junna terkesima melihat adik kembarnya. "Lihat deh, mereka lucu kan?"
"Hmmm, mereka lucu sih, tapi nggak selucu gue," Jawab Rhine seenaknya. Padahal dalam hatinya ia iri terhadap dua makhluk menggemaskan dihadapannya yang bisa sangat disayangi oleh Junna. Ia ingin diperlakukan hal yang sama namun harus bersabar untuk itu.
"Kumat..., kumat deh narsisnya...," Sindir Junna. "Emang gue nggak salah ngasih julukan Tuan Narsis ke elo ya."
"Lho, fakta kan? Yang nge-fans sama adik lo kan baru elo, kalau gue kan yang nge-fans banyak, apalagi mereka melihat gue yang membantu seorang ibu yang sedang melahirkan, nama gue jadi semakin terkenal deh."
"Jadi pamrih nih ceritanya...," Junna melirik kearah Rhine.
"Ya enggaklah, gue bukan orang yang gila pemberitaan, tapi secara orang terkenal kayak gue berbuat baik seperti tadi nggak mungkin nggak ada wartawan yang melihat."
"Iya aja deh, pusing gue kalau sudah berurusan dengan kenarsisan lo," Junna menghela napas dan memutar bola matanya bosan menanggapi pembicaraan Rhine. "Tapi kenapa lo pake ngaku-ngaku jadi tunangan gue segala sih?"
"Eh, anu, itu...," Rhine tergagap bingung untuk menjawabnya. Tidak mungkin kan ia mengakui bahwa ia memang berniat seperti itu. "Saat itu kan kondisi darurat sipil, kalau nggak gitu nyokap lo nggak bisa langsung dioperasi."
"Tapi lo kan bisa pakai alasan lain,"
"Yang kepikiran hanya itu, hehehehe...," Rhine menyengir sambil memasang wajah tanpa dosa. Hanya itu senjata terakhir yang dapat ia gunakan untuk menanggapi berbagai pertanyaan yang dilontarkan Junna. Ia sebenarnya sedikit mengalami mati kutu menghadapi kekritisan otak milik sang gadis. Wajar saja lelaki sekelas Ega bisa kewalahan. Padahal ia mengakui lelaki itu cukup layak bersanding dengan Junna. Ia bersyukur dan beruntung lelaki itu menyerah akan Junna. Jika tidak, ia akan semakin susah untuk merebut hati Junna.
"Dasar!" Junna menghela napas dan kembali menatap ke dalam ruangan bayi yang terpisah oleh dinding kaca. "Umm..., Tuan Narsis..."
"Apa?"
"Makasih ya, lo sudah menolong gue..., gue nggak tahu harus bagaimana kalau nggak ada lo...," Pipi Junna bersemu memerah Rhine yang melihatnya pun tersenyum simpul dan mengusap rambut Junna dengan lembut.
"Sama-sama..."
Tuh kan..., setiap aku disentuh oleh Rhine jadi deg-degan gini... Junna berusaha menutupi ekspresi wajahnya yang panik dari Rhine. Tidak! Tolong hentikan kegilaan ini! Orang seperti Rhine tidak mungkin bisa jatuh cinta pada dirinya! Dan sudah pasti ia seharusnya tidak jatuh cinta dengan lelaki disampingnya ini!
***
"Mama gimana kondisinya sekarang?" Junna duduk di sebelah Nadia yang sedang berbaring lemah ditempat tidur ruang perawatan menahan rasa sakit jahitan operasi caesar yang baru dijalaninya semalam. Ia sibuk mengupas apel untuk cemilan Nadia. Meskipun tampak tidak berbakat urusan dapur, sebenarnya hobi Junna justru di dunia dapur. Kesibukan kedua orang tuanyalah yang membuatnya mandiri untuk memasak makan siangnya sendiri sehingga hanya untuk urusan memotong kulit apel pun sudah biasa ia lakukan tanpa bantuan orang lain.
"Sudah lebih baik, maaf ya, sudah merepotkanmu dan Rhine," Mama tertawa kecil. "Terutama untuk Rhine, padahal jadwalnya kan padat sekali..., tapi masih bisa menyempatkan waktu untuk mengantar Mama ke rumah sakit, kamu sudah mengucapkan terima kasih padanya?"
"Sudah," Junna mengangguk.
"Dia benar-benar orang yang baik ya?"
"Iya, orang yang baik," Junna tersenyum malu-malu. Nampaknya Nadia menangkap sesuatu dari ekspresi putrinya itu.
"Mama akan senang kalau Rhine bisa menjadi bagian keluarga kita"
"Hah?!" Junna kaget mendengar pernyataan Mamanya. Wajahnya pun langsung berubah merah padam. "Mama apaan sih?"
__ADS_1
"Maaf, Papa baru datang sekarang!" Tiba-tiba Saga, Papanya Junna muncul menghampiri Junna dan Mamanya.
"Papa?"
"Bagaimana keadaanmu sayang?" Saga menghampiri Nadia dan memberikan sebuah kecupan di kening. "Sudah sehat?"
"Begitulah...," Nadia menikmati kecupan yang diberikan suami tercintanya.
"Maaf ya Pa, aku mengabari Papa terlambat...," Junna meminta maaf pada Papanya karena merasa tidak enak telah lalai dalam tugas menjaga Mamanya. "Aku takut ganggu Papa malam-malam."
"Sudah, enggak apa-apa kok, Papa yakin kamu sudah melakukan yang terbaik," Saga menepuk pundak putrinya seolah mengucapkan terima kasih. "Tapi ngomong-ngomong, yang mengantar kamu dan Mama ke rumah sakit siapa?"
"Itu lho Pa, Rhine..., tetangga kita yang artis itu," Nadia menjawab sambil tersenyum penuh kode dan misteri. "Dia kan berteman baik dengan anak kita yang satu ini."
"Ooo..., yang sering ngajakin berantem sama Junna itu ya Ma, sampai membuat kegaduhan disekitarnya," Dan sepertinya Papanya pun menangkap sinyal dari istrinya. "Sampaikan salam Papa padanya ya Junna."
"Papa kok jadi ikut-ikutan sih," Junna merasa malu setengah mati seolah kartu yang sengaja dan berusaha untuk disembunyikannya terbuka lebar dihadapannya.
"Selamat siang semuanya," Kepala suster dan dua orang suster muda yang membawa kedua adik Junna masuk menyapa keluarga yang sedang berbahagia itu.
"Siang Sus...," Junna dan kedua orang tuanya menjawab kompak.
"Sudah saatnya bayinya menyusui," Suster itu menyerahkan bayi pertama pada ibunya dan satu lagi diserahkan pada ayahnya.
"Terima kasih Sus," Junna tersenyum.
"Ah, jagoan Papa yang baru," Papa menimang-nimang buah hatinya yang baru.
"Pa, kita belum memberikan mereka berdua nama Pa...," Ujar Junna.
"Iya-ya..., hmm..., bagusnya siapa ya?" Papa berpikir keras.
"Ah, Mama tahu! Bagaimana kalau namanya..."
***
"Hah? Gue yang harus kasih nama?" Rhine langsung bangkit dari kursi santainya di balkon. Jari telunjuk tangan kanannya menunjuk kearah dirinya sendiri. Terlihat kernyitan di dahinya berusaha memahami maksud pembicaraan Junna. Tak lama kemudian ia pun tertawa. "Ahahahaha..., Bokap-nyokap lo ternyata nge-fans sama gue juga ya? Duh senangnya, ternyata, orang seusia mereka menyukai musik buatan gue, tapi puterinya yang satu ini susah banget sih nge-fans sama gue..."
"Sudah deh, jangan besar kepala!" Junna kesal ketika tahu bahwa Papanya yang memintanya agar Rhine mau memberikan nama untuk kedua adiknya. Ia merasa harga dirinya sebagai kakak mendadak terjun bebas ke level terendah. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau sudah orang tua yang memberikan amanah tidak mungkin ditolak olehnya. Ia tidak mau dicap menjadi anak durhaka. Dan...seperti biasanya, mereka asyik ribut di balkon lantai dua rumah meraka masing-masing. "Cepetan kasih namanya, kalau kelamaan akte kelahirannya nanti nggak jadi-jadi!"
"Sabar sedikit kenapa, memangnya gampang nyari nama?" Rhine mulai sibuk berpikir. "Kira-kira bokap-nyokap lo itu ada rencana nambah momongan nggak?"
"Ya enggaklah, usia nyokap gue itu umurnya sudah empat puluh tahunan tahu, pada saat kehamilan ini saja gue khawatir banget sama kondisi nyokap gue, tapi nyokap gue sih memang sejak awal bilang, kalau adik gue ini lahir langsung minta di steril, jadi nggak akan bisa hamil lagi."
"Hmmm..., karena kedua adik lo itu anak cowok dan pastinya yang namanya cowok jadi pemimpin gimana kalau yang satu dikasih nama Kaizer dan yang satu lagi dikasih nama Kaisar? Dua-duanya sama-sama berarti pemimpin, satu dari bahasa Jerman dan satu lagi dari China kalau nggak salah..."
__ADS_1
"Hah? Enggak kebesaran tuh artinya?"
"Ya enggaklah, pas kok sama mereka berdua, aku sudah membaca kalau mereka besarnya nanti pasti jadi pemimpin yang baik," Ujar Rhine penuh keyakinan.
"Emangnya lo cenayang?"
"Yee..., gini-gini gue tau lagi siapa pasangan gue nanti."
"Eh?" Junna terkejut dengan pengakuan Rhine. "Emang ada orang yang mau sama orang narsis kayak lo?"
"Banyak kaleee..., tapi calon gue ini kayaknya anti patinya sama kayak lo! Agak pusing deketinnya."
"Begitu ya...," Junna menghela napas. Tersirat sedikit kekecewaan dimata Junna. Dadanya terasa nyeri namun ia berusaha bersikap biasa saja. Iya ya..., mana mungkin orang seperti dia tidak punya kekasih...
"Tapi untungnya pada saat itu tidak ada wartawan yang mengikuti dan mengambil foto kita berdua."
"Maksud lo?"
"Iya, kejadian beberapa hari itu bersih dari media. Lo tahu sendirilah kalau sampai tercium media? Enggak hanya elo yang habis tapi gue juga!"
"Enggak perlu lo ngomong juga gue sudah tahu! " Junna berkata dengan nada kesal. Ia merasa kehadirannya disisi Rhine sangat mengganggu padahal ia merasa telah menjadi lebih dekat dari siapapun termasuk fans-nya. Entah sejak kapan perasaan egois dan sensitif itu mulai muncul. Mungkin rasa cinta yang datang tak undang ini membuatnya semakin tersiksa dengan setiap statement penolakan yang tanpa sadar Rhine ucapkan kepada dirinya. Ia takut berharap kepada Rhine, karena ia takut sakit hati seperti ia terlalu berharap kepada Ega.
"Hei, hari Minggu besok lo ada acara nggak?" Tanya Rhine senyum-senyum. Sepertinya ia sempat membaca sikap Junna.
"Hah? Kenapa lo nanyain kayak gituan? Tumben banget?"
"Enggak, hari minggu ini gue ngadain konser di TA Hall dan gue mau ngasih lima tiket konser gratis untuk lo sama keempat teman lo yang udah setia banget jadi fans gue."
"Kenapa gue harus ikut? Gue kan nggak suka sama lo?"
"Enggak suka sama orangnya bukan berarti nggak suka sama musik dan lagunya kan?" Ledek Rhine.
"Pede banget lo bilang kayak gitu?"
"Ya harus yakinlah sama lagu ciptaan gue yang selalu membuat orang yang mendengarnya terbawa suasana," Rhine tersenyum penuh percaya diri. "Lagian gue juga sudah dapet bocoran dari Tia kalau sebenarnya lo suka dengan lagu-lagu yang gue bawain kan..."
"Dasar Tia tukang ngadu!" Gumam Junna kesal karena ketahuan kartu yang selama ini ia tutup-tutupi dari Rhine terbuka juga.
"Jadi hari Minggu bisa datang ya, lo nggak mau kan dimusuhi sama keempat teman lo hanya karena lo nggak datang?"
"Hah? Maksud lo apa?"
"Syarat untuk mendapatkan kelima tiket gratis konser gue adalah lo juga harus mau nonton konser gue, kalau enggak berarti batal tiket gratisnya," Rhine beranjak dari tempat duduk santainya dan berjalan masuk menuju kamarnya. "Coba dipikirkan ya..., gue mau tidur dulu."
***
__ADS_1