
"Aku pulang!"
Junna berlari dengan tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumahnya dan segera menuju ke kamarnya. Perlahan-lahan ia mendekati pintu jendelanya dan membukanya. Ia memperhatikan kamar Rhine untuk memastikan apakah sosok lelaki itu ada atau tidak.
Ah, ada orangnya! Dia lagi ngapain tuh pegang-pegang barbel? Memangnya badannya kuat mengangkat barbel yang kayaknya berat itu? Kelopak mata Junna tak berkedip memperhatikan gerak-gerik Rhine yang sibuk berolahraga.
"Kalau mau melihat gue nggak harus sampai sembunyi-sembunyi seperti kucing yang mau mencuri ikan seperti itu kan?" Ternyata sudah sejak tadi Rhine menyadari kehadiran Junna namun ia berpura-pura tidak tahu dan tetap sibuk dengan aktifitasnya mengangkat barbel seberat 4 kg untuk melatih otot-otot tangannya.
Ungkapan remeh dari Junna tadi hanyalah bentuk dari protesnya mengapa Rhine yang menyebalkan itu juga dianugerahi tubuh yang ideal dan atletis dengan postur tubuh yang pas alias sempurna. Sebenarnya ia tak munafik bahwa Rhine sungguh sempurna. Wajahnya yang blesteran Asia Timur minded dengan tekstur halus seperti perempuan namun masih menyisakan maskulinitas, kulitnya yang halus, tatapan matanya yang tajam, hidung yang mancung, bibir yang tipis, benar-benar seperti tokoh lelaki cantik yang ia baca di komik-komik terbitan Jepang dan Korea koleksi pribadinya. Namun karena sifat narsisnya itu membuat Junna tak mampu berucap apapun dan mengalahkan rasa kekagumannya.
"Ih, siapa yang mau ngeliatin lo? Ge-er banget! Gue cuma mau nanya kabar buku gue gimana? Apa lo menjaganya dengan baik atau nggak," Junna berpura-pura menanyakan tentang bukunya yang masih dalam penyanderaan Rhine. Sesungguhnya hal tersebut hanyalah peralihan rasa malunya karena ketahuan mengintip aktifitas Rhine seperti stalker.
"Pintar banget ngeles-nya kayak petinju, katanya mau beli buku yang baru saja," Rhine menoleh kearah Junna sambil tersenyum jahil. "Sudah ketahuan juga..."
"Apaan sih?!" Junna menahan kesalnya. "Buku itu langka ternyata, sudah tidak diterbitkan lagi tahu!"
"Rupanya lo sudah sadar ya, kalau gue itu memang keren? Sudah ngaku saja... enggak usah malu-malu..."
"Temannya bawang...cabe deh...," Junna menirukan gaya orang yang ada di iklan membasuh keringat dan menyingkirkannya segera dari dahinya.
"Cabe deh juga...," Balas Rhine.
"Enggak usah ikut-ikutan!" Teriak Junna tidak terima.
__ADS_1
"Trendsetter kayak gue ini pantang ngikutin orang lain, yang ada orang ngikutin gue," Rhine yang merasa sudah cukup berolahraga meletakkan kedua barbelnya di lantai teras. Ia mengambil buku Junna yang diletakkannya di tempat tidur dan berjalan keluar menuju balkon. Disekanya keringat yang mengucur deras dengan handuk kecil berwarna biru. Sungguh bertolak belakang dengan pribadinya yang overconfident. Tapi memang tidak bisa disalahkan juga karena Rhine memang memiliki hampir semua apa yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang disekelilingnya.
"Nih, buku matematika lo gue balikin," Rhine melempar buku itu kepada Junna. Untung saja buku yang dilempar Rhine dengan sigap berhasil ditangkap olehnya. Seandainya buku tersebut jatuh ke tanah, ia bisa saja khilaf melompat ketempat Rhine berada dan mencekiknya. Maklum saja..., buku adalah sahabat terbaiknya. Apapun jenis bukunya. "Isinya nggak ada menarik-menariknya sama sekali! Semua latihan yang ada di buku itu sudah gue kerjain dalam semalam! Gampang banget!"
"Hah?!" Mata Junna terbelalak. "Serius lo?"
"Cek saja kalau nggak percaya."
Junna spontan mengecek isi bukunya yang telah penuh dengan coret-coretan pensil berisi jawaban.
"Gila! Jawabannya benar semua!" Junna membuka satu per satu semua halaman di buku matematikanya. Ia benar-benar shock! Soal-soal yang membuat otaknya panas seolah bom yang hanya tinggal menunggu waktu untuk meledak setiap kali ia membuka buku itu, dengan mudahnya dikerjakan oleh Rhine?! Artis yang selama ini dianggapnya berotak kosong dan hanya modal tampang dan jualan suara saja?! Mengapa seolah Tuhan terlalu baik menciptakan manusia yang nyaris sempurna minus narsisnya seperti dia?! Teriak Junna dalam hatinya.
"Sudah, shock-nya jangan kelamaan, kalau lo pingsan disitu gue yang repot harus loncat antar balkon untuk mengangkat lo dan manggil nyokap lo," Rhine masih saja menyeka keringatnya. Ia berusaha menahan gelinya melihat ekspresi Junna yang konyol dengan mulut menganga tak berkedip sedikitpun.
"Gue nggak nyangka saja artis yang otaknya cuma mikirin tampang kayak lo bisa ngerjain semua soal gue...," Akhirnya kalimat yang sejak tadi ada dibenaknya Junna keluar dengan mulus dari bibir mungilnya dan membuat Rhine yang semula merasa di atas angin mendadak dibanting ke daratan.
"Hei...hei...hei..., menghinanya udah kelewatan nih," Rhine yang merasa tidak terima dengan ucapan Junna balik memprotes sang gadis. "Cewek seperti lo bener-bener nggak ada hati sama sekali! Pasti cewek jutek dan arogan kayak lo nggak punya pacar."
"Eh, siapa bilang? Gue punya pacar dong...," Bela Junna sedikit sombong. Ia mengeluarkan foto pacarnya dari dalam dompet dan memperlihatkannya ke Rhine. Niat amat... "Nih lihat, cowok gue..., ganteng kan??"
"Hmm..., selera lo boleh juga," Rhine mengamati dengan cermat foto Junna bersama Ega. Sosok Ega yang sepertinya anak baik-baik yang tidak pernah mau mengambil resiko dalam hidupnya dan memilih mengikuti track yang ada. Sangat kontras dengan Junna, gadis overactive, keras kepala, dan penuh percaya diri serta tidak mau kalah dalam hal apapun. Lucu juga sih, kenapa ia jadi sedikit tertarik dengan anak bau kencur di depannya itu. Padahal selama ini ia sangat malas berhubungan dengan yang namanya perempuan. Baginya jenis makhluk itu sungguh merepotkan.
"O iya dong, dia itu mahasiswa tingkat 4 Jurusan Kedokteran di Universitas TA lho..., siapa coba yang nggak bangga punya pacar kayak Ega? Udah ganteng, pintar, Calon Dokter lagi! Semua teman gue aja iri sama gue," Junna yang begitu bangga memamerkan pacarnya melipat tangannya dan menaikkan dagu dengan angkuhnya. Senyumnya begitu mengembang.
__ADS_1
"Tapi..."
"Tapi apa?"
"Gue lagi mikir, sebenarnya lo yang beruntung dapat cowok kayak dia atau dia yang sial dapat cewek kayak lo?" Rhine berkomentar seenaknya, apalagi tujuannya jika tidak memancing kemarahan Junna.
"Enak saja!" Junna segeranmenyambar foto Ega yang dipegang oleh Rhine. "Lo sendiri gimana? Gue pengen tahu cewek seperti apa yang jadi pacar lo?"
"Oh sorry, gue nggak tertarik sama cewek."
"Hah?! Jadi lo homo dong!" Kalimat ambigu Rhine membuat Junna mengambil kesempatan membalas ejekan Rhine tadi. "Wah, gosip baru nih, alamat bikin anak-anak nggak teriak-teriak lagi ngomongin lo di kelas kalau tahu idolanya homo...he...he...he..."
"Bocah...bocah...," Rhine malah tertawa mendengar ucapan Junna. "Elo itu masih terlalu kecil untuk memutuskan hal seperti itu, hahaha..."
"Lho, kok lo nggak takut pamor lo bakal turun? Fans lo kan lumayan banyak yang cewek," Junna jadi bingung sendiri.
"Gue kasih tahu ya bocah, gue itu masih normal, gue masih suka sama makhluk yang namanya cewek! Hanya saja saat ini gue lebih memfokuskan karier gue. Untuk gue, yang namanya cewek itu urutannya nomor sekian, lagian juga lo pernah bilang kan kalau gue lebih cantik dibandingkan cewek-cewek itu...," Goda Rhine agak centil sambil mengerlingkan sebelah matanya. "Mending gue cinta sama diri gue sendiri! Iya kan...?"
"Huek! Najis! Rasanya bikin gue mual saja lo ngomong kayak gitu," Junna memilih balik ke kamarnya sambil menunjukkan ekspresi ingin muntah kearah Rhine. Ia tetap menyimpulkan bagaimanapun kondisinya, dirinya tetap tidak dapat menyukai Rhine.
Dan...sejak itu, hubungan pertemanan yang aneh tanpa Junna dan Rhine sadari telah terjalin diantara mereka. Mereka sering bercerita satu sama lain, mungkin lebih tepatnya berselisih paham setiap hari. Dan anehnya, bahan perselisihan yang dibahas tidak pernah ada habisnya. Mengapa bisa?
***
__ADS_1