
Firasat buruk Junna menjadi kenyataan. Ia yang telah sembuh dari penyakitnya memutuskan untuk fokus dengan acara kelulusannya dan tahun ajaran baru kuliahnya. Sementara sosok Rhine tak kunjung menampakkan diri. Rumahnya pun kosong seolah ditinggalkan oleh penghuninya. Bahkan acara televisi atau majalah-majalah yang biasa memuat berita tentang Rhine tak pernah ada lagi. Rhine bak hilang ditelan bumi. Junna memilih tidak memusingkan hal itu. Toh sejak awal hubungan yang terjadi antara dirinya dan sang penyanyi terkenal itu hanyalah hubungan pertemanan yang aneh dan sebuah anti klimaks dalam kehidupannya. Yang tersisa saat ini adalah rasa ciuman itu benar adanya, mereka melakukannya... tapi tak ada ikatan khusus diantara mereka dan rasa sakit yang entah sejak kapan bercokol subur dihatinya seolah tak dapat disembuhkan. Junna menyalahkan dirinya. Mengapa ia bisa melakukan kesalahan yang sama hingga dua kali? Jatuh cinta pada lelaki yang salah. Sungguh miris rasanya, bahkan keledai pun tak mau jatuh di lubang yang sama.
Hingga waktu pun berlalu dengan cepat...
Junna telah beranjak dewasa, usianya kini telah memasuki 25 tahun dan telah memulai karirnya sebagai dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit milik keluarganya. Ia sangat dikenal sebagai dokter yang ramah oleh pasiennya. Tak jarang banyak pemuda yang mencoba mendekatinya, dari pasien yang pernah dirawat olehnya atau pemuda yang menjadi salah satu anggota keluarga pasien yang dirawatnya atau dokter dirumah sakit tempat ia bekerja sekarang. Mereka mengajaknya berkencan atau berhubungan dengan serius menuju jenjang pernikahan, namun putri sulung dari Pemilik rumah sakit itu selalu menolaknya dengan halus. Entah mengapa perasaan cinta tak dapat tersentuh ke dalam hatinya seolah hatinya itu telah mati. Ia takut jatuh cinta...atau tepatnya takut sakit hati lagi mengingat ia sudah jatuh dua kali dilubang yang sama...
Tiba-tiba terdengar bunyi ringtone dari smartphone berwarna putih miliknya menyadarkan Junna dari lamunan sejenaknya yang begitu menikmati pemandangan sore dari jendela cafe yang berada di rumah sakit sambil menikmati secangkir air lemon panas. Menu spesial untuk Junna yang disediakan pantry rumah sakit.
"Halo..."
"Halo Junna...," Terdengar suara bariton pria dari dalam smartphone-nya.
"Kak Shine?"
"Hahahahaha, rupanya kau masih mengenal suaraku?"
"Tentu saja, mana mungkin aku melupakan kakak lelakiku satu-satunya...," Sebuah senyum merekah di bibir Junna. "Tumben Kakak menelepon? Apakah ada sesuatu hal yang penting untuk dibicarakan?"
"Hei, masa' bahasanya seperti itu kepada kakakmu ini?" Junna terkekeh kecil mendengar protes dari kakaknya itu. Shine, saudara satu kandung dari pihak Ayah yang terpaut jarak enam tahun darinya itu adalah anak satu-satunya dari pernikahan Papanya yang pertama. Setelah perceraian yang terjadi antara Papanya dan Ibu kandung dari Shine, Papanya menikah dengan Mamanya sampai sekarang memiliki dirinya dan kedua adik kembarnya yang telah memasuki bangku kelas 2 SD. Sementara Shine memilih tinggal bersama dengan Ibunya hingga Ibunya meninggal dan memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya ke Korea Selatan dengan beasiswa yang didapatnya serta menetap menjadi salah satu dokter andalan di rumah sakit universitas tempatnya ia dulu kuliah.
"Lho, fakta kan, Kakakku tercinta ini menghubungiku pasti ada maunya. Sifat oportunis Papa kan menurun padamu Kak..."
"Dan sikap seenaknya Mama menurun penuh padamu," Balas Shine tentunya dengan candaan.
"Kak Shine...," Rengek Junna.
"Aku rindu padamu adikku," Lanjut Shine.
__ADS_1
"Bohong!"
"Yah, malah tidak percaya..."
"Sudah pasti tidak percaya! Mana ada kakak yang hanya setahun sekali menelepon. Kakak macam apa itu?"
"Wah, bahasamu sarkastik sekali."
"Biarin, weeee!" Junna menjulurkan lidahnya dihadapan ponselnya seolah meledek kakaknya.
"Dilarang meledekku dengan menjulurkan lidah!" Sontak Junna terkejut dengan kalimat yang diucapkan Shine. Bagaimana kakaknya itu tahu apa yang baru saja ia lakukan?
"Kamu pasti bingung kenapa aku tahu apa yang kamu lakukan?" Junna hanya merespon dengan anggukan.
"Coba putar kepalamu kearah jam tiga," Junna pun menuruti perintah kakaknya itu. Mata indahnya melebar ketika menatak sosok tinggi dengan senyum hangat dihadapannya. Lelaki yang merupakan replika sang Papa namun lebih muda melambaikan tangan kanannya kearah Junna. Tak ayal gadis manis ini segera bangkit dari duduk santainya dan menghambur untuk memeluk kakak lelakinya itu.
"Kak Shine, aku rindu padamu!!"
"Biarin! Aku kan jarang bertemu dengan kakakku yang super sibuk ini," Jawab Junna cuek. "Jadi manja sedikit tidak apa-apa kan?"
"Dasar!" Shine menarik hidung Junna karena gemas. Hal itu membuat Junna yang semula ceria berubah menjadi muram. Perlakuan Shine padanya mengingatkannya pada Rhine yang selalu jahil padanya. Mengapa sejak kepergian Rhine ia selalu merasa sedih seperti ini? Bukankah semuanya sudah berlalu lama sekali? Delapan tahun. Ya..., delapan tahun seharusnya sudah cukup baginya melupakan sosok Rhine yang menyebalkan itu bukan? Tapi kenapa...
"Ada apa? Kok diam?" Tanya Shine bingung
"Hmm..., tidak ada apa-apa," Junna menggelengkan kepalanya. Ia menggandeng lengan kiri Shine. "Kak Shine lapar nggak? Mau menemaniku makan di kantin?"
"Tentu saja, aku bela-belain langsung datang kesini setelah sampai di bandara. Kau harus bertanggung jawab akan keberlangsungan perutku." Shine mengacak-acak rambut Junna penuh sayang. Mereka pun berjalan menuju kantin. Tak pelak pemandangan langka kedua kakak beradik tersebut mengundang perhatian orang-orang disekelilingnya.
__ADS_1
***
"Ini untukmu...," Shine menyerahkan selembar surat beramplop putih dengan logo resmi rumah sakit yang Junna tahu merupakan tempat Shine bekerja.
"Apa ini?" Junna menatap amplop yang baru saja diterimanya dari Shine.
"Buka saja," Jawab Shine santai sambil menikmati secangkir kopi hitam yang panas.
"Surat persetujuan penerimaan dokter magang..., maksudnya?"
"Aku diam-diam memasukkan CV-mu ke HRD tempat kerjaku berada dan mereka tertarik untuk menerimamu magang di rumah sakit kami."
"Serius?" Kedua mata indah Junna membesar tidak percaya mendapat kesempatan emas ini. Bagaimana tidak, rumah sakit tempat kakaknya bekerja adalah rumah sakit bergengsi di Seoul dan tidak mudah untuk orang diluar Korea Selatan diberikan kesempatan sebagus ini. "Tapi bagaimana bisa?"
"Papa yang memintaku untuk mengajakmu tinggal bersamaku di Korea." Shine meletakkan cangkir kopinya di meja. "Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu. Menurut Papa ada masalah tentang semangatmu akhir-akhir ini. Maaf jika bahasaku kasar dan tidak berkenan dihatimu, kamu seperti kehilangan passion padahal aku dan Papa tahu pasti bahwa kamu memiliki kemampuan jauh dibandingkan dengan saat ini. Jadi kuharap kamu tidak menolak tawaranku." Shine melirik jam tangan yang dikenakan di pergelangan tangan kanannya. Waktu telah menunjukkan pukul 17.00 WIB. "Sepertinya aku harus pergi sekarang." Ia beranjak dari tempat duduknya yang berhadapan dengan Junna.
"Kak Shine mau kemana?"
"Aku ingin berkunjung ke makam Mamaku," Shine tersenyum. Tampak segurat kesedihan didalamnya. Junna terdiam menatap sosok kakaknya semakin menjauh darinya. Ia merasakan bagaimana rasanya jika ia kehilangan orang yang paling disayanginya. Benar kata orang-orang yang selama ini menjadi haters kepadanya. Ia hidup dikelilingi orang yang sayang padanya, keluarga dan sahabat-sahabat konyolnya yang selalu ada untuknya, membuat dirinya menjadi manja dan kurang mandiri. Sebenarnya selama ini ialah yang bergantung pada orang-orang terdekatnya sebelum ia bertemu dengan Rhine. Bersamanya ia belajar mandiri, bersamanya ia belajar untuk menjadi sosok optimis, bersamanya ia merasakan jatuh cinta, dan bersamanya pula ia merasakan patah hati dan kehilangan...
"Jika aku jadi kamu apa yang akan kamu putuskan Tuan Narsis?" Junna memandang lurus kearah kamar Rhine yang tertutup tirai rapat dan tak ada tanda-tanda kehidupan dari balkonnya. Sepi dan tak terawat seolah tak ada nyawa disana. Ia memejamkan matanya sejenak dan mengingat-ingat seluruh kenangan kebersamaan dengan lelaki menyebalkan sekaligus yang sangat ia rindukan. "Haruskah aku menerima tawaran dari Kak Shine? Rhine...kamu sekarang dimana? Aku rindu padamu...," Tanpa sadar air matanya mengalir turun membasahi pipi mulusnya.
"Kamu ngomong sama siapa Junna?" Tepukan tangan dipundaknya menyadarkan Junna dari kesendiriannya dan segera menghapus air matanya.
"Kak Shine..."
"Bagaimana? Apakah sudah kamu putuskan?"
__ADS_1
"Humm," Junna mengangguk mantap. "Aku akan menerima tawaran dari Kak Shine untuk magang ditempat Kakak bekerja." Ia memberikan senyumnya kearah Shine untuk menunjukkan kemantapannya. Ia tak boleh seperti ini terus, ini demi masa depannya sendiri.
***