
"Anakku kemana, Yudha?"
Kedatangan Ashiya yang tiba-tiba disaat Yudha baru saja keluar ruang rapat membuat jantungnya nyaris copot karena terlalu terkejut tidak menyangka wanita paruh baya yang penampilan fisiknya tak tampak sesuai dengan usianya muncul dihadapannya. Jika sampai Ashiya mendatangi kantor DG Entertainment sudah dipastikan anak lelaki tunggalnya sedang membuat masalah. Kali ini apa lagi yang diperbuatnya? Hadeuuhhh...! Yudha hanya bisa mengusap wajahnya yang sudah cukup kusut setelah rapat tadi. Bagaimanapun ia punya tanggung jawab di dua perusahaan baik yang ada di Korea Selatan saat ini untuk mendampingi Rhine dan perusahaan yang ia rintis sejak ia berkecimpung dalam dunia entertainment di Indonesia. Belum ditambah bisnis restoran milik Rhine yang memiliki beberapa cabang di Jakarta dan Bandung. Ya Tuhan, bisakah ia bernapas lega sedikit saja?!
"Rhine sedang keluar Tante," Yudha menggiring Ashiya untuk menuju ruang kantornya. Sepanjang perjalanan menuju ruang kantor pribadinya, akan disajikan warna putih, hitam, dan abu-abu sebagai identitas orisinal dari konsep gedung mewah nan modern serta elegan yang didirikan dan dirintis suami dari wanita dihadapannya ini.
"Dengan siapa anakku pergi? Apakah dengan seorang gadis? Gadis seperti apa?" Ashiya duduk disalah satu sofa yang ada diruangan tersebut. Ia yang seorang Ibu seolah memiliki hubungan batin yang kuat terhadap anaknya bahwa Rhine sedang dekat dengan seseorang. Hendak menanyakan langsung pun rasanya segan seakan entah mengapa ia merasakan Rhine menjaga jarak dengan dirinya dan suaminya sejak keluar dari rumah sakit lalu sehingga satu-satunya jalan ia harus minta tolong kepada Yudha, orang kepercayaan Rhine selama ini. "Karena akhir-akhir ini ia jarang sekali mengunjungiku dan Ayahnya di rumah utama."
"Tante, Rhine itu sudah dewasa, tak etislah rasanya saya selalu mencampuri urusan pribadinya, dia mau pergi kemana dan dengan siapa adalah haknya selama tanggung jawabnya sebagai produser musik disini tidak ia tinggalkan," Yudha mengurut pelan ujung batang hidungnya yang berdenyut tegang. Posisi duduknya yang tepat dihadapan Ashiya membuat tubuhnya kaku karena terkekang dan terintimidasi sehingga untuk berusaha bersikap santai dengan merebahkan dirinya ke punggung sofa dirasa sulit. "Memangnya Tante tidak ingin mempunyai cucu dari anak tunggal Tante itu?"
"Kau tidak akan mengerti kekhawatiranku Yudha," Ashiya mengambil cangkir berisi teh yang disediakan oleh pelayan sebelumnya. "Aku bukannya tidak setuju Rhine dekat dengan seseorang. Aku hanya ingin memastikan bahwa gadis itu tidak ada hubungannya dengan masa lalu Rhine karena jika itu terjadi aku akan..."
"Tante akan apa?" Yudha mengepalkan telapak tangannya menahan seluruh emosi atas ketidaksetujuan ucapan Ashiya. Ia tak ingin pikiran pendek Ashiya memperkeruh keadaan yang sudah cukup tenang setelah Rhine mengingat masa lalunya dan kembali dapat bertaut dengan cintanya bahkan pemuda itu sudah memaafkan tindakan dirinya yang membantu Ashiya ketika anaknya itu kecelakaan dan mengalami amnesia serta secara tidak langsung memisahkan Rhine dan Junna. "Apakah Tante tidak khawatir Rhine justru akan kecewa dan terluka dengan apa yang akan Tante lakukan?"
"Apa maksudmu Yudha?"
__ADS_1
"Dulu saya membantu Tante agar Rhine dapat berbaikan dengan Paman Kwon meskipun memanfaatkan amnesia yang dialaminya, dan saya merasa bersalah untuk itu karena ternyata saya telah membuat seorang gadis dimasa lalunya terluka. Saya hanya khawatir jika Rhine sudah dapat mengingat kembali ia akan menyalahkan saya dan Tante..." Lebih baik begini, jujur apa adanya daripada membuat Rhine semakin kecewa akan dirinya.
"Tunggu dulu, dari ucapanmu itu aku menyimpulkan bahwa gadis yang saat ini bersama Rhine adalah orang yang sama dengan gadis berseragam tetangganya di Indonesia?" Ashiya boleh ceroboh dan berpikiran pendek, namun untuk urusan analisis matematis jangan pernah meragukan dirinya.
"Itu..."
"Jawab Yudha!" Ashiya menggebrak pegangan sofa yang ia duduki dan berdiri condong kearah Yudha. Oh tidak, bukan seperti ini respon yang ia inginkan. Keluh Yudha dalam hati penuh frustasi.
"Aduh!" Langkah kaki kanan Junna terantuk bagian jalan setapak yang disediakan bagi pejalan kaki yang ingin menikmati keindahan alam pepohonan yang ada disekelilingnya. Tak bisa dipungkiri, gunung Namsan menyajikan suasana yang berbeda di musim gugurnya saat ini. Sejauh mata memandang, hamparan pohon-pohon berwarna kuning, oranye, dan kemerahan yang indah, mewah, serta megah seperti baju pengantin adat khas Bangsa Korea. Daun-daun berguguran menyapa disetiap langkah kaki mereka memberikan kesan romantis. Psst, tapi bukan romantis dengan pengertian roman-romannya makan gratis lho!
"Dimana-mana jalan itu pakai kaki, sejak kapan mata itu pindah ke posisi kaki?" Jawab Junna kesal karena bukannya Rhine menolong, ia malah mendapat omelan dari lelaki itu. Ini sebenarnya yang perempuan siapa yang lelaki siapa sih? Kok sepertinya posisi mereka terbalik ya? Seharusnya yang lebih banyak cerewet adalah dirinya, namun entah bagaimana jika berurusan dengan Rhine semua yang normal terjadi pada diri lelaki dan perempuan berubah menjadi dunia yang terbalik dan anti mainstream. Ada ya yang seperti itu?
"Sejak kamu kesandung tadi," Jawab Rhine seenaknya. Ia mengajak Junna duduk disalah satu bangku taman yang disediakan disana. "Mana coba kulihat, ada yang luka nggak?" Lelaki itu pun mengecek bagian kaki Junna yang terasa sakit karena terantuk jalan. "Kamu ini kan kebiasaaan, ketika terpukau akan sesuatu pasti meleng."
Junna meringis menahan perih yang ada di lututnya. Rhine pun mengusap-usap pelan dan sesekali meniup luka tersebut memberikan sensasi hangat seakan mengusir hawa dingin yang menyapa. Iapun tenganga tidak percaya dengan tindakan lelaki tampan dihadapannya. Rhine selalu saja bisa memberikan tindakan yang tak terduga olehnya. Dibalik mulut pedas Rhine yang selalu berhasil memancing emosi Junna untuk membalasnya tak kalah pedas, lelaki itu penuh dengan perhatian yang membuat hatinya luluh sehingga rasa kesalnya segera hilang berganti rasa bahagia. Kalau dipikir-pikir, ia baru sadar bahwa perhatian-perhatian kecil dari Rhine-lah yang membuatnya jatuh cinta. Lucu juga ya bisa seperti itu? Padahal..., duh, susahlah jika diungkapkan menggunakan kata-kata!
__ADS_1
Rhine yang merasa diperhatikan oleh Junna ketika ia mengecek kaki sang gadis tak tahan untuk berucap jahil, "Kenapa melihat kearahku terus? Bahagia ya punya kekasih yang tampan dan perhatian sepertiku?"
Senyum dibibir Junna sirna dan berubah menjadi cemberut. "Kenapa sih, hobimu itu suka sekali merusak suasana hatiku?"
"Ah, siapa bilang merusak hatimu? Aku malah ingin selalu membahagiakannya," Setelah memastikan tidak ada luka yang serius di kaki Junna, ia berdiri dihadapan gadis itu. "Bagaimana, sudah tidak terasa sakit lagi kan?"
Junna menyadari bahwa sikap menyebalkan Rhine tersebut untuk mengalihkan memar didengkulnya. Dan seperti mantra ajaib rasa sakit dan perih tadi menghilang.
"Wah, iya, kamu benar Rhine!" Junna berdiri dan menggerakkan kakinya tanpa rasa perih tadi. Ia jadi merasa malu sendiri mengingat profesinya sebagai dokter yang seharusnya lebih mengerti tentang ilmu Suggestive Positive kepada pasiennya, sebuah ilmu untuk mengalihkan pikiran mereka akan penyakit yang dirasa dan memberikan hal-hal positif serta persuasif bahwa mereka bisa sembuh karena keyakinan dirinya sendiri dan hal ini berhasil dilakukan oleh Rhine kepadanya yang notabennya tidak punya latar belakang pendidikan medis sepertinya.
"Sudah yuk, kita lanjutkan lagi perjalanannya," Rhine kembali menautkan kelima jari tangan kanannya ke kelima jari tangan Junna. “Setelah kita turun dari sini, rencananya kita mau kemana lagi?”
“Ke Namsan Tower!” Jawab Junna semangat sambil mengangkat tangan kirinya ke atas.
“Aku sepertinya punya firasat buruk akan hal itu,” Rhine menepuk dahinya frustasi mengenai lokasi yang akan mereka tuju selanjutnya. Pantas saja Junna ngotot setengah memaksa ingin kencan diwilayah ini, padahal masih banyak tempat yang dapat mereka kunjungi.
__ADS_1
***