Junna dan Rhine

Junna dan Rhine
7-2


__ADS_3

TENG! TENG! TENG!


Terdengar bunyi lonceng pertanda jam ujian telah berakhir. Junna menautkan kesepuluh jarinya dan menaikkan tangannya tinggi-tinggi untuk melakukan perenggangan. Akhirnya kiamat ujian selama seminggu penuh yang sedang dialami Junna dan keempat sahabatnya berakhir sudah. Junna pun merapikan seluruh alat tulisnya yang ia gunakan untuk ujian dan memasukkan ke dalam tas punggung warna pink-nya. Ia bergegas menghampiri keempat sahabatnya yang berada di ruangan yang berbeda dengan dirinya.


"Hei girls, gimana tadi pas ngerjain ujiannya?" Junna merangkul keempat sahabatnya.


"Buruk," Ujar Cia tak bersemangat.


"Mengerikan!" Lanjut Tia dengan teriakan.


"Parah akut!" Riri menepuk jidatnya sendiri.


"Ini karena kita jauh dari Junna sih, makanya susah dapat bantuan jawaban...," Lily menjelaskan dengan helaan napas berat.


"Enggak segitunya kali," Junna meringis. Sebenarnya ia tidak tega melihat ekspresi keempat sahabatnya. Namun kata-kata yang diucapkan Rhine begitu mempengaruhinya. Jika ia tidak membiarkan keempat sahabatnya mandiri, mereka akan selamanya bergantung kepada dirinya begitu juga sebaliknya. "Kalian berempat kan sudah belajar dengan baik."


"Tetap saja...," Rengek Cia. "Rasa pede-nya berkurang, gue nggak bisa bayangin hasil nilainya kayak apa..."


"Ya nggak kayak apa-apa Cia," Junna menepuk-nepuk punggung Cia memberikan semangat. "Apapun yang terjadi kalian berempat tetap jadi sahabat gue yang terbaik!"


"Enaknya ya, jadi Junna diberi kecerdasan tingkat dewa," Riri membuka suara. "Sudah pasti lulus SMA ditambah nggak perlu mikirin tes masuk ke universitas lagi."


"Itu karena gue belajar, makanya kalian belajarnya yang benar," Jawab Junna santai. "Masih belum terlambat kok, catatan kecil yang gue kasih itu sudah cukup mewakili semua materi yang diujikan di SPMB dan kalian tinggal serius mempelajarinya."


"Enak banget lo ngomong catatan kecil, satu buku tebel gini lo bilang catatan kecil? Bener-bener deh, otak lo parah!" Tia berkacak pinggang sambil mengangkat catatan kecil yang Junna maksud.


"Yeee..., bagi gue itu catatan kecil tahu kalau dibandingkan oleh buku-buku pelajaran kita yang sebenarnya. Namanya juga rangkuman pelajaran dari kelas X sampai kelas XII," Ucap Junna membela diri. "Pokoknya pelajarin itu deh! Soalnya kalau pengumuman kelulusan sudah ada gue sama keluarga gue mau liburan ketempat Kakek dan Nenek gue. Jadi ya nggak bisa bantuin lo semua untuk belajar kelompok."


"Kok gitu?!" Ujar keempat sahabatnya kompak. "Curang!!"

__ADS_1


"Enak aja curang..., pokoknya semuanya sudah diputuskan!" Junna merangkul keempat sahabatnya. Kalau sudah ngomong pokoknya, ucapan-ucapan yang lain pasti mentah semua oleh Junna. Rupanya sifat otoriternya sedang kumat. "Hmm, ngomong-ngomong nih, bagaimana kalau kita makan pizza di Mall tempat Rhine meluncurkan album waktu itu? Sekalian merayakan berakhirnya ujian akhir kita. Gue yang gantian traktir deh karena terakhir kali makan disana dompet kalian langsung tipis kan..."


"Junna," Keempat sahabatnya itu menatap Junna dengan mata penuh harap. "Lo emang sahabat kita yang berbaik..."


"Tapi, gimana kita jalan kesananya?" Tanya Lily dengan polos. "Kita semuanya kan nggak ada yang bawa kendaraan roda empat?"


"Udah ngangkot aja," Jawab Junna mantap.


"Ah, gila lo! Dandanan gue bisa luntur kalau ngangkot, taksi aja kenapa?" Keluh Tia. "Naik taksi saja ya..."


"Ya elah, sekali-kali gembel style gapapa kan?" Junna tidak mau kalah pendapat dengan Tia. "Toh kita berlima ini tetap cantik kok."


"Iya deh Tuan Putri Junna...," Tia menghela napas. Ia memang tidak bisa melawan Junna jika hal itu berhubungan dengan kehidupan. Ia yang adalah seorang anak pemilik perusahaan penerbitan terbesar di kota TA terbiasa untuk hidup manja bak seorang putri sehingga dirinya tidak pernah memiliki teman. Hanya Junna yang mau berteman dengannya dan mengajarkan tentang bagaimana hidup sederhana. Padahal jika dipikir lagi, jika bicara materi, justru Junna-lah yang lebih memiliki segala-galanya dibandingkan dirinya. Namun Junna tidak pernah sama sekali menampakkannya. Begitu juga kedua orang tuanya, bagi mereka kebahagiaan itu tidak diukur oleh materi. Itu yang membuatnya kagum pada sosok Junna.


***


Kelima sahabat itu pun akhirnya berangkat menggunakan angkot. Seperti yang sudah ditebak Junna, sepanjang perjalanan di dalam angkot menuju TA Mall, Tia terus mengeluh kepanasan sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas plastik dengan foto Rhine sebagai modelnya. Junna dan ketiga temannya hanya bisa tersenyum memaklumi dengan sikapnya itu.


Apa kabarnya dia ya? Sejak kejadian itu aku sama sekali belum bertemu muka dengannya...kalau aku bilang kangen padanya apa yang akan terjadi ya?


Tia yang menangkap ekspresi Junna yang terus menatap layar televisi raksasa tersebut tersenyum simpul.


"Lo kangen sama Rhine?" Tanya Tia tiba-tiba yang tentu saja membuat Junna terkejut setengah mati. Bagaimana bisa Tia mengetahui apa yang sedang dipikirkan


"Ah, eh, enggak, biasa saja," Junna berusaha menutupi apa yang tadi sempat dibaca Tia. "Terakhir kali gue ketemu dengannya, dia agak murung..."


"Lo mencemaskannya ya?" Tia bertanya kembali.


"Enggak juga," Junna mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Sudahlah, lo nggak bisa menutupinya dari gue," Tia tersenyum seolah bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Junna. "Umm..., apa ya..., gue ngerasa harus berterima kasih kepada Rhine karena berhasil merubah sikap skeptis lo tentang cowok."


"Maksud lo apa? Gue nggak ngerti?"


"Dulu lo selalu memandang cowok dengan sudut pandang Ega, semuanya selalu Ega, gue sempat khawatir lo jadi terlalu memuja Ega. Kalau boleh berkomentar gue sejak dulu nggak suka sama Ega pas jadian sama lo! Gue sempat heran kok lo bisa jadian sama orang kayak Ega si tipe safety player yang selalu hidup dengan jalur normal dan tak pernah berani untuk menerima tantangan. Terbukti kan dia mutusin lo hanya karena merasa lo tidak membuat posisinya aman lagi dan lebih memilih cewek lain. Kalau gue jadi lo, gue pilih jadian sama Rhine!"


"Lo gila ya?" Junna terkejut dengan ucapan dari Tia. "Dilihat darimananya gue cocok dengan si makhluk narsis yang satu itu?"


"Dari semuanyalah..."


"Omong kosong!" Junna menggelengkan kepalanya dan meninggalkan Tia di belakang. Ia tak mau mendengar lagi spekulasi yang berkembang dari Tia. Ia takut untuk mengetahuinya. Tia begitu sensitif mengenai kehidupan pribadinya. Memang ia tak memungkiri bahwa ia telah jatuh cinta pada Rhine dan ia tidak dapat melarikan diri lagi. Tapi apakah mungkin ia bisa bersama dengan Rhine? Rhine begitu tertutup tentang dirinya meskipun selama ini mereka selalu intens berkomunikasi. Terlebih lagi yang Rhine tahu adalah dirinya membenci Rhine. Bagaimana bisa anak ingusan seperti dirinya bersama Rhine. Khayalan itu terlalu klise terdengar. Yang harus ia lakukan adalah fokus dengan kehidupannya. Lulus SMA, kuliah di jurusan kedokteran sesuai dengan cita-citanya untuk meneruskan jejak Papanya sebagai dokter. Ia percaya akan ada cinta lain untuk dirinya, tapi mungkin tidak seperti cinta yang ia miliki untuk Rhine. Cinta yang penuh hasrat namun tak mungkin tercapai. Orang itu terlalu jauh untuknya walaupun ia berada dihadapannya sekalipun.


"Gue harap lo nggak melarikan diri dari perasaan lo sendiri Junna," Tia merangkul tangan kiri Junna. Posisi mereka berdua berjarak satu meter dari ketiga teman mereka yang lain.


"Gue nggak pernah melarikan diri Tia," Pandangan Junna kembali menerawang. "Gue hanya bersikap realistis."


"Gue heran ya, elo itu keras kepalanya ampun-ampunan," Untuk kesekian kalinya Tia hanya bisa menghela napas menanggapi sikap kepala batu sahabatnya yang satu ini. "Atau mungkin lo memang takut untuk jatuh cinta lagi karena kekecewaan lo yang diputusin oleh Ega?"


Sebuah pertanyaan yang sangat mengenai sasaran membuat Junna terdiam sejenak. Apa benar apa yang diucapkan oleh Tia? Ia benar-benar takut untuk jatuh cinta lagi? Mungkin iya, terlebih lagi dengan Rhine, ia takut jika mendapati bahwa dirinya lah yang lebih mencinta dibandingkan orang yang dicintainya, ia tak mau sakit untuk kedua kalinya seperti yang ia alami dengan Ega. Jika hal itu terjadi ia khawatir ia tak sanggup menghadapi semuanya dan hancur. Karena perasaannya kali ini lebih dalam dari perasaan yang ia miliki dulu kepada Ega.


"Lo kayaknya mulai ngawur deh otaknya," Junna menyentil dahi Tia dengan jari telunjuk tangan kanannya. "Gue mau fokus dulu dengan masa depan gue."


"Fokus dengan masa depan lo bukan berarti mengesampingkan perasaan lo Junna."


"Tia, gue mohon untuk stop membahas itu," Junna memberikan penekanan pada suaranya. "Kalau sekalipun gue jatuh cinta padanya, cinta gue itu mustahil karena dia adalah orang yang hanya memperdulikan dirinya sendiri."


"Junna, Tia! Jalannya jangan lama-lama!" Teriak Cia yang telah sampai terlebih dahulu di depan pintu utama Mall bersama Lily dan Riri. "Udah pada kelaparan semua nih!"


"Iya!" Junna membalas dengan lambaian tangan. Ia berlari kecil meninggalkan Tia di belakangnya. Tia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berharap sahabatnya itu mau jujur dengan dirinya sendiri dan memberi kesempatan hatinya untuk Rhine karena ia tahu lelaki itu menganggap Junna spesial. Jika tidak spesial mana mungkin lelaki itu memberikan tiket konsernya kepada Junna dan dirinya serta sahabat-sahabatnya yang lain secara gratis dan mengizinkan mereka mendatangi backstage mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2