Junna dan Rhine

Junna dan Rhine
12-2


__ADS_3

"Ini!" Junna menunjukkan sebuah gembok berukuran sedang dan berwarna pink muda kehadapan Rhine. Senyuman tak lepas dari bibirnya menunjukkan kepuasan.


Sudah ia duga! Rhine menepuk dahinya cukup kencang sehingga menimbulkan sedikit kemerahan.


"Kenapa seleramu receh sekali Junna?" Protes Rhine. Bagaimana tidak? Masa' dirinya harus mengikuti tren menggantungkan gembok cinta di Namsang Tower? Ia memang memiliki darah Korea Selatan, namun bukan berarti seluruh ritual para pasangan di Korea salah satunya menggantungkan gembok cinta harus ia lakukan! Pink lagi warna gemboknya, kenapa sih girly banget?! Biru kek sekali-kali! "Memang umurmu itu berapa? Percaya bahwa hubungan cinta seseorang tergantung dengan gembok yang diberi nama kemudian ditautkan pada pagar menara ini setelah itu kuncinya kamu buang? Perasaan cinta kita itu bukan berdasarkan gantungan gembok yang akan kamu gantung itu! Tuhan..., ada-ada saja...”


"Ayolah Rhine, selama ini kan aku selalu mengikuti keinginanmu, sekali ini saja, ya...ya...ya...," Rengek Junna sambil menggoyang-goyangkan lengan kanan Rhine merajuk dan menatap penuh mohon. Bagaimanapun ia tak mau menghilangkan kesempatan ini. Siapa yang tak ingin mengabadikan hubungan cintanya dengan gembok cinta di Namsang Tower. Mitosnya mengatakan bahwa dengan memasang dan mengunci gembok cinta di tempat yang diinginkan, kemudian melempar kuncinya jauh-jauh ke bawah gunung, cinta sang pemilik gembok takkan terpisahkan selamanya. Dan ia pun berharap hal yang sama seperti itu dengan hubungannya bersama Rhine.


"Mana ada! Sejak awal kamu memang mau mendominasi itinerary kita disini, iya kan?" Tolak Rhine kesal merasa didominasi. Sejak kapan gadisnya ini jadi sedikit otoriter? Rhine, mengapa kamu tidak berkaca pada dirimu sendiri yang selama ini sudah otoriter kepada Junna?


"Ayolah Rhine, kita kan jarang-jarang bisa berduaan seperti ini," Junna memeluk pinggang Rhine dan wajahnya menengadah serta menatap lembut kearah lelakinya itu. "Aku belum pernah punya sesuatu yang bisa aku abadikan bersamamu selain foto kita di sawah waktu itu. Itu saja sudah usang kelipat-lipat di dompet. Jadi biarkanlah aku egois kali ini ya? Please..."


Sialan! Siapa juga yang bisa menolak jika kekasihnya merajuk dengan memberikan tatapan minta dicium seperti Junna saat ini?! Teriak Rhine frustasi dalam hati.


"Baiklah...," Rhine menghela napas panjang dan mengepalkan kedua tangannya berusaha penuh perjuangan untuk tidak melakukan Public Display of Affaction dengan mencium gadis mengesalkan namun menggemaskan dihadapannya ini.


"Terima kasih Rhine!" Junna memeluk tubuh Rhine lebih erat tanda ucapan terima kasih. Ia pun beralih kembali dengan gembok yang dibelinya tadi ketika dalam perjalanan menuju puncak menara. Tak lupa ia mengambil spidol permanen berwarna biru yang telah ia siapkan sebelumnya. Ia menuliskan namanya dan Rhine pada gembok tersebut. "Aku tahu kok sebenarnya kamu illfeel sama warna gemboknya bukan dengan perbuatanku ini, oleh sebab itu aku membeli spidol sesuai warna favoritmu, biru, hehehehe...,”Junna tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan spidol yang digunakannya untuk menulis.


"Ka...," Belum sempat Rhine menyelesaikan kalimatnya, Junna sudah memasangkan gembok itu pada tempat yang telah dipenuhi tumpukan gembok cinta sambil berdoa sebelum melempar kunci yang menjadi pasangan dari gembok tersebut.


“Doaku, meskipun aku dan Rhine saling bertolak belakang dan sering adu mulut untuk hal-hal yang di mata orang lain tidak penting sama sekali, semoga perasaan dan hubungan cinta kami dapat saling bertautan dan bersatu selamanya. Aamiin...!” Rhine tak dapat menyembunyikan senyumnya ketika mendengar doa yang dipanjatkannya tadi. Ternyata ada sisi manis dari Junna yang baru ia ketahui sekarang.

__ADS_1


Junna pun mengambil ancang-ancang dan melemparkan kunci tersebut ke bawah gunung dengan sekuat tenaganya berharap tak ada seorang pun yang akan menemukan kunci itu. Setelah ia meyakinkan bahwa kunci tersebut sudah menghilang dari pandangannya, ia mengangkat kedua tangannya ke atas menunjukkan kegirangannya. “Sudah selesai! Sekarang hayuk kita turun dan makan! Perutku sebenarnya sudah lapar dari tadi cuma kutahan-tahan supaya seluruh agenda kita hari ini selesai di Namsan Park.” Junna menggandeng lengan kiri Rhine dan mengajak kekasihnya itu turun dari Namsang Tower.


“Dasar!” Rhine menjentikkan dahi Junna gemas. “Semoga saja kunci yang kamu lemparkan tadi tidak mengenai orang lain di bawah sana. Kan kasihan juga kepalanya benjol atau terluka karena kamu melemparkan kunci tadi dengan penuh niat dan sekuat tenaga.”


“Waduh, seriusan?!” Tanya Junna sedikit panik dan menutup mulutnya dengan kelima jari tangan kanannya.


“Semoga saja,” Rhine yang melihat kekhawatiran konyol Junna kembali menggodanya. Ia mengangkat kedua bahunya cuek. “Jika benar terjadi, orang tersebut akan menyumpah-serapahi kamu sehingga doa yang kamu ucapkan tadi menjadi sia-sia.”


“Rhine, jangan menakut-nakutiku!” Junna yang kesal akhirnya mencubit pinggang Rhine yang ternyata merupakan titik kelemahannya.


“Aduh!” Rhine hanya bisa meringis menahan cubitan kecil namun cukup keras itu.


***


“Itu...,” Yudha agak ragu untuk melanjutkan ucapannya.


“Jawab Yudha!”


BRAK! Gebrakan tangan Ashiya pada meja yang memisahkan antara dirinya dan Yudha tak pelak membuat Yudha tak berdaya dan mengaku juga.


“Iya Tante...,” Jawab Yudha lemas.

__ADS_1


“Bagaimana bisa hal ini terjadi?!” Ashiya menggigit-gigit kuku jarinya dan berjalan mondar-mandir menunjukkan kecemasan dan kekhawatiran yang saat ini melanda dirinya. “Bagaimana bisa...”


“Kami bertemu dengannya ketika saya mengantarkan Rhine untuk terapi amnesianya dengan Dokter Shine,” Yudha menyerah dan akhirnya menceritakan segalanya kepada Ashiya. “Tak kami sangka bahwa Dokter Shine memiliki adik tiri yang sedang menjadi dokter magang ditempat ia bekerja dan adiknya itu adalah Junna, tetangga Rhine di Jakarta...”


“Sudah aku duga!” Ashiya menghentikan langkah kakinya dan menatap nyalang kearah Yudha yang posisinya bak terdakwa. “Dari awal aku memang sudah tidak setuju dengan ide terapi amnesiamu itu Yudha! Dan kau lihat sekarang hasilnya, anakku berhubungan kembali dengan masa lalunya dan tidak mungkin akan menghancurkan keluarga kecilku yang sangat aku lindungi dan perjuangkan untuk utuh seperti saat ini!”


“Tante, saya mohon tenangkanlah diri Tante,” Yudha menyodorkan cangkir teh yang tadi disuguhkan untuk Ashiya agar ia meminumnya kembali untuk menenangkan dirinya.


“Bagaimana aku bisa tenang jika saat ini aku menyimpan bom waktu yang bisa kapan saja menghancurkan segalanya?!” Namun sepertinya niat Yudha tidak direspon baik oleh Ashiya yang telah dikuasai amarah bercampur ketakutan dan kecemasan.


“Tante, Junna tak seburuk itu...,” Ujar Yudha lirih dan berusaha meyakinkan Ashiya.


“Ini tidak dapat dibiarkan Yudha!” Ashiya mengambil tas kecil hitam yang dibawanya. “Aku harus menyelesaikan semuanya! Tak akan kubiarkan Junna mendekati anakku seujung rambutpun! Dan kau tak boleh sekalipun ikut campur dalam urusan ini! Mengerti?!” Ia menunjuk kearah Yudha dengan jari telunjuk kanannya sebagai bentuk mengancam agar tidak berbuat macam-macam.


BLAM!


Ashiya tergopoh-gopoh keluar dari ruangan Yudha dan membiarkan Yudha terduduk frustasi melihat Ashiya meninggalkan dirinya tanpa dapat berbuat apa-apa. Mengapa jadi semakin rumit melebihi benang kusut sekarang?!


“Akkkhhh, kepalaku pusing!!” Teriak Yudha sambil mengacak-acak rambutnya. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu...


***

__ADS_1


__ADS_2