Junna dan Rhine

Junna dan Rhine
3-5


__ADS_3

"Begitulah...," Keluh Junna kepada Rhine. Sejak kapan mereka kembali akur? Padahal membayangkan pertengkaran mereka yang adu otot dan debat semalam, seolah tak ada satupun yang ingin mengalah, tidak pernah dibayangkan bagaimana caranya mereka berbaikan. Benar-benar hubungan pertemanan yang aneh. "Mereka bilang, mereka nggak akan mengganggu ketenangan lo dan gue kalau mereka diizinkan bisa berfoto bareng sama lo dan mendapat tanda tangan dari lo..."


"Ooo..., ternyata begitu," Rhine mengangguk-anggukan kepalanya. "Tapi gue agak ragu, biasanya maniak fans kayak mereka nggak puas hanya dengan berfoto sama gue dan dapat tanda tangan dari gue."


"Percaya deh, gue yang akan jadi jaminannya!" Ujar Junna memohon. "Lo boleh minta apa saja dari gue, please..."


"Beneran nih...?" Tanya Rhine sambil melirik kearah Junna. Yang ia inginkan adalah Junna! batinnya berteriak, ia ingin memiliki Junna disisinya. Hanya dengan gadis itu dan tidak ada seorangpun yang boleh mengambilnya. Sungguh gawat dan menyedihkan..., ia laki-laki normal yang jika disajikan pemandangan indah seperti dihadapannya sudah pasti goyah.


Tidak Rhine! Kamu harus ingat, anak gadis dihadapanmu itu masih SMA, bersabarlah paling tidak sampai ia lulus SMA.


Rhine menarik napas dalam-dalam dan menghempaskannya perlahan untuk mengembalikan kesadaran logikanya. Ya, saat ini perasaannya itu harus ia sembunyikan rapat-rapat.


"Iya!" Junna berkata sambil mengangguk mantap.


"Boleh deh! Tapi gue minta sesuatu dari lo-nya nanti saja, gue belum kepikiran apa-apa," Ia harus setengah mati keinginannya kali ini dan mencari alternatif yang safe untuk hubungannya dengan Junna saat ini. Aduh Junnaku sayang...mengapa kamu begitu tidak sensitif?! Aku kan jadi susah kalau harus mengendalikan diriku lebih lama lagi...Tuhan, kuatkan iman hamba-Mu ini!


"Hah?" Junna bertanya penasaran. "Enggak yang aneh-aneh kan?"


"Ya enggaklah..., gue ini juga tahu diri kalau orang di depan gue ini galaknya melebihi macan!" Ledek Rhine. Hanya itu yang dapat ia ucapkan sekarang. Sabar..., semua ada waktunya.


"Sialan!" Junna berkata agak kesal. "Enggak sopan tahu!!!"


"Sip deh, gue terima!" Rhine tersenyum sedikit memberikan nada ancaman. "Pegang janji lo ya! Awas saja kalau ingkar, lo nggak akan bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau lo melarikan diri dari janji lo itu."


"Makasih banget ya," Terasa kelegaan yang amat sangat dihati Junna bahwa ketenangan di rumahnya bisa terjaga.


"Sudah kan nggak ada lagi yang mau dibicarakan?" Rhine berjalan pelan masuk ke dalam kamarnya. "Kalau nggak ada gue mau masuk dulu. Tentang foto bareng sama gue mungkin baru bisa gue penuhi minggu depan karena besok gue ada acara di luar kota selama seminggu penuh."

__ADS_1


"Oh iya Tuan Narsis," Panggil Junna.


"Apa lagi?"


"Anu, gue...," Junna berkata agak malu-malu. "Gue minta maaf ya sama kejadian kemarin malam, gue beneran lepas kontrol..."


"Sudahlah, guenya juga yang salah," Junna tersenyum lebar kearah Junna. "Harusnya gue juga tahu serapat-rapatnya gue menyimpan rahasia pasti ketahuan juga, hmm..., tapi muka lo kalau kayak gitu manis juga."


"Hah?!" Junna kali ini benar-benar kaget setengah mati. Baru pertama kali dalam pertemanan dirinya dengan Rhine, ia mendengar pujian dari Rhine. Hal yang membuat wajah Junna menjadi merah padam dan jantungnya kembali berdebar kencang tak karuan.


***


Sesuai dengan kesepakatan yang telah disetujui, seminggu setelah Rhine tour keluar kota, ia memenuhi permintaan teman-teman Junna untuk berfoto bersama dan memberikan tanda tangannya.


"Thanks banget ya Na, lo emang teman baik kita," Tia, Cia, Lily dan Riri memeluk erat hingga Junna mengalami sesak napas.


Hehehe..., lucu! Mukanya kayak kepiting baru direbus matang! Rhine berkata dalam hati. Ingin sekali ia mencium gadis itu dengan ciuman yang memabukkan. Membuat wajahnya semakin merah takluk dihadapannya. Rhine! Tolong dikondisikan pikiran kotormu itu! Dia masih berusia 17 tahun!


"Rhine, terima kasih juga ya sudah menyempatkan waktunya untuk kami...," Tia berkata dengan nada riang. "Kamu memang idola kami!"


"Sama-sama," Rhine memasang senyum komersilnya. "Tapi sayangnya teman kalian yang satu itu tidak mengidolakanku."


Rhine melirik kearah Junna dengan tatapan dan senyuman jahilnya.


"Iya nih..., Junna ini memang nggak asyik banget!!" Sambung Cia. "Kalau Junna nge-fans juga sama Rhine kita berempat nggak akan sering adu pendapat tentang kamu Rhine."


"Setuju! Lagian apa sih kurangnya Rhine yang membuat Junna nggak suka sama Rhine, padahal Rhine itu kan benar-benar artis sempurna dimata kami para idolanya," Riri pun ikut-ikutan memberi komentar.

__ADS_1


"Terima kasih atas pujiannya dan terima kasih sudah menjadi fans-ku yang baik," Rhine masih mempertahankan senyum komersilnya.


Kalian nggak tahu saja orang ini kayak apa... Junna hanya bisa menarik napas dan membuangnya pelan-pelan. Tapi ya sudahlah..., toh mereka yang ngefans ini kepada Rhine bukan aku...


"Terserah deh kalian mau bilang apa, yang namanya nggak suka ya nggak suka," Junna berkacak pinggang. "Kalian kan sudah selesai urusannya, cepat pulang sana! Gue mau belajar!"


"Deuuu..., ngambek nie ceritanya...," Ledek Tia. "Ok deh, si murid teladan yang hobinya belajar, met belajar yeee..."


Keempat teman Junna berlalu meninggalkan Junna dan Rhine berdua saja.


"Hah..., akhirnya selesai juga...," Junna menghela napas. Ditekannya pelipisnya yang sedari tadi berdenyut-denyut dengan tangan kanannya. "Capek..., dengerin mereka berempat teriak-teriak nggak jelas selama dua jam sama lo, sumpah gue stres abis!!"


"Biar tambah stres sekarang lo harus nemenin gue pergi!"


"What?!" Teriak Junna kencang.


"Lho, lo kan bilang sendiri ke gue kalau gue boleh minta apa aja dari lo, dan permintaan gue, lo harus nemenin gue seharian ini beraktifitas."


"Malas ah, capek...," Keluh Junna seenaknya mengacuhkan Rhine dan berjalan untuk masuk ke rumahnya.


"Eit, enggak bisa, lagian juga gue udah ijin sama bokap nyokap lo dan mereka berdua setuju." Rhine menarik baju Junna untuk mencegah Junna pergi.


"Hah? Kapan?"


"Ada deh, so..., let's go now!!"


"Enggak!!!" Teriak Junna karena ditarik paksa pergi oleh Rhine. "Papa, Mama, toloooonggg!!!"

__ADS_1


***


__ADS_2