Junna dan Rhine

Junna dan Rhine
4-3


__ADS_3

Setelah sampai di rumah sakit Universitas TA, Nadia segera dilarikan ke ruang perawatan intensif yang melarang Junna dan Rhine untuk masuk dikarenakan terdapat darah yang mengalir di kaki Nadia. Tak beberapa lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang perawatan tempat Nadia dirawat intensif.


"Bagaimana kondisi Mama saya Dok?" Tanya Junna khawatir. Wajahnya pucat pasi dan cemas.


"Kondisi Mamamu tidak memungkinkan melahirkan secara normal. Sepertinya Mamamu sempat terjatuh, kami harus mengambil tindakan untuk melakukan operasi caesar. Kami harus minta persetujuan pihak keluarga tapi tidak bisa kamu yang menandatangani surat izin mengoperasi karena kamu belum termasuk golongan orang dewasa."


"Bagaimana ini? Papa sedang dinas keluar kota..., apa lagi ini sudah malam..., Papa pasti sudah istirahat..., nggak mungkin bisa secepat kilat datang kesini kan...," Junna menjadi sedih karena ia tak memiliki daya dan upaya apapun karena statusnya saat ini adalah anak yang masih dibawah umur. Ia tidak dapat mengambil keputusan krusial seperti sekarang. Rhine yang tidak tega melihat kesedihan Junna akhirnya ambil keputusan.


"Saya yang akan menandatangani surat izin operasi tersebut!"


"Tuan Narsis?"


"Apa kamu anggota keluarganya Junna?"


"Iya, saya adalah tunangannya Junna!"


WHAT?! Tunangan?! Apa dia sudah gila ya?! Teriak Junna dalam hati.

__ADS_1


"Walaupun belum menjadi anggota keluarga resmi setidaknya saya bisa bertanggung jawab atas operasi yang dilakukan terhadap Mamanya Junna," Dengan sigap Rhine menandatangani dokumen yang mengizinkan dilakukannya operasi.


"Baiklah kalau begitu, kami akan segera melakukan tindakan operasi." Dokter dan Timnya segera membawa Nadia ke dalam ruang operasi. Junna yang khawatir setengah mati hanya bisa duduk gemetaran.


"Padahal gue udah berjanji kepada Papa untuk menjaga Mama..., tapi gue nggak bisa menepati janji gue sendiri..., gue benar-benar anak yang tidak berbakti...," Junna mulai menyalahkan dirinya sendiri. "Gue nggak mau terjadi apa-apa dengan Mama dan calon adik gue..., gue nggak mau...," Ia mulai menangis. Sudah lama ia rindu memiliki adik. Ia selama ini kesepian sebagai anak tunggal sehingga terkadang sering berbuat seenaknya dan kasar hanya untuk menutupi rasa kesepiannya itu agar dianggap tegar dan mandiri.


Rhine yang melihatnya langsung memeluknya. Dengan tenang ia berkata, "Lo nggak perlu khawatir, nyokap lo pasti akan baik-baik saja, ada gue yang nemenin lo disini..."


"Tuan Narsis...," Junna menangis sejadi-jadinya dipelukan Rhine. Baru kali ini ia bisa merasa lemah dihadapan seorang lelaki. Ketika  dulu masih bersama Ega, ada rasa superior yang ia tunjukkan karena ia adalah putri dari Kepala sekaligus Pemilik rumah sakit ini. Mungkin itu salah satu faktor yang membuat Ega merasa inferior dan memilih mundur dari hubungan mereka Sedangkan dihadapan Rhine, dirinya merasa sebagai perempuan biasa yang membutuhkan perlindungan lelaki.


"Bagaimana Dok, operasinya?" Tanya Junna yang bergegas menghampiri.


"Mamamu dan bayi kembarnya..., selamat...," Dokter bisa tersenyum lega. "Sekarang Mamamu sudah bisa dipindahkan di ruang perawatan dan kedua adikmu juga sudah dipindahkan ke ruang khusus bayi."


"Syukurlah," Junna yang merasa lega langsung terduduk lemas di lantai.


"Hei, jangan duduk di lantai, nanti malah elonya yang sakit," Rhine menarik Junna untuk berdiri.

__ADS_1


"Kalau begitu saya tinggal dulu, permisi."


"Terima kasih ya Dok," Rhine menyalami sang dokter tanda ucapan terima kasih.


"Yosh! Sekarang aku harus telepon Papa untuk memberitahukan kabar gembira ini!" Junna mengambil smartphone yang ada di dalam saku celananya dan menghubungi Papanya. Rhine yang melihat gerak-gerik Junna pun tersenyum.


"Bagaimana?" Tanya Rhine.


"Besok Papa dengan penerbangan pertama akan datang kesini," Junna berkata penuh kelegaan.


"Baguslah, terus sekarang lo mau ngapain?" Tanya Rhine.


"Gue mau melihat adik-adik baru gue!" Jawab Junna riang. "Lagian juga gue nggak mau mengganggu istirahat Nyokap gue, apa lo mau ikut?"


"Boleh, gue akan menemanin lo," Rhine berjalan beriringan dengan Junna. Suasana disekelilingnya tampak lengang. Hanya suara langkah kaki yang memecah kesunyian diantara mereka. Dan tentu saja detak jantung keduanya yang bersinkroni bak irama musik yang saling bertautan dalam diam.


***

__ADS_1


__ADS_2