
JREENNNG!
Petikan gitar akustik terdengar merdu dan syahdu disalah satu sudut ruang rekaman DG Entertainment.
Kau adalah matahariku
Kau adalah sumber cahayaku
Kau sinari hatiku yang beku
Kau tetesi batu diriku nan kaku
Memecah keheningan rindu
Yang tak bertepi dan kini memelukmu
Kan kugenggam erat tanganmu dan tak kulepas lagi
Karena kau adalah bahagiaku
Yang dulu sempat terlupa dalam angan yang tertutup lembayung sendu...
Nyanyian lagu berpadu dengan dawai yang terpetik penuh penghayatan sang pemain gitar menarik perhatian orang-orang disekelilingnya seolah terbuai oleh syair ungkapan penuh cinta.
__ADS_1
Yudha yang sedang berjalan menuju ruang kerjanya yang tepat berada disebelah studio rekaman menghentikan langkah kakinya ketika mendengar suara nyanyian yang tak asing ditelinganya. Suara khas yang begitu membius bak candu bagi pendengarnya. Dan benar saja, ia melihat anak-anak asuhnya di DG Entertainment sudah memenuhi tempat asal pemilik suara nan menghanyutkan jiwa itu.
"Pak Yudha, kami tahu bahwa Tuan Rhine itu adalah produser bertangan dingin dan hebat sehingga hampir seluruh lagu yang dibuat untuk kami masuk dalam Chart lagu yang digemari oleh fans kami. Namun kami kok baru tahu bahwa Tuan Rhine memiliki suara semerdu ini?" Tanya salah satu penyanyi lelaki yang sejak tadi tak beranjak terpaku melihat Rhine mengeluarkan kemampuannya dalam bernyanyi.
"Betul Pak Yudha, aku saja sampai terbuai seolah lagu itu ditujukan untukku," Lanjut salah satu anggota girlbands yang berada dalam naungan DG Entertainment. "Tak kusangka Tuan Rhine bisa bernyanyi romantis seperti ini. Membayangkannya saja masih tidak percaya, mengingat beliau sangat tegas ketika kami rekaman untuk membuat album." Gadis itu bergidik ngeri setiap mengingat kegiatan girlband-nya untuk rekaman yang diproduseri Rhine yang terkenal dingin dan menuntut kesempurnaan. Ia dan beberapa gadis yang mengagumi sekaligus takut akan sosok Rhine tidak bisa membayangkan perempuan seperti apa yang tahan menghadapi sikap lelaki itu. Melihat lelaki itu bernyanyi lagu cinta mendayu, ia yakin lelaki tersebut sedang jatuh cinta. Siapakah gerangan perempuan hebat yang bisa menekuk hati sang produser 'kejam' tersebut?
"Kalian akan tercengang jika melihat penampilannya di atas panggung," Yudha tersenyum sambil melipat kedua tangannya dan menempelkannya di dada. Ia seperti melihat Rhine delapan tahun yang lalu. Begitu bersemangat menyanyikan lagu dengan sepenuh hati seakan tak ada seorang pun disekelilingnya yang memperhatikan dirinya. Betapa rindunya dirinya melihat Rhine kembali menyanyi karena ia masih memiliki ambisi untuk anak didik kesayangannya itu.
"Oh ya?!" Tanya anak-anak didiknya kompak.
"Tentu saja, begitu kalian melihat betapa totalitasnya Rhine dipanggung, kalian pasti akan berpikir dua kali memintanya kembali keatas panggung untuk bernyanyi." Lanjut Yudha. "Aku akan memberikan videonya kepada kalian nanti sebagai referensi dalam perfomansi kalian agar kalian terus bersemangat untuk memaksimalkan kemampuan menyanyi dan menari kalian."
"Janji ya Pak!"
Suasana yang sempat riuh kini kembali lengang dan semakin memperjelas alunan nada yang menari melalui pita suara Rhine. Sejak Rhine dinyatakan sembuh dari gegar otak ringannya dan keluar dari rumah sakit, tak tampak sekalipun ada gelagat mencurigakan dari Rhine untuk merealisasikan rasa kesal dan kekecewaan mendalam karena merasa nasibnya dipermainkan oleh dirinya dan Ashiya. Mana ia tahu jika ada Junna yang terluka karena tindakannya itu? Seandainya ia tahu sejak dulu, tentu saja waktu delapan tahun yang hilang terhadang karena lupa ingatan tidak akan dialami oleh Rhine. Ia tentu sekarang sudah menimang keponakan darinya dan Junna. Hush! Pikiran macam apa itu?! Mungkin memang jalan takdir mereka harus seperti saat ini..., jika dulu mereka bersatu, sudah tentu banyak orang yang tak memberi restu mengingat fans Rhine yang terkenal ekstrim dan usia gadis itu yang masih terlalu muda untuk Rhine.
Tapi dulu berbeda dengan sekarang. Ia bersyukur Rhine lebih banyak tersenyum setelah dapat mengingat kembali memori yang sempat dikutuknya karena tak kunjung kembali kedalam pikirannya. Mungkin karena kehadiran cintanya yang selama ini terlupakan membuat hidupnya lebih berwarna. Yudha berharap semoga Rhine dapat melupakan perbuatan yang ia dan Ibunya lakukan. Saat itu hanya cara itulah yang terpikirkan untuk mengembalikan hubungan ayah dan anak yang begitu renggang karena kesalahpahaman. Semoga...
JREENNG!
Rhine mengakhiri lagunya dengan nada suara panjang dan lembut. Rupanya kemampuannya menyanyi tak hilang setelah sekian lama ia tak pernah melakukannya. Ia tak pernah menyangka rasa cinta yang dimilikinya untuk Junna dapat membuatnya menciptakan lagu tentang cinta seperti dulu.
PLOK! PLOK! PLOK!
__ADS_1
Tepukan tangan Yudha mengajutkan Rhine yang tak menyangka akan ada yang memperhatikannya menyanyi.
"Mas Yudha?"
"Aku pikir kau tidak akan pernah menyentuh gitar itu dan bernyanyi kembali," Yudha berjalan mendekat kearah Rhine dan duduk disebelahnya. Ia merangkul Rhine dan mengeluarkan jurus rayuan mautnya ketika ia mencari bakat di jalan. "Bagaimana, kau mau menerima tawaranku untuk kembali bernyanyi dan naik panggung?"
Rhine menghela napas panjang sebagai tanggapan dari ucapan Yudha. Ia sebenarnya masih marah dengan apa yang telah dilakukan oleh Yudha dan Ibunya. Namun jika dipikirkan lebih dalam semua ini adalah yang terbaik untuknya dan Junna. Salahkan dirinya yang tidak terbuka tentang Junna kepada Yudha dan Ibunya sehingga kejadian hilangnya komunikasi dengan gadis yang dicintainya tersebut terjadi. Ia bersyukur masih diberikan kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk dapat kembali bertemu dan merajut cinta dengan gadisnya.
"Akan kupikirkan dulu tawaran Mas Yudha," Rhine pun bangkit dari duduknya.
"Kau mau kemana pagi-pagi seperti ini?"
"Kencan dong! Aku kan masih normal...," Jawab Rhine santai dan terdengar sedikit sarkastik. "Setelah delapan tahun aku bekerja untuk perusahaan ini bolehkan aku memikirkan diri sendiri?"
"Tapi kan..."
"Sstt..., jangan bilang siapa-siapa ya Mas," Rhine menempelkan jari telunjuknya pada bibir miliknya yang tersenyum miring untuk memberikan kode kepada Yudha. "Hitung-hitung balasan kepada Mas Yudha yang telah seenaknya mengatur takdirku selama ini."
Rhine berlalu meninggalkan Yudha sendiri di studio rekaman sambil bersiul riang. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan Junna dan melihat reaksi yang akan ditimbulkan jika dirinya melihat apa yang ia kenakan sekarang. Ia yakin pasti ekpresi yang muncul diwajah cantik Junna akan membuat senyumnya semakin melebar mengingat membuat janji dengan kekasihnya yang seorang dokter sangatlah merepotkan dan tidak sebebas seperti ketika sang gadis masih berstatus pelajar sekolah menengah atas seperti dulu.
"Issshhh, ini anak," Yudha berkacak pinggang melihat tindakan seenaknya dari Rhine. Sepertinya ia harus menyiapkan mental karena Rhine yang seenaknya telah kembali. Ya, Rhine sang penyanyi kharismatik dengan suara emasnya.
***
__ADS_1