
Keesokan harinya, Junna memohon izin tidak masuk sekolah dikarenakan harus menemani Nadia untuk melakukan check up kandungan di Rumah Sakit Internasional TA. Salah satu rumah sakit tercanggih di Indonesia milik keluarga Nadia. Rumah sakit yang berisi dokter-dokter handal di bidangnya dengan fasilitasnya yang terkenal lengkap dan memberikan pelayanan kesehatan standar Internasional. Dengan fisik bangunan menjulang hingga ketinggian sepuluh lantai dan warna tembok yang didominasi cat putih dan biru langit serta jendela-jendela kaca besar yang terpasang apik memberikan kesan minimalis berpadu sempurna dengan hamparan hijaunya pepohonan dan warna-warni bunga yang cantik seolah memberikan nyawa bagi sekelilingnya.
Disaat ia sedang menunggu Mamanya di ruang tunggu, ia melihat Ega sedang berbicara serius dengan seorang perempuan yang jika dilihat penampilannya sama persis dengan Ega yang sudah menjadi CoAs.
"Ega!" Junna berlari menghampiri Ega.
"Junna?" Ega yang mendengar panggilan Junna segera menoleh.
"Senangnya bisa ketemu di sini," Junna yang merasa kangen berat karena sudah cukup lama tak bertemu dengan Ega dan hanya berkomunikasi via smartphone segera menghambur untuk memeluk Ega.
"Junna, apa-apaan sih? Ini kan di rumah sakit..., malu dong dilihat orang," Ega berusaha melepaskan pelukan Junna.
"Aku kan kangen...," Ucap Junna dengan suara manja.
"Iya, tapi nggak harus begini kan?"
"O iya, siapa dia?" Junna menunjuk wanita yang sejak tadi berbicara dengan Ega.
"Oh..Eh.., dia Mei, sama sepertiku disini bekerja sebagai CoAs," Ega menjawab dengan nada yang agak grogi dan sedikit salah tingkah. "Mei, ini Junna, anak Pak Kepala rumah sakit ini."
"Halo, aku Mei," Sapa Mei dengan mengulurkan tangan kanannya.
__ADS_1
"Aku Junna, pacarnya Ega," Junna menerima uluran tangan Mei dengan senyum mengembang di bibirnya.
"...," Mei terdiam dan menunjukkan wajah tidak suka kearah Junna.
"Mei, aku ingin bicara berdua sama Junna, enggak apa-apa kan kalau kamu kembali duluan?" Ega yang merasa tidak enak dengan suasana diantara mereka bertiga berusaha mencari cara untuk menetralkannya.
"Kutunggu di tempat biasa ya," Mei menepuk punggung Ega mengisyaratkan sesuatu yang tidak dipahami Junna.
"Lho, kok malah pergi?" Junna yang tidak tahu apa-apa bertanya polos kearah Mei yang telah pergi meninggalkan Junna dan Ega berdua.
"Junna, ayo kita ke kantin," Ajak Ega seraya menarik tangan Junna.
"Eh, iya...," Junna menurut kepada Ega dan mengikutinya dari belakang menuju kantin rumah sakit.
"Junna, aku ingin kita putus..."
Satu kalimat yang keluar dari Ega seketika itu juga bak petir di siang bolong menyambar Junna. Potongan pertama dari cake yang ia pesan mendadak membuatnya hilang selera makan. Setelah sekian lama tidak bertemu bukannya belaian kasih sayang tetapi yang ia dapat adalah permintaan putus dari Ega. Pacar pertama dan cinta pertamanya.
"Ka...kamu nggak sedang bercanda kan Ga?" Wajah Junna langsung pucat pasi tak percaya pada apa yang telah ia dengar dari Ega.
Ega merespon pertanyaan Junna dengan gelengan kepala.
__ADS_1
"Ta..tapi kenapa? Aku merasa hubungan kita baik-baik saja..."
"Sekian lama kita pacaran aku terus berpikir dan berpikir mengenai hubungan kita," Ega menatap Junna lekat. "Aku merasa terlalu banyak perbedaan diantara kita..."
"Bukankah perbedaan itu indah?" Junna berpendapat. Air matanya mulai menggenang. "Papa sama Mamaku juga menikah berdasarkan perbedaan. Papa orangnya kalem dan Mama orangnya cerewet, tapi mereka rukun-rukun saja..."
"Bukan itu yang kumaksud...," Ega tidak tega melihat Junna yang terlihat menahan air matanya. Namun ia tetap pada pendiriannya untuk menjelaskan alasan mengapa mereka harus putus. "Aku merasa usiamu yang terlalu muda untuk bisa mengerti semua masalah yang sedang kuhadapi. Kamu sibuk dengan sekolahmu dan aku sibuk dengan kegiatan kampusku sehingga kita jarang bertemu. Terlebih lagi statusmu sebagai anak Kepala rumah sakit ini membuatku merasa terbebani. Dan disaat aku mulai bimbang dengan hubungan kita, tanpa kusadari Mei telah masuk ke dalam hatiku. Ia begitu memahamiku..."
"Mei?" Junna terkejut seraya tidak percaya. "Mei yang tadi?"
"Iya, bersamanya aku merasa nyambung, bersamanya aku merasa nyaman, dan bersamanya aku merasa tak ada beban," Ega menjelaskan. "Maafkan aku Junna..., sekali lagi aku minta maaf..."
Ega beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Junna yang terdiam menunduk. Ia begitu terpukul mendengar keputusan Ega untuk memutuskannya. Apa yang dibangga-banggakannya mengenai Ega pada orang-orang disekelilingnya kini hancur sudah. Ibarat sebuah cermin yang sempurna kini retak bahkan hancur berkeping-keping. Ia seperti menelan omongannya sendiri. Latte ice-nya yang awalnya manis kini terasa sangat pahit ketika ia meneguknya.
"Junna, ternyata kamu disini, Mama cariin kemana-mana juga...," Nadia menghela napas melihat Junna yang duduk sendirian di cafe. "Ayo kita pulang, Mama sudah selesai check up-nya."
Sesampainya rumah, Junna segera berlari ke kamarnya. Tak diperdulikannya sang Mama yang sejak tadi terheran-heran melihat perubahan sikap putrinya yang diam saja selama perjalanan dari rumah sakit menuju rumah.
"Junna!" Nadia terus memanggil nama Junna namun tetap tidak digubris oleh Junna. "Ampun, ada apa dengan anak itu? Padahal pagi tadi mukanya cerah ceria, eh, sekarang ditekuk seperti itu..."
Jahat! Ega jahat! Padahal aku sayang banget sama dia..., kenapa dia tega mutusin aku...! Hu..hu..huuu... Junna melompat ketempat tidurnya dengna posisi tengkurap. Ia menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
"HUWEEE...MAMA...," Junna menangis sekencang-kencangnya. Nadia yang mendengar Junna menangis hanya bisa menghela napas panjang. Ada apa sebenarnya?
***