Junna dan Rhine

Junna dan Rhine
10-2


__ADS_3

"Aah..., Rhine...," Junna mendesah pelan disela-sela ciuman bersama Rhine yang memabukkan. Lidah milik Rhine semakin bermain dalam dimulut gadisnya itu. Kesepuluh jarinya menggenggam wajah pasrah tak berdaya Junna karena terlena. Betapa nikmatnya...seolah dahaga yang dialaminya selama ini terpenuhi butiran cairan rasa. Tak puas dirinya untuk semakin mencecapnya terlebih lagi Junna memanggil namanya. Hal yang dulu tak mungkin gadis itu lakukan kepadanya. Ia tidak membenci panggilan 'Tuan Narsis' untuk dirinya, tapi panggilan nama aslinya terdengar indah di telinga.


"Rhine...hentikan...," Suara Junna terdengar bergetar tak mampu menahan gejolak jiwa yang ada. "Ini...di...rumah...sakit..."


"Diam dan nikmati saja gadis kecilku," Rhine menghentikan sejenak aktifitasnya. "Kamu tak tahu sudah berapa lama aku merindukan bibirmu yang seksi dan mulutmu yang pedas itu..."


"Tapi...kamu...sedang sakit..."


"Persetan dengan hal itu!" Rhine meraup bibir Junna dan memasukkan lidahnya untuk kembali menginvasi di dalamnya karena jika ia ingin lebih dari sekedar ciuman, dirinya harus menyiapkan mental untuk bertemu dengan kedua orangtuanya untuk melamar gadis pujaannya ini dan ia harus mempersiapkan semuanya terlebih dahulu. "Aku pastikan akan segera sembuh dengan rasa cintamu yang dalam itu kepadaku."


"Rhine!"


Sementara itu, Ashiya yang mendapatkan kabar dari Yudha bahwa Rhine terjatuh dari tangga rumah sakit bergegas pergi menghampiri anak tunggalnya itu bersama suami tercintanya, Kwon Hyun Suk. Dapat dipahami bagaimana perasaan Ashiya sebagai seorang Ibu. Ia hanya memiliki seorang putra yang dua kali mengalami kecelakaan dibagian kepala yang merupakan salah satu organ penting di tubuh manusia.


"Bagaimana kondisi Rhine, Yudha?" Tanya Ashiya setelah turun dari mobil dan disambut oleh Yudha yang sudah menunggu di lobby rumah sakit tempat Rhine dirawat. Ia tampak begitu tenang karena ada Junna yang menemani Rhine saat ini di ruang perawatan.


"Hasil CT Scan tadi menunjukkan bahwa Rhine hanya mengalami gegar otak ringan Tante, saat ini ia bersama dengan dokter yang merawatnya," Yudha berjalan berdampingan untuk menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Ashiya yang cepat. "Selamat sore Paman Kwon."

__ADS_1


"Selamat sore Nak Yudha," Kwon Hyun Suk tampak tenang seolah kejadian kecelakaan yang dialami Rhine bukanlah hal yang fatal. Sungguh berbeda dengan Ashiya yang begitu panik. Jika dikatakan jodoh, mungkin seperti mereka berdua untuk dapat mengimbangi satu sama lain.


"Ayolah suamiku, kau jangan tenang saja seperti itu?" Ashiya menggandeng tangan kanan suaminya agar mempercepat langkahnya. "Apa kau tidak khawatir pada putra kita satu-satunya itu? Dia sudah dua kecelakaan yang melibatkan kepalanya. Ya Tuhan, anak itu sudah berumur kepala tiga masih saja membuat orang tuanya khawatir saja..."


"Jika kau sebegitu khawatirnya mengapa tidak kau menikahkannya saja agar ada yang mendampinginya," Jawab Kwon Hyun Suk santai. Ia sudah hapal diluar kepala luar dalam istrinya itu sehingga sangat memaklumi sikap panik berlebihan jika sudah menyangkut Rhine, putranya. "Toh aku juga sudah waktunya pensiun dan menikmati masa tua karena kurasa Rhine sudah siap menerima warisanku. Apa kau tidak mau kita menghabiskan dan menikmati masa tua bersamaku?"


Wajah Ashiya memerah mendengar kalimat yang diucapkan Kwon Hyun Suk kemudian terdiam. Yudha yang mendengarnya hanya bisa meringis takjub dengan ucapan dalam dari seorang Maestro sekelas Kwon Hyun Suk. Luar biasa permainan kata-katanya. Pantas saja Rhine punya sejuta kharisma dalam menciptakan lagu-lagunya. Rupanya DNA dari ayahnya itu begitu kental diwarisinya.


"Rhine anakku!"


Ashiya membuka pintu ruang perawatan tempat Rhine dirawat. Sontak Rhine dan Junna melepaskan cumbuan mesra di bibir mereka dan merapikan diri seolah tak terjadi apa-apa. Junna tampak kikuk dan gugup berusaha menutupinya sedangkan Rhine hanya bisa tertawa dalam hatinya karena dapat membuat Junna kewalahan dan canggung. Hal manis yang tak pernah ia tahu selama ia mengenal gadis jutek dan keras kepala yang selalu membantah dirinya hingga berakhir adu mulut tanpa jeda.


"Anakku!" Ashiya segera menghambur memeluk Rhine untuk meyakinkan dirinya bahwa anaknya itu nyata sehat tak kekurangan apa-apa. "Kau baik-baik saja kan Nak?" Ia mengecek seluruh wajah dan tubuh anak lelakinya itu. "Ada yang sakit Nak? Mana bagian yang sakit?"


"Aku baik-baik saja Bu, sudah dilakukan pengecekan dan hanya gegar otak ringan..."


"Nah, berhubung Tuan Rhine sudah didampingi keluarganya, saya permisi dulu untuk melanjutkan pekerjaan saya yang lain, permisi...," Junna membungkukan tubuhnya kemudian berjalan cepat meninggalkan Rhine bersama keluarganya. Rhine tersenyum setengah mengejek dalam hati ketika ia mengetahui bahwa Junna saat ini sedang bertindak melarikan diri. Dan ia tahu bahwa yang gadis itu lakukan adalah untuk tidak melakukan konfrontasi atas apa yang Ibunya perbuat sehingga membuat mereka berdua terpisah selama delapan tahun. Ia berjanji akan menyelesaikan masalah ini dan tak akan membiarkan Junna terluka seorang diri seperti selama ini sementara dirinya yang mengalami amnesia pernah berkata bahwa ia bersyukur mengalami amnesia karena ia yakin kenangan masa lalunya sangat buruk meskipun justru sebaliknya. Telah banyak kebahagiaan dan senyuman serta kekonyolan hidup yang menyelimutinya bersama gadis yang berusia delapan tahun dibawahnya itu. Ia sungguh menyesali pernah berkata seperti itu.

__ADS_1


"Ternyata kau brengsek juga ya jadi lelaki," Yudha menyenggol bahu Rhine menggunakan lengan kanannya dengan niat menggoda anak didiknya itu. Selama bekerja sama dengan Rhine, Yudha tak pernah melihat Rhine bersikap intim dengan lawan jenis bukan karena khawatir akan skandal yang akan ia hadapi namun dikarenakan tak mau dirinya berakhir seperti Ayahnya yang tidak bertanggung jawab. Rupanya pesona seorang Junna telah merubah pandangannya. Tak sia-sia ia berusaha mencari tahu tentang gadis itu kepada Kakak tirinya, Shine yang setelah diusut ternyata adalah tetangga rumah Rhine di Jakarta. Bagaimana bisa ia tidak mengetahui hal krusial menyangkut Rhine dan Junna? Padahal ia sering berkunjung ke rumah Rhine? Betapa berdosanya ia selama ini karena telah memisahkan sepasang kekasih yang baru saja bersatu setelah sekian lama Rhine menahan diri mengingat gadis itu masih  berusia 17 tahun saat itu.


"Apa maksudmu Mas Yudha?" Rhine dapat bernapas lega setelah melihat kedua orang tuanya terutama Ibunya yang penuh drama itu sudah tidak khawatir dengan kondisinya sehingga dapat pergi meninggalkan dirinya bersama Yudha hanya berdua. Ia berterima kasih kepada Dokter Shine yang dengan sabar hati menjawab semua pertanyaan sang Ibu mengenai kondisinya.


"Aku melihat ada bekas ciuman di leher bagian kiri Dokter itu..."


Rhine menanggapi ucapan Yudha dengan cengiran penuh teka-teki.


"Kau akan mengerti jika jadi diriku yang mengalami amnesia sehingga lupa bahwa ada gadis yang selama ini dicintainya namun baru bisa kembali bersua..."


"Jangan-jangan kau..."


"Aku sudah ingat kembali semuanya Mas Yudha," Tatapan Rhine berubah menjadi dingin seketika. "Dan aku juga ingat konspirasi apa yang telah kau lakukan bersama Ibuku dengan memanfaatkan kondisiku setelah kecelakaan yang kualami! Aku tak menyangka kau bisa mengkhianati kepercayaanku selama ini sehingga tega berbuat seperti itu padaku dan Junna!"


Yudha terdiam dengan kalimat yang terucap dari Rhine. Rasa bersalah kembali menyeruak di dadanya.


***

__ADS_1


__ADS_2